
Part 11 - Sekutu Yang Dipaksa (1)
Dalam sebuah perang, menciptakan strategi yang bagus itu penting, tetapi, menciptakan tentara perang yang kuat, jauh lebih penting. Maka dari itu, ciptakanlah tentaramu sebanyak mungkin, sekuat mungkin, hingga kau bisa menguasai apa yang menjadi tujuanmu.
Monnaire, Carlo, Threzz, dan Lauricie berkumpul di satu ruangan, mereka tampak serius berbincang. Sesekali terdengar beberapa sanggahan, lalu kemudian suasana kembali tenang. Monnaire benar-benar sudah mempersiapkan rencana matang, ditambah dengan berbagai info valid yang didapat dari berbagai sumber. Tentara perang telah dibentuk dan siap untuk memulai pertempuran.
Beberapa hari setelahnya.
Monnaire dan Carlo tampak duduk santai di hadapan Evelyn, istri dari Edward. Tepatnya, ibu tiri dari Carlo sendiri. Monnaire dan Carlo tampak tenang, bahkan mereka langsung duduk tanpa dipersilahkan. Carlo menatap ke sekeliling. Ia sama sekali belum pernah datang ke galeri milik Evelyn. Banyak pahatan hasil karya Evelyn, dan beberapa penghargaan terpampang di sana.
Tanpa diperintah, Carlo langsung bangkit dari duduknya, dan memperhatikan beberapa karya pahat itu dengan teliti. Sementara itu, Monnaire masih memperhatikan gelagat Evelyn yang tampak marah, karena menerima kunjungan dari tamu yang tidak diinginkan.
"Apa maksud kalian datang ke sini? Apalagi kau, anak tidak berguna" Kata Evelyn tampak marah.
"Ibu tenang dulu" Kata Carlo.
"Ibu? Aku tidak pernah sudi menjadi ibumu" Kata Evelyn dengan mata melotot.
"Sabar, Nyonya Evelyn, tidak perlu marah seperti itu, nanti tekanan darah Anda bisa naik. Bisa-bisa Anda kembali di rawat di rumah sakit. Anda tidak mau, kan, jika pameran yang sudah Anda persiapkan sejak lama, jadi batal? Tentu akan sangat mengecewakan, karena Anda sudah menantikan saat itu, bukan?" Kata Monnaire dengan tersenyum. Wajahnya terlihat mengejek, dan perkataannya itu benar-benar memancing emosi Evelyn.
"Apa maksud kalian datang kemari? Kalian ingin menggagalkan pameranku?" Kata Evelyn dengan marah.
"Ah, Anda terlalu terburu-buru memulai. Tetapi, perkataan Anda tidak sepenuhnya salah" Kata Monnaire sambil menyalakan rokoknya.
Evelyn tampak bertambah marah, ia mengepalkan jari jemarinya, kemudian dengan berani, ia mengambil rokok dari tangan Monnaire, sebelum Monnaire sempat menghisapnya. Lalu, tanpa berlama-lama, Evelyn langsung mematikan rokok itu, dan menginjaknya sampai benar-benar *****.
Monnaire tertawa sinis. "Sudah saya bilang, Nyonya, tahan emosi Anda. Karena sebentar lagi, akan terjadi hal yang lebih mengejutkan" Kata Monnaire lagi.
"Langsung saja, apa yang kalian inginkan?" Tanya Evelyn dengan berapi-api. Ia benar-benar tidak lagi bisa menahan emosinya.
"Persiapkan diri Anda, karena ini akan benar-benar akan sangat mengejutkan" Kata Monnaire lagi.
Evelyn maju selangkah, bersiap untuk menampar Monnaire. Beberapa inci lagi, telapak tangan Evelyn menyentuh pipi Monnaire, namun ditahan oleh tangan Carlo.
"Anda masih saja kasar. Apakah ini juga yang Anda lakukan, saat memaksa ayah untuk meninggalkan ibu saya?" Carlo tampak melotot, sementara Evelyn menahan sakit, dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Carlo yang sangat kuat.
"Aww, lepaskan tanganku. Aku tidak pernah memaksa ayahmu, tetapi dia sendiri yang ingin meninggalkan ibumu. Kau dan ibumu itu, sama-sama sampah, jadi pantas untuk ditinggalkan" Kata Evelyn, berusaha untuk berontak.
Carlo bertambah emosi, tangannya seketika bergetar. Ia mati-matian berusaha menahan diri, karena saat ini, ia sangat ingin membunuh Evelyn.
"Jangan berkata sembarangan tentang ibu saya, mengerti?" Kata Carlo lagi, tangannya semakin keras mencengkram tangan Evelyn.
"Lepaskan tanganku" Teriak Evelyn.
"Saya akan melepaskan tangan Anda, tetapi Anda juga harus berjanji untuk tidak melakukan kekerasan, dan tidak akan menghina ibu saya lagi" Kata Carlo dengan mata melotot.
