
Part 3 – Taken (5)
Edward menyetir mobilnya dengan perasaan kalut. Rasa marah, kesal, dan takut, bercampur menjadi satu. Pikirannya benar-benar buntu, ia tidak punya rencana apapun saat ini, kecuali menyingkirkan orang suruhannya, karena rencananya kali ini benar-benar gagal.
“Kakak, kau menyetir terlalu cepat. Kita bisa mati” kata Manuella dengan sedikit khawatir.
“Apa bedanya, kita tetap akan mati, jika rencana kita kali ini gagal” kata Edward, sambil menambah kecepatannya. Ia berusaha menyalip mobil di depannya, sambil membunyikan klakson panjang.
“Berhati-hatilah, aku tidak ingin mati konyol. Sudah kubilang, jika rencana kita kali ini gagal, aku akan pikirkan cara lainnya. Tetapi aku tidak bisa melakukan itu, jika hari ini aku mati” Manuella mendengus kesal.
Edward terdiam, namun berusaha menurunkan laju kendaraannya.
“Wanita sial itu, apakah dia tahu, tentang surat warisan yang dibuat oleh ayah?” tanya Manuella.
“Maksudmu, Nath?”
“Siapa lagi? Tentu saja dia”
Edward menggeleng. “Tidak ada yang tahu tentang surat itu, kecuali Alfonso. Aku sudah mulai curiga, ketika ayah mengumumkan pembagian warisan. Jadi aku membayar Samuel, untuk menjadi mata-mataku, dan dugaanku benar, ayah ingin Nath yang mendapatkan warisannya. Green Future hanyalah sebuah alasan”
“Lalu, kenapa dia juga mengumumkan bahwa Monnaire akan menjadi penerus Green Future? Bukankah Monnaire juga hanya anak adopsi?” Manuella berusaha menelaah, keningnya berkerut, ia merasa tidak habis pikir.
“Mengenai itu, kita pasti akan dapatkan jawabannya nanti. Ngomong-ngomong, aku tadi mendapatkan telepon dari rumah sakit, mereka meminta persetujuanku untuk mengoperasi ayah” kata Edward.
“Kau menyetujuinya?” tanya Manuella.
Edward mengangkat bahunya. “Kemungkinannya untuk sadar setelah operasi, hanya lima puluh persen. Itupun jika operasinya berhasil. Kondisi ayah sudah tua, ditambah lagi, ayah punya komplikasi. Tetapi, dokter bilang, keajiban akan selalu terjadi”
“Jadi, Alfonso akan segera mengumumkan wasiat ayah?” Manuella menggigit bibirnya. Ia benar-benar tidak rela, jika harta ayahnya jatuh ke tangan orang lain, selain dirinya. Jatuh ke tangan Edward yang merupakan saudara seibu seayah pun ia tidak rela, apalagi jika harus jatuh ke tangan Nath.
“Ya, sepertinya begitu. Oleh karena itu, kita harus bertindak cepat. Jika seandainya keajaiban yang diucapkan dokter itu benar-benar terjadi, maka target kita selanjutnya adalah ayah, seperti yang pernah aku bilang padamu. Ayah pasti akan merasa curiga, jika Nath tiba-tiba menyerahkan Green Future. Ayah bukanlah orang bodoh”
Manuella terdiam beberapa saat. Lalu ia memandang lurus ke arah jalan. “Lalu, kau benar-benar akan membunuh ayah?”
“Jika memang itu harus, maka akan aku lakukan”
\*\*\*\*\*\*
Nath terlihat mondar-mandir di teras rumahnya, sesekali ia melihat ponselnya, yang sudah menunjukan hampir pukul satu dini hari. Wajahnya tampak benar-benar cemas. Kemudian, ia masuk ke dalam, lalu menuju kamar Estephania. Nath kemudian tanpa sadar, mengetuk pintu dengan agak keras.
“Ibu, ada apa, aku terkejut” kata Estephania sambil mengucek matanya.
“Maafkan ibu. Kau sudah tidur?” tanya Nath.
“Ya. Ada apa, bu? Ibu terlihat cemas” tanya Estephania sambil menguap.
“Adikmu belum pulang. Apa dia mengabarimu? Ibu sudah berusaha meneleponnya, tetapi nomornya tidak aktif” jawab Nath dengan wajah cemas.
“Dia belum pulang? Aku pikir dia sudah tidur. Apa ibu tahu, Monnaire tadi pergi ke mana?”
“Garden Flower, restoran yang biasa dikunjungi Monnaire. Dia pergi bersama Wizzarez” jawab Nath.
“Baiklah, ibu tunggu di sini. Aku akan mencari Monnaire”
Nath mengangguk. “Hati-hati, cepat kabari ibu”
Estephania meninggalkan Nath yang terpaku di pintu kamarnya, wajahnya benar-benar cemas. Ia berharap, tidak terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya. Dalam diamnya, Nath terus berdoa.
\*\*\*\*\*\*
“Wiz....Kau di mana?” Monnaire melangkah perlahan mencari Wizzarez, di tengah penerangan yang minim. Suara Wizzarez tidak terdengar lagi. Monnaire panik, ia yakin, keadaan tidak sedang baik-baik saja. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Lalu, tiba-tiba, muncul sekelebat bayangan.
