
Malvin duduk menyendiri di bangku taman apartemen. Pandangan matanya kosong. Masih terbayang adegan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Apa dia tidak pantas untuk Indira. Selama ini Malvin sudah berusaha mengungkapkan isi hati tapi Indira tidak pernah menganggapnya serius. Hanya mengangapnya sekedar anak ingusan yang tak pantas untuk Indira.
Sepintas teringat saat Malvin pertama kali bertemu Indira. Saat dia baru saja pindah ke apartemen, Indira duduk termenung di bangku yang Malvin duduki sekarang. Hembusan angin mengibaskan rambut panjangnya, menyebarkan aroma parfumnya yang harum semerbak. Saat Indira beranjak pergi, dia menjatuhkan sebuah kunci dengan gantungan angsa putih yang berkilau. Malvin segera memungutnya. Pikiran nakalnya pun beraksi, dia tidak akan mengembalikannya pada Indira sebelum menggandakan kunci. Malvin terpikat pada pesona Indira.
Tanpa disadari air mata menetes jatuh ke pipi. Malvin tak kuasa menahan tangis sambil mengepalkan tangan. Geram, sedih dan emosi bercampur aduk dalam diri. Harusnya dia yang bersama Indira bukan Danu.
💐💐💐
Perlahan Danu mengakhiri cumbuannya dengan Indira, dan menempelkan keningnya di kening Indira. Hembusan nafas Indira dapat dirasakan Danu. Begitu juga sebaliknya dengan Indira.
“Aku tidak tahu sejak kapan, tapi hatiku seakan tersetrum saat melihatmu dan saat kamu jauh dariku.. aku sangat merindukanmu,” Danu mencoba berucap jujur.
Wajah Indira dan Danu sangat dekat. Baru kali ini Indira melihat lebih jelas wajah Danu. Hidung yang mancung dengan mata cokelat dan alis yang tebal.
“Mengapa kamu melakukannya?”
“Aku tidak dapat menahannya. Hasrat itu muncul begitu saja membuatku gila. Aku rasa... aku jatuh cinta padaku.”
Seakan berhenti bernafas mendengar pengakuan Danu. Tapi tidak dapat dipungkiri Indira juga merasakan apa yang dirasakan Danu. Pria ini telah membuat hatinya bergetar.
“Sepertinya aku tidak perlu mengajarimu lagi, kamu sudah jauh lebih pandai dariku,” ucap Indira dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.
“Senyumanmu begitu manis bisa-bisa aku diabetes.”
“Gombal!” Indira meninju pelan perut Danu. “Ternyata bukunya sangat ampuh.. boleh aku pinjam.”
“Tidak boleh! cukup aku saja. Nanti kamu gunakan untuk memikat pria lain.”
“Tenang saja. Aku sudah tidak tertarik melakukannya,” ucap Indira. “Hai... aku baru teringat. Ternyata wanita yang kamu incar itu aku!,” sambung Indira.
Danu mengangguk dan tersenyum malu. Lalu memeriksa kening Indira apakah masih demam.
“Sudah tidak demam, ternyata ciuman dariku ampuh kan!” Danu memuji diri sendiri.
“Iih! Apaan sih...,” Indira tersipu malu.
“Kamu mau menjadi wanita yang mengisi relung hatiku?”
“Kamu bukan pria pertama yang mengatakan seperti ini padaku tapi kamu pria pertama yang dapat membuka gembok dihatiku,” jawab Indira. “Aku mau! Asal jadi yang satu-satunya untukmu.”
Kesenangan. Danu memeluk Indira. “Tentu saja! Aku tidak akan berpaling darimu. Kamu membuatku tergila-gila,” ucap Danu membelai rambut Indira. Dan sekali lagi Danu mencium Indira, kali ini di keping.
💐💐💐
Di kantor Indira tersenyum-senyum sendiri.
“Dir! Jangan bilang kamu jadi gila karena kepala kamu terbentur,” Dewi membolak balik wajah Indira ke kanan dan kiri dengan tangannya.
“Mbak apaan sih.”
“Kamu aneh.. dari tadi aku perhatikan senyum sendiri, memang ada yang lucu?”
“Heheee.. aku mau curhat mbak.”
“Kenapa.. kenapa,” ucap Dewi bersemangat.
“Emh.. tapi aku malu bilangnya.”
“Kamu bikin aku penasaran. Cepetan cerita,” paksa Dewi.
“Aku sudah jadian dengan Danu,” bisik Indira.
“Aaah!” Dewi berteriak kaget.
“Dokter ganteng itu kan,” ucap Dewi pelan.
Indira mengangguk dengan tersenyum tipis.
“Kesambet setan mana. Kok bisa seorang Indira yang suka PHP para pria kepincut sama dokter ganteng. Jangan bilang karena dia dokter, bukannya Rian juga dokter. Atau dia pakai pelet.”
“Iish mbak! Ngomongnya ngaco. Ya.. nggak lah. Aku juga gak tahu mengapa hatiku bisa tertancam panah cintanya.”
Alis mata Dewi naik saat menatap Indira, masih tidak percaya apa yang dikatakannya barusan.
“Pantas saja saat kamu jatuh kemaren dia begitu panik,” ucap Dewi. “Wajahmu sangat berseri-seri. Apa sudah terjadi sesuatu?” tanya Dewi.
Bukannya menjawab Indira justru merapatkan bibirnya. Malu membicarakannya.
“Kami berciuman,” ucap Indira Cepat.
“Aaah..” kanget Dewi sambil menepuk pundak Indira. “Bukannya kamu tidak pernah melakukannya.”
“Namanya juga lagi kasmaran mbak! Tapi...”
“Tapi kenapa?”
“Danu itu teman dekatnya Rian.”
“Gawat deh.. bagaimana kalau Rian tahu.”
“Entahlah! aku juga belum mengatakannya pada Danu.”
“Kamu harus memikirkannya, setidaknya dokter manis itu harus tau,” Dewi menyarankan.
Indira tampak kebingungan. Apa yang dikatakan Dewi benar. Setidaknya Danu harus tahu.
💐💐💐
Gosip yang beredar seantero Rumah Sakit membuat hati Widya panas. Dia cemburu. Apalagi melihat Danu yang belakangan seperti orang yang jatuh cinta.
Tak tahan. Widya mendatangi Danu ke ruangannya mencari tahu kebenaran.
“Sibuk?” tanya Widya dari pintu ruangan Danu.
“Tidak begitu sibuk, ada apa?”
Widya masuk dan duduk di hadapan Danu.
“Apa benar wanita yang di rawat tempo hari itu pacar kamu,” ucap Widya langsung ke intinya.
Danu yang menulis langsung berhenti mendengar ucapan Widya.
“Ya! kami baru saja resmi berpacaran.”
“Sejak kapan kalian saling kenal? Bukannya dia hanya sekedar pasienmu saja.”
“Dia memang pasienku sekaligus pacarku.”
“Tapi...” Widya tidak melanjutkan pembericaannya, dia ragu-ragu mengatakannya. “Aku pikir kamu masih mencintaiku.”
“Hubungan kita sudah berakhir jadi tentu saja itu tidak mungkin,” ucap Danu.
Perkataan Danu tidak sesuai harapan Widya. Matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa mengatakan sepah kata pun Widya pergi dari ruangan Danu dan membanting pintu dengan keras.
💐💐💐