
Hari ini begitu banyak pekerjaan di Rumah Sakit. Seharian ini Danu banyak menangani pasien yang datang berobat. Danu pulang ke rumah dengan wajah lelah, dia tidak menyadari kehadiran yang tengah duduk santai menikmati teh hangat di ruang tengah.
Malvin memperhatikan Danu. Sepertinya dia belum tahu apa yang terjadi pada Indira. Teringat akan keadaan Indira yang membutuhkan suntikan semangat dari orang terkasih. Malvin mencoba memberitahukan pada Danu, dia tidak mau egois. Membuat Indira tersenyum kembali itu lebih penting daripada perasaan cemburunya.
“Bang..,” sapa Malvin.
Danu yang mau berjalan ke kamarnya menoleh pada Malvin.
Heran. Sangat tumben Malvin menyapanya. Walau tinggal di satu atap mereka tidak pernah saling bertegur sapa. Padahal mereka saudara sekandung dan hanya dua bersaudara saja.
“Malvin! ada apa?” tanya Danu.
“Kamu tidak menemani Indira?” Malvin balik bertanya.
“Tidak,” jawab Danu singkat.
“Indira tidak memberitumu?”
“Mengenai apa,” ucap Danu. “Ponselku tertinggal, aku tidak menghubunginya seharian.”
“Aku rasa Indira sangat membutuhkan seseorang untuk menghiburnya.”
“Apa terjadi sesuatu pada Indira?” tanya Danu khawatir.
“Lebih baik tanyakan langsung padanya. Aku sedang malas menjelaskan. Sudah ngantuk,” ucap Malvin beranjak pergi. “Kamu harus lebih peka terhadapnya. Jika tak sanggung membuatnya bahagia lebih baik mundur saja biar aku yang maju untuk menjaganya,” sambung Malvin pada Danu sebelum masuk ke kamarnya.
Danu tidak menjawab perkataan Malvin. Dari ucapan Malvin, dia menyadari bila adik satu-satunya juga memiliki pesaraan cinta pada Indira dan sepertinya dia lebih banyak tahu hal mengenai Indira.
Danu segera masuk ke kamarnya. Tampak ponsel miliknya tergeletak di atas meja. Karena tadi pagi terburu-buru dia melupakannya. Danu memeriksa ponselnya. Ada delapan panggilan tak terjawab dari Indira pukul sembilan pagi. Bagaimana ini? dia baru menyadarinya pukul delapan malam dan itu juga dari Malvin yang memberitahukannya. Jika tidak, dia pasti langsung pergi tidur sangking lelahnya. Pria macam apa itu, disaat kekasihnya membutuhkannya dia justru tidak ada.
“Halo,” ucap Danu yang menelepon Indira.
“Danu,” panggil Indira dengan suara sedikit serak.
“Kamu meneleponku tadi pagi.. maaf tadi ponselku tertingal di rumah,” Danu memberikan penjelasan. “Pasti ada sesuatu yang penting yang mau kamu sampaikan dan apa kamu sedang sakit suara kamu berbeda.”
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak! kamu pasti berbohong. Aku akan segera kesana.”
“Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat. Nanti juga baik sendiri,” ucap Indira. “Lebih baik kamu juga istirahat, aku mohon dengarkan aku.”
Danu bimbang. Dilema. Disatu sisi tubuhnya butuh istirahat setelah seharian menjalani pekerjaan yang padat dan sisi lain kekasih juga pasti membutuh dirinya sebagai tempat bersandar.
“Aku akan mendengarkanmu,” ucap Danu dengan berat hati. “Setelah pulang kerja aku kan menemuimu segera dan kamu harus berjanji akan menceritakannya semua padaku. Semuanya,” tekan Danu.
“Aku akan menceritakan semuanya sampai kupingmu panas mendengarkannya.”
“Tidurlah yang nyenyak, mimpi yang indah. Love You.”
“Love You Too,” ucap Indira menutup teleponnya. Wajahnya murung. Dia sangat menginginkan Danu ada di sampingnya tapi Indira tidak mau menjadi kekasih egois yang hanya memikirkan kepentingannya saja.
💐💐💐
Malvin menunggu Danu di dalam mobil. Berharap Danu segera keluar untuk menemui Indira. Dia akan berbaik hati mengantarkan Danu ke apartemen Indira. Mengingat kondisi Danu yang kelelahan, Malvin tak tega melihatnya menyetir sendiri.
Telah menunggu lama Danu tidak juga keluar dari di dalam rumah. Pemikirannya ternyata salah. Terlanjur telah duduk di dalam mobil, Malvin memutuskan pergi seorang diri ke apartemen Indira. Tidak turun. Hanya menatap jendela Indira dari dalam mobil.
