PHP Girl

PHP Girl
Bab 23



Terima kasih sudah setia membaca dan menunggu update terbaru PHP Girl. Aku tidak ada apa-apanya tanpa kalian.. Terima kasih sekali lagi atas dukungannya. Love You.. 😘😘❤️❤️❤️.


Happy Reading, semoga kalian terhibur.


💐💐💐


“Pelakunya... ,” ucapan Malvin menggantung.


“Kamu mempermainkanku? Cepat katakan atau aku matikan teleponnya,” ucap Indira kesal.


“Lebih baik kamu menemuinya langsung.”


“Tinggal mengatakannya saja apa susahnya sih!”


“Percayalah padaku! aku tidak sedang mempermainkanmu. Aku hanya ingin membantumu dan meluruskan semuanya,” ucap Malvin dengan tulus.


“Meluruskan apa?” tanya Indira heran.


“Aku akan menjemputmu sekarang. Kamu akan tahu nanti.”


“Sekarang! mana mungkin, aku sedang bekerja,” tolak Indira.


“Bukankah ini juga lebih penting,” desak Malvin.


“Ok! tapi ijinkan Ray ikut.”


Malvin terdiam sesaat. “Baiklah! bila itu membuatmu merasa lebih nyaman. Yang terpenting masalahmu cepat selesai,” jawab Malvin pasrah.


Tidak perlu mengeluarkan banyak kata untuk mengajak Ray ikut dengan Indira. Cukup mengatakan ‘Ray mau ikut..’. Ray sudah mengangguk menyetujui.


Kurang dari sepuluh menit Malvin sudah sampai menjemput Indira yang menunggunya di lobby kantor.


“Malaju dengan kecepatan berapa kamu? cepat amat sampainya?” ucap Indira heran.


“Jangan menanyakan kecepatan pada mantan pembalap. Itu pertanyaan memalukan,” ucap Malvin.


“Sebentar lagi pasti aku benar-benar di diagnosis sakit Darah Tinggi karena bawaan mau emosi terus kalau denger nih anak,” ucap Ray kesal.


“Lebih mending daripada serangan jantung mendadak,” ucap Malvin cekikikan.


“Kesabaranku sudah habis,” ucap Ray mendekati Malvin.


“Cukup! Kalian berdua selalu saja bertengkar,” Indira berusaha menghentikan pertengkaran Malvin dan Ray. “Membuang-buang waktu saja. Lebih baik kita pergi sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan.”


“Dia yang mulai duluan,” ucap Ray menunjuk Malvin.


“Kok jadi aku,” jawab Malvin polos.


“Sudah! jangan mulai lagi deh... Cepat berangkat.”


“Ya..,” Malvin berjalan lebih dulu ke mobilnya. Diikuti Indira dan Ray.


“Awas kalau kamu bawa mobilnya ngebut,” ucap Indira memperingatkan Malvin. “Ntar aku..”


“Cium!” Malvin meneruskan ucapan Indira yang belum selesai bicara.


“Tidak akan!” jawab Indira jutek dan melirik tajam Malvin. Dia masih menyimpan dendam dengan Malvin.


“Kita sudah sampai,” ucap Malvin sambil membuka pintu dan hendak turun dari mobil.


“Ini gak lucu Malvin, untuk apa kita ke sini?” tanya Indira bingung.


“Untuk apa kamu bawa kami kesini,” ucap Ray menambahkan.


“Sebentar,” Malvin menelpon seseorang dan memintanya untuk datang.


Dari arah pemakaman tampak dua orang wanita berjalan beriringan.


Indira mengenalnya. Yang berjalan di depan wanita yang memberikannya air mineral. Dia masih tetap menggunakan kaca mata hitam yang sama. Dan wanita yang berjalan di belakangnya. Liza. Betapa kagetnya Indira. Pantas saja Malvin cepat tahu siapa pelakunya. Tapi untuk apa Liza melakukannya?. Apa dia dendam karena tidak mendapatkan Malvin?. Lantas mengapa harus bertemu disini?. Begitu banyak pertanyaan yang ada di benak Indira.


