Parhelion

Parhelion
Part 3 - Taken (4)



Part 3 – Taken (4)


Manuella dan Edward masih berada di ruang kerja. Wajah mereka terlihat tegang. Berulang kali mereka berdua mengecek ponsel masing-masing, seolah sedang menanti kabar penting. Sesekali terdengar helaan nafas berat dari Edward, berharap cemas tentang rencana yang telah ia susun dapat berjalan sesuai harapannya. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam.



“Belum ada kabar juga?” tanya Manuella dengan wajah kesal.



Edward menggeleng sambil menghebuskan asap rokok yang dengan cepat menyebar ke seisi ruangan. Manuella bergerak menuju meja Edward, mengambil rokok yang tergeletak di sana, kemudian menyalakannya. Ruangan itu kini terasa makin sesak dengan kepulan asap.



“Kau yakin, dia tidak akan membocorkan rencana kita? Aku sudah bilang, jangan libatkan orang lain dalam rencana ini” Manuella terlihat makin kesal. Raut wajahnya seolah menyalahkan dan menyudutkan kakaknya itu.



Edward langsung membuang rokoknya ke lantai, menginjaknya hingga apinya mati, dan tidak berbentuk lagi. Giginya menggeretak. “Aku akan membunuhnya, kalau sampai dia membocorkan rencana kita”



“Bagaimana kalau Monnaire sudah terlebih dahulu melaporkanmu ke polisi, sebelum kau membunuh orang suruhanmu? Sejak dulu kau terlalu bodoh, tidak pernah berpikir panjang” cerocos Manuella, sambil berkacak pinggang. Wajahnya terlihat menyeramkan, dengan celak mata yang terlihat semakin melebar karena sedikit luntur.



“Sejak tadi kau selalu menyalahkanku. Kau sendiri, apa kau pernah berpikir? Apa kau punya rencana untuk merebut Green Future dan warisan yang sejak awal seharusnya menjadi milikku?”



Manuella semakin melotot mendengar kalimat terakhir Edward. Edward dengan cepat langsung meralat kata-katanya.



“Warisan kita, maksudku milik kita” kata Edward sedikit kikuk. Hampir saja ia ketahuan kalau ia ingin menguasai semuanya.



Manuella menghela nafas panjang. Ia berusaha menahan amarahnya, walaupun sebenarnya saat ini ia ingin sekali mencekik leher Edward dengan tanpa ampun. “Sudahlah, sebaiknya, kita segera pikirkan rencana lainnya” kata Manuella lagi. Ia berulang kali terdengar menarik nafas, berusaha menghilangkan rasa marah yang masih tersisa.



Tiba-tiba ponsel Edward berdering. Edward meletakkan jari telunjuknya ke bibir, sebagai isyarat untuk Manuella agar diam. “Bagaimana, kenapa kau baru memberi kabar?” kata Edward dengan sedikit keras.



“Aku belum bertemu dengan Monnaire?” jawab suara di seberang sana.



“Apa? Maksudmu rencana kita gagal?” Edward berteriak.



Manuella seketika menoleh, ia terkejut mendengar teriakan Edward, dan lebih terkejut lagi, ketika ia mendengar bahwa rencana mereka gagal. Dengan cepat, Manuella langsung menghampiri Edward, dan mendekatkan telinganya ke ponsel Edward.



“Aku sudah mengajak Monnaire bertemu, dan ia setuju”



“Lalu?” Edward seolah tidak sabar mendengar jawaban orang yang sedang meneleponnya.



“Monnaire bilang, ia akan menemuiku setelah pulang dari restoran. Tetapi, dia tidak menghubungiku hingga sekarang. Lalu aku memutuskan, untuk menemuinya di restoran yang ia kunjungi” suara di seberang sana terhenti sejenak.



“Cepat jelaskan semuanya...” kata Edward dengan membentak. Amarahnya benar-benar sudah naik hingga ke ubun-ubun.



“Di jalan, aku melihat ada kecelakaan, dan ternyata itu adalah mobil yang ditumpangi Monnaire. Monnaire di bawa dengan ambulans, aku mengikuti ambulans itu. Tetapi ternyata, ambulans itu tidak menuju rumah sakit”



“Lalu, Monnaire di bawa ke mana?” kali ini Manuella ikut berteriak.



Edward seketika mengulangi pertanyaan Manuella. “Monnaire di bawa ke mana?”



“Shining Hotel...” jawab suara di seberang sana.



Edward dan Manuella saling tatap. “Shining Hotel? Hotel tua milik ayah, yang sudah sangat lama tidak beroperasi?” kata Manuella dengan tatapan heran.



“Kau sekarang ada di sana?”



“Ya” jawab suara di sebarang sana, singkat.



“Baiklah. Tetap awasi semuanya, dan laporkan padaku”



“Baik, Tuan” kata suara di seberang sana. Edward langsung menutup ponselnya dengan wajah cemas. Jari-jarinya gemetar, dahinya sedikit berkeringat.



“Kakak, apa maksudnya? Apakah rencanamu seperti itu. Aku lupa, sejak awal kau tidak pernah menjelaskan alur rencanamu padaku. Kau hanya bilang, akan menculik Monnaire dan memaksa Nath menandatangani penyerahan kepemilikan Green Future” kata Manuella. Edward terlihat menggigit bibirnya. Wajahnya penuh kegusaran.



“Aku memerintahkan Monnaire di bawa ke sini, bukan ke Shining Hotel. Oleh sebab itu, aku mengajakmu menunggu di sini”




“Ya, aku berpikir, ada orang lain yang merencanakan untuk menculik Monnaire” kata Edward.



