PHP Girl

PHP Girl
Bab 29



Seperginya Indira, Danu masih tetap terdiam. Termenung. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Seperti berada di dua persimpangan jalan. Harus memilih salah satu diantaranya. Jangan sampai salah langkah yang akan berujung penyesalan. Kepalanya sampai punyeng memikirkannya. Sejenak Danu menyandarkan kepalanya di setir.


Indira mengintip keluar dari jendela apartemennya. Memandang mobil Danu yang masih terpakir di tempat yang sama. Batinnya berkata.


‘Apa salahnya menjalin kasih dengan seseorang yang pernah dekat dengan sahabat. Bukan mantan kekasih juga.’


Pandangan Indira tidak beralih dari mobil Danu, sampai akhirnya mobil itu bergerak pergi.


💐💐💐


Disaat yang lain masih terjebak di jalanan macet. Indira sudah lebih dulu sampai di kantor. Lebih cepat dari biasanya.


Sarapan yang Indira titip beli dengan Juki habis tak bersisa. Sejak kemaren sore perutnya baru terisi mie instan yang dia masak tengah malam tadi.


Pikiran Indira kalut memikirkan sikap Danu dan hubungan mereka kedepannya. Tidak sanggup lagi memikirkannya. Sesaat Indira mengistirahatkan pikirannya. Melipat tangan di meja dan menyenderkan kepala diatasnya.


“Dir..!” Dewi mengelus lembut rambut Indira. “Aku udah dengar ceritanya dari Ray. Sedihnya udahan dong. Kalau kamu sedih aku ikutan sedih,” hibur Dewi, yang baru saja sampai.


Indira tidak memberi tanggapan.


“Dir.. Indira,” ucap Dewi mengeraskan suaranya. Menyingkap rambut panjang indira yang menutupi wajahnya. Ternyata gadis itu sedang tertidur pulas. Dewi telah tertipu, dia mengira Indira bersedih mengenai Nathan.


“Bangun Dir..” Dewi menggoyangkan tubuh Indira. Sambil menarik hidung mancung Indira, membuatnya kesusahan bernafas. Tetapi ampuh membangunkan Indira.


“Aaah mbak Dewi! ganggu kesenangan orang aja deh. Mimpinya jadi ngegantungkan,” ucap Indira. Merenggangkan otot-ototnya dan menguap. Sambil mengucek matanya yang masih terasa berat dibuka.


“Mimpi apaan kamu? lagian kalau mau tidur di rumah. Kantor buat kerja. Mau makan gaji buta?”


“Mimpi cukur rambut Rian sampai botak licin terus aku dandanin dia pakai baju cewek,” ucap Indira berapi-api. Sangat jengkel dengan Rian.


“Memangnya kenapa lagi dengan Rian? Sampai terbawa mimpi segitunya.”


Indira menundukkan kepala dan mengangkatnya lagi tak bertenaga. “Semalam aku ketemu dia. Pas makan malem dengan Danu.”


“Yang bener...”


“Suer terkewer kewer.. mbak. Sampai bilang ke Danu segala Indira wanita yang sangat gue cintai, cinta pertama dan terakhir gue,” ucap Indira memperagakan ucapan Rian dengan bibir yang sengaja di memblekan. “Gara-gara dia juga aku gak jadi makan enak dan harus makan mie instan tengah malam.”


“Terus gimana reaksi Danu? tuh anak sedeng kali.. bukannya Danu sahabatnya. Kok dia bisa bilang gitu. Cinta mati sama kamu Dir.”


“Gak ngerti deh mbak... semenjak kejadian itu Danu jadi berubah,” ucap Indira sedih.


“Berubah jadi Power Rangers?”


“Serius mbak!”


“Iyaa.. iya. Berubah gimana maksudnya.”


“Berubah jadi dingin. Sewaktu mengantarku pulang Danu juga gak ada bicara sepatah kata pun. Gimana dong mbak?”


“Ya.. tinggal jelasi ke Danu saja. Kok malah di bikin ribet sih Dir.”


“Masalahnya telpon aku gak di angkat dan pesan aku juga di balas.”


“Coba datang ke Rumah Sakit.”


“Males banget ketemu Rian.”


“Ada cerita seru apa lagi nih? serius banget,” ucap Ray yang baru datang ikut nimbrung dengan Dewi dan Indira.


“Si biang kerok Rian bikin ulah lagi.. mau menghancurkan hubungan Indira dan dokter ganteng,” Dewi menjelaskan.


“Dia sudah tahu hubunganmu dengan abangnya Malvin?”


Indira menganggung dengan wajah cemberut.


“Sudah begitu lama. Dia masih saja berharap. Terobsesi memiliki Indira,” ucap Dewi.


“Ternyata dia lebih parah dari aku! untung saja aku sudah kembali ke jalan yang benar.”


“Memangnya sewaktu memuja-muja Indira. Indira segalanya. Merupakan jalan yang sesat?”


“Bisa jadi,” jawab Ray bercanda.


“Enak saja.. emangnya gue setan,” ucap Indira mencupit pelan lengan Ray.


“Maaf.. bercanda Dir!” sahut Ray mengatupkan kedua tangannya. “Perlu bantuan aku lagi untuk menjadi pacar bohongan?”


“Terus gimana? bantu solusinya dong...” Indira menutup wajah dengan kedua tangannya. Pikirannya buntu. Baru kali ini Indira mau menjalani hubungan kasih dengan status dengan pria, dia tidak mau berakhir begitu saja.


“Bagaimana kalau minta bantuan Malvin?”


“Tetangga Indira dulu?” tanya Dewi. “Tumben! biasa kamu paling benci bila menyebut namanya.”


“Mbak Dewi ketinggalan berita. Mereka sekarang sangat akrab. Sudah seperti abang beradik. Bahkan mereka saling mengirim kabar. Malvin mengetahui aku tidak masuk kerja dari Ray.”


“Wah.. sesama korban perasaan, yang tadinya musuh sudah menjadi teman...”


Ray tersipu malu dengan perkataan Dewi.


“Yang dikatakan Ray ada benarnya. Coba minta bantuan Malvin saja,” sambung Dewi.


“Tapi bukannya hubungan mereka kurang baik.”


“Tidak lagi, hubungan mereka telah membaik,” sahut Ray.


“Hebat. Aku salut padamu. Lebih tahu dari aku,” ucap Indira. “Baiklah! aku akan menghubungi Malvin.”


“Semoga dia dapat membantu ya Dir!” ucap Dewi menyemangati Indira.


“Iya mbak... semoga saja.”


💐💐💐


Indira mengirim pesan kepada Malvin.


Indira


‘Adik ipar.. kamu punya waktu luang nanti sore? Ada yang mau aku bicarakan.’


Malvin


‘Seberapa penting?’


Indira


‘Sangat amat penting.’


Malvin


‘Mengenai apa?’


Indira


‘Hati seseorang.’


Malvin


‘Siapa?’


Indira


‘Aku’


Malvin


‘Ok. Untukmu aku akan selalu ada waktu kapanpun.’


Indira


‘Kamu memang malaikat penolongku. Aku tunggu nanti sore di apartemenku. 😘


Malvin


‘Tolong jangan kirim imoticon itu. Kamu membuatku berharap lagi.’


Indira


‘Maaf!’


💐💐💐