PHP Girl

PHP Girl
Bab 20



Indira melambaikan tangan pada Danu yang baru saja pergi dengan mobilnya.


“Melambai sama siapa sih?” tanya Ray yang juga baru sampai bersama Dewi.


“Pada rumput yang bergoyang,” jawab Dewi.


“Nah itu.. benar pada rumput yang bergoyang,” sambung Indira.


“Kalian kompak bohongi aku ya! rumput apaan.. yang ada aspal sama beton.”


“Aaah sudah.. sekarang yang menjadi pertanyaannya. Mengapa kalian sering datang bareng berduaan? atau ada sesuatu yang ditutupi dariku? aku mencium bau perselingkuhan,” Indira mengintrogasi.


“Sembarangan!,” ucap Dewi


“Enak saja nuduh sembarangan,” sambung Ray.


“Mana mungkin,” ucap Dewi.


“Iya.. mana mungkin,” sambung Ray.


“Gantengan suami aku lagi..”


“Iya... gantengan suami...” ucapan Ray terhenti. “Kok gantengan suami mbak Dewi! jelas aku lebih muda.. ya harusnya gantengan aku dong..”


“Makanya jangan ngikut omongan orang..”


“Sama pasangan perselingkuhan dilarang bertengkar,” ucap Indira.


“Huuuss! denger suamiku ntar gak dibolehin nebeng Ray lagi.”


“Tahu nih Indira..”


“Ya maaf.. aku kan bercanda!”


“Buruan masuk.. bu bos bisa marah nanti.”


“Tapi harusnya memang mau bilang sama bu bos, mbak. Supaya ditanamin pepohanan di depan biar ada penghijauan.. jadi mata gak sumpek.”


“Itu urusan nanti, cepat masuk!” ucap Dewi


Dewi yang berada di tengah-tengah antara Indira dan Ray, mendorong punggung mereka berdua untuk berjalan maju.


Belum lagi Indira duduk di kursinya. Juki datang menghampiri memberikannya sebuah kotak berukuran kecil.


“Ada paket bu!” ucap Juki memberikan paket pada Indira. “Ternyata penggemar ibu banyak ya.. sering datang paket, gak seperti saya.”


“Kamu mau? Ambil!” ucap Indira.


“Aah.. ibu bisa saja bercandanya.”


“Kalau nggak mau buruan sana pergi, saya banyak pekerjaan.”


Indira duduk dan merapikan mejanya yang sedikit berantakan. Juki masih berdiri di samping mejanya dengan wajah memelas. Indira malanjutkan membersihkan mejanya. Beberapa menit berlalu tapi Juki masih tetap pada posisinya. Merasa risih Indira menegurnya.


“Kamu bilang tidak mau paketnya lalu untuk apa kamu masih disini Juki?”


“Ibu pasti lupa deh,” ucap Juki sedih.


“Lupa?” Indira bertanya pada diri sendiri. Memangnya apa yang Indira lupakan.Perasaan tidak ada.


“Saya sudah memberitahu ibu kemaren.”


“Aah!” Indira semakin penasaran. Sebenarnya apa yang lupa. “Aduh.. Juk.. kepalaku pusing memikirkannya. Cepat katakan! apa itu... sampai aku bisa lupa.”


“Uang sarapan titipan kemaren. Saya sudah terlanjur membelinya. Eeh.. ibu justru gak datang.”


“Kan jadinya kamu yang makan.”


“Ya.. saya kan jadi rugi bu! saya sudah makan jatah saya terus harus makan jatah punya ibu.”


“Laah.. bukannya untung, kok malah rugi?


“Kalau di lihat dari segi melahap makanannya saya untung.. beli 1 porsi makan 2 porsi, tapi kalau dari segi keuangan saya rugi bu,” ucap Juki sedih.


“Ya udah deh...” Indira mengambil uang tiga puluh ribu rupiah dari dompetnya dan memberikannya pada Juki. “Ini..! cepetan sana pergi. Kamu sudah membuang,” ucap Indira kesal.


“Kalau dari tadi di kasihkan sudah pergi dari tadi,” gerutu Juki berjalan pergi.


“Juki... kembaliannya untuk beli sarapan besok ya,” teriak Indira.


“Aah... dikira untuk Juki,” merepet Juki.


Setelah memastikan Juki pergi, Indira lanjut bekerja. Matanya terus tertuju pada kotak yang diberikan Juki. Kotaknya tampak biasa. Tidak ada nama pengirimnya. Penasaran Indira membolak balik kotak. Mana tau ada nama pengirim di salah satu sudutnya. Tapi tetap tidak ada.


