
Part 5 – Aku Yang Baru (3)
Lauricie dan Threzz memasuki ruang jenazah dengan hati-hati, seperti seorang pencuri yang mengendap-endap agar perbuatannya tidak dicurigai. Monnaire menunggu kabar dengan gelisah. Ia mondar-mandir di lobi Shining Hotel, tempat ia mengalami kejadian mengenaskan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Monnaire berjibaku dengan rasa traumanya, karena tempat ini mengingatkannya pada peristiwa itu. Berulang kali ia meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak boleh kalah oleh keadaan. Pilihannya hanya ada dua, menghancurkan, atau dihancurkan.
“Bagaimana?” tanya Monnaire sambil menggigiti kukunya, hingga benar-benar terpotong pendek. Ia benar-benar sedang panik, dan hanya itu cara yang bisa sedikit menenangkannya.
“Kami berhasil membawa mayat itu. Aku dan Threzz sedang menuju ke sana” jawab Lauricie sambil membuka penutup wajahnya. Ia benar-benar baru bisa menghirup udara dengan bebas, setelah menyembunyikan wajahnya di balik penutup yang membuatnya merasa pengap.
Monnaire bernafas lega, berulang kali ia menghembuskan nafasnya. “Syukurlah” katanya.
“Aku juga sudah memastikan, bahwa tidak ada yang mengikuti kami” kata Lauricie lagi.
“Bagaimana dengan kamera pengintainya?” tanya Monnaire, seketika ia kembali merasa cemas, setelah sebelumnya mendapatkan kabar yang sedikit membuatnya tenang.
“Threzz sudah memutus jalur kabelnya, sehingga kameranya tidak berfungsi” jawab Lauricie lagi.
“Ah, syukurlah. Terima kasih, karena kalian sudah membantuku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian. Aku pasti akan membalasnya” kata Monnaire.
“Tidak usah sungkan. Bukankah, kita berjanji untuk saling membantu? Ini juga adalah bagian dari rencanaku, untuk menemukan bukti bahwa Liberty bukan pecandu seperti apa yang diberitakan. Aku juga ingin membersihkan nama anakku” kata Lauricie.
“Aku tutup teleponnya, sebentar lagi kami akan sampai” kata Lauricie, mengakhiri pembicaraannya.
******
Monnaire memandang wajah sosok yang terbujur kaku di depannya. Ada sedikit rasa bersalah menghampirinya. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain, karena ia harus bisa meyakinkan Estephania dan para kroninya, bahwa ia benar-benar sudah mati. Dengan begitu, ia bisa menjalankan rencana, untuk bergerilya melawan mereka.
“Kita akan taruh di mana mayat ini? Aku perlu membuat wajahnya hancur dengan luka sayatan” tanya Threzz.
Monnaire menggeleng, menahan Threzz untuk melakukan tindakannya. “Jatuhkan mayat itu dari atap gedung, pastikan wajahnya benar-benar membentur tanah. Dengan demikian, wajahnya akan benar-benar hancur” kata Monnaire.
“Kau yakin?” kata Threzz mencoba memastikan, jika saja apa yang didengarnya barusan adalah keliru.
“Buat mayat itu benar-benar mengalami keadaan yang sama denganku, maka dengan itu, Estephania tidak akan curiga. Estephania adalah seorang yang kritis, ia tidak mudah percaya sebelum bisa membuktikannya sendiri. Jika kau membuat luka sayatan, tentu akan menimbulkan pertanyaan, karena mereka sama sekali tidak melakukan apapun pada wajahku” kata Monnaire sambil mendekat ke arah sosok mayat di hadapannya. Lauricie sudah mengganti pakaian yang dipakai sosok mayat itu dengan pakaian yang dipakai oleh Monnaire, saat Lauricie menemukannya di rumah sakit. Secara fisik, sosok mayat itu tidak jauh berbeda dengan Monnaire. Rencananya benar-benar sempurna.
Monnaire menatap wajah itu dalam-dalam. “Maafkan aku. Jika suatu saat nanti aku mati, aku akan meminta Tuhan untuk mempertemukanku denganmu. Aku akan membayar semua perbuatanku padamu” kata Monnaire sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
“Dooorrrrr” terdengar suara letusan tembakan yang memecah keheningan. Monnaire menembakan peluru di kaki mayat itu, tepat seperti tembakan yang ia alami sebelumnya.
“Dengan ini, Estephania akan yakin, bahwa mayat ini, benar-benar aku” kata Monnaire lagi. Ia terpaksa melakukan hal di luar nalar, yang selama ini tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya. Begitulah, terkadang hidup harus memaksa seseorang untuk menjadi kejam.
