
Danu menjemput Indira yang masih tinggal di apartemennya. Untuk mengantarkan Indira ke perusahaan milik papanya. Ada sesuatu yang dia rencanakan untuk membongkar apa yang sebenarnya terjadi.
“Pagi cinta,” Sapa Danu membukakan pintu mobil untuk Indira. Dengan gerakan cepat Danu mengecup pipi Indira.
“Iiih..,” ucap Indira manja melihat kesekitar mereka. Wajahnya memerah. “Malu tau! untung gak ada yang ngelihat.”
“Kalau ada yang lihat juga nggak apa-apa. Anak muda yang dimabuk asmara seakan dunia milik berdua, lagian kenapa kamu terlalu manis sih.. aku jadi tidak tahan untuk mengecupmu.”
“Gombal! Cepat berangkat. Sudah hampir telat,” ucap Indira dan segera masuk ke dalam mobil. Diikuti Danu.
“Jadi rencana kamu apa?” tanya Danu penasaran.
Indira menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Kenapa begitu?” tanya Danu heran.
“Masih rahasia,” bisik Indira.
“Apaan... pakai rahasia-rahasian segala,” protes Danu. “Seperti pacar tidak dianggap.”
“Eeits.. gak boleh gambek,” ucap Indira mencupit sayang pipi Danu. “Ntar gantengnya hilang. Akan aku beritahukan tapi tidak sekarang, aku juga masih ragu untuk melakukannya.”
“Baiklah. Aku tidak akan memaksa,” ucap Danu sambil melajukan mobilnya. “Ooh ya itu ada bekal dibuatkan mama khusus untuk kamu.”
“Mana?”
“Di bangku belakang. Ntar aja ambilnya.”
“Mama kamu perhatian banget. Padahal aku belum pernah bertemu dengannya.”
“Mama memang sangat pengertian. Dia juga sangat cantik, lihat saja anaknya ganteng gini. Kamu kalah cantiknya.”
“Oooh benarkah! aku tidak sabar ingin membuktikannya,” ucap Indira sinis.
“Mama juga tidak sabar juga ingin melihat calon menantunya,” sahut Danu mencuil dagu Indira.
“Iih.. Danu. Apaan calon menantu.”
“Kamu gak mau jadi istriku,” ucap Danu ngegas.
“Mau..!”
“Terus kenapa tadi ngomong gitu.”
“Aku kan malu.”
“Malu.. malu.. mau,” ucap Danu menggoda Indira.
💐💐💐
Walaupun sudah cukup lama Indira tidak mengunjungi kantor papanya tetapi karyawan disana masih sangat mengenal Indira. Menyambut Indira dengan ramah dan hangat.
“Indira! ini kamu. Lama tidak bertemu.”
“Mbak Sonya,” sahut Indira.
Sonya merupakan Sekretaris papa Indira. Dia telah bekerja selama delapan tahun. Loyal terhadap pekerjaan dan pekerja keras. Dedikasinya yang tinggi terhadap perusahaan, membuatnya menjadi karyawan kebanggaan perusahaan.
“Iya.. kamu tambah cantik saja.”
“Mbak Sonya bisa saja..”
“Memang kenyataannya. Bagaimana keadaan bapak? Saya belum sempat menjenguk lagi. Pekerjaan semakin menumpuk.”
“Selalu mbak doakan Dir! Bapak adalah atasan yang baik. Semoga penyakitnya cepat diangkat. Kamu yang sabar-sabar ya.”
“Iya. Terima kasih mbak.”
“Kamu kemari ada keperluan apa? Ada yang bisa mbak bantu.”
“Mama memintaku untuk menggantikan posisi papa,” ucap Indira sambil tersenyum lebar memperlihatkan giginya.
“Sungguh! Kehadiran kamu begitu membantu,” ucap Sonya senang.
“Ada apa ini kok sepertinya pada kesenangan.”
“Aah.. maaf pak!” sahut Sonya.
“Om wiryo!” sapa Indira. “Senang bisa berjumpa kembali.”
“Indira! betulkan?” tanya Wiryo memastikan.
“Iya om! apa wajah Indira berbeda,” ucap Indira menyentuh wajahnya.
“Ya! semakin cantik dan tambah dewasa. Om sampai pangling lihatnya.”
“Benarkan kata aku,” ucap Sonya. Membuat Indira tersipu malu.
“Mama kamu sudah bilang ke om, kalau kamu akan menggantikan posisi pak Indra.”
“Iya. Mohon bimbingannya om.”
“Tentu saja. Ayo kita keruangan kamu,” ajak Wiryo.
“Udah dulu ya mbak.. nanti kita ngobrol lagi,” ucap Indira melambaikan tangan ke Sonya.
“Iya! yang semangat kerjanya.”
Indira mengikuti Wiryo ke ruanganan kerja papanya. Tidak berbeda jauh dari terakhir dia kunjungi. Beberapa tahun lalu. Tata letaknya semuanya masih sama. Begitu juga foto Keluarga yang terbingkai rapi terpajang di atas meja kerja. Tampak Indira memeluk manja dan menyenderkan dagu di bahu papanya. Di sampingnya juga terpajang foto Indira saat wisuda. Di bawah foto terdapat tulisan tangan ‘Kebanggaan Papa.. Indira Prameswari’. Dengan haru Indira membacanya. Ternyata papanya tetap selalu menyayangi dirinya.
Dengan sabar Wiryo mengajari Indira pekerja apa saja yang akan di lakukan. Menjelaskan dengan detail.
“Om rasa kamu sudah sedikit paham mengenai apa saja yang akan kamu lakukan,” ucap Wiryo.
“Ya.. papa juga sering memberitahukan mengenai pekerjaannya jadi ini semua tidak asing lagi.”
“Kalau begitu om permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang mau diurus. Kalau masih kurang jelas jangan segan untuk bertanya.”
“Ok. Terima kasih Om!” sahut Indira.
Usai Wiryo meninggalkan ruangan, wajah Indira yang tadinya ramah berubah menjadi serius. Matanya berkeliaran melirik kesetiap sudut ruangan. Dan berakhir pada lemari berkas laporan keuangan.
Tujuan utamanya kali ini memang bukan untuk menggantikan posisi papanya. Melainkan mencari tau siapa dalang atas kecurangan yang dialami pak Gilang.
Pak Gilang merupakan Investor di PT. Sentosa Sejahtera. Dia merasa ada kerucangan yang dia alami belakangan ini. Beliau diklaim telah menerima hasil keuntungan yang sama sekali tidak dia terima. Anehnya ada bukti hitam diatas putih dengan tanda tangan dirinya di atas materai, yang menyatakan bahwasanya dia telah menerima hasil keuntungan. Padahal dia tidak pernah melakukannya. Jalur damai telah di tempuh secara kekeluargaan. Tapi tidak ada hasil. Nihil. Dari kedua belah pihak saling bersikeras terhadap yang mereka yakinkan masing-masing. Hingga tidak ada cara lain lagi selain membawa masalah ini meja hukum.
Indira membongkar lemari berkas dan mencarinya dengan teliti. Kejadiannya dua bulan lalu. Tepat dibulan September.
Lelah tangan Indira membolak balikkan berkas laporan keuangan. Tidak ketemu juga.
Ada yang aneh. Hanya laporan bulan September yang tidak ada. Sementara laporan bulan sebelumnya dan Oktober ada. Pasti ada pada seseorang. Yang menjadi pertanyaan ada pada siapa? Sengaja di sembunyikan untuk menutupi kebobrokan.
💐💐💐