
Part 3 – Taken (3)
Manuella berdiri di sudut ruangan, sambil menatap ke luar jendela yang terbuka lebar. Angin kencang yang terasa menusuk, tidak ia hiraukan. Pikirannya sedang tidak berada di tempat itu. Ia sedang menyusun cara, mencari rencana agar menjadi pemenang dalam permainan yang sedang ia dan Edward ciptakan. Bagaimanapun, tidak ada pihak yang ingin kalah. Manuella ingin memiliki semuanya, begitupula dengan Edward. Mereka akan saling mendukung, untuk kemudian saling menjatuhkan.
“Lama sekali orang itu. Kalau saja aku tidak membutuhkannya, aku jelas tidak akan sudi bertemu dengannya” Manuella terlihat menggerutu, sampai akhirnya, orang yang ditunggunya tiba.
“Kakak, lama sekali. Kau berjanji sejak satu jam yang lalu” kata Manuella dengan kesal.
“Kau merokok lagi?” kata Edward sambil mengambil rokok yang sejak tadi terselip di jari Manuella.
“Jangan hiraukan hal itu. Akhir-akhir ini aku sedang stres. Jadi, langsung saja ke intinya, aku tidak mau berlama-lama, karena waktu kita sedikit” Manuella langsung menepis tangan Edward, dan kembali menghisap rokok yang sejak tadi di tangannya.
“Begini, besok, kita akan mulai melakukan rencana kita. Pancing Monnaire keluar, dan kita akan culik Monnaire” kata Edward sambil melepas kacamatanya.
“Hanya itu saja?” Manuella mengernyitkan dahinya.
“Kau pikir kakakmu ini bodoh, tentu saja tidak semudah itu. Kita, akan memanfaatkan orang lain untuk rencana ini. Kau kira mudah untuk memancing Monnaire menemui kita? Apalagi selama ini, kita juga tidak pernah berhubungan akrab dengan anak itu. Terlebih lagi, kau juga selalu mencibirnya di depan teman-temanmu” kata Edward lagi.
“Memanfaatkan orang lain? Maksudmu, ada orang lain yang terlibat dalam rencana kita? Bagaimana mungkin? Apa kau tidak takut rencana ini justru akan terbongkar?” Manuella langsung bangkit dari duduknya.
“Tidak perlu khawatir, karena aku sudah sering memanfaatkan orang ini” Edward tertawa licik.
“Siapa orang yang kakak maksud?” tanya Manuella.
Edward kembali tersenyum. “Nanti kau juga akan tahu”.
\*\*\*\*\*\*
Monnaire terlihat berlari kecil ke arah kamarnya, langkahnya terlihat riang dan bersemangat. Sambil bernyanyi, ia menaiki anak tangga dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Sepertinya, ia sedang sangat bahagia.
“Kau mau pergi?” tanya Estephania.
“Iya, aku ada kencan” kata Monnaire sambil membuka lemari dan memilih baju. Matanya langsung tertuju pada gaun berwarna merah muda yang sudah lama ia siapkan, karena sejatinya, memang ia selalu menunggu saat ini tiba.
“Kencan? Maksudmu, dengan Wizzarez?” tanya Estephania lagi.
Monnaire mengangguk tanpa menoleh. Ia masih sibuk mencocokan pakaian dengan sepatu dan tasnya. “Kakak, cantik tidak?” tanya Monnaire.
“Cantik” jawab Estephania sambil menatap adiknya yang terus menebar senyum. “Ingat, jangan pulang terlalu malam, telepon aku jika terjadi apa-apa” kata Estephania.
“Terjadi apa-apa? Apakah menurut kakak, Wiz adalah laki-laki yang tidak baik?” Monnaire langsung membalikan badannya.
Estephania mengangkat bahunya. “Tidak ada satu manusiapun yang tahu isi hati manusia lainnya. Yang terlihat baik, belum tentu benar-benar baik, bukan?” kata Estephania lagi.
“Kakak berkata seperti itu, pasti karena kakak masih menyimpan trauma. Menurutku, Wiz tidak seperti mantan kekasih kakak yang berengsek itu” kata Monnaire bersungut.
“Kau sedang jatuh cinta, jadi kau tidak akan pernah bisa melihat keburukan seseorang” Estephania berjalan menghampiri Monnaire, dan membantu Monnaire menata rambutnya.
“Ya, ya. Aku tahu, kakak lebih berpengalaman, karena sudah sering pacaran. Apa dayaku, yang mendapatkan kekasih hanya dari perjodohan orang tua”
“Kakak, aku tahu maksud kakak baik. Terima kasih, karena sudah mengkhawatirkanku” Monnaire langsung berbalik, dan memeluk Estephania. “Terima kasih, karena sudah menjadi kakakku” katanya lagi.
