
Part 3 – Taken (6)
Manuella masih tidak percaya dengan apa yang ia alami sendiri, kejutan-kejutan demi kejutan terjadi hanya dalam satu waktu. Untuk sementara, ia tidak mempedulikan semua itu. Makin banyak sekutu yang ia miliki, maka makin mudah ia mewujudkan rencana. Meski mungkin, ia nanti harus berusaha lebih keras lagi, untuk menghancurkan orang-orang tersebut. Jika sudah memiliki uang dan kekuasaan, hal itu tentu akan sangat mudah dilakukan. Oleh karena itu, semua harus menjadi miliknya. Ya, hanya miliknya. Tidak ada satupun orang lain yang bisa merebutnya.
“Kenapa memandangku seperti itu? Kau masih menyimpan curiga kepadaku?”
“Aku hanya tidak habis pikir, bisa-bisanya kau mengkhianati adik dan ibumu, Estephania” kata Manuella.
Estephania, orang yang sejak tadi mengejek dan menertawakan tingkah Manuella dan Edward, ternyata adalah dalang di balik semua ini. Ia kembali tertawa lepas, kali ini lebih keras daripada sebelumnya.
“Bibi sedang membicarakan diri sendiri?” kata Estephania, dengan nada menyindir.
Manuella seketika kikuk. Bagaimana mungkin Estephania bisa membaca pikirannya. Benar adanya, setelah tujuannya tercapai, nantinya Manuella akan menjadi pengkhianat juga, dan menyingkirkan Edward.
“Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan, Estephania?” tanya Edward.
“Sama seperti kalian. Aku juga menginginkan warisan kakek” jawab Estephania dengan enteng.
“Apa maksudmu? Kau tidak berhak...”
Estephania langsung memotong kalimat Edward. “Aku memegang kartu mati kalian. Aku tahu rencana kalian untuk menculik Monnaire. Dan, ada yang lebih penting...” kata Estepania sambil mengambil rokok yang sejak tadi dipegang Manuella, tetapi tidak dinyalakan. Manuella seketika terkejut. Estephania kemudian menyalakan rokok itu, dan kemudian berjalan mendekati Edward dan Manuella yang berdiri berdampingan.
“Aku tahu, kalian yang mencampurkan kerang ke dalam sup yang dimakan kakek, hingga kakek mengalami anafilaksis” Estephania menghembuskan asap rokok tepat dihadapan Edward dan Manuella, sambil tersenyum puas, penuh kemenangan.
Edward dan Manuella terkejut, mereka saling bertatapan, dan benar-benar tidak bisa berkutik.
“Gadis sial. Kau mau mengancam kami?” kata Edward, berang.
“Sudah aku bilang, misi kita sama, jangan menghabiskan waktu dengan saling mengancam. Makin banyak yang menggali, akan semakin cepat untuk menemukan emasnya, bukan?” kata Estephania dengan tenang.
Edward terdiam. “Dipikir-pikir, benar juga yang dikatakan gadis sial ini. Makin banyak bantuan, maka akan mudah juga untuk mencapai apa yang aku inginkan. Yah, sementara ini, aku akan pura-pura setuju dengan keinginannya. Jika aku sudah berhasil, urusan yang lainnya, bisa aku atur lagi” batin Edward.
“Kalau kita berhasil, aku akan memberimu lima puluh...” lagi-lagi kalimat Edward dipotong oleh Estephania.
“Aku yang memegang kendali. Kalian tidak bisa memutuskan. Jika kalian tidak setuju, aku akan langsung melaporkan kalian kepada ibu. Mudah saja, aku akan bilang, bahwa aku sudah menemukan Monnaire, dan kalian telah menculiknya. Bisa kita tebak, siapa yang akan lebih dipercaya, aku, atau kalian?” bentak Estephania. Ia tampak sangat kesal.
Edward dan Manuella mematung. Tidak disangka, Estephania benar-benar di luar dugaan. Sementara, Duvatte masih memegangi lehernya. Ia masih terbatuk kecil, mengatur nafasnya yang hampir habis karena ulah Edward.
“Aku menyimpan banyak bukti. Jadi, jangan macam-macam denganku. Bahkan, aku bisa membuat Duvatte menjadi saksi dan mendukungku, untuk menjebloskan kalian ke penjara saat ini juga” kata Estephania.
Edward dan Manuella terdiam. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Yang mereka bisa lakukan saat ini, adalah menuruti semua aturan yang telah dibuat Estephania. Meski di dalam hatinya, mereka tidak bisa menerima semuanya semudah itu. Mereka hanya sedang mencoba tenang, untuk kemudian mengatur rencana berikutnya.
“Lalu, selanjutnya, apa yang akan kita lakukan?” tanya Edward.
“Bunuh Monnaire sekarang juga” kata Estephania. “Jika Monnaire mati, maka ibuku akan menjadi gila, dan saat itulah, kita akan membuat Green Future menjadi milik kita, seperti yang kalian inginkan, karena orang yang terganggu kejiawaannya, tidak mungkin bisa memimpin perusahaan. Para investor dan jajaran direksi, pasti akan menuntut pergantian pemimpin, di saat itulah, aku akan muncul, karena aku adalah anak Nath” lanjutnya lagi.
Edward meremas kuat jemarinya. Ini bukan seperti yang ia inginkan, tetapi saat ini ia tidak punya pilihan. Ia akan mencuri bukti yang dimiliki Estephania, kemudian menghancurkannya, sebelum kemudian menghancurkan Estephania.
Duvatte mengangguk, dan kemudian kembali muncul bersama seseorang.
