Parhelion

Parhelion
Part 7 - Iblis Yang Sebenarnya (1)



Part 7 – Iblis Yang Sebenarnya (1)


Monnaire dan Estephania terlihat serius membahas kontrak kerja yang akan segera ditandatangani oleh kedua belah pihak. Estephania menuliskan banyak persyaratan untuk mengikat Monnaire yang saat ini bertukar identitas menjadi Liberty, sebagai brand ambassador untuk Green Future. Persyaratan itu dimaksudkan agar tidak ada lagi pembatalan sepihak seperti yang pernah dilakukan oleh Bernadette, tanpa diketahui oleh Estephania, bahwa itu semua adalah ulah dari Monnaire.


Monnaire berulang kali membolak-balikan kertas yang ada di tangannya, sesekali keningnya terlihat berkerut, kemudian ia mengangakat bahunya, lalu mengambil sebuah pena yang ada di depannya. Dengan ditandatanganinya kesepakatan itu, mereka berdua resmi terikat kontrak.


“Saya harap Anda bisa melakukan kesepakatan ini sampai akhir, dan tidak pernah melanggar apa yang sudah kita sepakati” kata Estephania.


Monnaire tertawa kecil. “Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan pernah mengingkari janji, karena saya tahu rasanya dikhianati oleh orang yang sudah kita percaya” kata Monnaire dengan tatapan tajam. Senyum di bibirnya masih mengembang, namun sama sekali tidak terlihat sebagai senyuman yang ramah dan bersahabat, tetapi justru terkesan menyeramkan.


Estephania terdiam sesaat, seolah mematung menatap Monnaire. Ia berdehem sambil merapikan kertas-kertas di hadapannya. Ada sedikit perasaan aneh yang sulit dijelaskan, yang dirasakannya saat ini.


“Baiklah. Besok kita akan mengadakan konferensi pers. Saya akan secara resmi memperkenalkan Anda sebagai brand ambassador Green Future yang baru. Tidak mudah menjadikan Anda sebagai brand ambassador, karena image yang cukup buruk di masa lalu. Tetapi, saya sudah terlanjur memilih Anda, karena tidak punya pilihan lain. Jika acara peluncuran kemarin batal, saya akan dinilai tidak kompeten. Kemudian, jika saya mengganti Anda dengan orang lain, setelah saya memperkenalkan Anda sebagai brand ambassador di acara peluncuran kemarin, tentu akan semakin memancing pertanyaan publik. Bisa saja publik berspekulasi buruk tentang produk kami. Saya juga tidak ingin publik menilai saya tidak mampu membayar tokoh terkenal, sehingga mencari tokoh lain yang memasang tarif cukup murah. Itu akan membuat publik berpikiran negatif tentang produk baru kami” jelas Estephania, panjang lebar.


Monnaire kembali tertawa. Ia mengangkat bahunya. “Anda sangat mengutamakan penilaian publik rupanya. Yah, menurut saya, memang ada benarnya menyembunyikan yang buruk, supaya tetap terlihat baik” kata Monnaire sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


Estephania terlihat menoleh. Ia seolah tersindir dengan perkataan Monnaire, namun ia tidak bisa menyangkalnya. Ia benar-benar merasa ada sesuatu yang janggal pada diri wanita yang kini ada di depannya, namun ia sulit menjelaskan kejanggalan itu.


“Jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, saya pamit dulu. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan” kata Monnaire sambil berdiri.


“Baiklah, silahkan” jawab Estephania.


Pelan-pelan Monnaire melangkah, diikuti oleh tatapan Estephania. Monnaire sadar, bahwa Estephania sedang memperhatikannya dengan serius. Monnaire menyungingkan senyum sinis sambil terus melangkah.


“Tunggulah Estephania, neraka itu sudah semakin dekat denganmu, dan akulah neraka itu” kata Monnaire.


******


Awak media dan beberapa undangan terlihat berkumpul di ruang pertemuan kantor Green Future. Estephania sudah bersiap bicara, didampingi oleh beberapa staf kepercayaannya. Monnaire duduk di kursi yang hanya berselang dua orang. Monnaire tampak tersenyum, sambil sesekali mengecek ponselnya, untuk sekedar membalas pesan singkat atau memberi informasi kepada Threzz atau Lauricie. Carlo tampak hadir di sana sebagai tamu undangan mewakili keluarga De Frank, bersama dengan Edward dan Manuella.


Beberapa awak media terlihat seperti mencatat sesuatu, menyiapkan beberapa pertanyaan untuk diajukan. Setelah beberapa saat, Estephania akhirnya memulai konferensi pers itu.


“Nona Estephania, jadi sekarang Nona Liberty yang menjadi brand ambassador Green Future, apa yang membuat Anda memilihnya?” tanya salah seorang awak media.