\*\*\*\*\*\*
“Terima kasih, Wiz, sudah mengajakku pergi. Kebetulan, aku tadi sedang suntuk di rumah” kata Monnaire sambil membenarkan sabuk pengaman.
“Aku sudah lama ingin mengajakmu ke luar. Dan sepertinya, malam ini adalah saat yang tepat. Tetapi, maafkan aku ya, Mon...” kata Wizzarez.
“Minta maaf? Untuk apa? Apa kau sudah melakukan kesalahan padaku? Sepertinya tidak” cerocos Monnaire.
Wizzarez tertawa kecil. “Aku minta maaf, karena tidak tahu banyak tentangmu. Sebelum mengajakmu pergi, aku bahkan harus menelepon Estephania untuk menanyakan apa saja tentangmu. Makanan favoritmu, restoran yang sering kau kunjungi, bahkan aku juga bertanya tentang aliran musik kesukaanmu, lagu yang sering kau nyanyikan. Apapun itu” jawab Wizzarez.
“Kau tahu nomor kakak?” Monnaire mengernyitkan dahinya.
“Ya, aku memintanya dari temanku, yang dulu satu kampus dengannya. Tidak mungkin aku bertanya langsung kepadamu, saat aku ingin mengajakmu pergi”
“Ah, jadi begitu. Pantas saja, tadi saat kita makan, penyanyi kafenya menyanyikan lagu-lagu kesukaanku, sampai kita pergi meninggalkan restoran. Jadi, itu semua idemu” Monnaire terlihat bahagia, jantungnya berdebar. Sepertinya ia benar-benar sedang jatuh cinta.
“Kau tidak merasa aneh kan?” tanya Wizzarez sambil terus menatap ke depan.
“Sama sekali tidak. Tetapi, aku merasa aneh, karena kau berbicara denganku, tanpa menatapku sama sekali. Aku jelek ya?” Monnaire terlihat cemberut.
Wizzarez kembali tertawa. “Kalau aku menyetir sambil menatapmu, kita secepatnya akan sampai di rumah sakit”
Monnaire ikut tertawa. “Aku hanya bercanda. Terima kasih, karena sudah membuatku senang malam ini”
“Sejak tadi kau selalu mengucapkan terima kasih. Aku mau kau ganti ucapan terima kasihmu dengan yang lain”
“Yang lain? Maksudmu?”
“Lain kali, kau yang harus traktir aku” kata Wizzarez lagi.
“Tentu saja. Kalau begitu, mulai hari ini, aku akan mencari tahu apapun tentangmu, seperti yang kau lakukan padaku” kata Monnaire bersemangat. Perkataan wizzarez seolah menunjukan, akan ada hari lainnya untuk mereka kembali bertemu, itu artinya Wizzarez memiliki ketertarikan yang sama dengan Monnaire. Dalam hati kecilnya ia benar-benar berteriak bahagia. Rasanya seperti ingin melompat dan menari. Ah, ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta, begitulah yang ada di dalam hati Monnaire.
“Kau tidak perlu mencari tahu. Aku sendiri yang akan memberitahukannya padamu” kata Wizzarez sambil tersenyum, kali ini ia sedikit menoleh ke arah Monnaire. Monnaire rasanya seperti ingin pingsan, saat ditatap dengan lembut oleh Wizzarez.
“Aku hampir gila” kata Monnaire dengan tanpa sadar.
“Gila?” tanya Wizzarez dengan sedikit perasaan heran.
“Ah, tidak. Ini, aku membaca berita tentang seorang model terkenal yang kecelakaan karena mengkonsumsi narkoba. Sepertinya dia sudah gila, karena menghancurkan karirnya sendiri. Ya, begitu...Aku sedang membaca artikel ini” Monnaire tampak kikuk. Ia tampak salah tingkah. Berulang kali Monnaire terlihat memainkan ponselnya, untuk menutupi rasa malunya.
“Rasanya ingin mati saja” kata Monnaire sambil memejamkan matanya. Wajahnya terlihat memerah karena malu. “Aku melakukan kesalahan di kencan pertamaku. Pasti Wizzarez menganggap aku aneh. Bagaimana kalau setelah ini, Wizzarez tidak ingin lagi bertemu denganku” Monnaire tampak sangat gusar.
“Wiz, awas...” teriak Monnaire. Sebuah mobil truk melaju kencang ke arah mobil yang dikendarai oleh Wizzarez. Wizzarez tampak panik, namun ia tidak sempat menghindar karena kejadian terlalu cepat.
“Braaakkkkkkk.....”
\*\*\*\*\*\*