Parhelion

Parhelion
Part 5 - Aku Yang Baru (1)



Part 5 – Aku Yang Baru (1)


Lauricie masih memandangi wajah Monnaire tanpa berkedip. Ia benar-benar takjub, karena merasa seolah Liberty benar-benar berada di hadapannya. Monnaire terlihat canggung karena dipandangi seperti itu, ia merasa ada yang aneh pada dirinya.



“Apakah, ada yang aneh pada wajahku?” tanya Monnaire pada Lauricie. Sontak Lauricie terkejut. Ia sadar, mungkin saja Monnaire merasa tersinggung dipandangi demikian.



“Ah, tidak. Aku hanya merasa, kerinduanku kepada anakku sedikit terobati” kata Lauricie. “Maaf, kau pasti merasa tidak nyaman” lanjutnya.



Monnaire mengangguk paham. “Ya, aku mengerti. Kau pasti ingin sekali bercengkrama dengan putrimu seperti ini. Tidak apa-apa, mulai hari ini, anggaplah aku benar-benar seperti putrimu” kata Monnaire.



Lauricie berkaca-kaca. “Sungguhkah? Kalau begitu, boleh aku memelukmu?”



Tanpa panjang lebar, Monnaire langsung menghampiri Lauricie dan memeluknya dengan erat. Lauricie membalas pelukan itu, air matanya perlahan menetes. Rasanya kerinduan perlahan mencair, meski hanya sedikit.


******


“Nyonya, eh...Maksudku, Mom. Bisakah aku pergi keluar sebentar?” tanya Monnaire.



“Kau mau ke mana? Sebaiknya, kau jangan terlalu mencolok menunjukan identitas barumu. Kita perlu mengatur strategi terlebih dahulu” jawab Lauricie, sambil meletakkan majalah yang ia baca, ke atas meja.



“Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Sudah cukup lama aku tidak melihat dunia luar, terlebih karena selama ini aku harus bersembunyi” Monnaire menjatuhkan tubuhnya ke sofa, sambil memandang wajah Lauricie lekat-lekat. Pupil matanya membulat, seolah memohon agar diberi izin.



Lauricie terdiam, seperti sedang berpikir. Kemudian ia menarik nafas panjang. “Baiklah, tetapi, jangan terlalu lama. Gunakan penutup wajah dan topi, tidak boleh ada yang mengenalimu” kata Lauricie.



“Ah, terima kasih, Mom. Aku akan segera kembali” kata Monnaire bersorak. “Tunggu, aku harus memesan taksi” kata Monnaire lagi, sambil mengambil ponselnya.



“Sekali lagi, terima kasih, Mom. Aku pergi dulu” Monnaire mencium pipi Lauricie, dan buru-buru berlari menuju pintu keluar, seolah tidak sabar. Lauricie langsung membeku, rasanya seperti Liberty benar-benar sedang menciumnya. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


******


Di depan sebuah rumah yang cukup megah, Monnaire berdiri mematung. Ia tidak bisa melihat dengan cukup jelas, karena pagar di depannya cukup tinggi. Ia hanya bisa melihat dari celah-celah besi yang berbaris kokoh dan sempurna itu. Monnaire hanya ingin memastikan keadaan Nath baik-baik saja, tetapi tidak mungkin jika ia masuk ke dalam.


“Ibu, semoga kau baik-baik saja. Maaf, aku belum bisa menemuimu, hanya bisa menyapamu lewat doa. Kuharap, kita bisa segera bertemu” kata Monnaire sambil berlalu pergi.



“Ah, aku haus, sebaiknya, aku membeli minuman dingin” kata Monnaire sambil menyeberang menuju minimarket.



“Selamat datang” sambut penjaga minimarket dengan ramah. Monnaire hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban. Ia langsung bergegas menuju lemari pendingin, mengambil sebotol soda dingin, kemudian langsung menuju kasir. Ia ingat, bahwa ia berjanji untuk tidak pergi terlalu lama. Lagipula, akan menjadi perhatian publik, jika Liberty yang seorang model terkenal, tiba-tiba berkeliaran di jalanan. Sedangkan selama ini, yang masyarakat tahu, bahwa Liberty mengalami kecelakaan, dan sedang dalam keadaan koma.



“Tidak usah dibungkus, aku akan langsung meminumnya” kata Liberty.



“Baiklah, Nona”



Saat menunggu barang belanjaannya diproses, mata Monnaire tertuju pada sebuah selebaran yang ditempel di dekat meja kasir. Matanya sedikit memicing untuk memastikan. Tanpa berpikir panjang, Monnaire langsung menarik selebaran itu, hingga kertasnya sedikit koyak.



“Maaf, aku bayar untuk ini juga” kata Monnaire sambil menyerahkan selembar uang, dan langsung pergi meninggalkan petugas minimarket yang tertegun heran.


******


“Jadi, mereka mengarang cerita, bahwa kau menghilang di perbatasan kota?” kata Lauricie sambil membaca isi selebaran yang berisi berita orang hilang, di tangannya.



“Mereka benar-benar bertindak sampai sejauh ini. Setelah merencanakan untuk membunuhku, sekarang mereka berpura-pura mencariku. Benar-benar manusia licik” kata Monnaire sambil menahan marah.



“Bukankah, kau juga sudah tahu sebelumnya, bahwa kakakmu sudah mengumumkan bahwa dia yang akan menggantikan ibumu sebagai Presdir? Maka dari itu, kau mau bekerja sama denganku, untuk menghancurkan mereka?” kata Lauricie.



