Parhelion

Parhelion
Part 11 - Sekutu Yang Dipaksa (2)



Part 11 - Sekutu Yang Dipaksa (2)


Joseph dan Alberto mengangkat gelas mereka ke atas, kemudian bersulang. Suara tawa membahana terdengar ke seluruh ruangan, mengalahkan bunyi musik yang berdentum kencang. Di samping mereka, dua orang wanita penghibur, duduk sambil menyandarkan kepala ke bahu dua orang pria itu dengan manja.


"Ayah, kalau Ibu sampai tahu perbuatanmu ini, dia pasti akan membunuhmu" Kata Alberto sambil tertawa.


"Kalau sampai ibumu tahu, itu pasti karena ulahmu" Joseph menatap tajam mata Alberto. Tawa yang sejak tadi tergambar di bibirnya, seketika menghilang.


"Ah, kenapa tegang begitu? Aku hanya bercanda" Kata Alberto sambil mencium pipi wanita penghibur yang ada di sebelahnya.


Joseph langsung mengambil ponselnya, dan mengetik sesuatu. "Sudah aku transfer. Tutup mulutmu, dan jangan banyak bicara lagi" Kata Joseph sambil kembali memasukkan ponsel ke sakunya.


Alfredo tertawa girang. Ia mengecek saldo rekening di ponselnya, dan tawanya bertambah lebar.


"Padahal aku tidak minta. Kau baik sekali, Ayah" Kata Alfredo lagi.


"Diam, kau! Nikmati saja pesta kita ini" Kata Joseph dengan nada kesal. Ia baru saja diperas oleh darah dagingnya sendiri. Benar-benar sebuah lelucon konyol.


"Hai, cantik, bukankah, kau bilang, akan membawa teman-temanmu yang lain? Kau bilang, ada banyak temanmu yang dari kalangan model terkenal" Kata Alfredo dengan nada manis dan merayu.


"Ya, tetapi ini sangat rahasia, karena mereka bukan dari kalangan orang biasa dan cukup terkenal, jadi kau juga tidak bisa sembarangan memanggil mereka, Alfredo" Kata Neeya, salah satu wanita penghibur itu.


"...dan tarifnya juga agak, yah... Kau pasti paham" Lanjut Neeya lagi.


"Jangan bicarakan nominal di depanku, kau merendahkanku ya? Berapapun itu, aku sanggup membayarnya" Kata Alfredo. Ia merasa sangat tersinggung.


"Ah, maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku akan menunjukkan fotonya padamu. Dia cukup simple, asalkan kau setuju dengan tarifnya, dia akan langsung menemuimu, bahkan saat itu juga" Kata Neeya.


"Benarkah? Tetapi kau harus ingat, seleraku adalah yang cantik dan... " Alfredo menggerakkan tangannya, membentuk lekukan tubuh, sambil bersiul.


"Ya, ya, aku paham. Aku tidak pernah lupa tipe wanita kesukaanmu. Maka dari itu, aku akan membawa orang ini kepadamu" Kata Neeya sambil mengeluarkan ponselnya.


"Lihat, cantik, bukan? Ini pasti seleramu" Kata Neeya lagi.


"Ya, cantik. Dia model terkenal ya? Pantas saja, wajahnya tidak asing. Cepat pertemukan aku dengannya" Kata Alfredo seolah tidak sabar.


"Aku akan beritahu padamu mengenai tarifnya, jika kau setuju, aku akan menghubunginya. Setelah kau transfer, dia pasti akan langsung datang ke sini" Kata Neeya sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Alfredo, seperti sedang membisikkan sesuatu.


Alfredo menaikan alisnya, kemudian menjentikkan jarinya. "Uangku tidak akan pernah habis untuk membayar kesenangan. Berikan nomor rekeningnya, aku akan segera transfer" Kata Alfredo dengan bersemangat.


"Hei, sabar dulu, Tuan Muda. Aku akan menghubunginya dulu. Kalau ada yang membayar lebih dari tarifnya, pasti dia akan menolakmu. Jadi, kita harus tanyakan kesediaanya terlebih dahulu" Kata Neeya sambil kembali mengambil ponselnya.


"Huh! Aku akan membayar dua kali lipat. Tidak, tiga kali lipat. Katakan itu padanya. Aku juga akan memberikanmu bonus. Berikan nomor rekeningmu, aku transfer sekarang juga" Alfredo terlihat tertantang. Ia memang tidak ingin dikalahkan bila sudah menyangkut soal uang dan wanita.


Neeya tersenyum senang, begitu melihat sejumlah uang sudah terisi di rekeningnya. Joseph menggelengkan kepalanya.


