
Dewi menggeser kursinya mendekat ke meja kerja Indira. Dia hendak menceritakan kepada Indira. mengenai perkara yang sedang dia tangani.
“Jadi bagaimana kelanjutannya mbak?” tanya Indira penasaran.
“Istrinya tetap ngotot cerai dan suaminya mau mempertahankan rumah tangga.”
“Kalau aku juga gak bakal tahan mbak! gila saja.. harus dua jam sekali... iih,” Indira bergidik geli.
“Aku juga gak mau. Satu hari sekali saja rasanya sudah lelah.”
“Wajar istrinya minta cerai.”
“Tapi pas istrinya minta jatah, ada saja alasannya untuk menolak.”
“Uuuh!”
“Masih Original.. belum terjamah alias masih perjaka.”
“Untuk apa menikah kalau tidak... begituan! bagaimana bisa perbanyak keturunan.”
“Tujuan menikahnya memang hanya untuk istrinya memasak untuk suaminya dua jam sekali.”
“Apa tidak pemborosan.”
“Suaminya kaya raya. Konglomerat! Kita apalah.. hanya kongmelarat,” ucap Dewi sambil tertawa.
“Tapi tetap... siapa yang mau menikah hanya untuk memasakan suami dua jam sekali.”
“Bener Dir!”
Ponsel Indira berdering...
Ada panggilan masuk dari Danu. Dewi yang tidak mau mengganggu Indira yang sedang kasmaran memilih kembali ke meja kerjanya.
Karena Widya, Danu jadi kehilangan mood untuk melanjutkan pekerjaan. Lalu dia mengambil ponselnya menelpon Indira untuk membuatnya semangat lagi.
“Haloo.. dokter! ada apa menelponku,” ucap Indira.
“Menyecek pasienku, apakah dia baik-baik saja hari ini.”
“Tadi kurang baik, hatiku sedikit sakit... tapi setelah mendapat telepon dokter seakan mendapat suntikan vitamin. Menyegarkan!”
“Kenapa hatimu bisa sampai sakit? kamu makan apa tadi.”
“Bukan karena makanan tapi karena ulahmu dok!”
“Aku?”
“Karena panah cintamu menancap tepat di hatiku.”
“Pasienku sudah mulai nakal.. mengerjai dokternya.”
“Kamu tidak melupakan makan siangmu kan!”
“Aah.. sudah jam berapa ini. Aku lupa!”
“Kok bisa lupa? ini sudah hampir jam 3, aku tidak mau dokterku sakit.”
“Bagaimana aku bisa ingat. Yang dipikiranku hanya kamu.”
“Kamu membuat pipiku merah seperti tomat,” ucap Indira sambil bercermin di kaca.
“Hahaa.. aku ingin melihat betapa imutnya pasienku.”
“Berhenti bergombal dan cepat pergilah makan.”
“Baiklah! tapi berikanlah aku kecupan cinta agar rasa rinduku terobati.”
Indira melirik kesekitarnya melihat situasi, hanya Dewi yang melototinya. “Muuach!” sambil memonyongkan bibir dan tersipu malu.
“I Love You My Pasien.”
“Love You Too My Dokter.”
Sehabis telepon ditutup, Indira salah tingkah. Dipeluknya ponsel sambil bergoyang-goyang kesenangan.
Dewi yang duduk di bangku seberangnya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah rekan kerjanya.
💐💐💐
Bukannya melahap makanannya, Widya justru mengaduk-aduknya hingga berantakan. Pikirannya melayang. Mengingat ucapan Danu.
Hatinya masih terukir nama Danu.
Widya tidak bermaksud menduakan Danu. Dia tergoda dengan pasiennya yang menaruh hati padanya. Yang sering memberikannya hadiah kecil dan kata-kata romantis. Memuji kecantikan Widya dan mendengarkan curhatan Indira, yang tidak dia dapatkan dari Danu.
Widya sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan dan memulainya kembali tetapi Danu justru menjauh.
“Widya! lue kenapa,” tegur Rian. “Kok makanannya gak dimakan.”
“Selera aku hilang,” jawab Widya singkat.
“Terus ngapai di pesan!” Danu meletakkan makanannya di meja.