“Ya, aku tahu. Tetapi, aku tidak menyangka bahwa mereka juga akan mengarang bukti bahwa aku menghilang, seolah aku melarikan diri, dan tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga De Frank” kata Monnaire.



“Kalau begitu, kita harus mengubah rencana kita” kata Lauricie lagi. Wajahnya terlihat sedang berpikir.



“Jika kemarin kita hanya ingin bekerja berdua saja, sepertinya, kita membutuhkan bantuan orang lain”



******


“Aku tidak sedang bermimpi?” tanya Threzz. Matanya tidak beralih dari wajah gadis dihadapannya. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia masih berada di alam nyata.


“Dia Monnaire, bukan Liberty. Kami, sengaja mengubah wajahnya menjadi Liberty, karena suatu hal. Aku akan menceritakannya padamu pelan-pelan” kata Lauricie. Kemudian, ia mulai menceritakan semuanya dari awal, mulai dari pertemuannya dengan Monnaire, hingga keputusannya untuk menjadikan Monnaire sebagai Liberty. Threzz mengernyitkan dahinya, meskipun ia paham, tetapi ia merasa yang dilakukan oleh kedua wanita di depannya adalah hal gila dan tidak masuk akal.



Suasana seketika hening, setelah Lauricie memohon bantuan kepada Threzz untuk menjadi sekutu mereka. Threzz tidak ingin terlibat lebih jauh dalam urusan serumit ini, tetapi ia juga merasa tidak pantas untuk menolak.



“Ini juga demi Liberty. Bukankah, kau sendiri yang bilang, ingin membuktikan bahwa tuduhan pecandu yang diberikan ke Liberty itu tidak benar? Akupun demikian. Maka dari itu, untuk menyangkal tuduhan itu, kita harus benar-benar memiliki bukti yang kuat” kata Lauricie dengan setengah memohon.



Threzz menghela nafas, kemudian menghembuskannya dengan cepat. Ia mengangguk pelan. “Baiklah, aku akan bekerja sama dengan kalian. Lalu, bagaimana rencana selanjutnya?”



Lauricie dan Monnaire tersenyum lega.



“Monnaire akan masuk ke Green Future, untuk menjadi Brand Ambassador produk ponsel terbaru mereka, seperti yang pernah dilakukan Liberty sebelumnya” kata Lauricie.



“Tetapi, bukankah Green Future sudah memiliki Brand Ambassador baru, sejak Liberty diberitakan koma? Kalau tidak salah, namanya Bernadette Van Louis” tanya Threzz.



“Itu dia. Aku akan manfaatkan celah yang ada” kata Monnaire sambil mengangkat alisnya.



“Maksudmu?”



“Bernadette Van Louis pernah memiliki skandal dengan seorang produser film. Tetapi, kemudian, skandal itu perlahan menghilang seperti debu yang terhembus angin. Kita bisa menjadikan skandal itu, untuk menekan Bernadette mundur dari posisi Brand Ambassador”



“Tetapi, dengan demikian, kita juga harus mencari bukti” kata Lauricie sambil meletakkan cangkir tehnya. Perbincangan mulai terdengar serius.



Monnaire tersenyum licik. “Aku sudah menemukan buktinya sejak dulu”



“Sejak dulu?” kata Threzz dan Lauricie berbarengan. Mereka tampak penasaran.



“Nenekku adalah pemilik The Fact News. Awal pertama muncul skandal tersebut, adalah karena salah satu wartawan The Fact News memergoki mereka sedang berada di lobi hotel” jawab Monnaire



“Tetapi, itu tidak cukup menjadi bukti” kata Threzz.



Monnaire menggangguk. “Setelah kejadian itu, wartawan tersebut mengundurkan diri, dan menyerahkan kameranya. Namun sayangnya, dia lupa menghapus file yang ada di surat elektroniknya. Dulu, nenek membuatkan surat elektronik dengan nama domain The Facts, demi kemudahan mereka berkirim informasi berita” Monnaire kemudian mengambil komputer jinjing yang ada di hadapannya, lalu memasukan sebuah alamat surat elektronik. Ia berkutat agak lama di depan komputer itu. Kemudian, senyum liciknya kembali tersungging.



“Kalian lihat? Apakah ini bisa menjadi alat untuk menekan mundur Bernadette?” katanya lagi.



Threzz dan Lauricie terbelalak melihat tampilan foto di layar komputer. Benar-benar sebuah bukti yang tidak bisa disangkal, bahwa pasangan itu benar-benar terlibat skandal. Tidak ada hubungan bisnis yang menyatakan kerja sama dengan melakukan ciuman bibir yang cukup panas. Ya, pasangan itu berciuman di sebuah club malam yang ada di hotel.



“Kau sengaja menyimpan filenya?” tanya Threzz.



Monnaire menggeleng. “Aku tidak sengaja membuka surat elektronik ini, ketika nenek memintaku memindahkan semua data yang ada di komputer, dan aku menemukannya. Sesuatu yang dulu aku anggap hanya sebagai berita murahan, ternyata saat ini bisa sangat berguna untukku. Yah, mungkin inilah yang dinamakan takdir, seperti yang Mom pernah katakan padaku” kata Monnaire lagi.



Threz mengangguk paham. “Berarti, jalanmu untuk masuk ke Green Future, sudah tidak ada masalah. Tetapi, kau perlu mempertimbangkan sesuatu” kata Threzz.



“Tidak bisa ada dua Monnaire, atau dua Liberty” lanjutnya.



“Maka, salah satunya harus mati...” kata Monnaire dengan tanpa keraguan.


******