Evelyn sedikit menundukkan kepalanya, sesungguhnya ia sedang dilanda ketakutan yang amat sangat.
"Ba... Baiklah, aku berjanji" Kata Evelyn. Ia tidak punya pilihan lain, selain menyelamatkan dirinya untuk saat ini.
Carlo perlahan melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Evelyn. Evelyn langsung memegangi tangannya yang terasa berdenyut nyeri.
Carlo dan Monnaire saling bertatapan. "Langsung saja, karena kami tidak ingin banyak berbasa-basi. Jual saham perusahaan De Frank yang Anda miliki kepada kami" Kata Monnaire dengan nada tegas.
"Apa? Yang benar saja. Sampai kapanpun, aku tidak akan menjual saham milikku" Kata Evelyn sambil melipat tangan ke dadanya. Matanya melotot, seketika ia kembali emosi.
"Silahkan, jika Anda ingin kami membocorkan rahasia terbesar Anda" Kata Monnaire lagi.
"Rahasia? Rahasia apa?" Kata Evelyn.
Carlo berdiri dan melangkah ke arah karya pahat yang terpajang rapi di ruangan itu. Matanya tertuju pada sebuah patung yang bertuliskan "An Angel" di depannya, lalu kembali melangkah menghampiri Monnaire dan Evelyn. Evelyn terdiam, ia terbelalak, dan tidak bisa mengatakan apapun.
Carlo mengangkat perlahan patung itu, kemudian membalikkan patung tersebut ke arah bawah.
"Sharon? Bukankah dia adalah murid Anda di kelas memahat yang Anda ajar dulu, sewaktu Anda menjadi dosen tamu di sebuah universitas?" Kata Carlo.
"A... Apa maksudmu? Aku tidak mengerti" Evelyn tampak gusar. Ia berusaha menutupi kepanikannya.
"Anda mengakui karya ini sebagai karya Anda, kemudian Anda mengikutsertakannya dalam acara kontes kesenian. Karena ini, nama Anda mulai dikenal oleh publik sebagai seorang pemahat yang berbakat. Apa jadinya kalau publik sampai tahu, bahwa Anda telah melakukan manipulasi, dan mengakui karya orang lain sebagai karya Anda?" Kata Monnaire dengan nada mengintimidasi.
Evelyn tampak makin gusar. Wajahnya seketika pucat, tidak ada lagi amarah dan wajah garang seperti yang ia tunjukkan sebelumnya. Evelyn benar-benar merasa posisinya sedang terancam.
"Lakukan yang kami minta, dan Anda akan selamanya dikenal publik sebagai pemahat berbakat. Tetapi, jika Anda tidak mau mengikuti apa yang kami inginkan, maka kami juga tidak akan segan menghancurkan Anda dalam sekejap mata" Kata Carlo.
"Aku hanya perlu menjual saham milikku?" Tanya Evelyn dengan tangan bergetar. Kali ini, ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir akan rusaknya nama besarnya di mata publik. Nama besar yang selama ini selalu dipertahankannya dengan segala cara.
"Tidak hanya itu. Kami ingin Anda tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Biarkan mereka semua sadar dengan sendirinya, bahwa saham yang Anda miliki, sudah berpindah tangan" Kata Carlo lagi.
Evelyn terdiam.
"Ingat Nyonya, jika Anda kehilangan materi, Anda bisa mencarinya kembali dengan segenap usaha yang Anda lakukan. Tetapi, jika nama baik Anda hancur, Anda tidak hanya akan kehilangan materi, namun Anda akan kehilangan segalanya" Kata Monnaire. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Evelyn yang tertunduk.
"Pikirkanlah baik-baik. Namun, aku tidak memberimu banyak waktu. Putuskanlah sekarang juga" Ancam Monnaire.
Evelyn menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar tidak memiliki pilihan.
"Baiklah, aku akan menjual saham milikku" Kata Evelyn dengan berat hati, suaranya terdengar serak.
Carlo dan Monnaire tersenyum lebar.
"Kalian juga harus berjanji untuk tidak mengusikku lagi" Kata Evelyn di sela-sela ketakutannya.
"Ya, tetapi kami juga memiliki satu syarat lagi" Kata Monnaire.
"Syarat?" Evelyn mengernyitkan keningnya. Ia kira semuanya sudah berakhir, namun perkiraannya salah.
"Anda harus menjadi sekutu kami. Tugas Anda adalah, melaporkan setiap tindakan yang dilakukan oleh ayah saya maupun bibi Manuella, terutama yang berkaitan dengan perusahaan" Kata Carlo.
"Ini perintah, jadi kali ini kami tidak memberikan Anda pilihan apapun" Kata Monnaire dengan tersenyum licik.
******