PHP Girl

PHP Girl
Bab 33



Danu duduk di lantai menyender ke sofa sambil memeluk Indira dari belakang. Sesekali mengecup rambut Indira.


“Aku minta maaf soal Rian. Aku tidak berniat mempermainkannya,” Indira memulai obrolan.


“Tidak seharusnya kamu meminta maaf. Yang seharusnya minta maaf adalah aku. Yang telah membuatmu menderita. Aku hanya mau memegang janjiku sebagai seorang lelaki.”


“Tapi kamu juga sudah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku.”


“Ya.. aku tahu. Walaupun tanpa berjanji aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mencintaimu melebihi mencintai diriku sendiri. Hanya membutuhkan waktu memenangkan pikiran dan berpikir jernih mengenai keputusan yang akan aku ambil. Sahabat dan cinta. Keputusan yang benar-benar sulit. Bila harus memilih aku akan mempertahankan keduanya.”


“Sempat berpikir ini adalah konsekuensi yang harus aku tanggung tentang kesalahan yang telah aku lakukan. Kesalahan fatal karena telah memberikan PHP kepada pria yang menaruh hati dan harapan cinta padaku. Semua itu terjadi saat akan memulai hidup baru yang lebih baik setelah menemukan cinta sejati.”


“Jangan bicara seperti itu. Sudah jalannya harus seperti ini. Anggap saja ini ujian cinta yang harus kita jalani.”


“Terima kasih! karena masih setia mencintaku.”


“Aku akan terus menggenggam tanganmu dan tidak akan melepaskannya lagi. Akan kubuat kamu wanita paling bahagia di dunia.”


Indira membalikkan tubuhnya. Menatap Danu dengan penuh cinta. Dan sekali lagi mereka bercumbu mesra. Menikmati hidup dengan cinta. Penuh gairah dan semangat menggebu-gebu. Bergemelut membuat suasana panas. Tubuh basah dengan peluh. Gerah. Dan Indira pamit untuk membersihkan diri bergantian dengan Danu.


Indira dan Danu pergi bersama ke Rumah Sakit dengan mengendarai mobil Danu. Melaju meninggalkan apartemen. Malvin yang sejak awal tahu Danu menyambangi Indira, tidak pulang dan menunggu diluar apartemen. Menatap haru mobil Danu yang berlalu pergi karena akhirnya Indira berbaikan dengan abangnya. Sekaligus sedih untuk dirinya tidak punya harapan lagi untuk mendapatkan hati Indira.


Cukup sampai disini. Mengikhlaskan menjadi jalan terbaik untuk kebahagian masing-masing. Agar tidak menyiksa diri sendiri. Cinta tak harus memiliki dan tak mungkin dipaksa. Cinta harus rela berkorban, melepaskan rasa untuk melihat orang terkasih bagahia.


💐💐💐


Dengan sopan dan ramah Danu memperkenalkan diri sebagai kekasih Indira pada Mama Indira.


“Mama tidak menyangka ternyata kekasih kamu adalah pria yang akan dijodohkan papa dengan kamu Indira. Sekaligus dokter yang merawat papa. Kalau begitu percuma saja selama ini kabur dari rumah.”


“Aah mama,” ucap Indira melendot manja pada mamanya.


“Ceritanya akan berbeda tante. Yang ada saya ditolak mentah-mentah oleh Indira,” Danu ngakak receh.


“Udah deh.. mulai.,” Indira melirik sinis Danu.


“Bercanda sayang!” Danu mengelus rambut Indira. Menenangkannya agar tidak ngambek.


“Itulah yang dimanakan berjodoh.. dengan siapa dan cara pertemuannya bagaimana sudah diatur. Tinggal kalian yang menjalannya.”


“Iya ma!” ucap Indira. Dan Danu mengangguk pelan.


“Indira! ada yang mau mama bicarakan.”