“Wizzarez, lakukan tugasmu sekarang, sayang” kata Estephania sambil tersenyum.
Wizzarez kembali ke ruangan tempat Estephania dan yang lainnya berkumpul, ia berjalan dengan tergopoh dengan alat suntik yang masih ada ditangannya. Alat itu berisi cairan sidiandryl diphenhydramine, cairan yang diperintahkan oleh Estephania untuk disuntikan kepada Monnaire.
“Monnaire hilang” katanya, cemas.
Estephania langsung berlari menuju tempat di mana Monnaire sebelumnya. “Duvatte, kau tidak menyekapnya dengan benar? Aku sudah bilang berulang kali, ikat dia, jangan biarkan ia lolos, dan kunci pintunya” kata Estephania berang.
“Aku sudah mengikatnya. Tetapi, kau sendiri yang memerintahkan untuk menyekap Monnaire di gudang dapur. Gudang itu, pintunya sudah rusak, jadi tidak bisa terkunci dengan benar” kata Duvatte dengan terbata. Ada raut ketakutan di wajahnya.
“Lalu apa kau tidak berinisiatif untuk mencari cara lain supaya dia tidak kabur? Kau ini bodoh sekali” Estephania semakin berang. Manuella dan Edward ikut berang.
“Dia tidak mungkin bisa pergi jauh. Kakinya terluka saat kecelakaan tadi, jadi dia tidak bisa berjalan dengan cepat, apalagi berlari” kata Wizzarez.
“Kita harus segera menemukan dia. Siapapun yang menemukannya terlebih dahulu, langsung saja bunuh dia. Pukul, tembak, atau apa saja. Anak itu sekarang sudah mengetahui rahasia kita” kata Estephania dengan nada panik.
\*\*\*\*\*\*
Monnaire membuka matanya perlahan, samar-samar terdengar suara sedikit riuh di luar sana. Ia kaget, karena tangan dan kakinya terikat. Hidungnya berdarah, dan nyeri di kakinya bertambah parah. Ia baru menyadari, kalau kecelakaan tadi, membuat kakinya terluka dan berdarah.
Monnaire berusaha melepaskan ikatannya. Ternyata talinya tidak terlalu kencang. Dengan cepat, Monnaire langsung melepaskan ikatannya. “Aku diculik. Siapa orang yang merencanakan ini semua?” batin Monnaire.
Ia kemudian berjalan mendekati pintu, dan berusaha membuka pintu itu, tetapi pintu itu terkunci, namun, masih ada sedikit celah, karena pintunya tidak menutup dengan rapat, mungkin karena kayunya sudah lapuk. Ada suara sedikit bising, seperti orang yang sedang berdebat. Dari sedikit celah yang ada, ia memicingkan matanya, tetapi ia tidak bisa melihat dengan jelas, pencahayaan yang minim, ditambah lagi, ada banyak rak-rak tinggi yang tersusun di depannya, membuat Monnaire tidak bisa memastikan, siapa saja orang-orang itu.
Monnaire kemudian sedikit mendekatkan telinganya ke pintu. Tidak terlalu jelas, tetapi masih bisa didengar.
“Bunuh Monnaire sekarang juga, jika Monnaire mati, maka ibuku akan menjadi gila...”
Seketika Monnaire terkejut. Ia tahu, suara itu adalah Estephania. Seketika air matanya mengalir. Bagaimana mungkin, kakak yang selama ini disayanginya, justru memiliki rencana untuk membunuhnya. Padahal, sebelum ia pergi tadi, kakaknya terlihat begitu mengkhawatirkannya, seolah merasa takut akan kehilangan dirinya. Ternyata, semua itu hanyalah topeng. Kepalsuan yang ditutupi dengan indahnya senyuman, agar Monnaire terlena dan percaya padanya. Ia berusaha memeluk Monnaire, justru agar bisa menancapkan pisau yang selama ini tersembunyi di balik punggungnya.
Monnaire kemudian tersadar, nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Dalam ketakutan dan kekecewaannya, ia kemudian mencari cara untuk berusaha kabur. Matanya tertuju pada sebuah pintu lainnya, yang ada di sudut ruangan. Ia harus lolos bagaimanapun caranya, ia tidak boleh mati dalam keadaan seperti ini.
“Pintu ini juga sudah lapuk, sama seperti pintu yang di sana. Tetapi aku tetap harus berhati-hati. Aku tidak boleh menimbulkan suara” kata Monnaire sambil melihat ke sekeliling, mencari alat apa saja yang bisa dimanfaatkan, dan membantunya kabur dari situasi mencekam ini. Mata Monnaire kemudian tertuju pada sebuah besi bekas potongan rak, yang terletak di bawah kursi, tempatnya tadi diikat.
“Terima kasih, Tuhan, Kau masih membantuku” kata Monnaire dengan sedikit lega.
Dengan hati-hati, Monnaire berusaha membuka pintu itu, dan pintu itupun terbuka. Monnaire berusaha berjalan secepat yang ia bisa, sambil menahan nyeri luka di kakinya, yang semakin terbuka lebar. Mungkin lukanya semakin parah, karena tidak langsung diobati, atau karena sejak tadi ia selalu menjadikan kakinya sebagai penopang ketika berusaha membuka pintu.
“Aku harus selamat. Bagaimanapun juga, aku tidak boleh mati sekarang. Semoga aku juga segera mendapatkan pertolongan. Aku harus secepatnya keluar dari tempat ini. Aku harus menyelamatkan ibu, menyelamatkan Green Future. Harus. Ha-rus” kata Monnaire sambil terus menyeret kakinya. Nafasnya mulai tersengal.
\*\*\*\*\*\*