Parhelion

Parhelion
Part 5 - Aku Yang Baru (End)



Part 5 – Aku Yang Baru (End)


Hidup terkadang tidak berjalan sesuai apa yang kita kehendaki. Ada banyak rintangan, dan halangan, bahkan terkadang jurang curam yang membuat kita terpuruk semakin dalam. Tetapi, hidup juga selalu menghadirkan keajaiban, saat kita diberi kesempatan untuk terus hidup, maka artinya kita telah menjalani setengah dari harapan. Bukan tidak mungkin, harapan itu akan terwujud sepenuhnya. Ya, yang perlu diingat, hidup ini adalah tentang sebuah perjuangan, perjuangan untuk menjadi pemenang.


Monnaire terpaku dalam lamunan pikiran yang membuatnya kesulitan tidur selama beberapa hari ini. Berkali-kali ponselnya berdering, namun ia tidak menghiraukannya. Ia sedang memikirkan cara untuk bisa dengan mudah masuk dalam keluarga De Frank tanpa diketahui identitasnya, meski kali ini ia sudah berganti rupa. Estephania adalah orang berpikir cerdas, ia bisa mencurigai sekecil apapun kemungkinan yang menurutnya janggal. Meski kali ini Carlo telah menjadi pihak yang ada di sebelahnya, namun, ia belum bisa sepenuhnya mempercayai Carlo. Manusia terkadang bisa menjadi apa saja, untuk memenuhi keinginannya.


Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Sontak Monnaire kaget. Lamunannya seketika buyar. Dengan sigap ia langsung menuju pintu, dan membukanya. Lauricie sudah berada tepat di hadapannya dengan tatapan khawatir.


“Kau belum makan sejak pagi tadi. Carlo bilang, dia meneleponmu, tetapi kau tidak menjawabnya” kata Lauricie.


“Ah, ponselku tadi terselip, dan aku baru saja menemukannya” kata Monnaire berdalih.


“Carlo bilang, ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Cobalah kau hubungi dia kembali. Setelah itu, mari kita makan. Aku menunggumu di bawah” kata Lauricie lagi.


Monnaire mengangguk, tanda ia mengiyakan perkatan Lauricie. Ia segera mengambil ponselnya. Ada lima belas panggilan tak terjawab. Sepertinya memang benar-benar penting. Monnaire langsung menekan nomor Carlo, dan tanpa menunggu lama, panggilan itu langsung dijawab.


“Aku menghubungimu sejak tadi. Kau dari mana saja?” tanya Carlo dengan nada seperti tergesa-gesa.


“Apakah ada sesuatu?” tanya Monnaire memastikan.


“Apakah kau belum membaca berita pagi ini? The Facts sudah memberitakan tentang kehilanganmu. Dalam tulisannya, disebutkan bahwa kau kabur ke luar negeri, karena tidak ingin menjadi penerus Green Future. Tetapi, bukan itu masalah sebenarnya” kalimat Carlo terhenti.


“Apakah ada pemberitaan lain?” tanya Monnaire penasaran.


“Ada rumor tersebar, bahwa kau bunuh diri karena tunanganmu ternyata adalah kekasih kakakmu...”


“Siapa yang menyebarkan rumor itu? Pasti Estephania yang sengaja melakukannya, untuk menutupi rencana pembunuhan yang sudah dia lakukan padaku” kata Monnaire geram. Tangannya mengepal keras, menggegam jemarinya hingga terdengar bunyi gemeretak.


“Kita akan cari tahu itu nanti. Jika kau sudah mulai masuk ke Green Future, kau pasti akan menemukan semua jawabannya. Besok acara pemakamanmu eh, maksudku, pemakaman Monnaire palsu, akan dilangsungkan secara tertutup. Nenekmu akan melakukan pemakaman di villa miliknya, dan hanya keluarga dekat saja yang akan hadir” kata Carlo.


“Villa nenek? Bukankah itu jauh di luar kota, dan tempatnya terpencil?” kening Monnaire mengernyit.


“Ya, begitulah yang kudengar” jawab Carlo.


