PHP Girl

PHP Girl
Bab 27



Indira menunjukkan kotak pemberian Nathan pada Malvin. Memperlihatkan isinya.


“Cincin yang indah, bunga mawarnya sampai mengering dan Dvd! Apa isinya?” tanya Malvin.


“Video,” jawab Indira singkat.


“Apa video...” Malvin melirik Indira nakal.


“Jangan perpikir yang macam-macam,” ucap Indira dan memutarkan videonya untuk Malvin.


Mereka berdua tampak menonton bersama dengan serius.


“Ternyata abangnya Liza sangat tampan dan suaranya merdu. Aku terhanyut mendengar nyanyiannya.”


“Andai waktu bisa terulang kembali.”


“Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi Indira.”


“Aku sudah tau..,” ucap Indira senduh. “Aku sudah gila.. mengharap tidak yang mungkin.”


“Kamu kan memang gila sampai kabur dari rumah,” ejek Malvin.


“Darimana kamu tahu?” tanya Indira heran. “Aku tidak pernah mengatakannya padamu.”


“Mas bro yang mengatakan padaku.”


“Dasar mulut ember!” omel Indira pelan. “Benarkah sekarang kalian seakrab itu, sangat sulit dipercaya.”


“Hubungan kami sekarang bagai abang dan adik.”


“Terserah kalian saja.. asal tidak merugikanku,” ucap Indira sambil mengambil dvd pemberian Nathan dan menyerahkannya pada Malvin. “Ini aku pinjamkan pada Liza. Tapi katakan padanya harus pengembalikannya padaku, karena itu adalah milikku. Dan sangat berharga bagiku.”


“Uuh.. kamu masih mau menyimpan barang pemberian mantan!” goda Malvin.


“Nathan bukan mantanku, kami tidak pernah berpacaran. Hanya berteman.”


“Teman mesra-mesraan.”


“Yang pasti tidak pernah ada kata jadian,” tekan Indira.


“Kamu tidak takut bang Danu cemburu?”


“Danu... atau kamu yang cemburu?” tanya Indira balik. “Sangat kekanak-kanakan bila Danu cemburu. Tidak adil cemburu pada orang yang sudah tiada.”


“Ya.. aku mengerti! akan aku berikan pada Liza.”


“Bagus! adik yang penurut. Akhirnya aku merasakan punya adik. Selama ini aku tidak memiliki adik,” Indira mencupit pipi Malvin.


“Hentikan! aku bukan anak kecil.”


Indira tidak memperdulikan ucapan Malvin dan terus mencubit pipinya.


💐💐💐


Setelah pekerjaannya selesai Danu bergegas ke apartemen Indira. Dia sudah berjanji dan tidak mau membuat kekasihnya kecewa. Danu berjalan cepat ke parkiran mobil dan berpapasan dengan Rian yang berdiri di depan mobilnya.


“Kenapa terburu-buru? Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Rian.


“Ya! aku mau menemui kekasihku. Dia sedang bersedih. Aku mau menghiburnya dan mengajaknya makan malam bersama untuk menghilangkan kesedihannya.”


“Bagaimana kalau mengajaknya ke restaurant tempat kita biasa nongkrong. Bukankah makanan disana sangat enak. Pasti dia menyukainya,” ucap Rian menyarankan.


“Aku memang mau membawanya kesana. Nuansanya juga bagus,” ucap Danu. “Ok! Kalau begitu aku jalan dulu. Aku tidak mau dia menunggu.”


“Ok! Happy Nice day.”


“Thank bro.”


Danu masuk ke dalam mobil dan segera pergi melajukan mobilnya.


Rian menatap dingin mobil Danu yang berlalu pergi meninggalkan parkiran. Dan masuk ke dalam mobil. Widya sudah berada di dalam mobil lebih dulu, duduk di samping bangku kemudi. Sedari tadi mendengarkan perbincangan antara Danu dan Rian. Widya dan Rian saling berpandangan penuh makna.


💐💐💐


Indira duduk termenung di bangku taman apartemen. Menikmati pemandangan langit senja yang begitu cantik. Matahari yang hampir tenggelam tertutup awan, memancarkan warna jingga bercampur merah muda. Paduan warna yang sempurna menenangkan jiwa. Angin yang berhembus sepoi membawa kesejukan dalam diri. Menenangkan hati dan pikiran.


Danu datang menghampirinya.


