PHP Girl

PHP Girl
Bab 22



Sejak pagi Malvin berdiri di depan kantor Indira. Dan menjadi pusat perhatian karena berperawakan tinggi dan manis.


“Lihat ada berondong manis..”


“Iya... manis. Gemes”


“Mau dong jadi pacarku.”


“Aku juga mau.”


Dua orang wanita berbisik sambil memandang Malvin. Walaupun Malvin masih bisa mendengar percakapan mereka tapi dia tidak menghiraukannya.


“Kamu! Ngapai di sini?” tanya Ray pada Malvin.


“Ada perlu dengan seseorang tapi bukan denganmu.”


“Aku bisa menebaknya dengan siapa, tapi kamu berdiri di depan pintu sangat mengganggu dan merusak pemandangan saja.”


“Mungkin untuk kamu saja.. aku lihat yang lain tidak merasa terganggu. Justru mereka terhibur melihat wajah tampanku ini.. seperti artis drama Korea.”


“Eeeh.. sombong sekali.”


“Memang kenyataannya seperti itu. Kamu jangan iri.”


“Nyebelin nih anak.. bikin orang emosi saja.”


“Jangan emosi nanti Darah Tinggi looh,” ucap Malvin tersenyum menyeringai. Dia sengaja membuat Ray emosi.


“Benar-benar nih anak,” Ray berjalan mendekati Malvin.


“Ray...” teriak Indira yang baru turun dari mobil.


Parkiran mobil di kantor Indira terletak di bagian depan.


“Indira!” ucap Malvin berlari mendekati Indira dan di susul Ray.


“Pagi-pagi sudah bertengkar!” marah Indira sambil melirik Ray dan Malvin bergantian. “Kamu lagi.. ada urusan apa kesini,” ucap Indira pada Malvin.


“Mau bikin rusuh kali,” serobot Ray.


“Kan sudah aku katakan tidak ada urusan denganmu, jadi diam saja.”


“Kalau aku tidak mau bagaimana.”


“Aduh... diam. Kalian itu ya..” ucapan Indira terpotong saat seseorang melemparkannya sekantok plastik telur busuk dengan bau yang sangat menyengat. Mendarat di bahunya, hampir mengenai mata. Ray dan Malvin yang berada di dekat Indira tak luput dari ciptaran telur busuk.


Dengan sigap Malvin mengejar sang pelaku yang sudah mejalukan mobilnya dengan kencang di jalanan yang tidak terlalu ramai.


“Sial!” ucap Malvin mengepalkan tangan dan menghentakkannya ke bawah. Kesal. Dan kembali melihat keadaan Indira.


“Dir.. kamu nggak apa-apa?” tanya Ray panik.


“Bahu dan punggungku sakit.. dan juga bau,” Indira menutup hidungnya dengan jari telunjuk.


“Sepertinya aku tahu siapa orang mengendarai mobil itu,” ucap Malvin.


“Kamu mengenalnya?” tanya Indira.


“Aku akan mencari tahu! nanti akan aku kabari,” tanpa memberi jawaban kepastian Malvin berlalu pergi mengendarai mobilnya.


Ray menuntun Indira memasuki kantor.


“Indira.. kamu kenapa? Eeemh baunya,” tanya Vanya.


“Kerjaan orang iseng,” jawab Indira.


“Kerjaan orang iseng apaan... ini sudah kesekian kalinya. Pikir pakai logika,” bantah Ray.


“Bau sekali.. tercium sampai atas,” ucap Dewi menuruni tangga. “Apa yang terjadi Dir!” Dewi panik melihat kondisi Indira.


“Aduh.. ceritanya nanti dulu ya... aku juga gak tahan sama baunya. Aku mau mandi dulu.”


“Ya udah buruan sana,” ucap Dewi.


“Tolong ambilkan baju gantiku mbak di mobil. Kuncinya ada di dalam tas,” ucap Indira menunjuk tas miliknya yang di pegang Ray.


“Ok Dir!” ucap Dewi mengambil tas Indira dari Ray dan bergegas pergi.


“Kamu gak butuh bantuan yang lain gitu Dir.. seperti menggosokkan punggung,” ucap Ray berharap.


“Ntar... kamu kebagian nyuci baju kotornya saja.”


“Huuu.. masih ngarep saja lue,” ejak Vanya dan pergi meninggalkan Ray sendiri.


“Kan aku kena juga.. harusnya aku ikut mandi. Indira tunggu kita mandi bareng...” ucap Ray mengejar Indira.


💐💐💐


“Udah habis sabun sebotol.. baunya gak hilang-hilang juga,” Indira menggerutu.


“Pakai kopi! kan kopi bisa menetralisir bau,” ucap Dewi.


“Gak di kasih Juki.. katanya ‘ntar yang lain jadi gak bisa minum kopi karena kehabisan’. Padahalkan hanya minta sedikit,” Indira menirukan perkataan Juki.


“Sebagai gantinya Juki buatkan kopi,” ucap Juki yang hadir tiba-tiba. “Jangan ngambek lagi bu.. silahkan diminum biar lebih tenang. Kopi buatan Juki gak kalah enak kok dari kopi buatan mas Bian.”


“Ya sudah.. terima kasih.”


Dewi tertawa kecil.


“Aduh..,” Ray datang menghampiri. Meringis kesakitan sambil memegang pipinya.


“Kenapa kamu Ray?” tanya Dewi.


“Ditonjok cewek galak,” ucap Ray.


“Gimana gak kena tonjok. Dia mau ikutan masuk ke kamar mandi.”


“Kan kamar mandi cuma satu Dir! lagian kan aku cuma bercanda.”


“Kamu sih bercanda kelewatan,” marah Dewi.


“Iya maaf... maaf!”


“Kasian deh.. pak Ray kena serang cewek-cewek, 2 lawan 1. Udah nyebur tenggalam pula,” Juki tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Ray.


“Mati dong..,” teriak Ray.


Kini giliran Indira dan Dewi yang menertawakan Ray.


“Sudah cukup! perutku jadi sakit,” ucap Indira.


“Iya aku juga,” sahut Dewi.


“Terus gimana kelanjutannya Dir? Kamu gak mau lapor ke pihak yang berwajib?” tanya Indira.


“Mendingan kamu lapor daripada terus-terus di teror begini,” sambung Dewi sambil memegang perutnya.


“Iya mbak!” ucap Indira masih ragu-ragu.


💐💐💐


Indira mencoba menelpon Danu berkali-kali untuk memberitahukan kejadian yang baru saja dia alami. Tapi Danu tidak mengangkat teleponnya.


Mungkin Danu sedang banyak pekerjaan.. pikir Indira. Lebih baik nanti saja dari pada mengganggunya.


Ponsel Indira berdering. Ada panggilan masuk. Bukan dari Danu. Melainkan dari Malvin.


Lama. Indira baru mengangkat teleponnya.


“Halo,” sapa Indira.


“Mengapa lama sekali mengangkat teleponnya,” ucap Malvin kesal.


“Aku baru selesai dari kamar mandi,” jawab Indira berbohong. “Ada apa?”


“Aku sudah tahu pelakunya,”


“Secepat ini!” ucap Indira kaget.


“Aku mengenali mobilnya dan tadi mengejarnya dengan kecepatan tinggi. Membuat hampir celaka.”


“Bodoh! Bagaimana kalau tadi kamu benar-benar kecelakaan,” ucap Indira marah.


“Demi kamu akan kulakukan.”


“Lantas siapa pelakunya?”


“Jangan terkejut, pelakunya......”


💐💐💐