💐💐💐
Pagi hari ini cerah. Mentari dengan gagah bersinar dilangit biru. Dengan telanjang dada Malvin bersemangat mencuci mobil di depan rumahnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
“Bang Danu,” panggil Malvin sambil mengejar Danu yang tergesa-gesa mau masuk ke mobilnya.
“Ada apa Malvin,” tanya Danu dengan sedikit heran dengan sikap adiknya belakangan berubah.
“Apa aku boleh menemani Indira hari ini? sepertinya dia tidak masuk kerja. Aku ingin menghiburnya.”
“Mengapa kamu meminta ijin dariku.”
“Bukannya kamu pacarnya.. aku hanya tidak mau nanti ada kesalahpahaman.”
“Menghibur Indira yang terluka hatinya lebih penting. Jangan sampai membuat lukanya semakin dalam. Ketinggalan pelajaran bisa saja dikejar,” ucap Malvin yang seolah sedang menyindir Danu.
“Pergilah! gantikan posisiku untuk menghiburnya,” jawab Danu sedih.
💐💐💐
Malvin mengetok pintu apartemen Indira dengan semangat. Dan Indira membukakan pintu.
“Masih pagi begini kamu bertamu ke rumah orang,” ucap Indira lesu.
“Apa aku tidak boleh datang berkunjung ke rumahmu. kakak ipar!”
Indira tersenyum tipis. “Apa sekarang aku juga harus memanggilmu adik ipar!”
“Tidak perlu.. aku tidak suka mendengarnya. Cukup panggil aku Malvin saja.”
“Kamu kira aku juga senang di panggil seperti itu. Lagian itu belum tentu terjadi.”
“Hai... kamu berniat berpaling dari abangku?”
“Jangan membuat gosip yang tidak-tidak. Cepat masuk atau aku tutup pintunya.”
“Ternyata kamu lebih galak dari mamaku,” ucap Malvin sambil berjalan masuk ke dalam apartemen Indira.
“Tapi dari mana kamu tahu aku tidak masuk kerja?” tanya Indira.
“Tadi pagi aku tanya sama mas bro, katanya kamu ijin tidak masuk kerja.”
“Mas bro siapa?”
“Ray.”
“Ray,” sahut Indira kaget. “Tidak salah? Kalian berdua bagai anjing dan kucing ketika bertemu. Bagaimana ceritanya bisa seakrab itu.”
“Berkat kamu,” ucap Malvin dan duduk di sofa. “Sepertinya kamu sudah lebih baik.”
“Hanya butuh waktu menyendiri.. mengakui apa yang telah ku lakukan selama ini adalah salah yang fatal, lalu mengintropeksi diri agar lebih baik lagi kedepan. Dan yang terpenting memaafkan diri sendiri. Itu yang paling sulit. Aku terus dihantu bayang-bayang rasa bersalah.”
“Walau begitu aku sangat salut padamu! kamu wanita yang tegar. Wonder Women.”
“Kamu berlebihan. Aku belum pantas disebut seperti itu. Aku adalah penjahat yang membuat hati pria yang mencintaiku terluka.”
“Jangan bicara seperti itu. Cepatlah kemari. Ceritakan padaku apa isi kotak yang diberikan Liza kemarin. Aku sangat penasaran,” panggil Malvin untuk Indira duduk di dekatnya dan Indira menuruti Malvin. “Kamu mau tahu. Tadi malam Liza juga menelponku. Memintaku untuk menanyakan padamu apa isi dalamnya. Dia juga sangat penasaran sama sepertiku.”
“Benarkah?”
“Sumpah,” Malvin menngangkat tangannya membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Untuk apa aku berbohong padamu. Tapi sebelum kamu mengatakannya aku mau minta maaf terlebih dahulu karena perlakuanku yang buruk padamu tempo hari,” Malvin tertunduk dengan rasa penyesalan.
Indira melipat kedua tangannya di dada, memandang Malvin teduh.
“Aku memaafkanmu! jangan ulangi lagi hal itu pada wanita lain. Cukup Indira seorang yang menjadi korbannya.”
“Mana mungkin aku melakukannya. Melakukan padamu saja rasanya aku mau mati saja... Bahkan takut menemuimu lagi.”
“Makanya kamu menghilang beberapa hari.”
Malvin mengangguk. “Untuk merenungi apa yang telah aku lakukan.”
“Anak baik!” ucap Indira mengacak rambut Malvin.
“Dan aku mau mengembalikan ini,” Malvin memberikan duplikat kunci yang selama ini dia pakai untuk masuk ke apartemen Indira.
“Benar dugaanku! untung saja aku mengambil tindakan cepat mengganti kuncinya kalau tidak kamu pasti sudah nyelonong masuk lagi.
“Tidak! aku sudah tobat. Tidak mau melakukannya lagi.”
“Ambil saja kuncinya sebagai kenang-kenangan. Aku tidak memerlukannya lagi.”
💐💐💐