Widya tidak menjawab. Lanjut mengaduk-aduk makanannnya.
“Pasti karena Danu kan,” tebak Rian.
Widya melirik Rian dan mengangguk, mengiyakan.
“Kenapa lagi sama Danu?”
“Ternyata benar, wanita yang dirawat kemaren pacarnya Danu,” ucap Widya sedih.
“Lue tanya Danu langsung! jadi gosipnya benar.”
“Aku masih cinta sama Danu! bantu aku balikan sama dia, Rian.”
“Bagaimana caranya? Danu telah memiliki pacar mana mungkin gue memintanya untuk balikan sama lue.”
Widya menangis dan menutup kedua matanya dengan tangan. Rian iba melihatnya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menghibur Widya.
💐💐💐
Hari ini tidak ada jadwal bertemu dengan Danu, dia sedang banyak pekerjaan. Dan Begitu juga dengan Indira. Jadi sehabis pulang Kerja, Indira langsung meluncur ke apartemennya.
Indira masuk ke apartemennya sambil memijat-mijat pundaknya yang terasa pegal.
Langkahnya terhenti saat melihat Malvin tengah duduk di sofa. Penuh emosi Indira mendekatinya.
“Kamu? Bagaimana kamu bisa masuk?” tanya Indira penuh amarah.
“Kamu lupa mengunci pintu jadi aku bisa masuk,” jawab Malvin polos.
“Cukup! Kamu gak usah berbohong lagi. Dari awal aku sudah curiga mengapa kamu dapat masuk seenaknya. Aku tidak pernah lupa mengunci pintu. Kamu menduplikat kunci apartemenku kan. Mana berikan padaku,” ucap Indira emosi dengan tangan meminta pada Malvin.
“Kamu menuduhku!”
“Aku tidak menuduhmu. Itu memang kenyataannya,” bentak Indira.
Malvin tertunduk dan tertawa terbahak-bahak. Indira terheran-heran melihatnya. Malvin menghentakkan kedua tangannya di paha dan bangkit dari duduknya.
“Mengapa setiap kali aku menyatakan perasaanku, kamu tidak menanggapiku.”
“Bagaimana bisa aku menanggapimu, aku telah menganggapmu seperti adikku sendiri.”
“Adik! aku tidak memintamu menganggapku sebagai adik. Dan aku mencintaimu.. sebagai seorang wanita.”
“Tapi aku tidak! kamu tidak bisa memaksaku.”
“Tapi mengapa dia bisa.. kamu baru saja mengenalnya.”
Malvin mendorong Indira ke sofa. Hingga tubuh Indira terbentur keras di sofa. Dengan cepat Indira berusaha untuk bangkit. Kalah cepat. Malvin meraih kedua tangan Indira dan menahannya.
Kini Malvin tepat di atas tubuh Indira.
“Apa yang kamu lakukan Malvin, lepaskan aku!” bentak Indira yang dilanda kepanikan.
“Aku mencintaimu lebih dulu. Tapi kenapa kamu lebih memilih Danu dari pada aku.”
“Apa maksud kamu.”
Malvin menyerobot mencium bibir Indira tapi Indira dengan cepat menolehkan wajahnya. Meleset. Bibir Malvin mendarat di pipi Indira. Kembali dia melakukan aksinya menciumi leher Indira hingga kancing kemeja Indira terbuka. Membuat pakaian dalamnya mengintip keluar.
Dengan sekuat tenaga Indira melepaskan tangannya dari genggaman Malvin. Tangannya sudah terasa sakit. Tenaga Malvin lebih kuat, Indira tidak mampu melawannya.
Malvin kembali mau mencium Indira. Hampir mengenai, tangan Indira sudah mendatar di pipi Malvin. Dengan sekuat tenaga dia melepaskan tangannya, sampai tangannya lecet. Lalu mendorong tubuh Malvin.
“Cepat pergi! atau aku akan berteriak,” bentak Indira.
Malvin tidak merespon.
“Aku bilang cepat.”
Akhirnya Malvin mendengarkan Indira dan pergi meninggalkan Indira dengan wajah menyesal dan merasa bersalah.
Indira terduduk lemas di lantai dan menangis histeris dengan tangan yang memegang baju yang kancingnya terlepas.
💐💐💐