
Indira berlari kecil sambil memegang perutnya menahan sakit. Mulas. Tidak tahan harus pergi ke kamar mandi. Terang saja nasi goreng yang dia makan Extra pedas. Dia kalap. Tak bisa tahan selera terhadap makanan kesukaannya.
Dia mengayuhkan kakinya ke depan dan belakang untuk membuka high heelsnya. Mencampakkan sembarangan tasnya ke sofa hingga jatuh ke lantai. Tanpa membuang waktu, Indira langsung berlari ke kamar mandi dengan tergopoh-gopoh.
Proot.. proot..
Suaranya terdengar keras. Menggema sampai keluar kamar mandi. Wajahnya merah padam. Menahan perut mulas yang tertahankan. Peluh jatuh bercucuran. Membuat baju basah.
Setelah habis berjibaku dengan perut yang bagai di putar di mesin cuci, Indira terduduk lemas di sofa. Tenaganya terkuras habis. Nafasnya pun tersengal-sengal.
“Hahaaa ha!” Malvin yang duduk di kursi makan tertawa geli sambil memegang perutnya dan tangan yang menunjuk Indira.
“Kamu!” sahut Indira kaget melihat Malvin ada di apartemennya.
Malvin tersenyum manis. Matanya membentuk bulan sabit terbalik.
“Sedang apa di sini! Bagaimana bisa masuk?”
“Tentu saja bisa. Kamu terburu-buru sampai lupa menutup pintu,” kata Malvin sambil menyilangkan tangannya di dada.
Indira memperhatikan pintu apartemennya. ‘Tidak mungkin! Perasaan sudah’ ucapnya dalam hati.
Bantal kecil sofanya dia telakkan di perutnya untuk menahan rasa sakit. Malvin tersenyum mengejek memperlihatkan gigi.
“Mana mungkin!” ngotot Indira.
“Lalu bagaimana aku bisa masuk!” ucap Malvin polos. “Ngomong-ngomong kamu makan apa sampai bunyi terdengar sampai sini,” ucap Malvin tertawa terbahak.
Pipi Indira merona karena malu. Ucapan Malvin sama saja menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita.
Bikin malu, mau ditaruh di mana muka ini. Bergegas Indira bangkit dari duduknya ke arah Malvin. Meraih tangan Malvin, hendak menyeretnya keluar dengan paksa.
“Keluar sekarang,” ucap Indira menunjuk pintu. “Masuk tanpa permisi bagai pencuri.”
“Ya! Aku memang pencuri. Pencuri hatimu!”
“Aku tidak suka candaanmu, keluar sekarang atau aku panggilkan security,” Indira mulai kesal.
“Untuk apa kamu memanggil security.”
“Untuk menangkapmu yang telah masuk tanpa ijin.”
“Tangkaplah aku! Tidak masalah, asal aku tetap dapat mencuri hatimu.”
Indira menyorong paksa Malvin keluar. Kewalahan. Nafasnya sesak mendorong tubuh Malvin yang lebih besar dari dirinya. Indira menyibaskan kedua tangannya, akhirnya berhasil menendang Malvin keluar.
“Aku tidak punya hati jadi kamu tidak dapat mencurinya,” Indira membanting pintu dengan sekuat tenaga.
💐💐💐
Malvin singgah ke kantor Indira, membawakan sarapan pagi.
“Dari mana kamu tahu kantor aku,” ucap Indira ketus. Berdiri di lobby kantor. Kedua tangannya bertumpu pada pinggang.
“Terimalah sebagai permohonan maafku soal sikapku kemaren,” Malvin menyodorkan bungkusan sarapan.
“Memangnya apa yang kamu perbuat?” Sindir Indira.
“Hanya itu!”
“Niatku untuk mencuri hatimu tidak akan berubah,”
Malvin menyambar tangan Indira. Memberikan sarapan dan beranjak pergi menuruni anak tangga.
Mulut Indira terbuka hendak merepeti pada Malvin tapi bocah itu keburu pergi. Larinya sangat cepat.
Indira berjalan menaiki anak tangga dengan malas sambil meneteng bungkusan yang diberikan Malvin. Kembali ke meja kerjanya.
“Ray kamu kenapa dari kemaren muka jutek amat,” sapa Indira saat melewati meja kerja Ray, yang terletak di depan di depan meja kerja Dewi.
“Hati sakit,” sahut Dewi dari meja kerjanya.
“Aaah.” Indira tercengang kaget. Matanya terbuka lebar melihat Ray. “Sakit Lever?”
“Hahahaaa,” Dewi tertawa geli melihat ekspresi muka Indira.
“Kok ketawa sih mbak.”
“Hatinya sakit, patah berkeping-keping.”
Ray menghempaskan pulpen yang dia pegang ke meja dan berjalan pergi dengan wajah yang di tekuk dan mulut mayun.
“Sakit hati kenapa sih mbak sampai lihat aku saja nggak mau. Apa lagi negur,” tanya Indira.
“Ya karena kamu. Cinta tak terbalas,” ucap Dewi sambil bangkit dari duduknya dan memegang dada Indira dengan telunjuknya.
“Kok aku. Kan sudah bolak balik aku tegaskan ke Ray... You and Me only Friends. Aku gak ada perasaan sama Ray jadi bagaimana mau terima dia,” kelu Indira
“Derita loo! Hahaha,” ucap Dewi sambil tertawa puas.
“Iih mbak Dewi.”
“Ray sakit hati karena kamu lebih milih brondong ke timbang dia.”
“Brondong yang mana?”
Tetangga kamu itu. Tadi Ray lihat kamu ngobrol dengannya di lobby.”
“Malvin! Anak ingusan itu, mana mungkin.”
“Ray bilang kamu Ok.. ok.. saja di dekatin sama brondong itu beda dengan Ray.”
Indira melirik sinis Dewi. Mendekatkan wajahnya ke Dewi. Dewi repleks mundur teratur dengan mata melotot.
“Ternyata di belakang aku kalian ngegosipikan aku ya?”
“Sorry nona, saya bukan ibu-ibu tukang gosip. Saya hanya jadi pendengar setia mendengar curhatan hati pemuda korban cinta sepihak,” bela Dewi.
“Ooh.. sekarang mbak sudah di pihak Ray ya! Bodoh ah.. biarin saja. Paling ntar sudah gak kumat lagi.”
💐💐💐