
Sudah dua hari berlalu. Tetapi apa yang dicari tak kunjung ketemu. Tidak ada titik terang, tidak ada jejak berkas laporan keuangan ada di tangan siapa.
Walaupun fokus utama Indira mencari berkas laporan keuangan, dia tetap harus mengerjakan pekerjaan papanya. Indira tidak mau yang lain menaruh curiga padanya. Itu sama saja seperti mati dimedan perang.
Pekerjaan hari ini lebih banyak dari kemaren. Terlebih pak Wiryo yang selalu membantu ada tugas diluar kota, membuat Indira harus menyelesaikan pekerjaaannya seorang diri sampai melewatkan istirahat makan siangnya. Wajahnya tampak lelah dengan beban pikiran yang cukup banyak.
Indira menghampiri Sonya yang juga tengah sibuk dengan pekerjaannya. “Maaf mengganggu mbak.”
“Indira! ada apa?”
“Boleh pinjam stempel perusahaan. Ada dokumen yang harus di stempel.”
“Ada sama pak Wiryo, mau saya ambilkan ke ruangannya.”
“Biar saya saja! Mbak Sonya lanjut kerja saja. Maaf selalu merepotkan.”
“Tidak merepotkan kok. Saya bisa maklum, kamu kan masih baru.”
“Ya sudah.. kalau begitu saya ambil dulu ya mbak.”
Sonya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Dan Indira segera pergi ke ruangan Wiryo dan mencari stempel. Tidak ada di meja kerjanya. Sementara lacinya terkunci rapat. Indira hampir putus asa. Kebetulan pandangan mata tertuju pada lemari kaca. Tampak stempel yang dia cari terpajang rapi disana. Indira mengelus dadanya.
Indira kesusahan membuka lemari kaca. Butuh perjuangan untuk membukanya. Dengan mengerahkan tenaga Extra akhirnya terbuka. Membuat sesuatu terjatuh dari atas lemari karena hentakannya.
“Aduh gawat. Bisa kena marah om Wiryo ntar. Apaan ya yang jatuh,” ucap Indira menggapai benda yang jatuh. “Apa ini,” ucap Indira sambil membersihkannya dari debu.
Sebuah berkas. Tertulis diatasnya ‘Laporan Keuangan bulan September’. Indira terperangah kaget bercampur senang bagai menemukan harta karun. Tanpa buang waktu Indira membuka lembaran demi lembaran kertas yang penuh dengan angka-angka, bikin pusing kepala. Disana ada bukti terlampir penyerah terima uang sebesar lima ratus juta kepada Gilang lengkap dengan tanda tangan di atas materai.
Telepon Indira berdering.
Telepon dari mamanya.
“Ya ma! ada apa?” ucap Indira. “Papa sudah sadar! baiklah aku akan segera ke Rumah Sakit.”
Dengan tergesah-gesah Indira pergi dengan berkas laporan keuangan yang di genggam erat. Dan berpamitan dengan Sonya terlebih dahulu.
💐💐💐
Indira mengatur nafas saat hendak masuk ruang rawat papanya. Danu sudah berada disana sedang memeriksa keadaan pak Indra.
“Indira!” ucap pak Indra melihat kedatangan Indira.
“Papa!” ucap Indira menahan tangis.
“Mengapa masih diam disitu. Kamu tidak mau memeluk papa.”
Segera Indira berlari kecil menghampiri dan memeluk papanya. Dekapan hangat yang sudah lama dia rindukan.
“Maafkan sikap Indira selama ini pa! Indira bukanlah anak yang berbakti,” tangis Indira pun pecah.
“Jangan menangis. Tidak ada yang bersalah maka tidak ada yang perlu dimaafkan.”
“Indira sayang papa.”
“Papa juga.”
indira melepaskan pelukannya. “Bagaimana keadaan papa, Danu!” ucap Indira sambil menyeka air matanya.
“Sebenarnya papa kamu sudah sadar dari kemaren. Jadi kondisinya sekarang sudah mulai stabil.”
“Dari kemaren! Kenapa baru bilang ke aku tadi.”
“Papa yang meminta mama untuk tidak memberitahukan kamu lebih dulu,” ucap mama Indira.
“Iya! Papa tidak ingin kamu melihat papa dalam kondisi lemah.”
“Indira kan khawatir dengan papa.”