Estephania membenarkan letak duduknya. “Jujur saja, ini adalah pilihan yang cukup sulit, sebab Nona Bernadette tiba-tiba membatalkan kontraknya, karena lebih memilih kontrak dengan perusahaan kompetitor. Lalu, saya melihat profil Nona Liberty yang pernah sukses mengiklankan produk kami, sehingga saya tertarik untuk merekrutnya sebagai brand ambassador” jawab Estephania.


Monnaire mengangkat alisnya. Bisa-bisanya Estephania membual dengan mengatakan bahwa Bernadette memilih kontrak dengan perusahaan kompetitor. Benar-benar di luar dugaan, ternyata ia sudah menyiapkan jawaban serinci ini.


“Lalu, bagaimana dengan rumor yang beredar mengenai Nona Liberty? Bukankah itu juga akan mempengaruhi citra Green Future?” tanya awak media yang lainnya. Benar-benar jawaban yang sangat dinanti oleh banyak orang.


Estephania terlihat bersiap menjawab dan mendekatkan mikrofon ke arahnya.


“Izinkan saya menjawabnya...” kata Liberty, sebelum Estephania angkat bicara. Estephania terlihat melotot, namun ia tidak bisa mencegah Liberty dalam situasi seperti ini.


Beberapa awak media terlihat mengangguk paham. Estephania terlihat gusar, namun ia tetap berusaha untuk mengatur ekspresi wajahnya. Perlahan Monnaire melirik ke arah Estephania, dan ia kembali tersenyum licik.


“Kau pasti tidak akan menyangka kalau ada pertanyaan seperti ini, bukan? Kau terlalu sibuk mencapai ambisimu dan menutupi kebusukanmu, hingga kau bahkan melupakan hal sepenting ini” kata Monnaire dalam hati.


Estephania terlihat mulai sulit berkonsentrasi, sehingga ia seolah tidak menyimak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh awak media. Melihat hal itu, para staf kepercayaannya, langsung mengambil alih, dan mewakilinya untuk menjawab pertanyaan, hingga konferensi pers itu berakhir.


******


“Nona Liberty, saya perlu bicara dengan Anda sebentar” kata Estephania dengan raut wajah masam.


Monnaire menatap Estephania yang perlahan berjalan menjauhinya dan menuju ke ruang kerjanya.


“Kau masih saja bersikap angkuh Estephania, padahal posisimu sudah di ujung tanduk” kata Monnaire sambil berjalan menghampiri Estephania.


“Apa yang mau Anda bicarakan? Sepertinya cukup penting, hingga Anda memanggil saya kemari” tanya Monnaire. Ia langsung duduk di kursi yang ada di depan Estephania, meskipun Estephania tidak mempersilahkannya.


“Saya hanya ingin bertanya, kenapa Anda memberikan jawaban seperti tadi kepada awak media? Posisi Anda di sini hanyalah sebagai brand ambassador” tanya Estephania, dengan nada sedikit meninggi.


“Ah, soal itu. Maaf, Nona. Tetapi, pertanyaan itu menyangkut hal pribadi saya, jadi menurut saya, saya berhak menjawabnya. Apalagi, ini berkaitan dengan nama baik saya” jawab Monnaire, enteng.


“Lalu, apakah benar kau akan kembali menyelidiki tentang kasus kecelakaanmu?” tanya Estephania lagi.


“Tentu saja. Saya tidak ingin publik berlarut-larut berspekulasi buruk tentang saya. Seharusnya Anda bisa ikut senang, jika saya bisa membuktikan bahwa itu semua adalah rekayasa, tentu saja akan berdampak baik bagi Green Future” kata Monnaire lagi.


“Rekayasa? Maksudmu?” Estephania mengernyitkan dahinya.


“Rumor itu tidak mungkin muncul tanpa ada yang memulainya. Menurut pendapat saya, ini adalah rekayasa untuk menutupi sesuatu” jawab Monnaire, raut wajahnya terlihat tenang sambil terus menatap Estephania.


“Anda terlalu berlebihan, Nona. Anda adalah tokoh publik yang cukup terkenal, jadi, hal-hal seperti itu adalah hal yang biasa” kata Estephania.


“Biasa menurut Anda? Menurut saya, tidak. Orang lain bisa dengan seenaknya mencoreng nama baik saya, sementara saya akan menanggungnya seumur hidup” kata Monnaire lagi, kali ini ia berusaha tenang.


Monnaire memainkan ponselnya, kemudian ia berpura-pura mendapatkan pesan dari seseorang, lalu segera berpamitan kepada Estephania.


“Saya rasa, semuanya sudah cukup jelas. Mengenai kesepakatan kita, Anda tidak perlu khawatir, saya akan tetap menjaga nama baik perusahaan, dan tidak akan pernah melanggar kontrak. Saya permisi dulu, saya harus bertemu dengan teman saya, dia sudah menunggu sejak tadi” kata Monnaire sambil membungkuk memberi hormat.


“Setakut itukah kau, Estephania? Tenanglah, ini baru permulaan. Kau akan tahu, siapa iblis yang sebenarnya” batin Monnaire.


******