PHP Girl

PHP Girl
Bab 12



Kebohongan Liza terbongkar. Memalsukan bukti surat kehamilan. Mengganti nama orang lain menjadi namanya demi hasrat memiliki Malvin.


Di sebuah cafe Indira berdiri di pintu masuk. Matanya melirik setiap meja yang penuh dengan pengunjung.


“Mau makan di sini bu! untuk berapa orang?” sapa pelayan cafe.


“Terima kasih! adik saya sudah menunggu di sana,” jawab Indira menunjuk salah satu meja.


Dua orang gadis tengah asyik berselfi ria dengan temannya dan seorang pria sibuk dengan ponselnya.


“Liza!” sahut Indira tegas.


Liza melihat heran Indira, begitu juga dengan temannya.


“Kamu siapa?”


“Indira Prameswari! Kuasa hukum dari saudara Malvin Mahendra.”


“Oh..! Mau apa kamu di sini? dari mana kamu tahu aku ada di sini.”


“Berkat seorang teman yang update di sosial media. Timing yang sangat pas!,” Indira mengangkat alis matanya melirik Kenan.


Liza berpaling menatap Kenan penuh amarah, kengkerutkan bibirnya. Tak ada pembelaan, Kenan menunduk pasrah.


“Aku membawakan kabar gembira,” Indira tersenyum lebar.


“Pasti Malvin mau bertanggung jawabkan. Sudah seharusnya!” sahut Liza tersenyum licik.


“Sayangnya kamu salah, kabar gembira untuk Malvin,” ucap Indira sambil memberikan secarik kertas pada Liza.


“Apa ini?” tanya Liza.


“Bukti dari kebohonganmu memalsukan hasil kehamilan,” Indira mencondongkan badannya. “Cabutlah laporanmu sebelum Malvin melaporkanmu balik. Bukan begitu Kenan.”


Wajah Kenan pucat, menunjukkan ketakutan. Dia hanya diam tanpa komentar. Sementara Liza tidak menunjukkan reaksi apapun hanya memandang Indira dengan sorot mata tajam, isyaratkan kebencian.


💐💐💐


Ting tong ting tong


Bel apartemen Indira berbunyi. Dia tidak memperdulikannya. Melanjutkan menonton film kartun kesukaannya.


Ting tong ting tong


Bel kembali berbunyi.


“Ganggu saja, sebel!” gerutu Indira. Dengan malas dia bangkit dari duduknya. Membanting remot televisi ke sofa. Kakinya terasa berat melangkah.


“Dikira siapa, ternyata.. ganggu orang lagi santai,” ucap Indira.


Malvin tampak berdiri di hadapan Indira memperlihat senyum manisnya. Menyatukan kedua telapak tangannya dan mengucapkan ‘Maaf’ tanpa suara.


“Tumben! Biasa nyelonong masuk tanpa permisi. Hari ini terlalu sopan untuk pencet bel lebih dulu,” sindir Indira.


“Tidak lihat ini,” Malvin mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan kantong plastik berisi makanan. “Jika bukan karena ini akan aku lakukan,” lanjut Malvin.


“Sangat jujur!” ucap Indira dengan nada mengejek.


“Beginikah sikapmu terhadap tamu tidak mempersilahkannya masuk dan hanya berdiri di depan pintu. Sangat tidak sopan!” ucap Malvin seakan membalas sindiran Indira.


Ekspresi muka Indira berubah. Menekuk alis mata sambil memandang sinis Malvin.


“Silahkan masuk!” ucap Indira ketus.


Dengan bangga dan wajah yang berseri-seri seakan baru saja memenangkan lotre Malvin masuk ke dalam apartemen. Berjalan beriringan dengan Indira yang tepat di belakangnya. Langkahnya terhenti di depan sofa dan kembali melirik Indira.


“Eemh!”


Seolah tidak percaya dengan sikap Malvin, Indira menarik nafas panjang dan mendongakkan kepalanya memandangin langit-langit apartemen. Mengedipkan mata beberapa kali. Yang sering kali dia sebut Anak Ingusan itu sedang mempermaikan orang yang lebih tua. Tidak tahu sopan santun.