"Anak bodoh. Aku memberinya uang, lalu dia keluarkan lagi hanya untuk kesenangan sesaat" Kata Joseph sambil meneguk isi gelasnya.


"Dia akan segera datang. Dia memilih untuk bertemu denganmu, padahal dia juga baru saja ada janji" Kata Neeya.


"Bilang padanya, kalau dia bisa lebih cepat datang, aku akan memberikan dia empat kali lipat" Kata Alfredo.


"Ya, ya, sudah kulakukan" Kata Neeya sambil mengetik pesan di ponselnya.


******


Di tempat lain.


"Tikus kecil itu sudah mulai mencium umpannya. Sebentar lagi, tikus itu akan masuk perangkap" Monnaire tersenyum menyeringai.


"Bocah gila. Dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu, hanya untuk menuruti nafsunya" Kata Threzz sambil tertawa.


"Tetapi ingat, kau harus tetap berhati-hati. Meski bodoh, Alfredo cukup kejam. Dia tidak akan segan-segan menyakiti siapapun yang membuatnya marah" Kata Carlo.


"Aku sudah tahu. Bahkan pernah ada rumor, Alfredo menyiksa teman kencannya, namun berita itu tiba-tiba tenggelam dengan sendirinya. Sama halnya seperti rumor yang terjadi pada Bernadette. Uang memang menjadi senjata penyelesaian masalah yang paling ampuh" Kata Monnaire.


"Aku turun dulu, kalian berjaga di sini" Kata Monnaire lagi


"Hati-hati. Jika terjadi sesuatu, berteriaklah sekencang mungkin. Sebelum sesuatu terjadi padamu, aku pastikan, kami akan segera datang" Kata Carlo sambil memasang alat pendengar di telinganya.


"Aku sudah pastikan alat ini berfungsi. Kau harus sangat berhati-hati, jangan sampai mereka sadar ketika kau meletakkannya" Kata Threzz sambil menyerahkan alat penyadap kepada Monnaire.


"Ya, jangan khawatir. Terima kasih, karena kalian sudah mau bekerjasama denganku, sampai sejauh ini" Kata Monnaire.


"Aku pergi dulu" Katanya lagi.


Monnaire perlahan melangkah, kemudian ia menuju ke sebuah ruangan privat yang ada di klub malam yang ia kunjungi.


"Yang kau tunggu sudah datang" Kata Neeya.


Alfredo langsung bangkit dari tempat duduknya, tetapi Neeya menahannya, hingga Alfredo kembali duduk.


"Hei kau, apa-apaan?" Kata Alfredo dengan nada protes.


"Tidak bisakah kau sedikit lebih bersabar? Sudah kubilang padamu, kau harus bisa menyesuaikan diri. Dia adalah seorang model, bukan dari kalangan wanita penghibur biasa. Dia akan meninggalkanmu jika tingkah norakmu itu tidak bisa kau hilangkan" Kata Neeya lagi


"Aku sudah membayarnya, bahkan lebih dari tarif yang dia tentukan" Kata Alfredo. Suaranya meninggi.


"Dia tidak akan segan mengembalikan uangmu, dan membatalkan kesepakatan saat itu juga. Maka dari itu, jangan membuatnya muak dengan tingkahmu. Sebenarnya, aku juga muak dengan tingkahmu itu, tetapi karena kau punya banyak uang, makanya aku coba menahan" Kata Neeya sambil tertawa.


"Dasar sial" Kata Alfredo sambil menggerutu.


"Bersabarlah, buatlah seolah-olah kau seperti seorang pria berwibawa dan dewasa. Dia suka tipe yang seperti itu" Bisik Neeya dengan nada menggoda.


Alfredo langsung merapikan jas dan dasinya.


"Apakah sudah tampak berwibawa?"


"Si bodoh. Untung saja kau kaya" Kata Neeya dalam hati.


"Maksudku, adalah sikapmu, bukan pakaianmu" Kata Neeya lagi.


Alfredo kemudian berdehem, seperti mencoba mengatur cara bicaranya. Joseph yang sejak tadi memperhatikan tingkah anaknya, tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Dia sudah di depan. Aku akan menyuruhnya masuk" Kata Neeya, setelah selesai membaca pesan di ponselnya.


Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang wanita cantik dan anggun, berjalan pelan sambil tersenyum.


"Selamat malam" Kata Monnaire sambil membuka mantelnya. Senyum lebar tersinggung di bibirnya.


Alfredo terperangah. Ia tidak henti-hentinya menelan liur, sambil memandangi Monnaire.


"Kau sudah masuk ke jebakanku, tikus kecil" Batin Monnaire, sambil melangkah menghampiri Alfredo.


******