
Part 7 - Iblis Yang Sebenarnya (3)
Manusia itu sumber ketamakan. Terkadang manusia bisa lebih buas dari binatang, melakukan segala cara untuk bisa mencapai apa yang diinginkan. Manusia bisa menjelma sebagai iblis, bahkan lebih mengerikan meski tidak menunjukkan taringnya, namun ia bisa menghisap darah manusia yang lainnya sampai habis. Ya, begitulah gambaran manusia yang sesungguhnya. Menunduk ketika lemah, namun menginjak ketika kuat.
Monnaire terdiam beberapa saat sebelum mulai angkat bicara. Tampak Threzz, Lauricie dan Carlo, bersiap menunggu Monnaire membuka kata-katanya.
"Aku ingin membicarakan sebuah rencana, tetapi aku tidak tahu, apakah kalian menyetujuinya? Bagaimanapun, aku tidak bisa memulai langkah sendiri. Kita sama-sama punya tujuan dan andil dalam rencana ini. Oleh karena itu, aku meminta kalian berkumpul di sini, karena waktu terus berjalan, dan Estephania mulai berada di atas angin" Kata Monnaire dengan wajah sedikit gusar.
"Aku rasa, hanya dengan masuk ke dalam Green Future, tidak serta merta membuatku mudah untuk melaksanakan rencana kita. Mengurangi jumlah musuh, seperti yang pernah dikatakan oleh Carlo, adalah strategi yang saat ini harus kita lakukan. Kita harus membuat orang berpihak kepada kita, dan percaya kepada kita meski tidak seratus persen. Terlebih lagi, aku juga harus mendekatkan diri kepada Estephania, membuatnya percaya kepadaku, bahkan bergantung kepadaku" Lanjut Monnaire.
"Aku setuju denganmu, maka kita harus memanfaatkan kelemahan dari diri mereka masing-masing, termasuk kelemahan ayahku. Karena, tidak dapat dipungkiri, ayahku juga terlibat dalam rencana pembunuhan Monnaire, selain itu, ayahku dan Estephania juga memiliki tujuan yang sama, ingin menjadi yang berkuasa satu-satunya di keluarga De Frank" Kata Carlo.
"Maaf, apa aku boleh merokok?" Tanya Carlo sambil menunjukkan bungkus rokok yang ada di tangannya.
"Silahkan saja" Kata Lauricie, sambil meletakkan sebuah asbak ke meja.
"Lalu kau akan melakukan apa?" Tanya Threzz sambil mengambil rokok milik Carlo, yang tergeletak di meja. Carlo seketika mengeryitkan dahinya.
"Kau merokok? Bukankah kau seorang dokter?" Tanya Carlo dengan tatapan heran.
"Aku tidak setiap hari merokok, hanya ketika ingin saja" Jawab Threzz dengan santai.
"Jadi, mulai hari ini, kita akan fokus mencari kelemahan dari masing-masing lawan kita, dan jadikan itu sebagai senjata untuk membuat mereka bertekuk lutut kepada kita. Kita akan pelan-pelan menguasai De Frank, melalui saham milik lawan kita yang ada dalam gurita bisnis De Frank. Mereka tidak akan mudah menjual saham milik mereka, mengingat saham yang mereka miliki, berada dalam bisnis potensial milik De Frank. Namun, jika dalam keadaan terdesak, mau tidak mau, mereka pasti akan menyerahkannya kepada kita, meskipun dengan sukarela. Kita tidak hanya perlu bala tentara yang kuat, tetapi kita juga perlu strategi yang matang, untuk menjadi pemenang dalam perang" Kata Monnaire panjang lebar.
"Lalu, untuk Estephania, aku akan membuatnya memberikan kepercayaan penuh kepadaku, aku harus benar-benar membuatnya bergantung kepadaku seperti sedang bergantung pada seutas tali. Saat ia benar-benar sudah bergantung, aku akan memutus talinya, hingga dia akan jatuh terperosok ke jurang paling dalam" Lanjut Monnaire dengan tatapan tajam dan mata yang sedikit memerah.
"Sasaran kita yang pertama, adalah Alfredo. Pengalamanku sebagai anggota keluarga De Frank, cukup menjadi bekal untuk membuat Alfredo berada di pihak kita" Kata Monnaire sambil menaikkan alisnya.