“Maafkan papa sayang,” ucap pak Indra. “Papa mendengar kabar baik dari mama kamu. Mengapa tidak langsung diresmikan saja. Dan memberikan papa cucu yang banyak. Bagaimana nak Danu. Kamu setuju?”
“Papa!” sahut Indira malu.
“Iya om! saya sangat setuju.” Danu dan Indira saling pandang.
Indira meletakkan tas miliknya diatas meja, begitu juga dengan berkas laporan yang selalu dia bawa.
“Kenapa papa memberikannya pada om Wiryo. Di dalamnya ada bukti kecurangan yang dilakukan om Wiryo, pa!”
“Papa tahu.”
“Papa sudah tahu dan membelanya?”
“Papa tidak membelanya dan juga tidak bermaksud untuk menutupinya. Papa sudah berniat menggantikan yang sudah menjadi hak pak Gilang. Tapi belum lagi terlaksana jantung papa terasa sakit. Hingga papa sekarang berada disini. Mungkin karena terlalu banyak memikirkan penghiatan seorang sahabat yang sangat papa percaya,” ucap pak Indra. “Papa memberikan berkas itu pada Wiryo agar dia merenungkan kesalahan yang dia perbuat. Ini juga karna papa yang tidak peka atas kesusahan yang di alami sahabatnya. Ibunya Wiryo sakit dan harus menjalankan operasi jadi memerlukan banyak biaya.”
“Tapi tetap saja itu salah pa!”
“Papa tahu. Tapi dia terpaksa melakukaknnya karena baktinya sebagai anak. Untuk kali ini papa memaafkan atas perbuatannya tapi tidak membenarkan apa yang telah dia lakukan.”
“Dengarkan papa Indira. Berikanlah pak Wiryo satu kali lagi kesempatan. Dia telah mengakui kesalahannya,” sambung mama Indira.
“Iya! aku mengerti,” ucap Indira mengangguk pelan.
💐💐💐
Indira terlihat cantik dengan gaun kebaya berwarna merah jambu. Rambutnya yang terurai ikal dihias dengan bunga. Berdiri disamping Danu yang memakai kemeja batik dengan warna senada yang digunakan Indira. Senyum terkembang terus menghiasi wajah mereka.
Mereka saling bertukar cincin, memutuskan bertunangan terlebih dahulu untuk mengikat satu sama lain.
Para tamu memberikan ucapan selamat satu persatu.
“Aku senang akhirnya kamu menyusul Dir,” ucap Vanya.
“Akhirnya kamu melabuhkan hati pada cinta sejati kamu. Aku turut bahagia,” sahut Dewi memeluk Indira.
“Selamat.. semoga bahagia menyertaimu,” ucap Ray.
“Terima kasih Vanya, mbak Dewi dan Ray.”
“Jaga Indira bro.. jangan sakiti hatinya,” sambung Ray pada Danu.
“Tentu saja,” jawab Danu lantang.
Bergantian tamu yang lain memberikat selamat atas pertunangan Indira dan Danu.
“Selamat bang...” ucap Malvin pada Danu.
“Kamu cantik sekali kak Indira. Membuatku terpukau,” ucap Liza yang datang bersama Malvin.
“Kamu juga sangat cantik,” sahut Indira. “Aku dengar kamu berpacaran dengan Malvin.”
“Siapa bilang. Masih pendekatan,” protes Malvin.
“Tidak perlu malu,” sambung Danu.
“Aku tahu dalam hati kecilnya. Dia begitu mencintaiku bang.”
“Jangan kepedean,” ucap Malvin.
“Sepertinya kalian sangat cocok. Aku sangat mendukung,” Indira memberi dukungan untuk Liza.
“Kalau begitu. Kamu akan tetap jadi kakak iparku. Walaupun bukan dari abangku. Aaah.. aku menyayangimu kakak ipar,” ucap Liza kegirangan. “Bolehkan aku memanggilmu kakak ipar!”
“Tentu saja.”
Malvin menggelengkan kepala melihat tingkah Indira dan Liza. Danu hanya tersenyum lebar tanpa kata.
Semua orang terlihat bahagia. Dan berfoto bersama mengukir kenangan indah.
The End....
Terima kasih.. saya ucapkan karena meluangkan waktu membaca PHP Girl.
Semoga bertemu lagi dikarya saya selanjutnya.
Salam
\~Vhi Ain\~