“Hai apa kabar?” sapa wanita berkaca mata hitam dengan santai sambil melambaikan tangan pada Indira. Sementara Liza tidak menyapa. Hanya menatap Indira penuh kebencian dan mulut yang tertutup rapat.


“Kamu!” ucap Ray geram mau menghampirinya. Dengan cepat tangan Indira mendarat di perut Ray untuk menahannya. “Dir! Kurang ke bawah,” bisik Ray.


Kesal dengan ucapan Ray. Indira melayangkan tinju ke perut Ray.


“Aauww,” Ray meringis kesakitan.


“Dia Tiana. Sepupu Liza,” ucap Malvin.


“Lalu untuk apa kalian melakukan semua itu, apa yang telah aku lakukan sampai membuat kalian mau mencelakaiku!” ucap Indira emosi.


“Kalau itu biar Liza yang menjawab, dia yang lebih berhak menjawab. Aku hanya membantunya,” ucap Tiana.


Indira menunggu jawaban Liza yang masih bungkam. Matanya mulai berkaca-kaca dengan tubuh yang bergetar. Tiana yang berada di sampingnya dengan cepat merangkul pundaknya dan mengelus pundak Liza mencoba menenangkan.


“Kamu pembunuh,” ucap Liza penuh emosi dengan air mata yang telah jatuh membasahi pipi. “Kamu pembunuh.” Jeritnya lagi.


Tangisnya pecah. Tubuhnya jatuh terduduk di tanah, kaki yang terasa lemas tak kuat menopang tubuh.


Sementara Indira diam terpaku, bertanya-tanya pada diri sendiri apa yang pernah dia lakukan sampai Liza mencapnya sebagai pembunuh. Ray yang tadinya geram melihat Liza kini merasa iba, sepertinya gadis itu merasakan sakit hati yang teramat dalam.


Kasihan. Malvin membantu menenangkan Liza. Walaupun Liza pernah memasukkannya ke sel tahanan. Malvin tidak menaruh dendam.


Beberapa saat setelah Liza lebih tenang, dibantu Tiana dia berjalan memandu yang lain ke sebuah makam. Batu nisan tertulis nama Nathan Raditya. Nama seorang pria yang sangat Indira kenal.


“Kau mengenal nama itu,” tanya Liza lirih.


Indira mengangguk pelan berulang kali dengan air mata yang jatuh berlinang mengingat kenangan bersama Nathan Raditya.


*kembali ke kenangan masa lalu Indira.


Dua tahun yang lalu. Indira yang sedang lari pagi di taman kota, berjumpa secara tidak sengaja dengan Nathan. Saat Indira duduk melepas lelah, Nathan yang duduk di sampingnya menawarkan minuman dengan ramah. Indira menerima dengan tersenyum malu. Senyum manis Indira membuat Nathan terpikat. Dengan percaya diri Nathan memperkenalkan diri dan mengajak Indira mengombrol sampai bertukar nomor telepon.


Sering berbincang dan curhat melalui sambungan telepon. Hingga sering bertemu walau hanya sekedar makan bersama. Serta berjalan sore di taman bagai sepasang kekasih. Setiap bertemu Nathan selalu memberikan setangkai mawar merah segar untuk Indira.


Merasa nyaman bersama Indira. Akhirnya Nathan memberanikan diri mengutarakan isi hatinya ingin menjadikan Indira sebagai kekasih hati. Tapi Indira yang masih belum mau menjalin hubungan kasih dengan pria, menolak mentah-mentah. Walaupun Nathan berlutut memohon padanya. Hati Indira keras bagai batu. Dia tetap berpegang teguh pada keputusannya. Menghindari Nathan dan pergi menghilang tanpa kabar.


Dan setelah sekian lama tidak berjumpa. Akhirnya Indira bertemu dengan Nathan. Bukan raganya. Melainkan sebongka tanah dengan nisan bertuliskan namanya.


Rasa penyesalan yang begitu besar berkecamuk dalam diri. Tapi tiada arti. Semua yang terjadi tidak akan mungkin kembali.


💐💐💐