
Indira mengajak Haris Mahendra untuk berbicara di kedai kopi samping kantornya.
“Mau minum apa? Biar saya pesankan,” ucap Indira ramah.
“Cappucino saja.”
“Baiklah! Saya pesan dulu,” ucap Indira dan dijawab dengan anggukan oleh Haris.
Pria yang berdiri di meja kasir sudah menunggu Indira dengan tersenyum manis. Dengan model rambut under cut. Wajah tampan dengan berewok tipis menghiasi wajah, tampilannya begitu maskulin. Membuat wanita tidak bosan memandangnya.
Indira membalas senyumannya.
“Hai manis,” sapanya pada Indira.
“Hai juga mas Bian,” sahut Indira dengan gaya imut. “Senyumanmu itu membuat hatiku dag dig dug,” sambung Indira.
“Manis bisa aja... belakangan kemana saja, sudah jarang datang. Jadi kangen!”
“Aku juga kangen!”
Kangen sama aku atau kopinya?”
Maju lebih dekat. Indira mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi. “Dua-duanya,” bisik Indira pelan.
Bian tersipu malu.
“Jadi manisku mau minum apa hari ini.”
“Latte untuku dan cappucino untuk tamuku,” ucap Indira mengarah ke belakang menunjuk Haris dengan jempolnya.
“Dia siapa? Ayah kamu?” tanya Bian.
Indira menggeleng. Telunjuk tangan kanannya di goyangkan ke kanan dan ke kiri.
“Sayang sekali!” ucap Bian dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
“Mengapa begitu?” tanya Indira.
“Padahal aku mau meminta restu ayahmu untuk membawa lari anaknya ke pelukanku.”
“Tolong hentikan! Ucapanmu membuatku hampir melayang.”
Senyuman tersungging di bibir tipis Bian dan pergi ngambil sesuatu di samping meja kasir.
“Ini bonus karena membuatku bersemangat pagi ini,” Bian memberikan dua buah almond croissant pada Indira. “Tunggu sebentar akan aku buatkan kopinya.”
“You all the best,” Indira mengedipkan satu matanya, menggoda Bian.
Bian kembali berkutat dengan mesin baristanya. Indira sabar menunggu sambil memperhatikan Bian yang cekatan menyiapkan kopi.
Setelahnya Indira segera menyamperi Haris yang tengah sibuk mengotak-atik ponselnya.
“Maaf membuat anda menunggu terlalu lama.”
“Tidak masalah.”
“Silahkan diminum.”
“Terima kasih!”
Harum kopinya begitu kuat. Haris menyeruputnya sedikit.
“Saya tidak tahu mulai dari mana,” ucap Haris. “Tapi intinya putra saya meminta kamu yang menangani kasusnya.”
“Putra Anda?” tanya Indira.
“Iya.. Malvin Mahendra.”
“Aah! Malvin!” ucap terkejut dan terbengong. Malvin! Ternyata yang duduk di hadapan Indira ayahnya Malvin. Ada apa dengan Malvin? Kasus apa yang dia hadapi? Ya.. sudah beberapa hari ini Indira tidak melihatnya. Biasa dia selalu nyelonong masuk tanpa permisi ke apartemennya.
“Anda mengenalnya kan?”
“Tentu saja, dia tetangga saya,” ucap Indira.
“Memangnya Malvin terkena kasus apa?”
Haris agak ragu mengucapkannya. “Menghamili anak gadis orang.”
Indira tercengang dan menelan ludah. Bagaimana bisa? Tapi tidak heran, dilihat dari sifatnya yang suka masuk rumah orang tanpa ijin, kemungkinan bisa saja terjadi. Indira teringat kejadian yang lalu saat Malvin masuk ke apartemen. Tidak menutup kemungkinan dia bisa saja dihamili juga. Indira bergidik ngeri.
“Baiklah! Kalau begitu saya akan bertemu Malvin terlebih dahulu dan menanyakan apa yang sebenernya terjadi.”
“Ini kartu nama saya,” Haris mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. “Saya tidak bisa lama-lama masih ada urusan yang harus dikerjakan, jadi saya pamit dulu bila ada keperluan tinggal hubungi saya.”
Indira mengangguk pelan.
💐💐💐
Siang harinya Indira menemui Malvin. Suasana hening, Indira dan Malvin saling duduk berhadapan. Indira duduk dengan posisi tegak dan bahu yang menyender ke kursi dan tangan di lipat di dada. Mereka belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak sepuluh menit lalu. Sedari tadi Indira hanya menatap dingin Malvin. Sorot matanya tajam mengisyaratkan banyak pertanyaan.
“Mengapa kamu menatapku begitu,” ucap Malvin yang tak tahan dengan tatapan Indira.
“Aku tidak habis pikir kamu...”
“Aku tidak melakukannya.”
“Tapi ada banyak bukti.”
“Itu tidak benar.”
“Bagaimana fotomu dengan wanita itu tanpa busana. Menjijikkan!”
“Aku dijebak! Aku yakin betul tidak melakukannya”
“Lantas bagaimana dia bisa hamil.”
“Percayalah padaku! Aku tidak melakukannya. Bagaimana aku melakukannya kepada wanita yang tidak aku cintai bahkan wanita yang ku cinta saja tidak pernah aku sentuh,” bela Malvin. “Coba pikirkan sudah berapa kali aku masuk ke apartemenmu dan begitu banyak kesempatanku untuk melakukannya. Nyatanya aku tidak pernah berbuat macam-macam padamu,” bela Malvin dengan berapi-api.
Benar yang dikatakan Malvin. Ada banyak kesempatan jika dia mau berbuat jahat tapi tidak sekali pun dia lakukan.
“Liza pasti mencampurkan obat tidur ke dalam minumanku dan Kenan juga pasti ikut membantu,” terka Malvin.
“Obat tidur?”
“Ya! Aku sudah curiga dengan mereka sebelumnya. liza memaksaku untuk minum yang bukan pesananku. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.”
“Kenapa kamu meminumnya, bodoh sekali!”
“Sudah aku katakan, Liza memaksaku.”
“Kalau begitu baiklah, aku aku menjumpai Kenan. Kau punya nomor teleponnya.”
“Punya. Ada di ponselku.”
“Dimana ponselmu.”
“Ku serahkan pada papa. Kamu bisa minta padanya.”
“Oke!”
“Kata sandinya... dirimu.”
“Dirimu! Baiklah.”
“Dirimu,” tegas Malvin.
“Iya! Itu sangat mudah. Jangan khawatir.. aku bisa mengingatnya.”
“Dirimu.. Indira.. I-N-D-I-R-A,” ucap Malvin malu-malu.
Indira tercengang tak percaya.
“Kamu menggunakan namaku sebagai kata sandi? Apa tidak ada kata sandi yang lain yang bisa kamu gunakan.”
“Tidak ada! Namamu sangat indah. Membawa keberuntungan bagiku dan membuatku tetap selalu mengingatmu.”
“Kalau membawa keberuntungan kamu tidak ada di sini.. tapi Terserah!” Ucap Indira. “Aku akan berusaha mengeluarkanmu dengan cepat, bersabarlah.”
“Aku yakin kamu pasti bisa membantuku.”
“Ya!”
“Indira! Terima kasih,” ucap Malvin tulus.
💐💐💐