Indira melirik mamanya dan Danu secara bergantian. “Mau bicara apa? Wajahnya serius amat. Mau suruh aku cepat-cepat nikah,” ceplos Indira. Membuat Danu menggaruk kepalanya yang tak gatal, salah tingkah.


“Itu sih maunya kamu.”


“Emang mama gak mau cepat nimang cucu?”


“Tentu saja mau. Tapi tidak sekarang dengan kondisi papa yang masih terbaring belum juga sadarkan diri.”


“Lantas apa?”


“Tolong bantu mama urus perusahaan. Keadaan sedang genting. Papa membangun peruhasaan itu dari nol untuk masa depan kamu. Mama tidak mau kerja kerasnya selama ini menjadi sia-sia.”


Indira memeluk mamanya kedalam dekapannya. Tak tega melihatnya bersedih. “Tapi...” ucap Indira ragu.


“Lakukan lah bila itu yang terbaik. Aku akan terus mendukung kamu,” ucap Danu meraih tangan Indira dan menggenggamnya memberi semangat.


“Iya.. mama tahu itu.”


💐💐💐


Hari ini begitu banyak pekerjaan di kantor. Berkas klien kamaren juga belum kelar di pelajari.


“Dir.. gimana keadaan papa kamu?” tanya Dewi menghampiri Indira.


“Masih sama mbak, belum ada perkembangan. Bantu doa ya..,” sahut Indira.


“Iya! yang sabar ya cinta. Jadi gimn? Kamu balik ke rumah kan. Dari kemaren aku berencana mau bujukin kamu balik ke rumah tapi gak kesampaian.”


“Belum tau mbak.”


“Kok belum tau. Punya rumah yang nyaman dan masih ada orang tau ngapai harus tinggal di apartemen.”


“Iya-iya... nanti aku pikirkan. Kepalaku masih mumet. Mama memintaku untuk mengurus perusahaan yang mana itu berarti aku harus berhenti bekerja disini,” ucap Indira sedih.


“Oooh.. aku tidak mau kehilangan teman kerjaku yang comel ini,” sahut Dewi mencubit pipi Indira.


“Tapi sepertinya harus aku lakukan. Mau tidak mau! Sebagai rasa baktiku kepada orang tua.”


“Jika itu sudah menjadi keputusanmu. Aku harap kamu tidak melupakanku. Dan sering-seringlah mengunjungiku.”


“Mana mungkin aku melupakan mbakku yang paling cantik dan baik sedunia ini. Aku hampa tanpamu mbak!” Indira dan Dewi berpelukan. Persahabatan yang begitu dekat bagaikan kakak beradik. Perpisahan akan terasa menyedihkan. “Aku akan merindukan nasihatmu mbak.”


“Aku juga akan merindukan itu. Hubungan kamu dengan dokter ganteng itu bagaimana? Apa kalian sudah berbaikan?”


“Mbak pasti bakal histeris mendengarkannya,” ucap Indira.


“Apa? kamu paling suka membuatku penasaran. Rian sudah merestui hubungan kalian?”


“Bukan itu. Masa bodoh dengan Rian. Tidak seharusnya dia terus mengungkit masa lalu.”


“Dia belum bisa Move On dari kamu.”


“Entahlah mbak...”


“Terus bagaimana? apa yang membuat aku histeris?”


“Ternyata....,” Indira menggantung ucapannya. Sengaja membuat Dewi penasaran. “Ternyata....”


“Eeemh!” Dewi memukul pelan lengan Indira. “Kamu suka sekali mempermainkan orang tua. Cepat katakan.”


Indira tertawa geli mendengar ucapan Dewi.


“Ternyata Danu adalah pria yang akan dijodohkan papa denganku.”


“Serius!” Jerit Dewi dengan ekspresi wajah kaget.


“Serius....”


“Hahaaahaa.. mengapa bisa kebetulan begitu. Ternyata kalian memang berjodoh.”


“Jodoh... mungkin saja!”


💐💐💐