PHP Girl

PHP Girl
Bab 28



Selama ini Indira memang selalu menghindari untuk bertemu dengan Rian. Sampai meminta Dewi untuk berhohong, mangatakan pada Rian bila Indira telah dipindah tugaskan. Dia telah salah mendekati Rian. Sudah berulang kali Indira menolak dan menghindar sampai meminta Ray untuk menjadi pacar bohongannya. Tapi tetap saja Rian terus mengejar tanpa henti bagai pengemis cinta. Begitu teropsesinya Rian pada Indira.


Senyum Rian terkembang lebar melihat Indira. Mata yang berbinar-binar seolah mengatakan ‘setelah sekian lama akhirnya ketemu juga’. Berbeda dengan Widya yang memandang Indira sinis bagai musuh yang harus segera dimusnahkan.


Tidak terbayang sebelumnya akan bertemu Rian di saat seperti ini. Walau cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu. Tapi kalau bisa memilih lebih baik bertemu saat di pelaminan saja... Lagian Indira belum sempat menceritakan soal hubungannya dengan Rian pada Danu. Bisa saja Danu nanti salah paham. Wajah Indira berubah pucat. Rian terus-terusan menatapnya dan Danu mulai curiga.


‘Bagaimana ini. Apa yang harus dilakukan. Tatapan Rian sangat membuat tidak nyaman. Jangan ganggu aku, sekarang aku kekasih sahabatmu.’ Jantung Indira berdetak cepat. Gugup. Tangannya bergetar memegang buku menu.


“Rian kebetulan sekali,” ucap Danu.


“Ya! kebetulan sekali.. bukan begitu Indira,” ucap Rian.


Danu mengkerutkan keningnya. Bingung. Belum lagi Danu memperkenalkan siapa nama kekasihnya pada Rian. Tapi dia sudah tahu.


Flashback...


Saat di mobil Rian. Widya menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya. Mata Rian terbelalak. Terkejut melihatnya seseorang yang ada di foto itu.


“Kamu mengenalnya?” tanya Widya yang heran melihat ekspresi Rian. “Saat kemaren aku Refreshing ke mall, aku melihat Danu dan wanita itu. Lantas aku memfoto mereka diam-diam.”


ternyata Widya memperlihatkan foto Danu dan Indira saat memakan es krim di Mall tempo hari.


“Gue sangat mengenalnya, bahkan gue mencarinya selama ini dan ternyata dia berada sangat dekat.”


Widya masih heran dengan ucapan Rian. Dan tepat saat itu dari kejahuan Danu tampak jalan terburu-buru menuju mobilnya yang berada di samping mobil Rian. Cepat Rian keluar dari mobilnya untuk menyapa Danu dan berbincang sebentar.


Setelah selesai berbincang Rian kembali masuk ke dalam mobil. Dia memandang Widya penuh makna.


“Lue masih menginginkan Danu kembali kepelukan lue?” tanya Rian bersemangat.


“Bagaimana caranya,”


“Mari kita saling bekerja sama.”


💐💐💐


Sedikit heran mengapa Rian bisa tahu nama Kekasihnya. Danu masih berpikiran positif. indira pernah dirawat di Rumah Sakit. mungkin Rian tahu dari para perawat.


“Boleh kami ikut bergabung?” tanya Rian.


“Dengan senang hati, padahal baru saja kami menceritakan untuk lain kali akan mengajakmu makan bersama,” ucap Danu.


“Ooh ya..”


“Duduklah biar aku yang traktir.”


Pandangan mata Rian tidak pernah jauh dari Indira. Sementara Indira menghindar dengan terus tertunduk berpura-pura melihat daftar menu. Malas bertatap muka dengan Rian.


“Kamu mau pesan apa sayang..”


“Sama seperti yang kamu pesan. Aku ingin tahu dan merasakan makanan kesukaanmu,” ucap Indira sambil mengelus pipi Danu lembut.


Perlakuan Indira pada Danu membuat Rian memasang wajah cemberut karena cemburu.


