PHP Girl

PHP Girl
Bab 11



Percuma saja mengetahui nomor telepon Kenan tapi Kenan tidak dapat di hubungi. Nomor teleponnya tidak aktif. Tidak mau menyerah Indira mencoba dapat ke kampusnya untuk bertemu langsung dengan Kenan. Tetapi tetap juga nihil. Hampir seluruh kampus Indira pantengi tapi batang hidungnya tak nampak.


Indira meluncur ke Rumah Sakit tempat Liza melakukan tes kehamilan. Rumah sakit yang sama dengan Danu. Kebetulan sekali. Coba minta tolong pada Danu saja.


💐💐💐


Ada dua orang karyawan yang sedang berjaga di meja resepsionis.


“Permisi! Apa dokter Danunya ada?” tanya Indira pada salah satu karyawan.


“Dokter Danu ada! Sudah buat janji sebelumnya bu.”


“Belum!”


“Spesial untuk wanita cantik ini dapat menemuiku kapan saja tanpa perlu buat janji,” sahut Danu yang sudah berada di belakang Indira. “Apa kakimu sakit lagi,” sambung Danu.


Dua karyawan rumah sakit tertawa kecil mendengar ucapan Danu.


Sementara Indira mengkerutkan dahinya menatap Danu. Heran dengan sikapnya.


Di bangku taman belakang Rumah Sakit Indira dan Danu duduk saling berdampingan. Indira menjulurkan kakinya dengan tangan yang menopang di bangku.


“Kamu memakainnya! Sangat cocok, cantiknya semakin tambah,” ucap Danu saat melihat kaki Indira yang memakai sepatu pemberiannya.


“Ada yang aneh!” Indira menatap heran Danu.


“Apa?”


“Kamu terus menggombal dari tadi, bukannya kamu bilang kamu orang yang kaku. Kamu membohongiku!”


“Hahahaaa..”


“Hellooo.. benar kamu membohongiku,” ucap Indira yang mulai jengkel dengan Danu.


“Aku sedang mempelajari ini,” Danu menunjukkan sebuah buku ukuran saku dari jas dokternya.


“Cara jitu menaklukkan hati wanita,” Indira membaca judul buku itu.


“Bukannya kamu yang mengakatakan pasangan itu harus romantis biar gak di putusin.”


“Ooh ceritanya belajar biar romantis ini! pasti ada wanita yang lagi kamu incar.”


“Yuup..!” Danu mengangguk.


“Uuu.. Kenapa gak belajar dari ahlinya aja sih.. tapi tidak gratis.”


“Siapa?”


“Nggak jauh-jauh, orangnya ada di depan kamu.”


Danu menyerongkan kepalanya melihat Indira Sinis


“Kamu tidak percaya padaku?”


“Ciuman petamamu saja denganku.”


“Jangan mengungkitnya lagi atau kalau tidak..”


“Iya maaf!” ucap Danu merasa bersalah. “Tapi masa aku belajar dari kamu. Jadinya Pasienku guruku.”


“Ya! Dokterku muridku.”


Wkwkwkkk. Indira dan Danu tertawa bersama.


“Ada keperluan apa kamu mencariku,” ucap Danu.


“Ooh itu.. aku mau meminta tolong untuk menanyakan hasil tes kehamilan.”


“Kamu hamil?” ucap Danu terkejut.


“Gila!” Indira menepuk pundak Danu pelan. “Bukan! Aku sedang menanganin kasus klien. Dia di tuding menghamili anak gadis orang, jadi aku mau memastikan bukti yang si korban berikan benar atau tidak.”


“Oh! untunglah.. aku kira kamu,” ucap Danu mengelus dada. Memikirkan sesuatu.


“Menurut feelingku sih.. dia gak bersalah dan orang tuanya juga berpikir demikian. Walaupun tingkahnya nyebelin tapi aku yakin.”


“Adik kamu?”


“Iya.. papa bilang dia juga kena kasus yang sama seperti kasus yang kamu tangani.”


“Ooo.. kamu bertengkar dengan adikmu ya..”


“Bukannya dalam hubungan kakak adik itu biasa.”


“Entahlah!”


“Kamu tidak mengalaminya.”


“Bagaimana bisa! Aku anak tunggal,” ucap Indira.


“Ngomong-ngomong siapa nama adik kamu?”


“Malvin Mahendra.”


“Malvin! Bocah ingusan itu adikmu?” ucap Indira kaget. Kebetulan sekali.


“Kamu mengenalnya? Jangan-jangan...”


“Ya! Kasusnya yang sedang aku tangani. Kalau begitu kamu harus membantuku menjumpai dokter Ridwan untuk mempertanyakan soal ini.”


“Aku kenal sangat dekatnya jadi mudah saja untuk menjumpainya asal kamu mau mengajariku menjadi romatis secara percuma.”


“Heei.. kamu malah menggambil keuntungan! Ini juga demi adikmu. Abang macam apa kamu.”


“Tidak ada yang gratis bukan.”


Indira menarik nafas panjang dan melepaskannya. “Baiklah!” sahut Indira dengan berat hati.


Berjalan berdampingan menyusuri lorong rumah sakit. Indira dan Danu jadi perhatian para perawat. Mereka memandang dengan tersenyum tipis membuat Indira merasa tidak nyaman, mengelus pundaknya dengan tangan kanan.


Danu jalan sangat cepat. Indira tertinggal jauh di belakang, dia berlari kecil mengimbangi Danu.


“Pelan-pelan dong!” protes Indira.


“Kami para dokter sudah terbiasa jalan dengan cepat, terlebih ketika ada keadaan darurat,” sahut Danu. “Cepat! Keburu dokter Ridwan pulang.”


Terpaksa Indira mempercepat langkanya. Untung saja saat ini dia menggunakan sepatu kets. Kalau pakai High heels bisa-bisa pergelangan kakinya sakit lagi.


💐💐💐


“Dok! Apa saya mengganggu,” ucap Danu mengintip dari balik pintu.


“Danu! Saya kira siapa. Masuklah.”


Danu membuka pintu lebar dan segara masuk di susul oleh Indira.


“Ada apa kamu mencari saya, tumben! Bukan karena Widya kan,” goda Dokter Ridwan.


“Hahaa.. bukan dok,” sahut Danu salah tingkah. “Ada yang mau saya tanyakan dok!” ucap Danu melihat ke arah Indira.


“Ini siapa? Pacar kamu?” tanya Dokter Ridwan.


“BUKAN,” sahut Indira dan Danu berbarengan.


“Hahaaa.. dasar anak muda! Mau menanyakan apa?”


“Apa benar ini hasil kehamilan dari dokter?” tanya Indira sambil memberikan copyan hasil kehamilan Liza. Dengan seksama Dokter Ridwan memperhatikan. Tidak lama dia membuka layar monitor.


“Nomor registernya sama tetapi dengan nama yang berbeda,” sahut Doter Ridwan. “Saya ingat! Beberapa hari yang lalu dia memeriksakan kehamilan bersama temannya.


“Boleh saya meminta hasil print aslinya?”


Keraguan tampak di wajah Dokter Ridwan. Dia memandang Indira dan Danu bergantian.


“Saya mohon Dok! Adik saya di fitnah, saya ingin meluruskannya,” pinta Danu.


💐💐💐