*****
Alfredo tampak sangat menikmati segelas anggur merah di tangannya. Meski masih dalam suasana dan lingkungan kerja, Alfredo tidak canggung melakukannya, karena ia merasa berada dalam wilayah kekuasaannya. Alfredo adalah anak kesayangan Manuella. Senjata yang selalu dibanggakan oleh Manuella untuk menguasai De Frank, karena Alfredo dianggap sebagai cucu laki-laki yang sah dalam keluarga, meski sebenarnya, baik Alfredo maupun Manuella, sama sekali tidak pandai berbisnis. Mereka hanya sangat tertarik kepada uang, dan takut jatuh miskin. Namun sayangnya, mereka tidak paham cara mengelola apa yang sudah mereka miliki. Mereka hanya mengandalkan garis keturunan dan nama baik keluarga, sehingga mereka bisa hidup tenang dan nyaman hingga saat ini. Satu lagi, Manuella dan Alfredo adalah orang yang tidak percaya diri. Mereka tidak mampu mengambil keputusan. Dalam setiap tindakan mereka, mereka selalu mempercayai apa yang dikatakan oleh paranormal.
Madame Jessie adalah paranormal kepercayaan Manuella. Sudah sejak sebelum Manuella belum menikah, ia sudah mempercayakan Madame Jessie sebagai penasihat spiritualnya. Bahkan, keputusannya untuk menikah saat ini juga, adalah anjuran dari Madame Jessie, agar Manuella bisa hidup sejahtera dan menjadi penguasa di keluarga De Frank, seperti yang diimpikannya selama ini.
"Tuan Alfredo, Madame Jessie sudah datang" Kata Ruby, sekretaris baru Alfredo. Alfredo memang sering mengganti sekretarisnya, bukan karena nasihat dari Madame Jessie, tetapi karena Alfredo sangat tergila-gila pada wanita cantik.
"Lama tidak berjumpa, Tuan. Anda terlihat makin bugar" Canda Madame Jessie.
"Madame Jessie bisa saja. Ada apa mengajak bertemu denganku, apakah ada sesuatu yang penting mengenai kehidupanku?" Tanya Alfredo sambil kembali meneguk minumannya pelan-pelan.
"Begini, Tuan. Ini agak mengejutkan. Saya takut Anda tidak siap mendengarnya" Kata Madame Jessie.
Carlo mengernyitkan dahinya. "Sepertinya ini masalah serius" Katanya lagi.
"Benar, Tuan. Ini cukup serius. Ini ada hubungannya dengan karir Tuan di masa yang akan datang" Kata Madame Jessie dengan wajah agak sedikit menekuk.
"Saya melihat ada banyak kegelapan dalam penglihatan saya. Sepertinya, ada yang ingin menyingkirkan Anda. Dan sepertinya...." Madame Jessie menghentikan kalimatnya, membuat Carlo semakin penasaran. Ia seolah ingin mendesak Madame Jessie agar segera menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Ada apa Madame Jessie, tolong jangan membuat saya penasaran"
"Yang saya lihat, Anda akan dihancurkan oleh orang terdekat Anda" Kata Madame Jessie. Raut wajahnya kali ini, terlihat lebih serius daripada yang sebelumnya.
"Orang terdekat?" Mata Alfredo membelalak. Meski ia merasa tidak pernah memiliki musuh, namun posisinya sebagai anggota keluarga De Frank, membuat semuanya cukup masuk akal, jika ada yang tidak menyukainya atau bahkan ingin menyerangnya.
"Ya, orang terdekat. Bisa saja teman, keluarga, atau mungkin wanita yang saat ini bersama Anda" Bisik Madame Jessie, sambil melemparkan pandangan ke sekitarnya. Suaranya terdengar lebih pelan.
"Anda tidak bisa menyebutkannya dengan lebih spesifik, supaya aku tidak perlu memberikan tuduhan tanpa dasar?" Tanya Alfredo.
Madame Jessie menggeleng. "Aura orang ini cukup kuat, Tuan. Saya hanya ingin memberikan nasihat kepada Anda, untuk lebih berhati-hati dengan orang di sekitar Anda" Kata Madame Jessie lagi.
Alfredo mengetuk-ngetuk jarinya pada komputer jinjing di hadapannya. Komputer jinjing yang selama ini hanya menjadi pajangan, dan hanya digunakan untuk sekedar bermain game atau berselancar internet. Saksi bisu bahwa selama ini Alfredo hanya menjadi benalu di dalam perusahaan.
"Ingat, Tuan. Jika Anda tidak berhati-hati, Anda akan jatuh ke dalam keterpurukan. Sebaiknya, mulai saat ini, pelajarilah sedikit mengenai perusahaan, atau metode berbisnis, dan jangan terlalu sering menggunakan uang perusahaan untuk hal-hal yang tidak penting. Posisi Anda sedang tidak aman" Lanjut Mademe Jessie.
Alfredo terlihat sedikit bingung. Tanpa menunggu lama, ia langsung menghabiskan sisa anggur merah dari gelasnya, kemudian menggenggam kaki gelas itu dengan erat. Seketika wajahnya tidak lagi menunjukkan kecerian seperti tadi, saat menyambut kedatangan Madame Jessie. Ya, saat ini yang ada dalam pikiran Alfredo adalah sebuah ketakutan. Ketakutan akan kehilangan semua yang dimilikinya.
******