Parhelion

Parhelion
Part 11 - Sekutu Yang Dipaksa (End)



Part 11 - Sekutu Yang Dipaksa (End)


Joseph terus mengguncang-guncang tubuh Alfredo, hingga jas yang dikenakannya terlihat kusut. Alfredo masih kebingungan menatap ayahnya yang terlihat kalut. Raut wajahnya pucat, dengan mata memerah.


"Ayah, ada apa sebenarnya, jelaskan padaku?" Tanya Alfredo, masih bingung. Alfredo terus berusaha melepaskan cengkraman tangan ayahnya di bajunya, sambil mencoba mendesak ayahnya untuk menjelaskan mengenai sesuatu yang terjadi.


Joseph masih belum bisa berbicara apapun, ia bahkan belum bisa menenangkan diri.


"Masuklah dulu, jelaskan padaku pelan-pelan" Kata Alfredo setengah berbisik. Beberapa pasang mata yang melewati mereka, tampak keheranan melihat keributan yang baru Saja terjadi.


Alfredo beranjak menuju lemari es, dan mengambilkan sebotol air untuk Joseph.


"Minumlah dulu" Kata Alfredo.


Joseph langsung meraih botol air itu, dan meneguknya sampai tersisa setengah. Kali wajahnya tampak sedikit lebih tenang.


"Bisa kau ceritakan padaku sekarang?" Tanya Alfredo. Berulang kali Alfredo menarik nafasnya, mencoba mengatur suasana hatinya, dan mempersiapkan diri untuk mendengar kemungkinan berita buruk.


Joseph menghela nafas panjang, dan terdiam sejenak. Kemudian, perlahan ia membuka suara.


"Kapal yang membawa cerutu dan elektronik, tertangkap di pelabuhan. Semua barang disita" Kata Joseph.


"Ah, hanya itu. Kerugiannya tidak seberapa, bukankah kita sudah mendapatkan banyak keuntungan dari penjualan alkohol yang berhasil diselundupkan oleh anak buah ayah?" Alfredo tampak menghembuskan nafas lega.


Joseph terlihat geram, tanpa pikir panjang, ia langsung memukul kepala Alfredo.


"Dasar anak bodoh! Jabatan ayah dipertaruhkan dalam hal ini. Kau tahu, aku bisa saja dicopot dari jabatanku. Tidak hanya itu, aku juga bisa dipenjara" Kata Joseph dengan nada marah.


Alfredo tampak kesakitan, ia menggerutu sambil memegangi kepalanya.


"Bisakah Ayah bicara tanpa harus memukul?" Kata Alfredo sambil terus memegangi kepalanya.


"Kepalamu harus dipukul, supaya kau bisa sadar. Ini tidak hanya melibatkanku, tetapi kau juga ikut terlibat, karena kau di sini bertindak sebagai penadah" Kata Joseph.


Raut wajah Alfredo seketika berubah. Ia baru sadar, bahwa saat ini ia dalam keadaan tidak aman.


"Kenapa kau tiba-tiba diam? Kau baru sadar, kalau posisimu juga terancam? Aku tidak akan sepanik itu, jika persoalannya hanya nominal" Kata Joseph lagi.


"Bukankah Ayah bisa saja bilang, tidak tahu menahu mengenai masalah ini?" Kata Alfredo.


"Seandainya bisa begitu. Tetapi aku sudah tidak bisa mengelak, karena ada bukti rekaman video saat transaksi berlangsung minggu lalu" Kata Joseph sambil menggigit bibirnya. Ia benar-benar kalut, hingga nyaris tidak bisa berpikir.


Monnaire yang sejak tadi mendengar pembicaraan kedua orang itu, tersenyum lebar di balik pintu.


"Kejutanmu baru saja dimulai, Alfredo" Kata Monnaire.


Tidak lama kemudian, pintu kamar kembali diketuk. Alfredo bergegas menuju pintu, dan mengintip sejenak, mencoba memastikan siapa yang datang. Dengan sedikit berlari, Alfredo menghampiri Joseph yang masih terlihat kalut.


"Ayah, ramai orang di depan" Kata Alfredo sedikit panik.


"Apa?" Joseph langsung bangkit dari duduknya, dan bergegas menuju pintu. Kali ini Joseph benar-benar tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.


"Tim investigasi sudah kemari. Artinya, mereka akan segera membawa kasus ini. Tamatlah riwayat kita, Alfredo" Kata Joseph bertambah panik.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Alfredo.


Mata Joseph melotot, sekali lagi, ia memukul kepala Alfredo.


"Bantu aku berpikir, jangan terus bertanya" Kata Joseph sambil mondar-mandir.


Alfredo yang juga panik, bahkan sampai tidak merasakan sakit. Ia ikut mondar-mandir, tetapi pikirannya buntu.


Monnaire pura-pura bergegas menghampiri mereka berdua, ketika pintu diketuk dengan lebih kencang.


"Siapa yang datang?" Tanya Monnaire.


Belum sempat kedua orang itu menjawab, terdengar bunyi ponsel Joseph berdering.


"Buka pintunya, atau kami dobrak" Kata suara di ponsel itu. Joseph langsung melemah, wajahnya kini kembali pucat.


"Buka pintunya" Perintah Joseph, pasrah.


Beberapa orang langsung masuk ke dalam, diikuti banyak mata yang memandang penasaran, seolah ingin tahu apa yang sedang terjadi.


"Tuan Joseph, Anda ditangkap atas tuduhan penyelundupan barang" Kata salah seorang dari orang-orang itu.


"Sebentar, apa maksudnya ini?" Kata Monnaire berpura-pura kaget.


