
Indira menunggu lanjutan ucapan Danu.
“Mungkin apa?” tanya Indira penasaran.
Bukannya menjawab. Danu hanya terdiam dengan senyum-senyum sendiri.
“Hello..” Indira melambaikan tangan ke wajah Danu.
“Mungkin saja.. air mineralnya kadaluarsa,” ucap Danu serius.
“Aah.. kamu bercanda!”
“Haa haaa.. tidak tidak. Kali ini serius. Aku sudah memeriksanya kamu habis mengkonsumsi obat tidur?”
“Untuk apa? Melihat bentuknya saja tidak pernah. Apa lagi mengkonsumsinya.”
“Nah.. itu dia, kamu bilang tadi kejadiannya setelah minum air mineral kan. Bisa jadi telah di campur di dalam air mineral,” duga Danu.
“Tapi mengapa wanita itu memberikannya padaku.”
“Mana aku tahu! kamu seorang pengacara harusnya kamu yang lebih tahu.”
“Apa dia sengaja memberikannya padaku? tapi aku tidak mengenalnya.”
“Bagaimana rupanya?”
“Aku tidak begitu ingat. Saat itu dia memakai kacamata hitam dan rambutnya panjang sebahu.”
“Mungkin ada sesorang yang dendam padamu sampai mau mencelakaimu.”
“Itu yang kutakutkan! tapi siapa? aku merasa tidak berbuat salah dan tidak memiliki musuh.”
“Bisa saja orang yang kalah perkaranya karnamu.”
Apa yang dikatakan Danu bisa saja benar. Tapi sudah empat tahun Indira menjalani prosesi sebagai pengacara tapi tidak pernah mengalami hal seperti ini.
“Kamu harus lebih berhati-hati saat ini, mana tahu dia akan melakukannya lagi. Entah apa yang akan terjadi nanti,” Danu memperingatkan. “Hubungi aku bila terjadi sesuatu.”
Indira terharu mendengar Danu menawarkan bantuan padanya. Pikirannya masih kalut memikirkan kejadian yang dia alami. Masih tak mempercayainya.
💐💐💐
Karena Danu yang perhatian terhadap Indira. Yang belakangan selalu menjaganya setiap selesai berkerja. Timbul lah.. gosip. Dari mulut ke mulut dan akhirnya menyebar, hingga seluruh karyawan Rumah Sakit tahu bahwa Danu merawat seorang wanita yang diduga pacarnya yang sedang dirawat inap.
Rian penasaran dengan gosip yang beredar, dia berdiri di depan kamar rawat Indira. Dia mencegat seorang perawat dan mengintrogasinya.
“Ada apa dok!” ucap perawat dengan takut.
“Apa ini kamar pacarnya Danu!”
“Ooh.. kirain kenapa!” ucap perawat lega. “Iya dok.. ini kamarnya,” bisik perawat.
Rian menggangguk dan menggerakkan tangannya mengusir, menyuruh perawat segera pergi.
Dari kaca pintu kamar rawat Rian mengintip ingin melihat seperti apa wajah wanita yang digosipkan dengan Danu. Harapan Rian kandas. Indira berbaring membelakangi pintu. Pupus keinginan Rian untuk melihat Indira. Rian tidak memberanikan diri untuk masuk, Indira bukanlah pasiennya.
“Kamu sedang apa?” ucap Widya.
“Lue ngagetin saja,” sahut Rian. “Tidak dengar gosip itu.. pacarnya Danu!”
“Sudah lebih dulu darimu, Danu telah membawanya menemui papaku.”
“Wow.. keren! Minta restu terlebih dahulu sama mantan calon mertua,” ucap Rian. “sepertinya rencana lue untuk balikan dengan Danu gagal total.”
“Mau menabu genderang perang padaku!” Widya memandang kesal Rian.
“Bukan begitu! Mana mungkin gue berani, kitakan CS,” Rian tersenyum terpaksa.
Wajah Widya yang penuh amarah membuat Rian tidak berani berkomentar.
