
Part 11 - Sekutu Yang Dipaksa (3)
Monnaire menghampiri Alfredo dengan langkah pelan dan mempesona. Berkali-kali Alfredo menelan air liurnya, seperti ingin segera menangkap Monnaire dan **********. Monnaire tersenyum manis begitu tiba di samping Alfredo, ia sengaja duduk menyilangkan kakinya, sehingga kaki jenjangnya membuatnya tampak semakin cantik dan anggun.
Alfredo mendekatkan posisi duduknya, sehingga ia semakin menempel ke Monnaire. Monnaire benar-benar jengah, jika saja ia tidak memiliki tujuan di tempat ini, ia pasti sudah menampar pipi Alfredo atau mendorong tubuhnya hingga tersungkur ke lantai. Berulang kali Monnaire menarik nafas, berusaha meredakan rasa kesalnya pada tingkah Alfredo.
"Nona Liberty, Anda cantik sekali. Lebih cantik daripada di foto" Kata Alfredo sambil memandangi Monnaire, dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Ia tidak henti-hentinya memuji Monnaire, membuat Monnaire semakin muak dan ingin segera memukul kepala Monnaire.
"Seandainya kepala orang ini boleh kupukul. Mungkin saja benturan di kepala bisa membuatnya sadar" Batin Monnaire sambil berusaha tetap mengatur senyumnya.
"Aku tidak ingin berlama-lama. Bagiku, waktu adalah uang. Sebaiknya, ayo kita segera ke hotel" Kata Alfredo. Tangannya langsung merangkul pundak Monnaire. Aroma wangi yang menyeruak dari rambut Monnaire, membuatnya semakin menggila.
Monnaire sedikit menjauhkan kepalanya dari Alfredo. Gerakannya spontan, karena memang ia merasa risih dengan perlakuan dari Alfredo terhadapnya.
"Cih, waktu adalah uang. Kepalamu memang seharusnya dibenturkan" Batin Monnaire lagi.
"Maaf, apakah Nona Neeya tidak memberitahukan kepada Anda, bahwa, hotel juga saya yang menentukan? Sebab saya tidak ingin ada yang mengenali saya. Suasana hotel juga menjadi salah satu alasan saya, untuk memilih hotel sesuai keinginan saya" Kata Monnaire.
"Ah, maaf. Saya lupa" Kata Neeya sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Alfredo membanting piring sajian yang ada di meja, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, kecuali Monnaire. Bagi Monnaire, ini adalah hal yang biasa, karena Alfredo memang sering mengamuk, ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Anak manja itu, memang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan sejak kecil, sehingga ia akan marah saat keinginannya tidak terpenuhi.
"Apa yang kau lakukan, Alfredo?" Tanya Joseph sambil melotot. Jantungnya masih berdegup karena kaget.
"Kenapa terlalu banyak aturan? Sejak awal, aku selalu menuruti keinginanmu, bahkan aku membayarmu tiga kali lipat. Tetapi kau... " Alfredo belum sempat melanjutkan kalimatnya.
"Kalau Anda tidak ingin mengikuti aturan yang saya buat, kita batalkan saja kesepakatannya. Saya akan kembalikan uang Anda" Kata Monnaire sambil mengeluarkan ponselnya.
"Sebutkan nomor rekening, Anda. Saya tidak punya waktu untuk mengecek mutasi. Silahkan sebutkan saja, maka saya akan segera kembalikan uang Anda, dan kesepakatan kita batal. Saya juga tidak ingin membuang-buang waktu" Kata Monnaire lagi. Tentu saja ia tidak sungguh-sungguh akan mengembalikan uang itu kepada Alfredo. Alfredo lemah terhadap uang, namun ia akan lebih lemah kepada wanita, terutama wanita cantik. Alfredo tidak akan pernah rela untuk melewatkan kesempatan berkencan dengan gadis cantik.
Alfredo terlihat kebingungan. Ia agak takut, karena akan kehilangan kesempatan emas untuk berkencan dengan seorang model cantik. Sebuah pengalaman yang menurutnya penting untuk dipamerkan kepada teman-temannya, karena bagi Alfredo, hal itu merupakan kebanggaan tersendiri. Semacam prestasi yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang.
"Ah, Nona, jangan begitu. Aku hanya agak sedikit kesal, karena biasanya, mereka yang mengikuti aturanku" Kata Alfredo.
"Saya mengerti, Tuan Alfredo. Tetapi, tidak selamanya Anda memegang kendali. Terkadang Anda juga harus bisa mengikuti arus, agar bisa selamat" Kata Monnaire.
Alfredo mengernyitkan dahinya, ia sama sekali tidak paham dengan perkataan Monnaire.
"Ya sudah, Anda tidak perlu memikirkan kalimat saya yang barusan. Anggap saja, saya tidak pernah mengatakan apa-apa" Kata Monnaire sambil berusaha tersenyum lagi.
"Baiklah, hotel mana yang Anda inginkan, Nona Liberty?" Tanya Alfredo dengan lembut. Ia menarik nafas lega, karena kesepakatan ini tetap berjalan.
