PHP Girl

PHP Girl
Bab 19



Dengan banyak pertimbangan akhirnya Indira memperbolehkan Danu menginap di apartemannya. Dia memberikan Danu bantal dan selimut untuk menemani tidurnya.


“Kamu sudah mengantuk?” tanya Danu.


“Mataku masih sangat segar tidak mengantuk sedikit pun,” sahut Indira.


“Sama! kalau begitu duduklah kita mengobrol.”


Indira duduk di sudut sofa, agak jauh dari Danu. Menaikkan kaki dan duduk menyilang. Lalu dia menggapai bantal dan diletakkan di pangkuannya.


“Mengapa jauh dariku, mendekatlah kesini,” ucap Danu.


“Tidak! posisiku sudah nyaman di sini.”


“Kamu akan menyesal, aku punya selimut yang akan menghangatkanmu.”


“Baju tidurku sudah cukup hangat,” ucap Indira. Dia mengenakan baju tidur dengan lengan panjang dan celana panjang.


“Uuuh..” Danu menyenderkan kepalanya di sofa. “Bukannya Malvin tetangga kamu? Papa pernah mengatakannya padaku.”


“Iya,” jawab Indira datar. Yang sebenarnya malas menjawab.


“Semalam dia tidak pulang dan tidak memberikan kabar.”


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Indira, mengalihkan pembericaan tentang Malvin. Indira terlanjur sakit hati pada Malvin.


“Seperti biasa bertemu pasien, menyuntik dan memberi resep obat.”


“Apa pasiennya cantik-cantik.”


“Tentu saja.”


Indira cemberut mendengar perkataan Danu dan memalingkan muka. Sadar kekasihnya cemburu Danu menggodanya dengan mencolek dagu dan hidung mancung Indira.


“Tentu saja... yang paling cantik tetap kekasihku,” ucap Danu.


“Bagaimana dengan mantan pacar kamu? apa dia anak dokter Ridwan? dia pernah menyinggungnya saat kita bertemunya waktu itu.”


“Widya! ya... dia anak dokter Ridwan.! dia hampir saja menjadi mertuaku.”


Indira melirik sinis Danu.


“Sudahlah tidak perlu membicarakannya. Kemarilah.. sandarkan kepalamu di pangkuanku.. aku akan memijatmu agar lebih releks.”


“Tidak! kamu pasti lelah dan besok juga harus bekerja.”


“Kamu takut terjadi sesuatu yang diinginkan..” Danu melirik menggoda Indira.


“Aku tidak menginginkannya. Jangan menghayal terlalu jauh. Cepatlah tidur,” perintah Indira.


“Baiklah! tapi tidur dengan kemeja dan celana keper sangat tidak nyaman,” protes Danu memegang celananya dengan kedua tangan.


“Eemh.. sebentar akan aku carikan sesuatu.”


Indira pergi ke kamarnya mencarikan pakaian yang dapat dipakai oleh Danu. Hanya ada daster dan baju tidak seukuran Indira dan pasti tidak akan muat untuk Danu.


Lama mencari. Indira memberikan pada Danu kaos yang ukurannya sedikit besar darinya dan celana pendek selutut. Danu segera menggantinya di kamar mandi.


Saat Danu keluar dari kamar mandi Indira tidak dapat menahan tawanya. Walaupun kaos yang diberikan Indira lebih besar dari ukurannya tapi saat dikenakan Danu masih tetap saja kecil sampai membentuk tubuhnya dan hampir memperlihatkan pusarnya.


“Rasanya lebih nyaman pakai kemeja,” ucap Danu sedikit kecewa.


“Aku rasa lebih bagus ini,” jawab Indira sambil memfoto Danu dengan ponselnya.


“Haii.. berhenti memfotoku! untuk apa kamu melakukannya, mau mempermalukanku...”


“Jika kamu macam-macam mencari wanita lain. Aku akan memperlihatkan foto ini.”


“Sudah ku katakan! Aku tidak akan berani jadi tolong hapus.”


“Baiklah!” ucap Indira yang pura-pura menghapus padahal dia memindahkan fotonya ke folder yang lain.


“Cepat!” ucap Danu tak sabar.


💐💐💐


Indira bangun lebih dulu. Dan dia masih menunggu Danu selesai mandi.


“Lama sekali,” ucap Indira.


“Memangnya hanya wanita yang boleh lama. Pria juga bisa.”


“Ya sudah! Lekas kita berangkat, nanti kamu telat.”


“Kamu saja bilang yang telat..”


“Iya.. maksudku begitu. Nanti mampir sebentar ngopi di cafe samping kantor aku ya.. aku traktir, kopinya enak! dan biasa ada gratisannya juga,” ucap Indira bersemangat.


“Yang gratisan saja ya kamu bersemangat..”


“Semua orang juga begitu,” bela Indira.


💕💕💕


Indira dan Danu berjalan beriringan ke parkiran sambil bergandengan tangan.


“Pakai mobil aku saja ya.. nanti sore aku akan menjemput kamu,” ucap Danu.


“Baiklah.”


Danu menuju mobil yang berbeda dari mobil yang dia pakai saat bertemu di pertunangan Vanya. Kali ini Mini Cooper berwarna biru.


“Ini mobil kamu? bukannya waktu itu warna hitam,” tanya Indira mencari tahu.


“Ooh.. yang waktu itu mobil temanku, kami punya selera yang sama. Hanya beda warna.”


Benar saja.. tidak salah lagi. Mobil yang Waktu itu yang ditumpangi milik Rian.. gumam Indira dalam hati.


💐💐💐


“Duduklah dulu.. biar aku pesankan,” ucap Indira.


Indira berjalan penuh semangat ke meja kasir. Sementara Bian terlihat murung, tak bersemangat melihat Indira yang datang bersama Danu.


Sebenarnya Bian juga menyukai Indira, walaupun dia tidak pernah mengungkapkan secara langsung.


“Pagi Mas Bian,” sapa Indira tersenyum lebar.


“Pagi!” jawab Bian lemas.


“Kenapa lesu begitu!”


“Siapa pria yang bersamamu itu,”


“Aaah itu,” Indira menoleh ke belakang.”


“Dia pacarmu? aku melihat kalian sangat mesra. Aku lihat tadi.. dan dia terus saja menatapmu.


“Ooh ya! aku rasa itu hanya perasaanmu saja,” Indira tersenyum terpaksa melihat sikap Bian. “Aku pesan Latte 2 ya.”


Bian membuka pesanan Indira dan langsung pergi ke mesin barista untuk membuatkannya, tanpa memberikan Almond Croissant yang biasa dia lakukan. ‘Mungkin saja Bian Lupa’ pikir Indira. Setelah kopi selesai dibuat Bian memberikan pada Indira dengan wajah jutek. Tapi tetap juga tidak memberikan Almond Croissant kesukaan Indira. Hanya ada ekspresi muka dingin tanpa senyum.


Dengan sedih Indira kembali ke meja tempat Danu menunggunya.


“Harumnya saja enak, apalagi rasanya,” ucap Danu bersemangat.


“Iya.” ucap Indira sambil memberikan kopi pada Danu.


“Dimana gratisannya? kamu bilang ada gratisannya.”


“Sepertinya mulai sekarang tidak ada lagi yang gratis,” ucap Indira murung.


“Aah..” ucap Danu heran. Dan melihat ke arah Bian yang juga sedang melihatnya.


💐💐💐