“Siapa itu, kak?”



“Jangan bertanya padaku, aku tidak akan sepanik ini, jika aku tahu siapa orangnya” kata Edward sambil melotot.



“Lalu kenapa kita masih berdiam di sini, kita harus ke Shinning Hotel untuk mengetahui semuanya” kata Manuella.



“Jangan bodoh, bagaimana kalau ini semua adalah jebakan”



“Jebakan? Maksudmu, Monnaire sudah tahu semua rencana kita? Jika ini jebakan, maka orang kepercayaanmu itu yang nantinya harus lebih dulu kau singkirkan. Kau tidak akan mendapatkan jawaban apapun, jika hanya berdiam di sini”



Edward menundukan kepalanya, ia seperti sedang berpikir keras.



“Aku akan pergi ke Shining Hotel. Kalau kau ingin tetap di sini, silahkan. Aku tidak ingin kehilangan waktuku, hanya dengan menunggu. Jika ini memang benar rencana Monnaire, aku akan pikirkan langkah selanjutnya setelah mengetahui semuanya” kata Manuella sambil memakai mantelnya.



Edward mendengus kesal, tetapi kemudian mengikuti langkah Manuella. “Pakai mobilku saja, aku yang akan menyetir” kata Edward.


\*\*\*\*\*\*\*



Monnaire membuka matanya perlahan, badannya terasa kaku, kakinya nyeri hingga sulit digerakan. Kepalanya masih terasa pusing. Kemudian ia ingat, bahwa ia baru saja selamat dari kecelakaan. Ia berusaha bangkit dari sofa tempatnya tadi tertidur, ada Wizzarez terbaring di sofa seberangnya. Sepertinya Wizzarez juga terluka. Monnaire berusaha melangkah menghampiri Wizzarez.



“Wiz, bangun...” kata Monnaire sambil menahan kakinya yang sakit. Sesekali ia meringis menahan rasa sakitnya, sambil terus membangunkan Wizzarez. “Apa dia pingsan?” kata Monnaire khawatir.



“Wiz...” Monnaire terus menepuk wajah Wizzarez, dan akhirnya, laki-laki itu perlahan membuka matanya.



“Di mana ini?” tanya Wizzarez, matanya sedikit memicing. Ada sedikit luka memar di sudut matanya. Monnaire perlahan menyentuh luka memar itu, dan Wizzarez langsung terkejut karena sakit.



“Ah, maaf” kata Monnaire.



“Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut karena sakit. Kita ada di mana?” kata Wizzarez. Matanya mencoba menelisik ke sekitar. Ia berusaha bangkit, namun kemudian kembali terduduk. “Punggungku sakit sekali, kakiku juga. Aku sulit berdiri” kata Wizzarez lagi.



“Aku tidak tahu ini di mana. Di sini cukup gelap, hanya ada cahaya dari luar” Monnaire kemudian mencari ponselnya. “Ah, sial, baterainya hanya tinggal lima belas persen. Kau tunggu di sini, aku akan mencoba mencari tahu ini di mana. Jangan terlalu banyak bergerak, nanti sakitnya akan semakin parah. Aku yakin, pasti ada yang membawa kita ke sini. Mungkin saja orang itu adalah yang menabrak kita tadi. Mungkin dia takut akan dihakimi massa, jadi dia membawa kita kemari” Monnaire berusaha berpikir positif, meski ada banyak pikiran buruk berkecamuk di kepalanya.



“Kau tidak apa-apa sendirian? Sebaiknya kau di sini saja, bukankah kakimu juga sakit” kata Wizzarez dengan nada khawatir.



“Tidak apa-apa, aku masih bisa berjalan. Aku akan menghubungi seseorang, begitu aku tahu ini di mana. Kau tidak perlu khawatir” kata Monnaire sambil melangkah. “Diamlah di situ, jangan ke mana-mana, dan jangan terlalu banyak bergerak” kata Monnaire lagi.



Wizzarez mengangguk. “Cepatlah kembali” kata Wizzarez dengan wajah menahan nyeri.



Monnaire melangkah pelan, sambil terus menyenter sekelilingnya dengan ponsel. “Sial, penglihatanku terbatas” katanya menggerutu. Ia terus melangkah, sampai ia berhenti di sebuah ruangan yang cukup luas, mirip seperti sebuah lobi. Monnaire kemudian mengangkat ponselnya lebih tinggi, agar cahaya senternya bisa menjangkau ke atas.



“Semoga baterai ponselku bisa bertahan sedikit lebih lama” batin Monnaire.



Monnaire mengernyitkan dahinya, membaca sebuah tulisan yang sudah dipenuhi debu, terpampang di dinding ruangan. Kemudian, sekelilingnya kembali gelap. “Ah, sial. Ponselku mati” kata Monnaire sambil mengumpat. “Untunglah aku sudah sempat mengirim pesan” katanya lagi, dengan sedikit lega.



Monnaire bergegas menghampiri Wizzarez. Dengan meraba, ia berjalan perlahan, dan Monnaire berhasil kembali ke tempat semula, tempat di mana ia dan Wizzarez tadi berada.



“Wiz, aku tahu ini di mana, dan aku sudah mengirim pesan untuk....” kalimat Monnaire menggantung, karena ia tidak menemukan Wizzzarez di sana.



“Monnaire cepat lari” terdengar sebuah teriakan yang cukup kencang. Monnaire mengenali suara itu. Dengan bergegas ia menuju sumber suara.



“Wizzarez...” katanya sambil berusaha menemukan suara itu.



\*\*\*\*\*\*