"Diamond Hotel. Saya pastikan, di sana aman" Jawab Monnaire dengan mantap.
"Baiklah, apapun itu, saya akan mengikuti keinginan Anda" Alfredo mendekatkan wajahnya ke wajah Monnaire. Ia kembali menggila.
"Bisakah Anda bersikap sedikit lebih sopan? Ini masih ruang publik" Kata Monnaire sedikit melotot.
Alfredo reflek menjauhkan wajahnya, dan sedikit menggeser posisi duduknya.
Monnaire berjalan ke depan, sambil mengenakan mantelnya. Ia kembali memakai kacamata hitamnya, meski suasana cukup temaram, tidak lupa, ia menutupi kepalanya dengan topi. Penampilannya benar-benar tidak dikenali. Penyamarannya cukup sukses.
Monnaire mencuci wajahnya di toilet. Ia benar-benar merasa jijik atas perlakuan Alfredo. Rasanya, ia ingin menggosok seluruh tubuhnya hingga bersih, sampai tidak ada lagi sisa sentuhan Alfredo menempel di sana.
Sebelum keluar dari toilet, Monnaire mengetik sebuah pesan.
"Segera menuju lokasi" Tulisnya, singkat.
Monnaire segera berjalan menuju lobi, Alfredo sudah menunggu di sana dengan senyum lebar.
Di sepanjang jalan, Alfredo tidak henti-hentinya memandangi Monnaire, membuat Monnaire semakin jengah, dan ingin segera menjauh dari sosok lelaki hidung belang itu. Beberapa kali Alfredo mendekatkan tubuhnya, menggeser posisinya untuk mendekati Monnaire. Berkali-kali juga Alfredo berusaha mencium bibir Monnaire, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Monnaire langsung memesan kamar hotel, dan segera menuju kamar itu bersama Alfredo. Begitu pintu kamar terbuka, Alfredo langsung mendorong tubuh Monnaire, hingga membuat Monnaire geram.
"Tuan Alfredo, tolong jangan kasar, dan cobalah untuk mengikuti aturan yang saya buat, atau kesepakatan kita batal" Kata Monnaire sambil melotot.
Alfredo langsung mengangkat tangannya. "Ya, ya, baiklah. Aku akan mengikuti aturanmu" Kata Alfredo dengan sedikit kesal.
"Tunggu saja, akan kubuat kau tergila-gila padaku" Kata Alfredo lagi.
"Saya mau mandi dulu, tubuh saya terasa lengket. Saya sudah memesan layanan kamar. Anda bisa makan dulu, sambil menunggu saya mandi. Atau jika Anda suka, Anda bisa berkaraoke, menonton TV, apa saja. Asal Anda jangan mengganggu saya ketika sedang mandi, saya tidak suka itu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika Anda melanggar aturan yang saya buat, kesepakatan kita batal" Kata Monnaire dengan nada mengancam.
"Ya, ya. Anda selalu saja mengancam" Kata Alfredo sambil mendengus kesal.
"Anda akan mendapatkan pelayanan memuaskan setelah ini" Kata Monnaire sambil mengecup lembut pipi Alfredo. Sontak Alfredo kaget, dan senang bukan kepalang. Monnaire hampir saja muntah, namun ia menahannya.
"Apa yang baru saja aku lakukan?" Pikir Monnaire dalam hati.
"Saya mandi dulu. Mungkin sebentar lagi, layanan kamar akan datang. Anda makan duluan saja, tidak perlu menunggu saya" Kata Monnaire.
"Baiklah, tetapi jangan lama-lama. Saya akan sangat merindukan Anda" Kata Alfredo sambil mengedipkan matanya dengan genit.
Monnaire berusaha tersenyum meski hatinya sangat kesal. Dengan cepat, ia segera menuju kamar mandi, dan meninggalkan Alfredo yang sedang berbaring, sambil terus menatapnya.
"Haaaah, aku bisa gila" Kata Monnaire sambil bergumam.
Alfredo tidak bisa menikmati tayangan televisi, pikirannya hanya tertuju pada Monnaire yang kini menjadi Liberty. Ia benar-benar terpesona pada sosok wanita itu.
"Lama sekali. Aku sudah tidak sabar" Katanya sambil terus memindahkan saluran televisi. Tidak lama, bunyi bel terdengar dari balik pintu.
"Ah, itu pasti layanan kamar" Kata Alfredo sambil segera beranjak. Tanpa pikir panjang, ia langsung membuka pintu, dan ia benar-benar terkejut melihat Joseph sudah berada di depan pintu kamar hotel.
"Ayah, sedang apa di sini?" Tanya Alfredo heran.
Joseph terlihat pucat, raut wajahnya menandakan, ia sedang tidak baik-baik saja. Ada hal buruk yang pasti sedang terjadi.
"Alfredo... Tamatlah riwayat kita" Kata Joseph sambil mengguncang-guncang tubuh Alfredo. Matanya memerah, seperti hampir menangis
******