PHP Girl

PHP Girl
Bab 13



Telinga Indira seakan berhenti berfungsi tidak mendengarkan alarm yang sudah berkali-kali berdering. Dia masih terlelap di alam mimpi. Bersembunyi di bawah selimut yang hangat.


Kali ini ponselnya yang berdering beradu dengan bunyi alarm jam. Tersentak. Indira terbangun dengan mata yang masih setengah terpejam. Susah payah dia menggapai ponsel di meja samping tempat tidurnya. Matanya Buram. Dia mengucek matanya beberapa saat.


“Hallo..” ucap Indira sambil menguap.


“Kamu baru bangun Dir!” sahut Dewi dari ujung telepon.


“Eemh.. mbak Dewi! Ada apa?”


“Ada apa? Gak lihat ini jam berapa? Sadar non..”


Indira melihat layar ponselnya. “Mampus! Kesiangan. Sudah jam 10. Ketiduran aku mbak!”


“Cantik-cantik tidurnya kayak kebo, dari tadi diteleponi gak di angkat-angkat.”


“Gak ngaruh mbak!”


“Sudah cepetan mandi sana.. dan segera datang. Banyak kerjaan ini!”


“Iya!” Indira menutup teleponnya.


Secepat kilat Indira lompat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Mengejar waktu. Indira hanya menyikat gigi dan mencuci muka saja. Dia juga tidak memoles wajahnya dengan Make Up tebal hanya memakai pelembab wajah dan lipstik tipis.


Indira mengemudikan mobilnya dengan cepat. Melaju di jalan raya yang padat dengan kendaraan. Ditengah kendaraan yang ramai sebuah mobil menabraknya dari belakang dan kabur pergi begitu saja. Syok. Indira terbengong masih memegang setir.


Beberapa mobil menepi. Pengemudinya menghampiri mobil Indira. Mengetok kaca mobil hingga membuat Indira tersentak kaget. Masih dalam kondisi syok Indira membuka kaca jendela.


“Kamu tidak apa-apa!” ucap seorang wanita muda pada Indira.


“Tidak apa-apa,” Indira tersenyum getir.


“Ada yang terluka?” tanyanya khawatir.


Indira menggelengkan kepalanya.


“Minumlah ini dulu agar lebih tenang,” wanita itu memberikan Indira sebotol air mineral.


“Terima kasih,” ucap Indira mengangguk pelan menghargai pemberiannya.


Wanita itu tersenyum pada Indira dan kembali ke mobilnya.


Tidak langsung meminumnya. Indira meletakkan di kursi samping dan menunggu beberapa saat menenangkan dirinya dengan mengatur nafas lalu melanjutkan perjalanannya.


💐💐💐


Sesampainya di kantor Indira terduduk lemas. Pikirannya buyar.


“Masih ngantuk!” ucap Dewi menyamperi Indira.


“Hari ini sial banget mbak.”


“Kenapa?”


“Tadi di jalan mobil aku ditabrak dari belakang,” ucap Indira sedih.


“Terus.. kamu gak kenapa-napa kan.”


“Nggak! tapi mobilnya harus masuk bengkel lagi deh. Baru juga keluar.”


“Mobil di pikirin. Bukannya diri sendiri,” marah Dewi.


“Ya.. kalau tidak ada mobil mau pergi ke kantor naik apa dong.”


“Nanti.. nanti bisa dipikirin. Lagian masih ada aku atau Ray yang bisa jemput kamu.


Krucuk krucuk


Terdengan suara perut Indira yang keroncongan.


“Laper! Belum sarapan,” ucap Indira mengelus perutnya.


“Makan dulu gih.. ntar pingsan lagi. Kan berabe.”


Indira berjalan menuruni anak tangga. Langkahnya sempoyongan. Kepalanya terasa berat dan matanya buram mengurangi jarak pandang. Saat hendak melangkah menuruni tangga kembali Indira mulai hilang keseimbangan. Tangannya menggenggam erat pegangan tangga.


Gubrak...


Indira jatuh berguling-guling. Kepalanya membentur lantai. Rekan kerjanya panik, berdatangan menolong Indira yang tergeletak tak sadarkan diri dengan luka di dahi yang mengeluarkan darah akibat benturan. Mendengar keributan di bawah Dewi berlari menghampiri.


“Indira.”


“Indira bangun.”


Rekan kerjanya berusaha menyadarkan Indira tapi Indira tidak memberi respon.


Merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dewi menembus kerumunan, penasaran apa yang sedang terjadi. Mengapa mereka meneriaki nama Indira.


“Indira!” ucap Dewi. Berapa kagetnya Dewi melihat kondisi Indira padahal barusan dia dalam keadaan baik-baik saja. “Tolong.. cepat bawa ke Rumah Sakit.”


💐💐💐


Indira terbaring di ranjang rumah sakit dengan infus melekat di tangannya. Di sampingnya Danu tertidur di kursi dengan tangan di ranjang menopang kepala. Dia telah melepaskan baju kebesaran dokternya.


Perlahan Indira membuka mata. Masih heran dan bingung dia sedang berada di entah di mana. Tangannya memegang kepalanya yang sakit yang sudah dibalut dengan kain kasa dan perban. Dia berusaha untuk bangkit tapi badannya terasa sakit seakan habis digebuki orang sekampung.


“Aaaw.. aduh,” Indira merengek kesakitan. Membangunkan Danu yang tertidur pulas.


“Kamu sudah bangun,” ucap Danu.


“Ya! tapi badanku rasa-rasanya patah semua, sakit saat di gerakkan. Kepalaku juga sakit.”


“Tentu saja! kamu jatuh dari tangga dan kepalamu luka sampai mendapat dua jahitan,” jelas Danu.


“Jatuh? dari tangga?” Indira mencoba mengingat kejadian yang dia alami. Sampai membuat kepala bertambah sakit.


Danu memeriksa infus dan mata Indira.


“Kamu memeriksaku sebagai dokter? dimana jas doktermu?” tanya Indira.


“Anggap saja murid dokter sedang memeriksa gurunya. Bila aku memakainya saat menjagamu pasien yang lain pasti akan iri melihatnya sudah di rawat dokter.. eh.. dijagain pula.”


“Omong kosong.”


Krucuk krucuk..


Perut Indira keroncongan lagi. Perutnya belum terisi sejak pagi, sedangkan kini sudah malam hari. Sudah berapa kali jam makan yang terlewatkan.


Danu pergi membelikan sesuatu. Sementara Indira menunggu dengan setia menahan lapar.


Tidak memerlukan waktu lama Danu kembali membawakan sup daging panas.


Dengan hati-hati Danu membantu Indira bangkit untuk duduk dan menyulanginya dengan sabar.


“Aku masih heran. Bagaimana aku bisa jatuh? Apa karena kelaparan. Sepertinya tidak mungkin,” ucap Indira.


“Mungkin saja!”


“Tapi aku tidak pernah mengalami sebelumnya, bahkan saat aku diet tidak pernah seperti ini dan ini juga terjadi secara tiba-tiba.”


Danu terdiam berpikir sejenak dengan sendok yang masih menggantung. Membuat Indira kesal ingin segera melahap makanannya.


“Eeemh.”


“Maaf,” Danu tersadar. “Apa kamu ada makan sesuatu sebelumnya?”


“Makan? belum sebutir nasi pun,” jawab Indira. “Hanya minum air mineral pemberian seorang wanita.”


“Air mineral?”


“Ya! sebelum aku turun mencari sarapan terlebih dahulu aku minum dan kejadian itu terjadi.”


“Apa mungkin...” Danu memikirkan sesuatu mencoba berspekulasi.


💐💐💐