“Jadi Nenek melakukan pemakaman secara tertutup, agar tidak diketahui publik, bahwa aku sudah mati? Nenek tidak mungkin melakukan hal ini tanpa alasan, pasti ada seseorang yang mempengaruhi pikirannya. Nenek tidak punya kepentingan apapun dibalik berita kematianku” kata Monnaire lagi. Ia terlihat berpikir, sambil menggigiti kukunya.


“Aku akan menghubungimu lagi nanti” kata Carlo mengakhiri pembicaraan dengan tiba-tiba, seolah ada hal lain yang sedang menunggunya.


Monnaire berulang kali bangkit dan duduk, terkadang ia berdiri di depan jendela kamarnya, lalu kembali duduk di tempat tidurnya. Ia yakin, Estephania ada di balik rumor yang tersebar, dan ia juga yang mempengaruhi neneknya untuk menyembunyikan kematian Monnaire. Tetapi, saat ini itu semua hanya sebatas intuisi Monnaire, ia belum bisa membuktikan apapun. Kali ini ia benar-benar harus menyusun strategi yang tepat, dan tidak boleh sampai salah langkah. Untuk melawan seseorang yang licik, maka kita harus bisa dua tiga, atau bahkan empat kali lebih licik.


******


Estephania duduk di hadapan Marina dan Nath yang sedang menangis. Nath berulang kali berkata bahwa Monnaire masih hidup, namun Marina dengan sekuat hati meyakinkan bahwa Nath harus bisa merelakan kepergian Monnaire. Nath terus menyalahkan dirinya karena telah memutuskan sesuatu tanpa mendengar pendapat dari Monnaire. Dalam tangisnya yang semakin menjadi-jadi, Nath akhirnya jatuh pingsan.


Marina panik, dan meminta Estephania untuk memanggil dokter. Estephania segera keluar dari kamar Nath, mengambil ponselnya, namun bukan untuk menghubungi dokter, melainkan menghubungi Edward untuk mencarikan seorang perawat yang akan merawat Nath.


“Kondisi ibuku semakin parah, sepertinya dia akan menjadi gila. Tolong carikan aku perawat, tetapi, dia tidak boleh menuruti perintah siapapun, kecuali perintahku” kata Estephania sambil menutup pembicaraan.


“Keadaan sudah berjalan sesuai rencana, satu persatu batu kerikil perlahan tersingkir. Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi Estephania” batin Estephania. Senyum licik melebar di wajahnya. Raut wajahnya menyiratkan kemenangan yang sebentar lagi akan ia dapatkan.


“Estephania, apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu memanggil dokter” kata Marina dengan nada sedikit membentak. Wajahnya terlihat panik.


“A... Aku sedang berusaha menelepon. Tetapi, dokter belum menjawab panggilanku” Estephania terkejut, karena tanpa disadarinya, Marina sudah ada di sebelahnya. Semoga saja, tidak ada yang memperhatikan ekspresi wajahnya sejak tadi, begitu pikirnya.


Estephania memperhatikan langkah Marina dengan tanpa berkedip.


“Cih, beraninya kau membentakku. Lihat saja, saat aku sudah menjadi orang nomor satu di keluarga De Frank, kau adalah orang selanjutnya yang akan aku singkirkan. Lagipula, sejak dulu kau tidak pernah menganggapku ada. Jadi, lebih baik kau juga lenyap selama-lamanya dari hadapanku” kata Estephania dengan tatapan sinis.


******


Monnaire terdiam sejenak di bawah sebuah pohon. Matanya seolah menelisik dari kejauhan. Ia memperhatikan beberapa orang yang melangkah masuk ke dalam sebuah villa kecil. Keluarganya benar-benar menganggapnya sudah mati.


“Entah aku harus merasa senang atau sedih. Saat mereka semua menganggapku sudah mati, berarti aku bisa dengan bebas menjalankan rencanaku. Tetapi di sisi lain, aku juga merasa sedih, seolah aku sedang menghadapi kematianku sendiri” kata Monnaire sambil mengusap matanya yang sedikit basah.


