PHP Girl

PHP Girl
Bab 31



Indira menutup telepon dengan derai air mata. Penyesalan dan rasa bersalah menyelimuti hatinya. Bila egonya tidak terlalu tinggi, mungkin ini semua tidak terjadi. Andai waktu itu Indira berpikir lebih dewasa. Tapi ya sudahlah bubur tidak akan pernah kembali menjadi nasi.


Bukan perkara mudah tinggal berpisah jauh dari orang tua. Pergi tanpa ijin dan pamit. Dengan amarah yang merekat dihati. Tidak ada lagi bermanja dan peluk kasih yang biasa setiap hari dia dapatkan. Yang tersisa hanya kesepian hidup jauh menahan rindu.


Tidak tega melihat Indira bersedih. Malvin bergerak cepat merangkul Indira, untuk menenangkan.


“Mengapa belakangan begitu banyak cobaan. Mungkin ini hukuman bagiku karena telah mempermainkan hati orang-orang yang telah mencintaiku,” Indira menyalahkan diri sendiri.


“Jangan berbicara seperti itu. Anggap ini sabagai ujian untuk hidup lebih baik lagi. Mungkin ini jalan terbaik untuk kamu kembali ke rumah dan berkumpul bersama orang tua terkasih,” bujuk Malvin meneduhkan.


Cukup lama Indira berada dipelukan Malvin. Begitu nyaman. Menenangkan diri sesaat dari kesedihan.


“Sepertinya belum terlalu malam. Mau aku temani melihat papamu di Rumah Sakit, dia sangat butuh dukunganmu untuk sembuh. Aku yakin itu!”


“Tapi..” Indira masih ragu untuk menemui orang tuanya. Takut papanya tidak mau menerima kehadirannya kembali.


“Jangan ada kata tapi, kamu pasti akan menyesal dikemudian hari. Masih belum terlambat. Maka jangan sia-siakan.”


“Ayo kita berangkat sekarang,” jawab Indira dengan mantap.


Malvin mengantarkan Indira ke Rumah sakit menggunakan mobilnya.


💐💐💐


Indira berdiri di ruang rawat papanya. Mengumpulkan keberanian untuk masuk. Memikirkan kata-kata apa yang akan diucap. Sudah terlalu lama dia tidak melakukannya. Membuat sedikit grogi dan canggung. Sedangkan Malvin yang berdiri dibelakang Indira sudah tidak sabar sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


“Tunggu apa lagi. Cepatlah!” desak Malvin dengan suara yang dikecilkan.


“Aku sedang berpikir apa yang akan mau aku ucapkan nanti.”


“Kamu bukan sedang melamar pekerjaan jadi tidak perlu merangkai kata yang akan diucap nanti. Lakukan yang seperti biasa kamu lakukan. Biarkan keluar begitu saja dari hati,” ucap Malvin kesal dan mendorong Indira masuk.


“Bersabarlah! kamu tidak berada diposisiku jadi kamu tidak akan mengerti,” Indira menahan dorongan Malvin sekuat tenaga, yang tetap saja kalah.


“Aku pernah berada di posisimu. Jadi aku tahu,” Malvin berhasil membuat Indira masuk.


Tampak bunda Indira duduk di kursi. Dengan setia menemani suaminya yang terbaring tidak sadarkan diri. Matanya sayu. Ruangan yang sebelumnya hanya terdengar suara mesin pendeteksi denyut jantung, kini berbaur dengan suara tangis haru seorang ibu.


Tidak mau membuang waktu. Segera dia mendekap Indira melepas rindu yang dapat di bendung lagi, yang telah dia tunggu bertahun-tahun lamanya. Indira membalas dekapannya. Diciumnya pipi kakan dan pipi kiri Indira.


Malvin menyaksikannya dengan sedih. Juga mau melakukannya kepada Indira. Bila diminta berganti posisi, dia mau melakukannya.


“Terima kasih kamu mau datang,” ucap bunda Indira sambil merapikan rambut Indira yang berantakan.


“Maafin Indira bunda... udah jadi anak yang durhaka dan tidak berbakti pada papa dan bunda.”


“Tidak! jangan bicara seperti itu. Indira anak yang baik.”


“Bagaimana dengan keadaan papa?” tanya Indira menoleh melihat papanya yang terbaring di ranjang.


“Kamu bisa melihatnya sendiri... dia tampak begitu lemah terbaring disana. Bunda sangat merindukan sosoknya yang seperti biasa.”


Indira berjalan perlahan mendekati papanya. Tidak sampai hati melihat kondisinya terbaring dengan alat bantu pernapasan. Indira menggenggam tangan papanya dan menciumnya berkali-kali penuh cinta.


💐💐💐


“Apa yang terjadi dengan papa.. bun!”


“Ada masalah yang terjadi di perusahaan.”


“Masalah apa bun?”


“Bunda juga tidak terlalu mengerti. Belum bunda tanyakan lagi pada pak Wiryo. Masih fokus pada kesembuhan papa kamu dulu.”


“Ya sudah.. bunda jangan terlalu banyak pikiran. Nanti bunda juga ikutan sakit.”


“Bunda dapat melewati semua asal kamu ada disamping bunda.”


“Indira akan selalu bersama bunda.”


“Permisi.. Danu masuk ke kamar rawat bersama papanya, Haris Mahendra.


“Papa!” Malvin bergidik kaget.


Tidak kalah kaget dengan Indira. Danu mangalihkan pandangannya. Menghindari Indira. Mungkin sekarang Danu sangat membenci Indira. Sementara Indira tidak dapat berbuat apa-apa.


“Sedang apa kamu disini Malvin?” tanya pak Haris.


“Menemani Indira bertemu dengan papanya. Bagaimana dengan papa?”


“Kamu anak Indra Hermawan?” tanya pak Haris pada Indira. Tidak menggubris pertanyaan Malvin.


“Iya dia anak kami pak Haris. Anak satu-satunya kami,” jawab bunda Indira.


“Yang mau di jodohkan dengan anak saya!”


Indira, Danu dan Malvin serempak tersentak kaget. Dijodohkan. Berarti selama ini Indira sangat dekat dengan pria yang akan dijodohkan dengannya.


“Ini Danu. Anak saya yang akan dijodohkan dengan Indira. Ternyata sangat kebetulan sekali dan bukannya mereka juga saling kenal.”


Malvin terlihat kecewa karena bukan namanya yang disebut. Dan ekspresi Danu seperti sebelum. Dingin. Tidak mau menatap Indira yang sedari tadi memperhatikannya. Dan lebih memilih memeriksa pak Indra dengan serius. Danu memeriksa denyut jantuk dan mata pak Indra. Setelah itu pamit pergi dengan alasan ada pekerjaan lain. Indira terlihat sedih dan Malvin tidak dapat berbuat banyak.


“Danu.. tadi aku melihat om Haris. Apa dia datang untuk melihatmu,” ucap Widya yang perpapasan saat Danu keluar dari ruang rawat.


“Iya.. ada apa?” tanya Danu ketus.


“Aku ingin menjumpainya.”


“Untuk apa? bukannya kita tidak ada hubungan lagi.”


“Bukan berarti kita sudah tidak ada hubungan lagi aku harus kehilangan silaturahmi dengan keluargamu kan. Bolehkan aku berjumpa dengannya,” pinta Widya pengepal lengan Danu. Tepat bersamaan Indira yang keluar dari ruang rawat berniat menyusul Danu untuk bicara.


💐💐💐