PHP Girl

PHP Girl
Bab 18



Indira menangis sampai sesegukan. Masih syok dengan perlakuan Malvin. Tidak pernah sebelumnya dia mendapat perlakuan seperti ini.


Semalaman Indira terjaga, takut Malvin menerobos masuk dan terjadi hal yang tidak dia inginkan. Matanya tampak lelah.


Rasa kantuk tak tertahankan. Sudah bolak balik Indira menguap hingga air matanya keluar. Perlahan matanya terpejam saat menjelang fajar.


Suara dering jam waker tidak mempan untuk membangunkannya. Indira terlelap dalam tidurnya. Ponselnya yang berdering juga tidak dihiraukan hingga kehabisan baterai.


Akhirnya Indira terbangun saat mentari hampir terbenam. Matanya bengkak, terasa sakit saat hendak membuka mata. Dia mencari-cari ponselnya yang tertimpa di bawah selimut. Layarnya sudah tidak menyala lagi.


Setalah mencharger beberapa saat, Indira menyalakan ponsel. Penuh dengan pesan masuk dan panggilan tidak terjawab. Dari sekian banyak panggilan, tidak satu Indira mendengar deringannya.


🌸 Pesan dari Danu


Pasienku kamu sudah makan belum..


Nanti kita makan bareng!


Pasienku...


Mylove..


Kenapa gak di balas.


Apa ada masalah?


Kenapa teleponnya gak di jawab?


Sayang..


Cinta..


Darling..


Aku mohon angkat teleponnya atau balas pesanku. Aku khawatir..


Indira Prameswari


🌸 Pesan dari Dewi


Dir! kamu ketiduran lagi?


Dir! udah jam berapa nih..


Di telpon kok gak angkat?


Dir!


Dir!


You ok?


Hubungi aku secepatnya.


🌸 Pesan dari Ray


Dir!


Honey..


Honey Indira


Kamu dimana? Aku dan mbak Dewi di apartemen kamu...


Dir...


🌸 Pesan dari Juki


Bu Indira tidak masuk kerja ya! Katanya kemaren titip sarapan. Sudah saya beli. Kalau bu Indira tidak masuk saya makan saja ya. Tapi tetep ibu yang bayar ya.


Indira menelpon Dewi lebih dulu.


“Hallo mbak..”


“Indira! kamu kemana saja sih, aku khawatir sama kamu. Telepon gak di angkat. Didatangi ke apartemen juga gak ada. Gak ada kabar berita sama sekali,” ucap Dewi dalam satu tarikan nafas dengan nada marah sangat mengkhawatirkan Indira.


“Maaf mbak aku tidak memberi kabar sebelumnya. Aku sedang ada urusan mendadak,” Indira berbohong. Dia tidak mau membuat Dewi semakin khawatir.


“Tadi sehabis makan siang aku dan Ray ke apartemen kamu. Mana tau kamu ada di rumah,” ucap Dewi. “Aku sampai tidak fokus mengurus anak-anak, aku takut terjadi sesuatu padamu seperti yang kemarin.”


“Mbak gak usah khawatir! Aku baik-baik saja kok.”


“Kalau begini aku sudah tenang.”


“Tolong beritahu Ray juga mbak kalau aku baik-baik saja.”


“Iya, nanti mbak beritahukan Ray. Dia juga sangat khawatir padamu. Dia yang memaksaku datang ke apartemenmu untuk memastikan keadaanmu.”


“Iya mbak! Kalau begitu aku istirahat dulu. Terima kasih mbah sudah sangat perhatian padaku.”


“Iya... kamu sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Beristirahatlah!”


Sehabis menelpon Dewi, lantas Indira menelpon Danu. Pasti dia sangat khawatir sekali. Belum lagi Indira menelpon, Danu telah menelponnya lebih dulu.


“Kemana saja? Mengapa tidak mengangkat teleponku,” ucap Danu to the point.


“Kehatimu.”


“Aku sedang tidak bercanda.”


“Sekarang kamu dimana? Aku akan kesana sekarang.”


“Aku di apartemen,” ucap Indira serius. “Tadi aku sedang ada urusan yang mendadak. Maaf! tidak memberitahumu sebelumnya.”


