
Part 5 – Aku Yang Baru (4)
Carlo masih berdiri di hadapan Monnaire, Threzz, dan Lauricie yang tampak diam mematung. Monnaire dengan tanpa sengaja, menyebutkan nama Carlo tanpa aba-aba. Ia benar-benar terkejut dengan kedatangan Carlo yang tanpa diundang.
“Kau tahu namaku?” tanya Carlo sambil menyipitkan matanya. Ia tampak heran, karena ia sama sekali tidak kenal sosok Monnaire yang saat ini. Namun dalam hatinya, Carlo menyelidik, ini semua ada hubungannya dengan kejadian yang baru saja terjadi.
“Aku tidak ingin banyak berbasa-basi. Langsung saja pada intinya. Kalian, adalah orang yang menghadirkan sosok Monnaire palsu, bukan?” katanya dengan tatapan penuh selidik.
Ketiga orang di hadapan Carlo menghela nafas bersamaan. Mereka dilanda kebingungan. Mereka tidak bisa berkata jujur, namun tidak dapat juga menutupi kebohongan yang hampir terbongkar.
Carlo melangkah perlahan mendekati Monnaire, lalu sekali lagi ia bertanya, “Siapa sebenarnya kau?” tanya Carlo sekali lagi.
Monnaire menarik nafas, kemudian menghembuskannya dengan cepat. Tanpa berdiskusi dengan dua orang rekan di sebelahnya, ia akhirnya angkat bicara.
“Aku...” katanya sambil menghela nafas lagi. “Aku adalah Monnaire” jawabnya dengan lantang.
Carlo terkesima. Begitu pula dengan Threzz dan Lauricie yang tidak menyangka bahwa Monnaire akan membongkar rahasianya secepat itu.
Carlo berdehem sejenak, kemudian ia mengangguk. “Sudah kuduga sebelumnya” katanya. “Aku mulai curiga, sejak Dokter Lauricie berusaha meminta petugas laboratorium untuk menukar hasil tes DNA” kata Carlo.
“An...Anda tahu saya?” tanya Lauricie, terheran. Bahkan ia saja baru pertama kali bertemu dengan Carlo, tetapi Carlo tahu namanya. Yang lebih membuatnya terkejut, bahwa Carlo tahu apa tindakan yang dilakukannya sebelumnya.
“Ya, saya tahu Anda. Bukankah Anda yang mengoperasi kakek saya? Di saat Dokter lain menyatakan tidak sanggup, tetapi Anda dengan tegas dan berani, menyanggupinya atas nama kemanusian. Saat itu, saya benar-benar merasa kagum pada Anda” kata Carlo memastikan.
Lauricie terdiam.
“Tetapi, bukan itu yang sekarang ingin saya bahas” kata Carlo melanjutkan. “Ada hal lain juga, yang perlu kalian ketahui” kata Carlo lagi. Kali ini, wajahnya terlihat lebih serius.
“Sebelumnya, bolehkah saya duduk? Kaki saya terasa pegal karena berdiri sejak tadi” kata Carlo.
******
Estephania terlihat mondar-mandir di kamarnya. Bagaimanapun, entah kenapa ia masih belum percaya bahwa sosok mayat yang ditemukan itu adalah benar-benar Monnaire, meskipun hasil tesnya menyatakan positif. Estephania terdiam sejenak untuk berpikir, kemudian dengan sigap, ia langsung mengambil ponsel yang tergeletak di meja riasnya.
“Aku harus memastikan sendiri, apakah itu Monnaire atau bukan. Kau bisa mengantarku ke rumah sakit?” tanya Estephania. “Baiklah, aku tunggu” katanya lagi, sambil mengakhiri pembicaraan, seolah tidak memberi kesempatan kepada orang yang diteleponnya untuk berlama-lama.
Di rumah sakit, terlihat Wizzarez sedang bernegosiasi dengan petugas rumah sakit. Petugas rumah sakit itu bersikeras melarang siapapun yang masuk ke kamar jenazah, karena akan segera dilakukan penyidikan lanjutan oleh tim forensik, mengenai hal yang menyebabkan kematian Monnaire.
Wizzarez tampak sedikit putus asa, sementara petugas rumah sakit itu masih teguh pada pendiriannya. Tidak lama kemudian, Estephania bersama dengan Duvatte, muncul dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
Wizzarez langsung mendekati kedua orang yang baru saja tiba itu. Sambil mengangkat bahunya, ia berkata “Aku tidak berhasil membujuk mereka” kata Wizzarez.
Estephania berkacak pinggang, matanya melotot. “Kenapa urusan semudah ini saja, kau tidak bisa mengatasinya?” kata Estephania kesal.
Duvatte perlahan mendekati petugas rumah sakit itu, lalu berbincang sebentar. Ia kemudian merangkul petugas rumah sakit itu, seolah membisikan sesuatu. Kemudian, senyum sumringah, terpancar dari wajahnya. Perlahan ia mendekati Wizzarez dan Estephania, yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya.
“Masalah selesai. Ayo, kita pastikan, apakah yang di dalam adalah Monnaire?” kata Duvatte.