“Mbak,” panggil Danu kepada pelayan yang berdiri tidak jauh darinya.


“Ya.. ada yang bisa saya bantu pak,” ucap pelayan ramah.


“Saya mau pesan dua Beef Steak, bagaimana dengan kamu Rian?”


“Dan kamu Widya?”


“Sama juga.”


“Mengapa kalian semua sangat kompak,” Danu tertawa kecil. “Kalau begitu saya pesan empat Beef Steak.”


“Baik! ditunggu untuk pesanannya. Terima kasih,” ucap pelayan dan mengambil buku menu. Lalu pergi.


“Aku lupa memperkenalkan sahabat terbaikku..”


“Sepertinya tidak perlu Danu. Kami sudah saling mengenal,” Rian tersenyum Nakal.


“Sebenarnya aku...”


“Wanita yang sangat gue cintai,” sahut Rian memotong pembicaan Indira.


“Rian,” bentak Indira. Marah.


“Maksudnya?” tanya Danu masih belum mangerti.


“Indira cinta pertama dan terakhir gue. Walaupun terus menghindar, gue akan tetap cinta.”


Danu melihat Indira penuh tanda tanya. Benarkah yang diucapkan Rian.


“Tidak seperti itu. Aku bisa jelaskan.”


Wajah Widya yang sedari tadi kecut. Drastis berubah bahagia. Ada tanda-tanda harapannya akan terwujud.


“Aku permisi ke toilet sebentar,” ucap Danu. Tidak memberikan kesempatan Indira untuk bicara.


“Aku juga mau ke toilet,” ucap Rian dan mengikuti Danu.


Indira memalingkan wajah, tidak peduli apa yang mau di lakukan Rian.


Di toilet, Danu hanya sedekar mencuci tangan dan membasuh wajah. Menyegarkan pikirannya sesaat. Memandang pantulan dirinya di cermin. Dengan kedua tangan bertopang pada wastafel. Tidak lama setelah itu Rian juga masuk dan berdiri di samping Danu.


“Lue.. masih ingat dengan janji yang pernah lue ucapkan!” ucap Rian menatap tajam pantulan Danu di cermin dengan alis yang terangkat sebelah.


Danu tetap diam tidak merespon ucapan Rian.


“Seorang pria sejati harus berani memegang teguh janjinya. Bila tidak sama saja seperti menjilat ludah sendiri yang telah buang ke tanah yang bahkan sudah diinjak orang lain,” sambung Rian menyudutkan Danu. Dan pergi kembali meninggal Danu yang masih diam terpaku dengan tatapan mata kosong.


Danu memang pernah berjanji pada Rian saat dia terpuruk karena cinta. Tak tega melihat kondisi Rian yang terus murung. Danu berjanji akan membalas perbuatan wanita yang telah mempermainkan hati sahabatnya bila bertemu. Dan dia sangat membenci wanita yang membuat Rian patah hati.


Dengan tidak bersemangat Danu kembali ke bangkunya.


“Kamu baik-baik saja,” tanya Indira


Danu diam tidak menjawab. “Aku tidak selera makan, kita pulang sekarang,” ucap Danu memanggil pelayan dan membayar tagihannya.


Sepanjang perjalanan Danu hanya diam seribu bahasa, mengunci mulutnya rapat. Dengan muka yang ditekuk masam. Indira hanya bisa melihat sikap Danu dengan sedih, dia ingin menjelaskan tapi takut Danu tidak mau mendengarkan.


Danu menghentikan mobilnya di depan apartemen Indira, tidak seperti biasa yang memarkirkan mobilnya di parkiran basement apartemen dan mengantar Indira sampai depan pintu. Beberapa saat Indira dan Ray diam tanpa kata. Sunyi. Dari gelagatnya Danu tampak sangat kecewa.


Kesal dengan sikap Danu, tanpa bicara Indira keluar mobil meninggalkan Danu sendiri.


💐💐💐