\*\*\*\*\*\*
Edward dan Manuella sampai di Shinning Hotel. Edward langsung menelepon orang suruhannya.
“Kau di mana, aku dan adikku, sudah sampai” kata Edward sambil melihat ke sekeliling. Bangunan tua itu terlihat cukup menyeramkan di malam hari. Kumuh dan pengap.
“Masuklah ke dalam. Lewat jalan belakang menuju dapur” jawab suara di seberang sana.
Edward langsung menutup teleponnya, dan menuruti arahan orang yang baru saja ia telepon. Dalam hatinya ia masih was-was, takut ini adalah jebakan yang dibuat oleh Monnaire.
Sesampainya di dapur, mereka melihat Monnaire terbaring di sebuah kursi panjang. Hidungnya berdarah, wajahnya tampak lusuh.
“Siapa yang membawa Monnaire ke sini?” tanya Edward.
“Di mana orang suruhanmu, kak? Ah, aku semakin yakin, ini adalah jebakan. Kita akan segera ketahuan. Ayo segera pikirkan cara” desak Manuella.
Suara langkah kaki terdengar mendekati Edward dan Manuella. Mereka berdua menoleh, dan Manuella benar-benar terkejut.
“Duvatte?” kata Manuella, nyaris tidak percaya. “Kita benar-benar sudah dijebak. Duvatte adalah teman dekat Monnaire. Kakak, apa yang harus kita lakukan? Manuella tampak menarik lengan baju Edward, hingga Edward merasa seperti diseret.
“Monnaire pasti akan segera bangun, dia hanya berakting” kata Manuella dengan sedikit berbisik.
“Kau diamlah. Duvatte adalah orang suruhanku” kata Edward sambil berusaha melepas tangan Manuella yang sejak tadi mencengkram lengannya.
“Duvatte, adalah orang suruhanmu?” tanya Manuella seolah tidak percaya. Ia menggeleng pelan. Banyak sekali hal-hal yang mengejutkan. Ternyata Duvatte yang merupakan teman dekat Monnaire, selama ini berpihak kepada Edward. Benar-benar sulit dipercaya.
Edward mengambil rokok dari saku mantelnya. Kali ini ia bisa bernafas lega, dan terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Manuella berdiri di samping Edward sambil melipat kedua tangannya. Ia mengamati Duvatte dengan seksama.
“Setelah aku menguasai semuanya, orang ini juga harus aku singkirkan. Tetapi, saat ini aku akan memberi dukungan kepadanya, karena aku juga akan memanfaatkanya, seperti yang dilakukan kakak” batin Manuella.
“Lalu, kau sudah mendapatkan informasi, siapa yang membawa Manuella ke sini?” tanya Edward sambil sesekali menikmati kepulan asap rokok yang ia hisap.
Duvatte mengangguk. “Sebenarnya, aku sudah tahu dari awal”
Edward terbelalak, seketika ia melempar rokoknya, dan mendekati Duvatte. Tangannya langsung mencengkram kerah mantel Duvatte. Matanya melotot, amarahnya seketika memenuhi isi kepalanya.
“Apa maksudmu? Kau tahu semuanya? Kau mau menjebakku?” kata Edward dengan tatapan tajam. Manuella melangkah mundur. Situasi benar-benar memanas.
“Tolong dengarkan penjelasanku dulu” kata Duvatte berusaha melepaskan cengkraman Edward dari kerah mantelnya. Cengkraman itu cukup erat, hingga nafasnya sedikit tercekat.
Edward langsung mengeluarkan pistol dari sakunya. Ia sengaja membawanya sebelum berangkat, untuk berjaga-jaga, karena ia berpikir, mungkin saja akan ada sesuatu yang mengancamnya.
“Kau, jangan main-main denganku. Aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan, tetapi aku juga bisa menghilangkan nyawamu saat ini juga. Kau ingat, kau sedang berhadapan dengan siapa?” Edward menodongkan pistolnya ke kepala Duvatte. Matanya memerah.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Seseorang masuk dengan tenang sambil bertepuk tangan. Mereka semua menoleh.
“Haaahhhh, hiburan menarik, yang ditampilkan oleh orang-orang bodoh” kata orang itu dengan suara mengejek
“Misi kita sama, jangan membuang-buang waktu dengan bertengkar dan saling mengancam” lanjutnya lagi
Edward dan Manuella terkejut melihat kehadiran orang itu, hingga tanpa sadar, Edward melepaskan cengkraman tangannya dari kerah Duvatte. Manuella berdecak, antara percaya dan tidak, dengan apa yang dilihatnya. Benar-benar sebuah kejutan, yang tidak pernah terduga.
“Ternyata, kau dalang di balik semua ini?” kata Manella.
Orang itu tertawa lagi “Ya, aku yang mengatur semuanya. Cerdas bukan? Bahkan kalian saja tidak pernah terpikir, kalau aku adalah orang yang memegang kartu dalam permainan ini” katanya dengan bangga.
\*\*\*\*\*\*