
Indira terpaksa pulang kerja lebih cepat. Hari ini dia sudah ada janji untuk melakukan Rontgen pada kakinya. Masih terasa nyeri saat berjalanan. Terlebih terjatuh tempo hari saat bertabrakan dengan Danu, bikin semakin parah.
Langkah demi langkah menyusuri lorong rumah sakit dengan sandal jepit yang baru dia beli di mini market. Danu pasti merepet bila dia memakai high heels jadi ambil antisipasi lebih dulu.
Untung saja antrian tidak begitu banyak. Indira tidak menunggu terlalu lama untuk gilirannya. Dalam hitungan menit hasilnya juga sudah keluar. Indira tinggal membawanya pada Danu.
‘Bertemu lagi dengan dia, sebenarnya malas.. tapi ya sudahlah’. Indira berkata dalam benaknya.
Segera Indira menuju ruangan Danu.
Mata Indira terbelalak melihat Rian yang menuju ke arahnya. Panik. Indira memutar arah, berjalan cepat menghindari Rian. Tak sengaja Indira berpapasan dengan Danu dari arah berlawanan yang juga tergesa-gesa.
“Kamu sedang apa di sini,” tanya Danu.
“Kebetulan sekali! aku mau menjumpaimu dan ini hasil Rontgen kakiku,” jawab Indira yang masih panik.
“Ruanganku di sana,” Danu menunjuk ke arah depan. “Mengapa kamu ke arah sebaliknya, cepat berbalik.”
“Bagaimana kalau kita bicara di sana saja dulu,” Indira menunjuk ke arah kafetria Rumah Sakit dan menarik tangan Danu, menyeretnya ikut pergi dengannya. Tapi Danu menahan langkah Indira.
“Tidak ruanganku di sana,” gantian kini Danu menyeret Indira ikut dengannya sambil sesekali menoleh ke belakang.
Rian semakin mendekat. Tidak mau kalah Indira kembali menarik Danu, tapi Danu berontak. Dan terjadilah tarik menarik antara Danu dan Indira.
“Kemari!” Danu menarik masuk Indira ke ruangan kecil tempat penyimpanan alat kebersihan Rumah Sakit. Sangat sempit dengan lampu yang sudah redup. Mereka saling berhadapan. Hanya berjarak beberapa centimeter. Hingga Indira bisa merasakan hembusan nafas Danu di keningnya, maklum saja Danu lebih tinggi darinya.
“Rian! Kamu melihat Danu?”
“Tidak! Aku belum melihatnya dari tadi.”
“Sepertinya dia baru saja lewat ke arah sini.”
“Mungkin lue salah orang, gue nggak melihatnya sama sekali.”
“Ooh.. mungkin saja.”
“Lue terlalu memikirkannya sampai salah mengenali orang.”
Terdengar dari luar Ruangan Rian dan Widya berbincang. Sementara Indira dan Danu terperangkap di dalam. Ternyata Danu menghindari Widya.
Pengap dan gerah. Bau lembab peralatan kebersihan menusuk hidung. Tiba-tiba Seekor cicak jatuh tepat di kepala Indira.
Jeritan Indira belum terhenti. Tanpa berpikir panjang Danu menutup mulut Indira dengan mulutnya. Mereka berciuman. Dari bibir ke bibir. Sontak saja Jeritan Indira semakin menjadi. Dan menghentakkan kakinya kuat ke kaki Danu, kali ini dengan sengaja. Kini giliran Danu yang menjerit.
Aaauwwww....
Indira membuka pintu. Menarik nafas panjang menghirup udara segar. Rian dan Widya tak tampak lagi. Dengan sinis Indira menatap marah Danu dan menyeka bibirnya. Sementara Danu yang merasa bersalah hanya berdiam diri terpaku salah tingkah dengan tangan yang masih memegang kakinya yang sakit.
Karena kejadian diluar dugaan, Indira mengurungkan niatnya memberikan hasil dari Rontgen kakinya pada Danu. Ajaibnya kaki Indira tidak terasa nyeri lagi. Menghabiskankan uang saja harus rontgen segala. Ternyata hanya tinggal menghentakkan kaki langsung sembuh. Berkat cicak juga.
💐💐💐
Seharian ini Indira tidak bersemangat. Diam tanpa sepatah kata pun. Dewi yang mengajaknya bicara hanya di respon dengan mengangguk dan menggeleng.
Menopang dagu dengan meletakkan tangan di atas meja. Pandangan matanya kosong. Pikiran jauh melayang. Memikirkan kejadian semalam. Danu menciumnya. Yang belum pernah dia lakukan dengan pria manapun.
Ray meletakkan sebungkus cokelat di atas meja Indira. Tak bertenaga dia mendongakkan kepala melihat Ray yang berada di sampingnya. Wajah Indira lusuh tiada semangat.
“Makanlah biar perutmu terisi, dari tadi aku lihat kamu belum ada makan,” suruh Ray.
Penuh perhatian Ray membantu membuka bungkus cokelat dan menyuapkan ke Indira. Awalnya Indira menolak tidak membuka mulut. Ray terus memaksa menyodorkannya. Indira menyerah dan membuka mulutnya.
Ray menyerahkan miniatur tiang bendera lengkap dengan bendera berwarna putih pada Indira.
“Apa ini?” tanya Indira heran dengan lesuh.
“Cukup sampai di sini... aku mengejar cintamu. No More Again... Love, Only Friends!” ucap Ray dengan berat hati.
Hati Indira tersentuh. Matanya berkaca-kaca. Tidak ada maksud hati mempermainkan perasaan Ray. Ini semua salahnya, dia yang meminta Ray mengaku menjadi kekasihnya di depan Rian. Merangkul mesra untuk menyakinkan Rian. Tapi justru kebablasan. Ray terlanjur jatuh hati. Indira yang menganggap hanya pura-pura memilih menjauh juga dari Ray.
“Only Friends!” Sahut Indira senduh.
“Jangan menghindar lagi. Aku mau kita seperti dulu, Friends!” Ray menjulurkan tangan. Indira menyambutnya. Mereka berjabat tangan. Tangan kiri Ray mengacak-acak rambut Indira. “Nanti aku antar pulang ya! mobil kamu masih di bengkelkan.”
“Awas macam-macam,” Indira memperingatkan.
“Ampun!” Ray mengangkat kedua tangannya. “Waktu itu aku khilaf. Tapi bukankah sekarang kita sudah berteman.”
“Baiklah.. aku sudah melupakannya. Senang rasanya akhirnya kita bisa berbaikan dan terteman seperti dulu.”
💐💐💐