
Semua karyawan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dengan wajah ketat tanpa ekspresi menatap setiap berkas. Mencoba memahami dan lebih teliti.
“Indira!” sapa Vanya mendatangi meja Indira.
“Hai Van.. ada apa?”
“Ini ada berkas klein,” ucap Vanya memberikan dokumen. “Coba kamu pelajari. Dia sangat memerlukan bantuan kita untuk menangani kasusnya. Dia kenalan mama.. dan mama memintaku untuk menanganinya tapi kamu kan tahu. Persiapan pernikahanku sangat menyita waktu. Jadi tolong bantu gantikan aku.”
“Ok.. sip. Bisa diatur. Kamu santai saja,” Indira memberikan jempolnya untuk menyanggupi permintaan Vanya.
“Oh ya.. gimana kasus yang kemaren? sudah selesai? pelakunya sudah tertangkap?” tanya Vanya ingin tahu.
“Sudah. Hanya sebuah kesalahpahaman dan sakit hati yang terpendam. Tapi semua udah beres kok.”
“Syukur deh kalau begitu.. dan aku denger kamu sudah memiliki pacar ya,” ucap Vanya menunjuk Indira dengan jarinya. “Kapan nyusul? paling tidak tunangan saja sama sepertiku sebagai ikatan biar gak di comot orang.”
“Boro-boro Van.. ini juga lagi diterpa angin kencang. Perahu cinta sudah sedikit oleng dan hampir tenggelam. Ntah bisa melewatinya atau tidak.”
“Itu mah.. biasa, kalau gak begitu gak asik. Bagai makan nasi tanpa sambal. Gak Hot..,” ucap Vanya memonyongkan bibir dengan mulut terbuka lebar.
“Kamu bisa aja Vanya.”
“Wejangan dariku.. intinya dalam hubungan itu harus saling percaya dan terbuka, cinta yang kuat tapi bila nggak ada kepercayaan akan percuma. Pasti ujung-ujungnya bubar. Makanya bila ada masalah cepat dibicarakan jangan ditunda terlalu lama.”
“Terima kasih petunjuknya.”
“Kamu pasti bisa.. ayo semangat,” ucap Vanya sambil mengepalkan tangan. Memberi semangat pada Indira.
Indira membuka berkas yang diberikan Vanya. Melihatnya sepintas. Baru mau mulai mempelajarinya Dewi memanggil mengajak makan siang bersama.
💐💐💐
Wajah Danu yang dihari sebelumnya selalu berseri-seri kini tampak kusut. Menanggung beban pikiran yang membelenggu. Membuatnya tidak tidur semalamam, hingga muncul lingkaran hitam dimata.
Duduk menyendiri di sudut kafeteria. Menghabiskan waktu istirahat makan siang. Menyerup kopi agar tetap terjaga karena kantuk mulai menyerang. Dan sebuah Sandwich untuk mengganjal perut.
Tanpa meminta Ijin Rian langsung duduk di samping Danu. Menatap Danu sinis.
“Keputusan apa yang lue ambil,” ucap Rian ke inti pertanyaan tanpa berbasa basi.
Danu tidak menjawab. Dan tetap lanjut menyantap Sandwich yang sudah hampir habis.
“Bukannya lue pernah berjanji akan membalas perbuatan wanita yang telah menyakiti hati gue.”
Danu tetap tidak menjawab. Dia justru menghirup aroma kopi sambil menutup mata.
“Lue melupakan janji lue hanya karena seorang wanita,” ucap Rian mengotot.
“Apa yang kamu inginkan sekarang? Aku putus dengan Indira. Dan kamu kembali mengejar cinta Indira.”
“Kenapa lue bisa ngomong seperti itu!”
“Kamu sendiri yang bilang bukan. Kalau kamu sangat mencintai Indira dan tetap mencintai Indira.”
“Gue mencintai Indira tapi bukan berarti gue akan mengejarnya lagi.”
“Tidak ada jaminan kamu tidak akan melakukannya. Bukannya aku yang akan dirugikan. Kehilangan wanita yang aku cintai. Sekaligus kehilangan sahabat yang mencoba memperalat aku,” ucap Danu lalu bangkit dari duduknya.
“Kenapa lue bicara sepertinya. Sudah dibutakan oleh cinta. Lue udah terhasut dengan Indira,” Rian mengepalkan tangan hendak mendaratkan ke wajah Danu.
Danu dan Rian saling menatap Tajam.
💐💐💐
Indira berjalan lemas tak bersemangat.
“Hai.. mengapa lama sekali. Aku sudah menunggumu sejak tadi,” ucap Malvin yang berdiri di depan apartemen Indira dengan menyender ke dinding.
