
Indira sedang memperhatikan Dewi yang sedang asyik mencicipi beberapa hidangan dari jauh. Dan pandangannya teralihkan pada buah strawberi segar yang cukup besar dengan warna merah menggoda yang memanggil-manggil Indira. Lengkap dengan air manjur coklat seakan mengalir di tenggorakan. Menghancurkan rencana dietnya.
Selera. Tak dapat ditahan, Indira langsung mencocolkan Strawberi ke dalam coklat dan melahapnya. Begitu nikmat. Satu tidak akan cukup. Indira mengambilnya lagi.
“Dir gawat!” kata Dewi memukul pundak kanan Indira yang membuat strawberi di tangannya jatuh ke lantai.
“Ah..mbak ganggu kesenangan orang saja,” sahut Indira meratapi strawberinya yang tergeletak di lantai.
“Ini gawat darurat,” sahut Dewi panik.
Indira tampak bingung.
“Rian juga ada di sini.”
“Rian,” jawab Indira polos
“Iya.. Rian,” jawab Dewi menekankan dan menunjuk seseorang yang sedang mengombrol tak jauh dari mereka.
Indira menyipitkan mata melihat lebih fokus dan dia mengenalinya.
“Mampus! bagaimana dong mbak. Aku kabur saja deh.”
“Kabur-kaburan mulu.”
“Kalau Vanya tanya bilang aku sudah datang ya,” sahut Indira berjalan pergi.
“Dir.. Dir! Dasar ini anak,” omel Dewi.
Lima bulan yang lalu Indira bertemu dengan seorang dokter yang sedang membantu temannya yang mengalami kasus pemukulan oleh kekasihnya. Dia bernama Rian. Kebetulan Indira yang menjadi pengacaranya. Sikap peduli dan selalu ada untuk temannya yang kesusahan membuat Indira terkesan. Mencuri perhatian Indira. Rian sering curi pandang terpesona dengan kecantikan Indira. Gadis cantik bertubuh tinggi semampai dengan kulit putih bening. Lelaki mana yang menolak untuk memandangnya. Membuat Indira tersipu malu saat memergokinya.
Berlanjut dengan Indira dan Rian saling bertemu sekedar ngopi dan ngobrol santai. Dari mata ke mulut dan turun ke hati. Sikap Indira yang Welcome pada Rian, membuat Rian beranggapan Indira menaruh hati padanya sama seperti yang dia rasakan.
Ketika Rian menyatakan isi hatinya Indira justru menghindar. Dan memperkenalkan Ray sebagai kekasihnya. Rian yang tidak percaya tetap berusaha mendekati Indira tapi justru Indira semakin menjauh.
Indira berlari kecil meninggalkan acara. Matanya melihat ke belakang memastikan Rian tidak melihatnya, tidak memperhatikan jalan. Dari arah berlawanan Danu jalan tergesah-gesah menabrak Indira hingga terjatuh.
“Kamu!” ucap Danu.
“Jalan lihat-lihat dong,” Indira berusaha bangkit. Danu menyodorkan tangannya untuk membantu tapi Indira menepisnya. Dia masih kesal. Mengibas bajunya yang kotor.
“Maaf! Kamu juga gak lihat-lihat.”
“Aku lagi lihat seseorang.”
“Sambil lari?” tanya Danu.
“Lagi menghindari seseorang.”
“Ooh.”
“Sudah ah! Mau cari taksi ini.”
“Bareng aku aku saja. Mobilnya di sana.”
Awalnya Indira ragu, dia tidak begitu mengenal Danu. Tapi mana mungkin ada taksi di dalam komplek elite. Percuma tunggu sampai ubanan gak bakal dapat.
“Ya sudah deh!” Indira mengikuti Danu menuju mobilnya.
Mobil Mini Cooper berwarna hitam. Mobil itu tidak asing lagi. Seperti mobil seseorang yang dia kenal. Tapi bukannya mobil seperti itu banyak. Bisa saja sama persis.
Belum lama Mobil melaju perut Indira berbunyi. Cacing di perutnya berontak. Dari tadi siang satu butir nasi pun belum masuk ke perut. Hanya terisi satu strawberi cokelat. Danu yang tak tega menepikan mobilnya dekat penjual nasi goreng pinggir jalan.
Mereka pun turun dan memesannya.
“Pak! nasi gorengnya dua ya,” ucap Danu.
“Satu yang pedas ya pak,” sambung Indira.
“Yakin?” tanya Danu.