Indira juga berbohong pada Danu.


“Kamu paling jago membuatku panik. Aku hampir saja melapor ke polisi.”


“Emang aku anak hilang.”


“Ya! Aku telah kehilanganmu seharian ini. Jangan diulang lagi.”


“Laksanakan pak dokter!”


“Setelah pekerjaanku selesai, aku akan segera kesana.”


“Tidak perlu repot...”


“Jangan membantah,” belum lagi Indira selesai bicara sudah disambar oleh Danu. “Dengarkan saja kataku.


“Iya!” ucap Indira pelan.


💐💐💐


Tangan kiri Indira diletakkan di dada dan tangannya menyentuh pipi kanan, memperhatikan tukang yang sedang mengganti kunci apartemennya. Indira meminta pihak pengurus apartemen untuk mengganti kunci apartemennya agar Malvin tidak masuk lagi.


Tepat saat itu Danu datang. Menghampiri Indira yang menyambutnya dengan senyuman.


“Sedang apa?” tanya Danu pada Indira.


“Sedang mengganti kunci,”’jawab tukang sambil bekerja.


“Kenapa kuncinya di ganti?” tanya Danu lagi pada Indira.


“Lagi musim maling mas..” jawab tukang lagi, menyerobat Indira yang hendak menjawab dan membuat Danu kesal.


Indira hanya menahan tawa menyaksikannya.


“Oke! Sudah selesai mbak,” ucap tukang. “Ini kuncinya. Silahkan di coba dulu.,” ucapnya lagi.


Indira menerima kunci dan mencoba menutup pintunya.


“Sudah pak! Terima kasih banyak,” ucap Indira. “Ambillah ini untuk jajan anak-anak,” Indira memberikan sejumlah uang pada tukang.


Danu membantu tukang kunci membereskan peralatannya. Seletah tukang kunci berlalu Danu merangkul Indira untuk masuk.


“Aku kira kamu tidak akan datang,” ucap Indira.


“Mana mungkin! Pria sejati selalu menepati janjinya... pada wanita. Heheee!” Danu tertawa kecil.


“Eeemh!” Indira menarik nafas dan melepasnya.


“Coba lihat aku sebentar. Ada sesuatu yang aneh,” Danu memperhatikan wajah Indira. “Ada apa dengan matamu? Mengapa tampak bengkak dan mata panda begitu.”


“Tadi termasuk debu.. perih jadi bengkak deh.. atau mungkin karena terlalu kelelahan,” ucap Indira gugup.


Danu hanya tersenyum tipis. Dia tahu ada yang sedang ditutupi oleh Indira. Tapi dia tidak mau memaksa Indira untuk mengatakannya.


“Boleh aku mandi sebentar,” ucap Indira.


“Kamu belum mandi?” tanya Danu.


“Belum,” Indira tidak berani mandi sebelum kunci apartemennya di ganti.


“Wanita cantik.. gak mandi saja cantik apalagi sudah mandi.”


“Berantakan begini di bilang cantik. Kamu berlebihan pak dokter.”


“Aku tidak berlebihan! Seperti itulah kenyataannya.”


“Mendengarkanmu.. tidak akan mandi-mandi.”


“Hahaaaha. Cepatlah mandi.”


Indira mandi cukup lama. Biasalah wanita... Danu menunggu sampai bosan sambil menonton televisi.


Tercium aroma parfum lavender saat Indira keluar dari kamar. Aroma yang menenangkan.


“Akhirnya selesai juga,” sindir Danu.


“Dakiku terlalu tebal untuk dihilangkan,” canda Indira.


Danu tertawa kecil.


“Tadi kata bapak tukang kunci lagi musim maling? Memangnya ada yang kemalingan.”


“Aah itu. Tidak! aku hanya berjaga-jaga.”


“Bagaimana kalau untuk malam ini aku tidur disini menemanimu.”


“Tidur disini!”


“Tidak tidur sekamar,” ucap Danu. “Jangan salah paham. Aku akan tidur di sofa.”


Indira berpikir sejenak.. dia masih teroma dengan kejadian semalam. Tapi bila Danu berada disini, Indira merasa lebih tenang.


💐💐💐