“Maaf.. jalanan sangat macet.”
“Itu alasan yang klasik. Coba cari alasan yang lain.”
“Ada Dinasaurus yang mengamuk di jalanan.”
“Alasan diterima, cepat buka pintunya,” ucap Malvin.
“Aku sangat haus.. bisa sediakan aku minum,” ucap Malvin tersenyum nakal. Mencoba mempermainkan Indira.
“Dengan senang hati. Mau panas atau yang dingin?” ucap Indira dengan senyum terpaksa.
“Aku ingin sesuatu yang membuat tenggorokanku sejuk.”
Indira mengambil minum soda dari lemari pendingin dan memberikannya pada Malvin.
“Terima kasih!” ucap Malvin. “Duduklah.. dan katakan sesuatu yang penting itu. Aku tidak punya begitu banyak waktu.”
“Mengapa kamu semakin sombong.”
“Itu perasaan kami saja,” Malvin tertawa kecil.
“Kamu bisa bantu aku untuk bicara dengan Danu?” tanya Indira penuh harap.
Hahahaaa
Malvin tertawa geli
“Kalian sedang bertengkar!”
“Dalam koteks pertengkaran sesungguhnya sih tidak. Hanya kesalahpahaman yang berasal dari orang ketiga.”
“Ooh.”
“Aku sudah berusaha menghubungi Danu untuk menjelaskan. Apa daya.. dia tidak mau mengangkat telpon dan juga tidak membalas pesanku. Jadi bantulah aku.”
“Harusnya ini menjadi kesempatan yang bagus untukku. Aku bisa mengantikan Posisi Danu dihatimu.”
“Berhentilah bercanda! Kamu mau menolongku apa tidak?” ucap Indira marah.
“Karena kamu yang meminta... dengan senang hati akan aku lakukan,” ucap Malvin yang membuat Indira tersenyum lebar.
Saat sedang mendiskusikan dengan Malvin tentang apa yang akan Dia katakan dengan Danu tiba-tiba Indira mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Indira malas mengangkatnya. Tidak suka menerima telpon dari orang yang tidak dia kenal. Tapi telepon tetap bolak balik berdering tanpa henti. Tidak lama ada pesan masuk.
‘Tolong angkat teleponnya Indira.. ada yang mau bunda bicarakan’.
“Bunda!” ucap indira. Indira memang memblokir telepon bunda semenjak kabur dari rumah. Tidak mau dihubungi oleh bundanya. Pasti ada sesuatu yang penting. Hingga bunda meneleponnya memakai nomor lain, yang selama ini tidak dia lakukan walau bisa.
Telepon kembali berdering. Tanpa berpikir panjang Indira langsung mengangkatnya.
“Indira,” ucap bundanya dengan senduh. Lembut menyentuh.
Sudah lama Indira tidak mendengar suara bundanya yang menentramkan jiwa. Yang selalu dia rindu tapi tak berani menyapa. Tidak Indira sadari bulit air mata jatuh ke pipi.
“Bunda.”
“Beri bunda kesempatan bicara. Ada yang mau bunda sampaikan pada Indira.”
Indira tidak menjawab menahan tangisnya agak tak pecah. Malvin hanya melihat Indira sedih dan prihatin.
“Indira.. kamu mendengarkan bunda.”
“Ya.. bun,”
“Senang rasanya dapat mendengar suara kamu lagi,”
“Apa yang mau bunda sampaikan,” ucap Indira ke topik pembicaraan.
“Papa kena serangan jantung ringan dan sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit. Bunda mohon berdamailah dengan papa. Kembali pulang ke rumah.”
Mendengar ucapan bunda, Indira terperangah. menutup mulutnya dengan tangan. Bagaimana mungkin. Papanya yang sangat menganggap penting kesehatan. Sangat menjaga makanan dan rajin berolah raga, bagaimana bisa terkena serangan jantung dengan mudah.
“Bunda sangat membutuhkan kamu nak.. disaat seperti ini bunda tidak tahu harus bersandar kepada siapa. Selain kamu! Dari kemaren papa belum sadarkan diri juga. Bunda tahu dalam hati kecil papa, dia sangat merindukanmu. Diam-diam selalu memandang foto kamu. Yang akan tetap selalu menyayangi Indira. Mana tahu dengan kehadiran Indira, papa cepat sadarkan diri.”
“Tapi bun..”
“Bunda mohon padamu...”
Indira terdiam memikirkan apa yang akan menjadi keputusannya. Apa ini saatnya harus kembali ke rumah setelah sekian tahun lamanya kabur...
💐💐💐