“Lagi kepengen makan yang pedas.”
Lantas Mereka duduk di trotoar.
“Kenapa masih pakai high heels?” tanya Danu sambil menunjuk kaki Indira.
“Habis semuanya high heels masa mau nyeker,” jawab Indira sambil tersenyum lebar.
Belum pernah berbincang sebelumnya Indira dan Danu tampak canggung.
“Tadi kamu buru-buru kenapa?” tanya Indira.
“Aku! Eemh anu...”
“Anu!” Indira terheran.
“Menghindari seseorang.”
Indira dan Danu tertawa. Dan nasi goreng pun telah selesai di masak dan bapak penjual memberikannya pada mereka.
“Tidak tertukarkan pak? Saya tidak bisa makan pedas,” ucap Danu.
“Cerewet! Tinggal dicicip doang,” omel Indira.
Bapak penjual nasi goreng hanya tersenyum dan kembali ke gerobaknya.
“Kenapa kamu menghindar?” tanya Indira dengan mulut yang penuh nasi goreng.
“Dia mantan pacarku, belakangan dia bertingkah aneh, mendekat seperti ingin melanjutkan hubungan lagi.”
“WAW!”
“Dia berselingkuh.”
“WAW!”
“Kok waw?”
“Jadi aku harus bilang OH! Begitu.”
Kesal, bukannya prihatin malah dibikin candaan. Danu memakan nasi gorengnya dengan cepat.
“Jangan merajuk Mas!” bujuk Indira. “Selingkuh pasti ada alasannya kan?”
“Klise! Katanya aku terlalu kaku, gak romantis.”
Pantas saja, suami istri saja bisa selingkuh yang ujung-ujungnya cerai karena pasangannya gak romantis apalagi kamu yang masih pacaran yang hanya tinggal bilang dua kata. KITA PUTUS!”
“Bukannya dalam hubungan itu yang terpenting saling mencintai dan setia,” Danu ngotot dan meletakkan piring yang telah kosong di atas trotoar.
“Santai Mas! jangan ngegas, itu sih lagu lama. Pasangan itu butuh perhatian, kejutan kecil, di manja. Terutama wanita, yang sensitif pesaraannya.”
“Sok paham kamu, pacar saja gak punya.”
“Pacar! Tentu saja aku.. tidak punya,”
“Eemh.. pacar saja tidak punya bagaimana mau ngerti.”
“Aku ini pengacara masalah seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari,” bela Indira. “Kalau soal pacar jika saja aku katanya IYA pacarku sudah banyak.”
“Termasuk cowok lebay yang bersamamu waktu itu.”
“Maksudmu Ray? ya, dia salah satu fansku,” ucap Indira menyombong. Danu sampai habis kata-kata bicara dengannya. Membuat Indira tersenyum puas.
“Menjauhlah dariku bila kamu tidak mau terpikat pesonaku.”
“Yakin! sombong sekali.”
“Coba saja dan buktikan,” Indira mendekati Danu, repleks Danu bergerak mundur. “Aku sudah memperingatkanmu maka jangan salahkan aku,” bisik Indira.
Baru beberapa detik Indira bicara, Danu sudah terpesona dengan mata indah yang berkilau. Senyum manis yang menggoda.
Tersadar Danu memalingkan wajah.
Nasi goreng di piring Indira habis tak bersisa. Itu juga belum cukup, dia melirik bapak penjual yang sedang mengaduk nasi goreng di wajan. Satu piring untuk jatah makan siang, bagaimana dengan makan malamnya. Indira hanya bisa pasrah. Bisa jadi Danu mengejeknya jika dia pesan lagi. Diseruputnya air tanpa henti agar lebih kenyang.
Ponsel Danu berdering. Dari Rian. Dia mengangkatnya jauh dari Indira.
“Halo.”
“Lue di mana? Mobil gue mana?” ucap Rian risau.
“Sory! Abis tadi Widya nempel terus jadi aku cabut duluan.”
“Terus gue naik apa,” sahut Rian merengek.
“Panggil taksi, besok ongkosnya aku ganti sekaligus aku traktir.”
“Tapi...” belum siap Rian bicara Danu menutup teleponnya.
💐💐💐
“Danu dimana?” tanya Widya penasaran.
“Gak tau!” sahut Rian penuh kesal.
“Terus kita pulang naik apa?”
“Taksi! Kenapa tadi kuncinya gak gue minta. B-E-G-O!” Rian menghentakkan kakinya.
😉😉😉