PHP Girl

PHP Girl
Bab 32



Melihat Indira keluar dari ruang rawat Danu langsung nyelonong pergi tanpa menjawab Widya. Tidak memperdulikan Indira segera Widya mengejar Danu.


Indira hanya bisa menatap kepergian Danu dengan sedih. Tidak menyangka hubungan mereka yang masih seumur jagung akan seperti ini. Indira jongkok menahan rasa perih dihati. Memeluk lutut melampiaskan kesedihan.


Dari kejauhan Rian menatap tajam Indira tanpa rasa iba.


💐💐💐


“Mama instirahat di rumah saja, biar Indira yang menjaga papa,” ucap Indira mengelus lembut lengan mamanya.


“Percuma saja. Hati mama tidak tenang bila belum melihat papa membuka mata. Biarkan mama menjaganya bersama kamu sambil melepas rindu.”


“Aku akan berjaga diluar,” pamit Malvin.


“Bukannya lebih baik pulang dan istirahat.”


“Jangan paksa aku pulang. Aku ingin disini,” ucap Malvin keluar ruangan. Membiarkan Indira berkumpul dengan keluarganya.


💐💐💐


Pagi hari Indira pamit dengan mamanya kembali ke apartemen untuk membersihkan diri dan berjanji akan kembali lagi. Malvin mengantarkannya.


“Puas! sudahku katakan tidak perlu mengantar sampai depan pintu begini.”


“Aku hanya mau memastikan kamu sampai dengan selamat.”


“Kamu terlalu berlebihan. Memangnya ada orang yang mau mencelakaiku. Itu hanya alasan kamu saja biar lebih lama denganku,” tebak Indira.


“Sayangnya tebakan kamu benar. Kalau begitu aku pulang dulu nanti akan aku jemput lagi.”


“Tidak perlu Malvin. Aku tidak mau merepotkamu.”


“Tapi aku senang di repotkan olehmu.”


“Untuk saat ini tidak! aku tidak akan sungkan meminta bantuanmu bila sangat-sangat di perlukan.”


“Baiklah.. telepon aku bila kamu memerlukan sesuatu.”


“Tentu! kalau begitu aku masuk dulu,” ucap Indira menutup pintu. Baru dua langkah berjalan dan terdengar suara ketokan pintu. Indira kembali untuk membukakan pintu.


“Kamu yakin tidak mau aku antar?” ucap Malvin.


“Aku kira kamu sudah pergi! aku menghargai niat baik kamu. Tapi.. maaf tidak untuk saat ini.”


“Aku mengerti,” Malvin tertunduk lesu.


“Dari mana kamu tahu?” tanya Malvin.


“Aku mengintipmu. Mata kamu terbuka lebar menatap layar ponsel dan terus menggoyang-goyangkan kakimu. Apa yang kamu nonton!”


“Hai.. jangan berpikir jorok. Aku main game untuk menghabiskan waktu dan menggoyangkan kakiku agar nyamuk tidak hinggap untuk menghisap darahku yang manis.”


“Ooh.. benarkah.”


“Aku berani bersumpah.”


“Tidak perlu bersumpah segala. Aku percaya padamu dan hanya ingin menggodamu saja. Badanku sudah sangat lengket. Gatal. Ingin cepat mandi. Sana cepat pulang,” usir Indira.


“Galaknya. Baiklah aku akan pulang,” ucap Malvin kecewa.


Setelah memastikan Malvin pergi, Indira menutup pintu. Tak selang berapa lama. Pintu kembali di ketuk. Pasti Malvin!. Indira malas membukakan pintu. Tok.. tok... niat hati mau menghiraukan. Tapi apa daya suara bising mengganggu telinga.


“Kan sudahku bilang...,” ucap Indira terbata. Matanya terbuka lebar melihat seseorang yang ada di depannya. Danu.


Dengan gerak cepat Danu menarik Indira masuk. Memeluknya Indira penuh emosi dengan sekuat tenaga. Membuat Indira kesulitan bernafas.


“Dan.. Danu..,” Indira kesulitan bicara.


“Mengapa hati ini begitu sakit seperti teriris saat jauh darimu. Batin ini tersiksa. Aku benar-benar tidak sanggup hidup tanpamu,” Danu mendekap Indira semakin erat. Takut kehilangan kekasihnya.


“Tolong lepaskan! aku tidak dapat bernafas,” jerit Indira.


“Aku benar-benar tidak tahan lagi,” Danu ******* bibir bervolume Indira. Meremas rambutnya dan mendorong tubuh Indira ke sofa. Sebelum melanjutkan aksinya lagi Danu menatap penuh cinta dan gairah Indira. Gadis ini telah membuatnya terjun jatuh ke jurang cinta. Yang sangat dalam.


Mata Indira sayu. Pasrah dengan apa yang akan dilakukan Danu.


Danu Menarik tangan Indira ke atas kepala. Menggenggamnya erat.


Dan Danu kembali mendaratkan ciuman ke bibir Indira. Ciuman meluncur ke leher. Meninggalkan tanda cinta. Perlahan tapi pasti Danu melepas kancing baju Indira. Tangannya menggeranyang masuk ke dalam. Dengan menghela nafas panjang Indira menahan tangan Danu.


“Aku belum siap untuk melakukannya,” ucap Indira terbata. Buliran air mata mengalir dari sudut mata.


Danu diam membisu hingga akhirnya memutuskan mengakhirnya aksinya. Terduduk di lantai. Lemas. Menjambak rambut dengan kedua tangannya. Lalu menutup mata. Masih dalam keadaan berbaring, Indira memiringkan tubuhnya. Mengkaitkan kedua tangannya memeluk Danu.


“Aku sangat mencintaimu.. sangat amat mencintaimu. Tapi tidak dapat melakukannya sebelum terucap janji darimu dihadapan orang tuaku,” ucap Indira sambil mengecup pipi Danu. “Baru kali ini merasakan hatiku sakit bagai tertusuk duri saat kamu acuh padaku. Aku tidak mau kehilangan dirimu.”


“Maafkan aku,” ucap Danu terisak tangis lalu membalikkan badannya untuk memeluk Indira. Dan menangis di pelukan Indira.


💐💐💐