“Permisi!” ucap Ray pada Rian dan Widya. Dia datang menjenguk Indira bersama Dewi.
Dewi yang di samping Ray melotot kaget melihat Rian. Beratanya-tanya dalam hati apa Rian telah berjumpa dengan Indira. Mengapa bisa kebetulan begini. Salah pilih Rumah Sakit kalau begini.
“Mau menjenguk?” tanya Widya.
“Iya! Bisa kami masuk,” ucap Ray tegas.
“Aah.. iya silahkan,” Widya menarik Rian yang menghalang pintu dan mengajaknya pergi.
Ray masih menatap sinis Rian yang berlalu pergi dengan Widya. Begitu juga sebaliknya Rian berulang kali menoleh ke belakang memandang sinis Ray, dia masih menyimpan dendam pada Ray yang dianggapnya telah merebut Indira darinya.
Dewi menepuk pundak Ray untuk menyudahinya dan segera masuk. Indira masih tertidur pulas dengan posisi miring. Dewi meletakkan buah-buahan yang dia bawah di atas meja.
“Dir!” ucap Dewi menggoyangkan tubuh Indira.
Tidak ada respon. Indira tidur terlelap. Tidak menyadari kedatangan Dewi dan Ray.
“Apa dokter itu tahu yang di rawat di sini Indira?” tanya Ray.
“Itulah yang mau ku cari tahu.. cepat bantu aku bangunkan Indira,” sahut Dewi.
“Dir.. Dir.. bangun,” Danu mengguncang tubuh Indah. Tidak sabar mendengar penjelasan Indira.
“Eeemh..,” Indira terbangun.
“Dir.. kamu sudah bangun,” ucap Dewi.
“Mbak Dewi.. Ray..” ucap Indira berusaha bangkit untuk duduk.
“Bagaimana kabarmu Dir?” tanya Dewi.
“Udah baikan mbak.. besok sudah boleh pulang.”
“Ooh..” sahut Dewi singkat. Dia dan Ray saling melirik. Siapa yang akan menanyakan terlebih dahulu tentang Rian pada Indira. Ray mengangkat dagunya meminta Dewi yang mengatakannya. Dewi mengerutkan dahinya dan mengangkat sedikit bibir kanannya.
“Eeemh Dir...”
“Ya kenapa mbak?”
“Yang merawat kamu siapa? bukan dokter yang mengenalmu itu...”
“Dokter yang mengenalku?”
“Ya..! dia tampak panik saat melihatmu tidak sadarkan diri dan bilang bahwa dia mengenalmu. Dokter yang wajahnya manis itu.”
Dokter yang manis.. yang mengenal Indira. Siapa lagi dokter di sini yang mengenal Indira kalau bukan Danu. Tunggu.. tunggu.. Danu panik saat Indira tidak sadarkan diri.
“Danu! dokter yang mengenalku hanya dia,” ucap Indira menyakinkan.
“Bagaimana dengan Rian?” ucap Ray yang tidak sabar.
“Rian?” ucap Indira heran. “Apa Rian kerja di rumah sakit ini!”
“Kamu tidak tau? tadi dia ada di depan kamarmu,” ucap Dewi.
“Yang benar mbak,” ucap Indira tidak percaya. “Apa dia sudah tahu aku dirawat disini? Waktu itu aku pernah melihatnya di sini tapi aku tidak mengira dia bekerja di sini.”
“Kalau dilihat dari gelagatnya.. sepertinya dia belum tau,” ucap
“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Ray.
“Aku mau pulang sekarang!” rengek Indira. “Mbak Dewi.. Ray.. Please! bantu aku,” mohon Indira.
Mau tidak mau Dewi dan Ray membantu Indira. Ray bertindak cepat mengurusnya ke bagian admistrasi Rumah Sakit dan Dewi membantu Indira berberes.
Keluar dari Rumah Sakit juga Indira bersembunyi-sembunyi. Menggunakan kacamata hitam dan syal menutupi kepalanya. Berjaga-jaga agar Rian tidak mengenalinya.
💐💐💐