PHP Girl

PHP Girl
Bab 21



Indira dan Danu jalan bergandengan tangan menyusuri Mall. Terpancar kebahagian di wajah mereka yang sedang dimabuk asmara.


Dengan sabar Danu menemani Indira memilih baju yang cocok di hati. Serta menjadi komentaror, apakah yang menjadi pilihan Indira bagus saat di kenakannya. Danu juga tidak keberatan menenteng belanjaan Indira.


Toko kosmetik juga tidak terlewatkan. Dengan bersemangat Indira memilih kosmetik favoritnya.


“Kamu lebih suka lihat aku tampil glamor Full Make Up atau yang Natural?” tanya Indira pada Danu.


“Aku tidak suka dandananmu saat di acara anak dokter Hans waktu itu, terlalu menor,” protes Danu.


“Yakin tidak suka!”


“Aku suka melihatmu tampil natural seperti ini dengan make up yang tipis.”


“Bilang saja kamu takut aku di lirik pria lain..”


“Ya! aku takut.. dan aku cemburu.”


“Senang mendengarnya...”


“Kenapa?”


“Berarti dokterku tersayang benar sangat mencintaiku.”


“Mencintai dirimu melebihi dari diriku sendiri.”


“Kalau begitu tidak jadi beli banyak make upnya, bagus juga jadi lebih hemat.”


“Jadi pacaran denganku banyak untungnya juga kan.”


“Tidak juga... tadi pagi aku baru saja mendapat kerugian permanen,” ucap Indira dan berjalan pergi ke kasir membayar belanjaannya meninggalkan Danu yang kebingungan.


💐💐💐


“Mau es krim?” Danu menawari Indira, saat melihat pasangan kekasih sedang asyik menikmati es krim.


“Sudah lama aku tidak makan.”


“Bukannya enak.”


“Enak siih... tapi bikin badan melar.”


“Kan hanya sekali-kali tidak setiap hari.”


“Eeem.”


“Ayolah! kamu sudah menjadi milikku. Aku mencintaimu bukan karena fisikmu yang sempurna.”


“Jadi kalau badanku melar kamu tetap akan mencintaiku.”


“Aku suruh kamu diet.”


“Dan kalau sudah langsing lagi.. aku akan cari pria lain,” ucap Indira jengkel mendengar ucapan Danu.


“Jangan! aku kan bercanda,” ucap Danu sambil menggenggam tangan Indira. Memohon.


“Ok! kalau begitu traktir aku makan es krim sepuasnya.”


“Ok! cinta...”


Indira menikmati es krimnya. Sudah lama tenggorong tidak merasakan manis dengan beraneka rasa yang lezat dan dapat membuat suasana hati menjadi damai.


“Indira!” sapa seorang pria yang terlihat gagah lengkap dengan jasnya.


Mata Indira terbelalak. Terkejut melihat pria yang sedang dihadapannya.


“Chandra!” Indira menyapanya.


“Apa kabar? lama tidak bertemu dan kamu semakin cantik saja.”


Chandra adalah pengusaha properti yang pernah menjadi teman dekat Indira.


“Maaf! anda siapa?” tanya Danu.


“Dia.. temen aku,” jawab Indira.


Raut wajah Danu berubah. Marah. Mengkerutkan keningnya dan memandang dengan sorot mata yang tajam pada Chandra.


“Tapi... dulu,” sambung Chandra. Sadar Danu tidak suka dengan ucapannya.


“Aku dengar kamu sudah menikah Chandra,” ucap Indira mengalihkan pembicaraan.


“Ya! kamu menolak lamaranku jadi aku terpaksa menikah dengan wanita lain. Bila kamu menjawab ‘YA’ mungkin kita sudah hidup bahagia sekarang.”


Gawat. Salah ganti topik. Indira melirik Danu dengan tersenyum getir. Dan Danu masih bertahan dengan wajah cemberutnya. Tidak nyaman dengan kedatangan Chandra.


“Kamu bisa saja Chandra,” ucap Indira.


“Lupakan saja, semua sudah berlalu. Kita bisa mulai berteman lagi... teman tapi menikung,” ucap Chandra tertawa. “Bercanda! sepertinya aku mengganggu, lebih baik aku permisi dulu. Senang bertemu lagi dengan kamu Indira.”


“Aku juga.”


Seperginya Chandra, Danu menatap Indira penuh makna.


“Teman tapi mesra?” tanya Danu.


“Itu sudah cukup lama berlalu..”


“Dan dia melamarmu.”


“Sudah pernah kukatakan bukan, bila aku mengatakan ‘IYA’ maka pacarku sudah banyak.”


“Berarti selain dia masih banyak lagi...”


“Tapi itu semua sudah menjadi masa lalu. Dan kamu adalah masa depanku.”


Danu tersepu malu mendengar ucapan Indira.


💐💐💐


Danu dan Rian duduk di bangku taman menghabiskan waktu jam istirahat siang sambil menikmati kopi.


“Gue dengar lue udah punya pacar,” Rian membuka pembicaraan.


“Iya.. baru saja jadian.”


“Pasien waktu itu?”


“Iya.”


“Tidak mau memperkenalkannya pada gue? Gue penasaran.. kata para perawat dia sangat cantik.”


“Lain waktu aku akan mengajaknya berkenalan denganmu. Kamu pasti sangat menyukainya, dia orang yang baik dan asyik diajak ngobrol.”


“Bagaimana dengan Widya? sepertinya dia masih mengharapkan lue.”


“Hubunganku dan Widya sudah lama berlalu. Dia pernah menduakanku sekali maka tidak menutup kemungkinan ada yang kedua kali.”


“Aku rasa tidak mungkin,” ucap Rian membela Widya.


“Berhenti berusaha menjodohkanku lagi dengan Widya. Sekarang kami hanya sebatas rekan kerja tidak lebih dari itu dan aku sudah memiliki wanita lain yang sangat aku cintai.”


“Maaf.. gue gak bermaksud...”


Rian hanya berusaha membantu Widya, dia meminta tolong untuk menyatukan hubungannya kembali dengan Danu. Walaupun begitu Rian tidak mau memaksakan Danu. Danu adalah sahabatnya dan dia juga berhak untuk bahagia dengan wanita yang dicintai.


“Tidak masalah! asal jangan pernah mencoba lagi.”


Rian mengepalkan tangan dan mengarahkan pada Danu. Danu juga melakukannya. Dan mereka saling beradu sebagai tanda persahabatan


“Bila kamu bertemu pacarku nanti jangan sampai kamu kepincut juga ya... dia satu-satunya untukku dan aku tidak mau kehilangannya.”


“Tidak mungkin punya teman gue embat. Paling juga towel sedikit.”


Hahahaaa. Danu dan Rian tertawa lepas bersama. Dan saling merangkul satu sama lain.


💐💐💐