PHP Girl

PHP Girl
Bab 15



Widya dan Rian berjalan menuju kafeteria sambil berbincang..


“Kamu mengenal orang yang tadi?” tanya Widya pada Rian.


“Siapa? Pria yang mau menjenguk pacarnya Danu?”


Widya mengangguk dengan wajah sedikit kesal karena Rian mengungkit soal pacar Danu.


“Tentu saja! Dia telah merebut pujaan hati gue dan gue gak bakalan melupakan wajahnya.”


“Wanita yang kamu dekati dulu! Yang pernah kamu ceritakan padaku.”


“Ya! Lue tahu kan bila gue mencintai seseorang maka gue akan mempertahankannya mati-matian tapi tetap saja lepas dari genggaman, begitu menyedihkan.”


“Aku heran.. secantik apa sih wanita itu?” tanya Widya yang mulai sewot.


“Wanita yang mana? pacarnya Danu atau pujaan hati gue?” tanya Rian bingung.


“Ya wanita yang di rawat itu lah..” jawab Widya. Dia tidak rela menyebut Indira sebagai pacar Danu. Lagian belum tentu gosip itu benar.


Tiba-tiba seorang perawat muncul dari belakang Widya dan Rian lalu langsung menyerobot berbicara.


“Cantik dok! Saya sampai iri sama kulit beningnya,” ujar perawat yang kepo dengan pembicaraan Widya dan Rian.


“Kamu lagi.. Nguping ya! Sana lanjut kerja,” ucap Widya jengkel.


“Sabar buk! jangan marah-marah, nanti keriputan jadi nampak tua,” ucap Danu mengelus pundak Widya.


“Buk! Buk! aku masih gadis belum ibu-ibu,” Widya mendorong tangan Rian dari bahunya dan pergi meninggalkan Rian.


Rian diam terheran-heran melihat sikap Widya. “Dasar wanita! sikapnya aneh bikin pusing kepala,” ucap Rian menyusul Widya.


Saat melihat ke arah pintu keluar, tidak sengaja Rian melihat Ray. Berjalan terburu-buru dengan dua orang wanita. Bukannya tadi dia hanya dengan seorang wanita. Wanita yang satu lagi penampilannya sangat mencurigakan, yang tanpa dia sadari itu adalah Indira.


💐💐💐


Masih lemas. Tenaga Indira belum pulih betul. Dia membaringkan diri di kamar. Membuang rasa bosan, dia mengotak atik ponselnya. Berselancar di internet. Melihat sosial media yang sudah lama tidak dia buka. Penasaran. Indira melihat sosial media Rian yang sudah dia blokir. Dengan serius Indira memperhatikan foto-foto Rian. Matanya terbelalak melihat Danu terpampang nyata di sana. Dengan keterangan foto ‘sahabat sejati selamanya’.


Begitu banyak foto Danu bersama Rian. Sepertinya mereka sudah berteman sejak lama.


Indira terkejut saat ponselnya tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk. Muncul nama ‘Muridku’ di layarnya. Indira menyimpan nomor Danu dengan nama ‘Muridku’.


Ragu-ragu Indira mengangkat telepon. Bagaimana ini. Apa yang harus dilakukan sekarang.


“Hallo..” ucap Indira pelan.


“Kamu di mana? Mengapa tidak ada di kamarmu? Kata perawat kamu meminta pulang lebih cepat dari jadwal, mengapa?” Danu mencecar banyak pertanyaan.


Indira bingung. Mau menjawab apa. “Aku di kamarku!” ucap Indira. “Kamar apartemen... aku sudah sehat jadi mengapa harus tunggu sampai besok,” sambung Indira.


“Berikan alamatmu, aku akan kesana,” pinta Danu.


“Untuk apa? kamu tidak percaya!”


“Aku akan memastikannya sendiri. Kamu membuatku cemas,” ucap Danu.


Jantung Indira berdetak kencang mendengar ucapan Danu. Mangapa Danu harus mencemaskannya. Indira bukanlah siapa-siapa Danu. Jangan bilang karena Indira ‘pasien gurunya’.


💐💐💐


Padahal baru beberapa menit yang lalu Indira mengirim alamatnya pada Danu. Kini Danu sudah berada di depan apartemennya. Dia menelepon Indira, menyuruh Indira membukakan pintu.


Kepala Indira masih sedikit pusing. Dia berjalan pelan bertopang pada dinding.


“Kok lama bukanya,” protes Danu.


“Kepalaku sedikit pusing.”


“Bukannya kamu bilang sudah sehat,” ucap Danu. “Mau berbohong.. sini aku bantu.”


Danu menggapai tangan Indira, merangkul di pundaknya dan tangan Danu melingkar di pinggang Indira. Membantu Indira berjalan. Herannya Indira tidak menolak. Biasanya dia paling anti di sentuh lelaki yang baru dia kenal.


“Kenapa kamu bandel sih..!” ucap Danu menoyor kepala Indira.


“Aduh! Jadi semakin pusing deh nih.”


“Kan sudah ku katakan, baru boleh pulang besok mengapa pulang lebih cepat,” marah Danu pada Indira.


“Anu.. anu...”


“Sudahlah! duduk tenang aku akan memeriksamu.”


Indira mendengarkan perkataan Danu. Apa-apain ini mengapa dia tidak dapat menolak permintaan Danu.


Tangan Danu menempel di dahi Indira dan memeriksa denyut jantung dengan stetoskop.


“Kamu sedikit demam.”


“Kamu sengaja membawa semua peralatan doktermu untukku?”


“Tidak mungkin aku pinjam padamu kan,” ucap Danu menyindir Indira. “Berbaringlah aku akan mengompresmu agar demamnya turun.”


“Kamu mau macam-macam ya...”


“Mana mungkin aku melakukannya. Aku ambil air hangat dulu,” Danu pergi ke dapur mengambil semangkok air hangat.


Danu duduk di samping Indira yang berbaring di sofa. Dengan Telaten Danu merawat Indira. Merasa nyaman sampai Indira memejamkan mata hampir tertidur. Air kain kompresan mengalir ke telinga Indira. Danu menyekanya, tidak sengaja menyentuh pipi Indira yang lembut. Tanpa sadar Danu menyelus pipi Indira, membuat Indira tersentak kaget dan membuka mata.


“Apa yang kamu lakukan.”


“Maaf aku tidak sengaja,” ucap Danu merasa bersalah.


Indira bangkit untuk duduk. Hingga Danu dan Indira saling berhadapan. Memandang satu sama lain.


“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Danu mendekati Indira. Matanya hanya tertuju pada bibir merah jambu Indira, dia memang wanita sejuta pesona.


Danu memberanikan diri menyecup mesra bibir Indira. Bukannya melawan seperti yang pertama kali Indira lakukan tempo hari, kini Indira menyambut kecupan Danu. Menikmatinya dengan mata tertutup. Danu menarik pinggang Indira untuk lebih dekat. Larut lebih dalam lagi. Cukup lama mereka menikmatinya


Di pintu masuk Malvin berdiri dengan tatapan sedih melihat pemandangan di depannya. Orang yang dia cintai bercumbu dengan orang yang dia tidak sukai dan itu abangnya sendiri. Sakit. Batinnya menjerit... Tolong jangan lakukan itu dihadapanku... aku mohon.


💐💐💐