“Pantas saja! mau ketok pintu sampai tangan memar gak bakalan dibuka. Ternyata sedang asik duduk santai disini.”


“Aduh.. maaf! aku hanya ingin mencari angin segar.”


“Telepon juga gak di angkat.”


Indira mengangkat kedua tangannya. Menunjukkan hanya ada sebuah kunci dengan gantungan angsa yang diselip di ibu jarinya.


“Aku lupa membawanya,” ucap Indira.


“Aku memberikan padaku semua,” ucap Danu menyodorkan buket bunga.


“Yang kubutuhkan hanya satu kuntum saja.”


“Sia-sia dong belinya.”


Indira tersenyum lebar. Lucu melihat reaksi Danu.


“Kenapa kamu menggunakan rok terlalu mini, bagaimana kalau ada yang mengintipmu,” ucap Danu melihat sekeliling dan menutup paha Indira yang putih mulus dengan sapu tangan miliknya.


“Siapa yang mau mengintip, lagian tidak ada orang dari tadi.”


“Orang tidak ada, bagaimana dengan rerumputan!”


“Pada rerumputan saja kamu cemburu! eemh,” ucap Indira sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


“Apa yang terjadi kemaren? cepat ceritakan. Aku tidak sabar ingin mendengarkan,” ucap Danu bersemangat. “Malvin tidak mau mencerikannya padaku.”


“Kamu masih ingat dengan gadis yang mengaku telah dihamili oleh Malvin.”


“Gadis yang memalsukan kehamilannya itu!” ucap Danu menyakinkan.


“Ya! dialah pelaku yang telah menerorku. Kemaren juga dia lempar telur busuk padaku.”


“Dia sudah keterlaluan. Pasti dia melakukannya karena kamu telah menggagalkan rencana.”


“Kamu salah! dia lakukan karena abangnya.”


“Abangnya?


“Ya! pria yang dulu dekat denganku. Yang berencana ingin melamarku. Tapi karena keegoisanku, membuatnya kehilangan semangat, hingga akhirnya pergi untuk selamanya,” ucap Indira sedih.


Danu menarik Indira ke pelukannya. Mengelus pundaknya lembut.


“Jangan bersedih. Itu semua sudah terjadi. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah mendoakannya. Dan hidup lebih baik lagi,” ucap Danu menenangkan.


Indira mengangguk mengerti.


“Kamu pasti lapar. Bagaimana kalau kita pergi makan malam diluar.”


“Baiklah! aku sangat lapar. Jangan marah jika aku nanti makan yang banyak.”


“Untuk apa aku marah! harusnya senang.”


“Aku ganti baju dulu ya.”


“Jangan yang terlalu mini. Aku tidak suka pria lain memperhatikan tubuhmu.”


“Laksanakan,” ucap Indira tersenyum manis.


💐💐💐


Mengenakan gaun terusan panjang selutut berwana merah maroon, rambut ikal panjang yang di gerai dan make up natural. Terlihat sangat anggun. Berjalan memasuki restaurant menggandeng tangan Danu.


“Sudah reservasi sebelumnya pak?” tanya pelayan dengan sopan.


“Sudah.”


“Atas nama siapa?”


“Danu Mahendra.”


“Ditunggu sebentar ya pak!” pelayan mencari nama Danu di daftar reservasi. “Ikut dengan saya pak.”


Danu dan Indira mengikuti pelayan menuju meja.


“Silahkan duduk,” pelayan mempersilahkan duduk. “Dan ini menunya.”


“Saya akan melihatnya dulu. Nanti saya panggil?” ucap Danu pada pelayan.


“Baik pak!” pelayan mengangguk dan berjalan pergi.


“Pilihlah yang kamu suka. Makanan disini sangat enak-enak...”


“Sepertinya kamu sering makan disini,” ucap Indira.


“Ya! bareng dengan sahabatku. Lain kali kita makan bareng dia ya,” ucap Danu bersemangat.


Indira tidak menjawab hanya tersenyum dengan sedikit keraguan. Mata Indira tertuju pada daftar menu yang memiliki beragam macam makan lengkap dengan fotonya yang menggugah selera.


“Danu! ternyata kamu disini juga,” ucap Widya yang berdiri di depan meja Danu dan Indira.


Danu terheran melihat Widya. Sangat kebetulan sekali. Indira juga melihat Widya. Dan betapa terkejutnya Indira melihat seseorang yang muncul dari belakang Widya. Rian.


💐💐💐