******
“Jadi kau yang memalsukan hasil tes itu?” tanya Monnaire kepada Carlo yang kini duduk di depannya.
Carlo tersenyum, sambil menjawab santai. “Aku tidak memalsukan hasil tesnya. Hasil tes itu asli” kata Carlo.
Monnaire mengernyit bingung, begitu pula dengan Threzz dan Lauricie.
“Aku hanya mengganti sampelnya. Sampel rambut Monnaire palsu, aku ganti dengan sampel rambutmu. Jadi, tidak ada yang aku palsukan, bukan? Karena test itu untuk menunjukan Monnaire yang asli” jawab Carlo dengan senyum puas.
“Bagaimana kau bisa mendapatkan rambutku?” tanya Monnaire. Ia masih merasa bingung, sekaligus takjub dengan usaha Carlo, entah apa yang ia inginkan dibalik semua ini.
“Aku meminta bantuan Bu Delilah, asisten pribadimu, untuk mengambil sisir di kamarmu. Sepertinya, kau harus memperhatikan kesehatan rambutmu. Ada cukup banyak rambutmu yang rontok dan tertinggal di sisir. Tetapi, itu cukup menguntungkanku” kata Carlo lagi.
Monnaire menggigit bibirnya, bisa-bisanya Carlo melontarkan candaan di tengah situasi genting seperti ini. Selama ini, ia memang tidak begitu mengenal Carlo, hanya sebatas tahu nama dan wajah, bahkan mereka nyaris tidak pernah berbincang sedikitpun. Jadi, bisa dipastikan, Monnaire tidak mengenal karakter Carlo. Mungkin memang seperti inilah Carlo yang sebenarnya.
“Kau sampai sejauh ini membantuku menyembunyikan identitas. Pasti ini tidak gratis, kan?” kata Monnaire.
“Ya, bisa dikatakan itu benar” jawab Carlo.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Monnaire dengan tatapan tajam.
Carlo membenarkan letak kakinya yang semula menyilang, kemudian ia membenarkan letak dasinya. Ia terdiam sejenak, sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan Monnaire.
“Sebelumnya, apa kau sudah tahu, bahwa Kakek menulis surat wasiat yang disembunyikan?” tanya Carlo sambil memajukan sedikit wajahnya.
“Ya, itulah yang menyebabkan ayahku, Bibi Manuella, dan Estephania, berebut untuk memiliki Green Future” jawab Carlo.
Monnaire tampak mengernyitkan dahinya. Carlo mengatur nafasnya, berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan seksama. “Begini, kau ingat, waktu Kakek pingsan setelah makan sup?”
“Ya, aku ingat. Katanya, Kakek terkena syok anafilaktik, karena memakan sup yang mengandung ekstrak kerang” jawab Monnaire.
Kali ini Carlo mengalihkan pandangannya ke Lauricie. “Dokter Lauricie, Anda ingat, kenapa waktu itu Anda memutuskan untuk mengoperasi Kakek?”
“Waktu itu, Tuan Cazzare mengalami serangan jantung. Karena kondisinya semakin parah, maka saya menyarankan untuk melakukan operasi bypass jantung. Kondisi Tuan Cazzare yang sudah berumur, menyebabkan dokter lain tidak mau mengambil resiko. Tetapi, saya merasa, Tuan Cazzare harus diselamatkan”
“Syok anafilaktik, dan serangan jantung. Kau merasa ada yang aneh?” kata Carlo sambil menaikan sebelah alisnya.
Monnaire langsung menangkap maksud dari perkataan Carlo. “Jadi maksudmu, ada hal lain yang memicu Kakek, sehingga mengalami serangan jantung?”
“Tepat sekali. Dan sepertinya, Kakek sudah menyadari hal itu sebelumnya, sehingga Kakek membuat surat wasiat tersembunyi itu” jawab Carlo.
“Ayahku dan Bibi Manuella memang sengaja mencampur sup yang dimakan Kakek dengan ekstrak kerang, karena mereka tahu, Kakek alergi terhadap makanan laut, namun, bukan itu yang menyebabkan Kakek pingsan. Tetapi hal lain, yang mungkin saja lebih mengejutkan. Dan kita, harus mencari tahu hal itu, karena ini mungkin saja ini ada hubungannya denganmu, Monnaire”
“Lalu, darimana kau bisa tahu informasi sepenting ini, apakah kau juga memata-matai mereka?” tanya Monnaire.
“Aku tidak sengaja mendengar, saat ayahku berbicara dengan Bibi Manuella” jawab Carlo.
Monnaire terdiam, dalam hatinya, ia ragu dengan apa yang baru sjaa diucapkan oleh Carlo. Saat ini, tidak ada yang bisa dipercaya di keluarga De Frank, kecuali ibunya sendiri.
“Aku tahu, kau pasti menuduhku bersekongkol dengan mereka, bukan? Tidak apa-apa, itu hakmu. Aku hanya ingin menawarimu kerja sama. Aku tidak menginginkan Green Future seperti yang lainnya” kata Carlo lagi.
