PHP Girl

PHP Girl
Bab 34



Rian mengejar Danu yang baru saja keluar dari ruangnya.


“Dan.. Danu.. tunggu sebentar,” Rian menarik lengan Danu. Menahannya. “Ada yang mau aku bicarakan.”


“Apa yang mau kamu bicarakan juga padaku,” sahut Danu jutek.


Mereka berdua duduk di bangku taman Rumah Sakit. Suasana canggung tidak seperti biasa. Tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Selama bertahun-tahun mereka tak pernah berselisih paham. Terlebih lagi soal wanita. Yang ada saling menguatkan jika salah satunya dilanda ke galauan karena putus cinta.


“Sepertinya lue sudah memutuskan apa yang akan lue pilih,” Rian membuka pembicaraan. “Gue melihat lue menggandeng tangan Indira.”


“Kamu yang paling tahu persahabatan kita bagaimana. Jatuh bangun bersama. Mengejar impian yang sama.”


“Jatuh cinta pada wanita yang sama,” ucap Rian memotong pembicaraan Danu.


Danu tersenyum simpul. “Tidak ada niat hati untuk mencintai wanita yang sama. Seakan sudah suratan takdir. Aku juga tidak menyangka akan jatuh cinta pada wanita yang dulu aku benci walau belum pernah sekalipun melihat rupanya. Untuk saat ini kalian berdua sangat berharga bagiku. Persahabatan dan cinta.”


“Ternyata lue sangat serakah sobat..”


“Yaa.. aku memang serakah. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua.”


“Mungkin bila gue berada di posisi lue... gue akan mengerti dan akan melakukan hal yang sama,” Rian tersenyum melihat Danu dan dibalas oleh Danu. “Gue nyerah.. perjuangan gue untuk mendapatkan cinta Indira cukup sampai disini. Kisah gue dan Indira ‘The End’. Dan Selamat.. telah memenangkan hati indira. Gue sangat iri dan jika diminta bertukar posis gue mau.”


“No Comment,” ucap Danu. Membuat Rian dan Danu tertawa bersamaan. Memecah rasa ranggung.


“Bercanda,” sahut Rian. “Gue mau sekalian pamit sama lue Dan..”


“Pamit! kamu mau kemana?”


“Melanjutkan studi S2 gue di Jepang.”


“Mengapa tiba-tiba? Apa karena mau menghindari aku.”


“Jangan salah paham dulu. Gue sudah merencanakannya sejak lama tapi terus tertunda. Dan ini waktu yang tepat.”


“Kamu yakin dengan keputusanmu?”


“Ya... ini impian gue sejak dulu. Lue kan tahu cita-cita gue menjadi dokter yang hebat melebihi lue. Gue pinta dari lue.. Danu. Tolong jaga dan cinta selalu Indira.”


“Tanpa kamu pinta pun... sudah pasti aku akan melakukannya.”


“Ada satu hal lagi,” ucap Rian merogoh kantong celana. Mengambil sebuah cincin dan memberikan pada Danu.


“Ini apa?” tanya Danu.


“Itu cincin.”


“Iya tahu... tapi untuk apa. Kamu melamarku.”


“Apa gue sudah gila... apa tidak ada lagi wanita di dunia ini sampai harus melamar lue segala,” ucap Rian kesal. “Dulu cincin itu gue persiapkan untuk melamar Indira. Apa daya.. harapan hanya tinggal harapan. Sekarang cincin itu gue hadiahkan untuk lue dan pakailah untuk melamar Indira. Tapi jangan pernah katakan padanya bila itu dari gue. Gue mohon sama lue Danu.”


Danu menatap cincin dalam diam. Melamar. Terbesit dipikiran. Mungkinkah ini sudah waktunya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dengan Indira.


“Jangan lama-lama. Ntar Indira dipepet orang,” ucap Rian menakuti Danu.


“Jodoh tidak akan tertukar bro...”


“Iyaaa.. di curi orang sering.”


“Kalau begitu yang curi kamu.”


“Semoga kedepannya persahabatan kita lebih baik lagi,” ucap Rian.


“Ya!” Danu mengangguk. “Terima kasih pengertian dan dukungan. Itu sungguh berarti.”


Mereka berdua saling bersalaman dan berpelukan erat penuh haru.


💐💐💐


“Vanya!” teriak Indira dan berlari kecil mendekati Vanya.


“Ada apa Dir?”


“Kamu kemana aja.. dari tadi aku cariin,” ucap Indira terengah-engah.


“Habis keluar makan. Laper! punya pengakit maag gak bisa tahan laper,” sahut Vanya. “Kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang penting.”


Indira menyodorkan berkas yang Vanya berikan waktu itu. “Seperti aku tidak bisa melakukannya,” ucap Indira bersedih.


“Kenapa? padahal aku sangat berharap kamu bisa memenangkan perkaranya.”


“Maaf Van.. aku mengecewakanmu. Aku tidak bisa melakukannya karena aku mau berhenti.”


“Berhenti bagaimana?”


“Berhenti bekerja. Papaku sedang sakit. Jadi aku akan menggantikannya mengurus perusahaan. Hanya aku anak satu-satunya yang menjadi harapan orang tuaku.”


“Ooh.. maaf Indira! aku tidak tahu bila papa kamu sakit. Aku doakan semoga beliau lekas sembuh.”


“Terima kasih Vanya.”


“Kamu yakin dengan keputusan kamu Dir?”


“Ya.. 100 persen yakin.”


“Sangat disayangkan kamu berhenti lebih dulu. Kasihan om Gilang padahal uang itu harapan dia satu-satunya. Tapi perusahan PT. Sentosa Sejahtera melakukan kerucangan padanya,” Vanya merepet kesal.


“Kamu bilang tadi apa? PT. Sentosa Sejahtera?”


“Iya.. milik bapak Indra Hermawan.”


“Apa?” ucap Indira tercengang.


“Kamu tahu perusahaan itu?” tanya Vanya.


“Tentu saja! itu perusahaan papaku. Tidak mungkin papa melakukan kecurangan. Aku sangat mengenal papaku. Dia paling menomor satukan kejujuran.”


“Tapi om Gilang juga tidak mungkin berbohong. Dia teman mama sudah sejak lama. Mereka sangat dekat seperti abang dan adik.”


“Aku sangat yakin Vanya!” Indira bersikeras.


“Aku percaya padamu Indira. Dan aku juga om Gilang. Mungkin ada orang lain yang menusuk dari belakang. Kita tidak tahu. Dan itu yang harus kita cari tahu,” ucap Vanya bijak.


“Ya.. kamu benar Van. Kamu begitu biar aku yang tangani. Biarkan ini menjadi kasus penutup karirku sebagai pengacara sekalian membuktikan bila papa tidak bersalah.”


“Terima kasih Dir! aku yakin kamu pasti bisa membuktikan kebenaran yang terjadi,” ucap Vanya memberikan Indira semangat.”


💐💐💐