PHP Girl

PHP Girl
Bab 25



Ray mengambilkan air putih hangat untuk Indira yang duduk terdiam lemas. Pandangan matanya kosong. Masih menyalahkan diri sendiri tentang apa yang terjadi pada Nathan.


“Minum! agar perasaanmu lebih tenang,” ucap Ray.


“Apa perlu kami menemani sebentar disini?” ucap Malvin menawarkan.


“Tidak perlu,” jawab Indira.


“Atau mau aku telpon bang Danu untuk datang?”


“Aku hanya ingin sendiri,” ucap Indira dengan lemas.


“Danu? Siapa dia?” tanya Ray pada Malvin. Penasaran.


“Kamu tidak tahu?”


Ray menggeleng.


“Dia abangku.. dokter yang merawat Indira di Rumah Sakit,” ucap Malvin


“Ooh!”


“Sekaligus pacar Indira.”


Ray tercengang kanget tak percaya. “Pacar!” ucapnya sekali lagi menyakinkan. Mungkin saja dia salah dengar.


“Ya,” ucap Malvin tegas.


Tubuh Ray lemas mendengarnya. Tapi mau berbuat apa. Jodoh Ray dengan Indira memang sebatas teman, bukan kekasih. Lagian Ray sudah berjanji tidak mengejar cinta Indira lagi. Walau membutuhkan waktu, entah sampai kapan.


“Lebih baik kita pergi sekarang. Biar Indira menenangkan dirinya sendiri,” ucap Malvin pada Ray yang masih diam terbengong. Malvin menyenggol lengan Ray dengan sikutnya agar Ray merespon.


“Baiklah.. lagian aku harus kembali ke kantor,” ucap Ray. “Indira kami pamit dulu. Beristirahatlah! jangan terlalu di pikirkan dan bila kamu butuh bantuan bisa telepon kami.”


“Iya! terima kasih,” jawab Indira dengan senyum yang dipaksa.


Ray dan Malvin meninggalkan apartemen Indira.


“Ikhlas kan saja.. aku tau itu berat. Yang terpenting Indira bahagia karena belum tentu bila bersama salah satu di antara kita Indira bisa bahagia,” ucap Malvin.


“Memangnya kamu sudah ikhlas?” tanya Ray.


“Belum.”


“Eeh... bilangin orang. Diri sendiri belum ikhlas.”


“Butuh waktu mas bro.”


“Ya sudah ayo jalan,” Ray merangkul pundak Malvin dan berjalan pergi bersama. Ada hikmah di setiap peristiwa. Karena kejadian yang Indira alami membuat Ray dan Malvin berbaikan. Saling mengerti karena mencintai dan ditolak dengan wanita yang sama.


Seperginya Malvin dan Ray. Indira masih duduk termenung memandang kotak pemberian Nathan. Air matanya kembali jatuh menetes tepat di atas kotak. Andai waktu itu Nathan mengatakan soal penyakitnya mungkin Indira masih bisa mempertimbangkan keputusannya. Saat itu Indira juga memiliki perasaan sayang pada Nathan tapi karena prinsipnya yang belum mau menjalin hubungan dengan status, dia memilih menghindar daripada mereka berdua terluka. Dimanapun tetap sama penyelesai selalu datang terlambat.


Indira mengotak atik kode angka yang ada di kotak. Teringat perkataan Liza. Mungkin tanggal ulang tahunnya. Dan Indira mencobanya. Benar saja, kotaknya terbuka.


Di dalamnya ada sebuah dvd dan setangkai bunga mawar yang telah kering. Bunga kesukaan Indira, yang selalu Nathan berikan bila bertemu dengannya. Saat Indira mengambil dvd, di bawahnya ada sebuah kalung dengan bandul cincin bermata intan yang berkilau.


Indira memutar dvdnya.


Muncul di layar. Isinya adalah video. Tambak Nathan yang tersenyum manis duduk di sebuah kursi.


“Haii Indira..” sapa Nathan dalam video. “Mungkin saat kamu melihat video ini aku sudah pergi lebih dulu. Tidak sempat berjumpa denganmu lagi. Aku sangat merindukanmu. Tapi aku bahagia kamu telah menerima pemberianku. Kamu suka?”


“Aku suka,” jawab sambil menganggukkan kepala.


“Sebenarnya aku mau memberikan cincin itu saat melamarmu.. tapi belum sempat itu terjadi. Kamu sudah menolakku lebih dulu,” ucap Nathan bersedih.


“Maaf!” Indira menjawab.