“Silahkan duduk tidak usah malu-malu anggap rumah sendiri,” ucap Indira geram.


Malvin mengangguk. Kantong platik yang dia pegang di letaknya di atas meja lalu dia duduk dan mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Tidak terima Indira menolak kaki Malvin dengan lututnya dan terjatuh.


“Apabila tamu tidak sopan silahkan angkat kaki dari sini,” ucap Indira emosi.


“Maaf hanya bercanda, wajahmu saat marah sangat cantik,” kata Malvin sambil tertawa kecil.


“Baru juga datang masa di suruh pulang, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu jadi membawakan makanan itu.”


“Tidak perlu”


“Ayolah jangan marah, berkatmu aku tidak jadi tinggal di hotel prodeo dan yang menguntungkannya lagi lepas dari Liza yang terus mengejarku. Jadi mari kita merayakannya.”


“Selera makanku sudah hilang,” ucap Indira cemberut dan menyilangkan tangan di dada.


“Kau suka Naruto,” ucap Malvin melihat tumpukan dvd di meja. “aku juga suka. Aku paling suka Orochimaru.”


“Gak salah! Orochimaru?”


“Iya! Walaupun dia pernah berbuat salah tapi akhirnya dia kembali ke jalan yang benar.”


Indira menggelengkan kepala. Mengalah akhirnya Indira mengajak Malvin menonton film bersama.


Mereka tampak asyik menonton. Tanpa di sadari makan di meja mulai habis.


“Anak Ingusan.”


“Malvin! M-A-L-V-I-N, Malvin,”


“Ya.. Malvin,”


“Ada apa?”


“Kenapa kamu sama Danu tidak saling bicara?


“Kepo amat.”


“Memang kepo, kenapa gak boleh?”


“Aku gak rela dia jadi kesayangan mama. Dimana-mana itu anak bungsu yang jadi anak kesayangan mama. Ini kok justru anak sulung. Gak adil.”


“Begitu doang,” ucap Indira tercengang mendengar jawaban Malvin.


“Iya,” jawab Malvin santai.


“Ajaib,” sahut Indira berbisik sambil menggelengkan kepala.


“Apa?”


“Tidak!” geleng Indira. “Mengapa tidak berdamai saja? dialah yang membantuku memenangkan kasusmu,” bujuk Indira.


“Ini urusan antara saudara dan antar lelaki. Kamu tidak usah ikut campur,” ucap Malvin. “Sepertinya aku harus pulang,” kata Malvin sambil melihat jam di tangan kirimya.


“Tumben! Biasa tunggu sampai di usir,” ejek Indira.


“Seorang lelaki harus menepati janjinya.”


“Uuuh, keren! Janji ketemu pacar.”


“Kalau itu baru saja aku lakukan.”


“Masih ngarep.”


“Ooh.. tentu.”


“Cepatlah pulang.”


“Sebentar! Aku lupa di mana meletakkan kunci mobilku tadi.”


“Kunci mobil? Untuk apa? Tinggal jalan juga nyampek, kenapa harus bawa kunci mobil.”


“Sekarang aku sudah pulang ke rumah tidak tinggal di sebelah lagi, Aku sudah berjanji pada papa untuk kembali pulang ke rumah asal pengacara yang menangani kasusku adalah kamu,” ucap Malvin sedih.


“Yang benar, aku jadi terharu mendengarnya,” ucap Indira dengan sedih yang dibuat-buat. “Yes!” Indira memalingkan wajahnya, mengepalkan tangannya dan mengayunkannya naik turun.


“Ternyata di kantong,” kata Malvin dengan tangan masih di kantong celana. “Aku pulang dulu. Selamat malam dan selamat beristirahat.”


“Iya.. aku akan menikmati istirahatku. Hati-hati di jalan ya! jangan ngebut,” Indira melambai-lambaikan tangannya.


Indira berlonjak kegirangan. Dia menari-nari kecil mengekspresikan kebahagiaan akhirnya bisa jauh dari Malvin.


💐💐💐