PHP Girl

PHP Girl
Bab 24



Indira memandang haru batu nisan Nathan. Tangannya membelai lembut setiap ukiran nama Nathan. Memejamkan mata. Mengingat kembali kenangan masa lalu saat bersama Nathan.


“Apa kau masih mengingatnya,” Liza mulai berbicara.


“Ya! Nathan pria yang baik,” ucap Indira senduh.


“Jika dia pria yang baik lantas mengapa kau memperlakukannya dengan tidak baik?” ucap liza menohok.


“Aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku bersumpah!” Indira bersikeras.


“Aku masih ingat saat itu. Bang Nathan tersenyum bahagia memandangi foto seseorang. Aku bertanya siapa orang itu dan dia menjawab bahwa seseorang di foto itu adalah wanita yang membuatnya sangat bahagia dan bersemangat lagi untuk menjalani hidup, bersemangat lagi melakukan pengobatan kemoterapinya. Dalam hati aku sangat berterima kasih pada wanita itu yang telah membuat abang satu-satu milikku kembali bersemangat dan berharap bang Nathan segera sembuh dari penyakitnya.”


Liza kembali menangis tersedu-sedu mengingat kembali kenangan bersama abang tersayang. Sementara Indira dan yang lain hanya mendengarkan cerita Liza dengan tertunduk sedih. Dan Tiana yang berada di samping Liza dengan setia merangkul dan menenangkannya.


“Harapan... hanya tinggal sebuah harapan. Hati bang Nathan hancur. Tak ada semangat lagi dalam hidup. Dia tidak mau melanjutkan pengobatan. Semakin hari kondisi kesehatannya terus menurun dan hanya mengurung diri dikamar hingga kami menemukannya tidak sadarkan diri. Bang Nathan koma beberapa hari. Dan hal yang terburuk terjadi... bang Nathan pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku kehilangan abang yang paling aku sayangi dan orang tuaku kehilangan anak terbaiknya. Tidak ada lagi kebahagian dalam rumah kami tanpanya.”


“Aku benar-benar minta maaf... aku tidak tau Nathan sedang sakit, dia tidak pernah menceritakannya padaku dan aku tidak ada maksud hati untuk menyakitinya.”


“Tapi kau telah menyakiti hatinya,” bentak Liza. “Sangat sakit.”


“Tapi semua ini tidak sepenuhnya salah Indira,” ucap Malvin membela Indira.


“Andai saja dia tidak memberikan harapan pada bang Nathan. Ini semua tidak akan terjadi. Dia memperlakukan bang Nathan bagai seorang kekasih. Tapi saat bang Nathan memintanya menjadi kekasihnya dia justru pergi menghilang.”


Indira menggelengkan kepala. “Aku minta maaf walaupun itu tidak dapat mengubah apa pun.”


“Permintaan maaf kau tiada ada guna.. bang Nathan tidak akan pernah kembali. Simpan saja maafmu itu.”


“Kamu harus belajar memaafkan Liza. Nathan akan sedih melihatmu seperti ini,” ucap Tiana yang sedari tadi mendampingin Liza. “Berbesar hatilah.”


“Awalnya aku tidak mengenali wajahmu tapi aku tidak dapat melupakan namamu. Saat kita pertama kali berjumpa di cafe, aku tidak begitu yakin Indira Prameswari yang aku cari adalah kau. Sampai aku mencari tahu tentang dirimu dengan bantuan Tiana.”


Indira dan Tiana saling pandang.


“Sebelum bang Nathan menghembuskan nafas terakhir dia menitipkan sesuatu padaku. Dia meminta tolong padaku untuk mencarimu dan memberikan..,” Tiana memberikan sesuatu pada Liza. Sebuah kotak. Dan Liza memberikannya pada Indira.


Indira mengambilnya. Sebuah kotak kayu berwarna cokelat tua, dihias ukiran bunga.


“Aku sudah mencarimu sejak lama selain untuk memberimu pelajaran, juga memberikan itu untukmu.”


Indira tidak membalas ucapan Liza. Dirinya merasa sangat bersalah. Hanya tertunduk lesu memandang kotak pemberian Nathan yang dia genggam erat.


“Hadiah untukmu!” ucap Liza. “Kau harus membukanya dengan kode angka, bang Nathan tidak memberitahunya padaku tapi aku menerka sepertinya tanggal ulang tahunmu karna dia mengatakan itu sebagai hadiah ulang tahunmu.”


“Bang Nathan bukan pria pedendam. Dia begitu mencintaimu. Wanita yang tidak punya hati yang kerjanya hanya mempermainkan hati para pria.”


“Cukup Liza!” ucap Malvin tak tahan mendengar ucapan Liza yang terus menyudutkan Indira.


“Sudahlah Liza. Cukup sampai disini jangan teruskan lagi. Tidak ada gunanya!” ucap Tiana.


Liza menarik nafas panjang. “Hatiku sudah sedikit lega. Sudah menepati janjiku pada bang Nathan. Tapi aku tidak akan meminta maaf tentang apa yang telah aku lakukan padamu. Walaupun sebenarnya itu salah. Kau pantas mendapatkannya agar tidak ada Nathan selanjutnya.”


“Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Bila aku menjadi kamu mungkin aku akan melakukannya juga,” sahut Indira.


“Bagus bila kau mengerti. Semoga dipertemuan berikutnya kita bisa saling menyapa lebih baik lagi,” ucap Liza berjalan pergi.


“Aku minta maaf padamu Indira. Semoga tidak ada dendam di kemudian hari. Niatku semata-mata hanya membantu Liza,” ucap Tiana.


“Aku sudah memaafmu sebelumnya.”


“Aku berharap kita bisa menjadi teman kedepannya. Kuatkanlah dirimu dan hiduplah lebih baik lagi,” ucap Tiana tulus dan memeluk Indira. Mereka berdua larut dalam haru dan kehangatan.


Liza yang sudah berjalan menjauh menoleh kebelakang menatap Indira. Menatap sedih dengan mata yang sembab.


Indira memperhatikan punggung Liza yang pergi menjauh.


Ray mendekati Indira dan mengelus pundaknya. Menguatkan.


“Akan kami antar kamu pulang ke apartemen. Pasti kamu tidak akan fokus berkerja dalam keadaan seperti ini,” ucap Ray.


“Dia benar! Lebih baik kamu istirahat di rumah menenangkan pikiran,” tambah Malvin.


“Semua sudah selesai. Kamu dapat tidur dengan tenang,” sambung Ray.


“Tapi...”


“Aku mohon dengarkan aku kali ini saja. Ini yang terbaik untukmu.”


Indira mengangguk.


Malvin dan Ray mengantarkan Indira ke apartemennya. Disepanjang perjalanan Indira hanya duduk termenung memandang kotak hadiah dari Nathan. Sesekali melihat keluar jendela untuk menyembunyikan kesedihannya dengan mendongakkan kepalanya memandang langit biru menahan agar air mata tidak jatuh.


💐💐💐