Kotak yang aneh.. sekelilingnya penuh rekatan lakban. Indira harus menggunakan pisau kater untuk membukanya.


“Aaah,” Indira menjerit histeris dan melempar kotak ke bawah lantai dan menghentak-hentakkan tangannya seakan merasa jijik.


Mendengar teriakan Indira Dewi berlari mendekatinya. Disusul oleh karyawan lain termasuk Ray dan Juki.


“Ada apa Dir!” tanya Dewi yang khawatir melihat Indira yang ketakutan.


Ray mengambil kotak dan melihat isinya. Ada foto Indira yang di coret-coret di lumuri darah dan sebuah kertas, yang tertulis di sana ‘KAMU AKAN MENERIMA BALASANNYA’.


“Ulah iseng siapa ini,” bentak Ray marah.


Semua rekan kerja Indira terdiam kaget dan saling melihat satu sama lain.


“Ini namanya sudah pengancaman.. harus lapor polisi Dir!” ucap rekan kerja Indira.


“Iya Dir..”


“Siapa yang membawa paket itu?”


“Tadi ada perempuan yang datang bawa paket itu di depan jalan sana waktu saya beli sarapan,” ucap Juki.


“Perempuan? bagaimana ciri-cirinya?” tanya Ray.


“Saya juga tidak begitu ingat pak Ray! dia pakai kacamata hitam dan menggunakan masker,” Juki mengingat.


“Apa rambutnya panjang sebahu?” tanya Indira pada Juki.


“Eemh..” Juki berpikir sejenak, takut salah memberikan informasi. “Sepertinya iya bu.. soalnya tadi saya buru-buru.”


“Kalau iya begitu, dia orang yang sama yang memberikanku air mineral waktu itu.”


“Air mineral yang sudah dicampur obat tidur itu,” ucap Dewi menyakinkan.


“Iya mbak!”


“Berarti.. ini bukan yang pertama kali, dia sudah berencana melukaimu. Ini tidak bisa dibiarkan Dir!” ucap Ray.


Indira tidak menjawab. Dia memikirkan sesuatu. Siapa yang sebenarnya melakukan ini. Siapa yang telah sakit hatinya sampai mau mencelakainya.


“Kamu harus cepat mengambil keputusan Dir! pasti dia sudah merencanakan sesuatu untuk mencelakaimu lagi,” ucap Dewi.


“Iya mbak aku tahu itu...”


💐💐💐


Danu membukakan pintu mobil untuk Indira.


“Aku kira kamu tidak jadi menjemputku.”


“Bagaimana mungkin! bukankan aku sudah berjanji.. ayo masuk.”


“Terima kasih pak dokter,” ucap Indira masuk ke dalam mobil. Dan Danu menyusul Indira.


“Mau langsung pulang?” tanya Danu.


“Tidak asyik..”


“Aku mau mengajakmu keluar sekedar cucimata tapi aku takut kamu kelelahan.”


“Omong kosong... besok itu hari libur. Jika kelelahan aku bisa istirahat seharian besok.”


“Baiklah! kita jalan ke Mall saja ya..”


“Ya.. bolehlah dari pada tidak sama sekali.”


Diperjalanan Danu dan Indira berbincang. Bercanda tawa. Danu tetap fokus pada kemudinya sambil sesekali melihat Indira dengan penuh cinta.


“Ada sesuatu yang ingin aku katakan,” ucap Indira.


“Apa? katakanlah!”


“Kamu ingat wanita yang memberikanku air minenal yang ku katakan tempo hari.”


“Ingat!”


“Dia menerorku pagi ini dengan mengirimkan fotoku yang dicoret dan dilumuri darah serta tulisan yang bernada ancaman.


“Mengapa tidak mengatakannya padaku.”


“Aku tidak mau membuatmu khawatir.”


“Dengan kamu tidak mengatakannya padaku itu sudah membuatku sangat khawatir.”


“Aku minta maaf.”


Danu menepikan mobil. Dan melepas Safety Belt.


Lalu memegang pipi Indira dengan kedua tangannya .


“Dengarkan baik-baik.. hal sekecil apa pun itu mengenai pasienku tercinta ini. Harus memberi tahukan padaku. Mengerti...”


Indira mengangguk paham.


Jahil. Danu menekan tangannya. Membuat mulut Indira seperti ikan. Sementara Indira memukul tangan Danu untuk segera dilepaskan.


💐💐💐