“Ah, Ibu...” kata Monnaire, begitu melihat Nath yang kini menggunakan kursi roda, wajahnya tampak pucat, dengan tatapan mata yang kosong.


“Separah itukah kondisimu saat ini, Bu? Ingin sekali rasanya aku memelukmu. Maafkan aku, sementara ini, aku harus bersembunyi. Tunggulah, secepatnya aku pasti akan menemui Ibu” kata Monnaire sambil menggigit bibirnya. Kali ini ia tidak bisa menahan air matanya.


“Brukkkk” tiba-tiba Nath jatuh dari kursi rodanya. Seperti ada yang mendorong, namun tidak bisa terlihat dengan jelas, karena kejadiannya begitu cepat. Semua terlihat menoleh. Monnaire tanpa sadar langsung berlari menghampiri Nath.


“Monn... Monnaire” kata Nath sambil menangis.


Monnaire terlihat kikuk. Ia baru saja melakukan kesalahan, karena tiba-tiba muncul di tempat yang tidak seharusnya. Tujuannya datang kemari hanya untuk memastikan keadaan ibu dan neneknya, tetapi saat ini, ia justru terjebak dalam situasi yang salah. Entah apa yang harus ia jelaskan, ketika seorang asing tiba-tiba muncul di sebuah pemakaman tertutup.


Estephania berjalan menghampiri Monnaire yang seolah tersudut. Matanya melotot dengan sorot penuh selidik.


“Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Estephania. “Apakah gerbang depan tidak dijaga? Siapa yang membiarkan orang asing masuk ke sini?” katanya lagi, sambil berteriak. Matanya menelisik sekitar, mencari penjaga yang seharusnya tidak membiarkan siapapun masuk kecuali keluarganya.


Monnaire menggigit bibirnya. Ia sedikit menundukan wajahnya, sesekali ia membenarkan kacamata hitam yang dikenakannya. Keringat dingin mulai bercucuran. Ia benar-benar tersudut, hingga ia tidak bisa berkata-kata.


“Ah, maafkan aku. Ini temanku, Liberty. Aku yang tadi memintanya kemari, karena ada barang penting yang tertinggal, dan aku memintanya untuk membawakannya padaku” kata Carlo.


“Carlo, bukankah sudah aku bilang, bahwa pemakaman ini hanya boleh dihadiri oleh keluarga dekat?” kata Marina dengan sedikit marah.


“Maafkan aku, Nyonya Marina. Sebab ini benar-benar penting dan mendesak. Aku meminta Liberty untuk membawakan...” mata Carlo memperhatikan segala sesuatu yang ada pada Monnaire, ia berusaha mencari alasan yang cukup masuk akal, dan pandangannya tertuju pada ponsel Monnaire.


“Ah ya, ponselku. Aku memintanya untuk membawakan ponselku. Ponselku tertinggal di kafe tempat kami bertemu” kata Carlo sedikit panik.


“Ponselmu? Bukankah kau sedang memegang ponsel?”selidik Estephania.


Carlo berusaha tetap tenang, mati-matian ia berusaha menahan rasa paniknya. “Aku punya dua ponsel. Yang satu lagi, khusus untuk menghubungi teman-temanku” jawab Carlo.


“Baiklah. Maaf, Nona, kami tidak bermaksud tidak sopan, tetapi, acara ini, hanya khusus untuk keluarga” kata Marina.


“Ah, ya. Saya mengerti. Baiklah, saya pamit, dan saya juga mengucapkan turut berduka cita” kata Monnaire.


“Terima kasih, Liberty. Aku akan menghubungimu lagi nanti” kata Carlo.


Monnaire terlihat sedikit melotot. “Bagaimana kau bisa menghubungiku, sedangkan saat ini, ponselku ada di tanganmu” batin Monnaire.


Monnaire membungkukan badannya memberi hormat. Sebelum pergi, ia sedikit mencuri pandang ke arah Estephania yang seolah mencurigainya. Ia tersenyum kepada Estephania.


“Kau mengenaliku, ya?” batin Monnaire dalam hati. Seringai jahat tersungging di bibirnya.


******