“Sejak tadi, aku masih belum mendapatkan jawaban, sebenarnya apa isi dari surat wasiat Kakek, sehingga mereka berebut untuk mendapatkan Green Future?” tanya Monnaire.
“Kakek menuliskan di suratnya, akan menyerahkan seluruh harta kekayaan De Frank, kepada siapa saja yang bisa mengelola Green Future. Dan karena ibumu sudah berhasil membuat Green Future yang hampir tidak punya masa depan itu bangkit kembali, sudah pasti, seluruh harta Kakek, akan jatuh ke tangan ibumu. Tetapi, tanpa diduga, ibumu malah mengumumkan penyerahan pengelolaan Green Future kepadamu” jawab Carlo panjang lebar.
Monnaire mengangguk paham. “Kerja sama apa yang ingin kau tawarkan kepadaku?” tanya Monnaire. Carlo tersenyum lebar, karena sedikit berhasil memberikan sedikit pengaruh kepada Monnaire. Threzz dan Lauricie tampak khawatir, karena mereka tidak bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran Carlo saat ini.
“Kau ingin merebut kembali Green Future, benar begitu? Jika kau sudah berhasil merebut Green Future lagi, dan kau mewarisi seluruh kekayaan De Frank, aku ingin kau memberikanku saham potensial dari perusahaan terbaik milik De Frank, dan memberikanku posisi strategis di perusahaan itu. Yang aku butuhkan, hanyalah pengakuan dari ayahku. Aku ingin ayahku benar-benar bisa mengakui kemampuanku, dan yang paling penting, dia mengakui aku adalah anaknya, karena selama ini, dia menjadikanku, tidak lebih dari sebuah alat. Dia tidak pernah menganggapku anaknya, karena aku dilahirkan dari seorang wanita yang dianggapnya rendahan, dan menganggapku sebagai sebuah kesalahan” jawab Carlo sambil tertunduk.
“Sesungguhnya, aku belum bisa memutuskan...” Monnaire belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun Carlo langsung angkat beicara.
“Meskipun kau memiliki rencana yang matang, namun kau tidak boleh salah langkah. Karena semua itu justru akan menghancurkan semua rencanamu. Ingat, jika kau hendak berperang, kau harus memiliki pedang yang tajam untuk melukai musuhmu, tetapi kau juga butuh perisai, untuk melindungi dirimu” kata Carlo sambil terdiam sesaat.
“Maka, aku akan menjadi perisaimu” lanjutnya lagi.
******
“Ini benar-benar Monnaire” kata Estephania, sambil memeriksa bagian belakang kaki sosok mayat yang disebut sebagai Monnaire.
“Luka tembakannya tepat” kata Wizzarez.
“Ya, aku yang menembaknya” jawab Estephania, wajahnya terlihat cukup panik.
“Kenapa kau terlihat panik? Bukankah harusnya kita merasa senang, karena tidak perlu menyembunyikan hal apapun mengenai Monnaire?” tanya Duvatte.
“Tidak semudah itu. Sekarang kita harus bisa mencari alasan, kenapa Monnaire bisa ditemukan di belakang Shinning Hotel, sedangkan dari laporan terakhir yang diterima pihak kepolisian, jejak Monnaire ditemukan di perbatasan kota” jawab Estephania, ia tampak sedang berpikir keras.
“Duvatte, bagaimana caramu membujuk petugas tadi, sehingga kita bisa masuk?” tanya Estephania, spontan.
“Aku menyuap mereka, dan mengancam mereka” jawab Duvatte santai.
“Mengancam?” Estephania mengernyitkan keningnya.
“Haaaaah, aku melakukan cara yang sama dengan modelmu dulu. Aku menaruh serbuk methampetamine di saku salah satu dari petugas itu. Terang saja dia mengelak, namun aku bilang, aku akan membawa masalah ini ke atasan mereka, dan membiarkan mereka di penjara. Dan ternyata caraku berhasil” jawab Duvatte lagi.
Estephania tersenyum lebar. “Aku tidak menyangka, ternyata kau sepintar itu”
“Aku tidak sepintar itu, tetapi mereka yang terlalu bodoh, dan pengecut. Aku pernah dengar dari Paman Edward, orang yang tidak memiliki apa-apa, menjadikan kebebasan yang mereka punya, sebagai harta yang sangat berharga, dan mereka akan sangat takut jika harta berharga yang mereka miliki itu akan hilang, sehingga mereka akan sangat takut dengan ancaman penjara” kata Duvatte.
“Rupanya kau banyak belajar, selama menjadi mata-mata si tua bangka itu” kata Estephania.
“Jadi, apa rencana kita berikutnya?” tanya Duvatte.
“Bereskan masalah tim forensik, karena aku tidak mau sampai ada yang tahu, tentang luka tembak ini. Lalu, bereskan juga polisi yang menangani penyelidikan kasus Monnaire. Buat mereka menyatakan bahwa penyelidikan kasus ini selesai, jika mereka tetap bersikeras melanjutkan, buat mereka menghilang selamanya. Entah bagaimanapun caranya, aku serahkan semuanya kepada kalian berdua” kata Estephania kepada Duvatte dan Wizzarez.
******