“Aku ada sebuah lagu untukmu.. kalau jelek jangan ditertawakan ya. Nanti aku marah,” ucap Nathan sambil tertawa. Di dalam video dia tampak bangkit dari duduknya mengambil gitar dan kembali duduk. Mengatur posisi gitarnya agar lebih enak untuk dimainkan.


“Kamu terlalu banyak gaya,” komentar Indira.


“Dengarkan baik-baik...


🎸🎸🎸


Engkaulah yang ku cinta.


Dalam hidupku


Takkan terganti dan selalu dihati


Tapi kini telah berakhir


Engkau pergi


Menghindari diri ini


Kucoba terus mencari dan mencari


Mawar terakhir..


Sebagai pertanda perpisahan


Tanda arti cinta.. tulusku


Mawar terakhir..


Sebagai ucapan perpisahan


Tapi cintaku abadi untukmu selamanya..


Walau aku telah pergi untuk selama-lamanya..


Hanya engkaulah yang sayang.”


Nathan bernyanyi dengan menangis. Tidak dapat menahan kesedihan. Saat selesai bernyanyi dia memalingkan wajah. Menyekan air mata. Sementara Indira menangis haru. Terhanyut dengan suara merdu dan curahan hati yang terdalam.


“Aku sangat mencintaimu dengan tulus Indira. Aku tidak menyalahkanmu bila kamu pergi menjauh. Bukankah cinta dapat dipaksa. Bisa bertemu dan mencintaimu saja, aku sudah sangat bersyukur. Aku terus berdoa kamu selalu bahagia Indira. Selamat tinggal cinta..,” ucap Nathan mengakhiri video.


Ntah sudah berapa banyak airmata yang telah tumpah. Mata yang bengkak karena terus menangis membuat pandangan Indira kabur. Lelah. Indira menyenderkan kepala di bahu sofa. Tertidur sambil menggenggam cincin pemberian Nathan.


💐💐💐


Ray kembali ke kantor menumpang mobil Malvin. Di perjalanan mereka berbincang.


“Mobil kamu keren! ternyata kamu orang kaya,” ucap Ray.


“Salah mas bro.. aku masih mahasiswa jadi mana mungkin. Ini mobil orang tuaku yang aku pinjam,” ucap Malvin.


“Setidaknya kamu bisa menikmatinya. Tidak seperti Indira,” ucap Ray.


“Indira.”


“Ya.. orang tuanya sangat kaya tapi dia memilih kabur dan hidup dengan jeripayahnya hanya karena tidak mau dijodohkan.”


“Indira dijodohkan, dari mana mas bro tahu?


“Ya kami berteman baik, dia selalu menceritakan tentang permasalahannya padaku juga Dewi.”


“Mas bro masih memiliki perasaan sama Indira?” tanya Malvin.


“Tentu saja masih! sulit dihilangkan tapi aku akan berusaha untuk melepas rasa itu,” ucap Ray. “Bagaimana denganmu? apa mau bersaing dengan abangmu?”


“Aku belum memikirkannya. Biarkan saja berjalan seperti air yang mengalir.”


“Kamu tidak memberitahukan abangmu soal Indira?” tanya Ray.


“Biarkan dia tahu sendiri. Aku tidak mau ikut campur.”


“Uuuh! aku mencium ada upaya persaingan.”


“Diamlah mas bro! aku sedang konsentrasi menyetir jangan bicara yang tidak-tidak,” ucap Malvin jutek.


💐💐💐


Sesampainya di kantor Ray langsung mendapat banyak pertanyaan dari Dewi.


“Ray.. mana Indira? apa yang terjadi? siapa pelakunya? apa sudah lapor polisi? Indira baik-baik saja kan?”


“Aduh mbak.. aku gak tau harus menjawab yang mana.”


“Jawab saja satu-satu.”


“Aku lupa apa pertanyaannya.”


“Aah ribet. Sekarang ceritakan saja padaku apa yang terjadi tadi.”


“Panjang mbak.”


“Apanya yang panjang?”


“Ya ceritanya.”


“Ya sudah ceritakan, aku akan mendengarkan. Penasaran!”


Ray menceritakan pada Dewi dari A sampai Z. Sampai mulutnya kebas dan kehausan.


“Kasihan Indira pasti dia sangat terpukul,” ucap Dewi sehabis mendengarkan cerita Ray.


“Hiburlah Indira mbak.. agar dia melupakannya. Aku tak tega melihatnya bersedih terus,” ucap Ray sambil meneguk air mineral.


Dewi mengangguk mengerti. “Kamu kira aku tega melihatnya seperti itu. Aku harus membujuknya untuk...”


💐💐💐


👉 Coba nyanyikan lagu di atas dengan ☝️irama kamu sendiri. Aku ingin mendengarnya 😉😉😉😉