"Tuan Joseph telah melakukan penyalahgunaan jabatannya dengan menyelundupkan barang-barang dari luar negeri. Cerutu, elektronik, alkohol, itu hanya sebagian kecil saja" Jawab orang itu lagi.


Monnaire mengernyitkan keningnya. "Lalu, apa konsekuensi yang akan diterima oleh Tuan Joseph?" Kata Monnaire, seolah kembali menekankan kepada Joseph, bahwa ia sedang berada di ujung tanduk.


"Setelah melewati penyelidikan, harta-harta yang berasal dari kecurangan yang dilakukannya akan disita, dicopot dari jabatan, dan menerima hukuman penjara sesuai dengan keputusan pengadilan" Jawab orang itu.


"Waaah, cukup mengerikan. Apakah mungkin nantinya, Anda juga akan diusir dari keluarga De Frank, karena sudah mencoreng nama baik keluarga itu?" Kata Monnaire dengan nada berlagak polos.


Wajah Joseph seketika memerah. Ia tidak berpikir sampai sejauh itu, tetapi bisa saja, apa yang baru didengarnya, akan benar-benar terjadi. Dicopot dari jabatan, maupun hukuman penjara, tidak semenyeramkan itu jika dibandingkan dengan diusir dari keluarga De Frank. Jika hal itu terjadi, maka kiamat baginya.


"Ah, maaf, saya tidak bermaksud menambah kacau suasana hati Anda, Tuan Joseph" Kata Monnaire, seolah merasa bersalah.


Joseph dan Alfredo sama-sama terdiam, hingga mereka tidak menyadari, kemunculan seseorang yang membuat mereka semakin terkejut.


"Apa kabar Paman, dan adik sepupu? Meski cukup sering berjumpa, tetapi kita tidak pernah saling menyapa, ya?" Kata Carlo dengan tersenyum manis.


"Mau apa kau kemari, anak sial?" Kata Joseph dengan berapi-api.


"Ah, jangan marah begitu. Aku datang kemari bukan untuk bertengkar. Jadi, tahanlah emosimu, Paman" Kata Carlo lagi.


"Tidak usah banyak basa-basi, aku tahu, kau punya tujuan kemari. Atau, jangan-jangan, kau yang sengaja menjebakku?" Kata Joseph berang.


"Kau selalu saja berpikiran negatif. Bagaimana caraku menjebakmu? Bahkan aku saja tidak tahu aktivitasmu, apa yang kau lakukan, aku juga tidak tahu, kalau setelah bekerja, kau melepaskan penatmu di spa pijat" Sindir Carlo.


"Anak sial. Jangan banyak bicara" Kata Joseph sambil meraih kerah kemeja Carlo dan menariknya dengan geram.


Carlo tertawa lepas sambil mengangkat tangannya. "Tenang dulu, kedatanganku ke sini, untuk menawarkan bantuan kepadamu. Berikanlah sambutan yang baik kepada malaikatmu" Kata Carlo sambil bercanda.


"Aku katakan sekali lagi, jangan banyak bicara" Kata Joseph.


"Lepaskan dulu tanganmu, Paman. Mari bicara baik-baik. Tidak akan ada masalah yang bisa diselesaikan dengan emosi" Kata Carlo dengan nada membujuk.


Entah ada angin darimana, Joseph tiba-tiba melunak. Ia langsung melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja Carlo.


"Yaaaah, lega sekali" Kata Carlo sambil membenarkan letak dasinya yang acak-acakan.


"Bantuan apa yang kau tawarkan padaku?" Tanya Joseph.


"Tidak bisakah kita bicara sambil duduk? Di sini terlalu ramai" Kata Carlo. Joseph menurutinya, dan Alfredo mengikuti mereka dari belakang.


"Langsung saja, aku tidak bisa menunggu lama. Hidupku dipertaruhkan saat ini" Kata Joseph dengan tergesa, seolah mendesak Carlo untuk segera membantunya lepas dari permasalahan ini.


"Aku bisa membantu Paman untuk lepas dari jeratan tuduhan ini, meski memang sebenarnya agak sulit, karena semua bukti sudah mengarah kepada Paman. Bahkan, Alfredo juga terlibat" Kata Carlo.


"Ya, aku tahu itu. Oleh karena itu, apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku?" Desak Joseph, seolah tidak sabar.


"Kepala tim investigasi adalah temanku, tepatnya, dia adalah seniorku saat kuliah. Paman pasti pernah melihatnya datang menemuiku, meski hanya sesekali. Aku bisa membujuknya untuk melenyapkan kasus ini, selagi kasus ini juga belum diketahui publik" Kata Carlo.


Raut wajah Joseph dan Alfredo tampak sumringah.


"Tetapi ada syaratnya... " Kata Carlo.


"Syarat?" Kata Joseph dan Alfredo bersamaan.


"Tentu saja. Kalian adalah orang yang berkecimpung dalam dunia bisnis, pasti paham, bahwa tidak ada makan siang yang gratis. Apalagi, kasus ini juga cukup berat, dan untuk menghilangkan bukti yang ada, bukanlah suatu yang mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil" Kata Carlo panjang lebar.


"Apa syaratnya? Apapun itu, aku akan penuhi" Kata Joseph.


"Mudah saja. Jual saham De Frank yang kalian miliki kepadaku" Kata Carlo dengan tegas.


Joseph dan Alfredo saling tatap.


"Keputusan ada di tangan kalian, dan waktunya tidak banyak. Hanya dalam beberapa menit, Orang-orang itu akan membawa kalian, dan kalian harus siap menghadapi segala kemungkinan terburuk" Kata Carlo dengan santai, namun penuh penekanan, sehingga Joseph dan Alfredo merasa tidak memiliki pilihan lain.


Sambil menarik nafas, mereka berdua menjawab bersamaan. "Baiklah, kami setuju"


******