******
Monnaire, Lauricie dan Threzz segera turun ke bawah, memastikan sosok “Monnaire palsu” itu benar-benar menjadi seperti yang mereka inginkan. Karena mayat itu sudah cukup lama disimpan di dalam peti jenazah, tidak dapat dibedakan luka-luka yang tercipta adalah luka lama atau baru. Kulit yang semakin menyusut, juga menyebabkan permukaannya menjadi lebih mudah rusak dan hancur. Monnaire membalikan tubuh itu ke keadaan semula, terkelungkup menghadap tanah. Lalu kemudian, ia membuka sarung tangannya, dan meminta Threzz serta Lauricie melakukan hal yang sama. Monnaire mengumpulkannya ke dalam sebuah kantong, dan membakarnya hingga tidak bersisa. Tidak boleh ada jejak yang ditinggalkan sedikitpun.
“Biarkan mayat ini di sini, sampai ada yang menemukannya” kata Monnaire.
“Bukankah tempat ini jarang dilalui oleh orang?” tanya Lauricie.
“Aroma busuk pasti akan seketika menyebar, dan mengundang orang untuk mencari tahu. Tidak akan lama, pasti akan ada yang menemukan mayat ini” kata Monnaire.
“Ganti pakaian kalian, kemudian bakarlah, sama seperti yang aku lakukan pada sarung tangan kita tadi. Kita harus benar-benar berhati-hati, jangan sampai kita meninggalkan jejak. Kalau tidak, maka habislah kita. Kita akan kalah, sebelum perang dimulai” lanjut Monnaire lagi.
Threzz dan Lauricie mengangguk paham. Kemudian, mereka bertiga melangkah meninggalkan sosok “Monnaire palsu”. Monnaire berharap, kali ini Tuhan berpihak padanya, meloloskan rencananya agar bisa berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan.
******
Pagi buta, bahkan suara binatang malam masih terdengar samar-samar. Berulang kali ponsel Estephania berdering. Ada banyak panggilan tidak terjawab, namun ia merasa sangat lelah. Pekerjaan menjadi Presdir, memang tidak semudah yang dibayangkan. Ponsel berdering sekali lagi, kali ini mampu membuat Estephania sedikit mengerjapkan matanya. Dengan setengah sadar, ia bangkit perlahan dari tidurnya, dan bersandar pada ujung tempat tidurnya.
“Siapa yang menelepon sepagi ini?” katanya sambil menguap.
“Duvatte, Wizzarezz, dan satu nomor tidak dikenal. Sepertinya ada masalah serius” kata Estephania sambil mencoba menelepon balik Duvatte. Ia memilih menelepon Duvatte terlebih dahulu, karena Duvatte-lah yang mengetahui dan terlibat dalam rencananya sejak awal.
“Kenapa kau baru mengangkat teleponmu. Aku sejak tadi panik” kata Duvatte dengan sedikit kesal.
“Aku lelah sekali, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kau tahu, sekarang jabatanku adalah Presdir” jawab Estephania, tak kalah kesal.
“Sudahlah, jangan dulu berdebat. Ada masalah penting” kata Duvatte sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.
“Ada apa?” tanya Estephania penasaran.
“Polisi tadi menghubungiku, mereka juga menghubungimu, tetapi kau tidak menjawab...” Duvatte menghentikan kalimatnya sejenak.
“....mereka bilang, mereka menemukan mayat. Besar kemungkinan, itu adalah Monnaire” kata Duvatte.
Seketika Estephania terkejut, ia hampir saja menjatuhkan ponsel yang ada di genggamannya.
“Ini semua salahmu. Aku sudah bilang, kubur mayat Monnaire di bukit belakang Shining Hotel, seperti rencanaku sebelumnya. Kenapa kau bertindak dengan inisiatifmu sendiri?” kata Estephania sambil berteriak.
Tiba-tiba, Duvatte juga merasa menyesali perbuatannya. Kenapa ia tidak melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Estephania? Kondisi Monnaire yang terakhir kali ia lihat, benar-benar membuatnya iba, sehingga ia tidak tega untuk mengubur Monnaire. Sebenarnya, Duvatte sendiripun tidak bisa memastikan apakah Monnaire saat itu benar-benar mati. Ia hanya seketika teringat pada kebaikan Monnaire padanya selama ini, sehingga ia seolah memberikan kesempatan hidup kepada Monnaire.
“Hei, jangan diam saja. Pikirkan rencana selanjutnya. Apa yang harus kita katakan kepada polisi, atau kepada nenekku?” bentak Estephania.
“Tenanglah” kata Duvatte. “Kau bisa membayar penyidik, dengan menutup kasusnya, menjadi kasus bunuh diri. Bukankah kau bilang, nenekmu tidak terlalu fokus dengan kasus ini, karena keadaan depresi ibumu yang semakin memburuk?” kata Duvatte.
“Idemu, bisa aku pertimbangkan. Lalu, kau di mana? Kita harus ke kantor polisi sekarang. Aku juga akan mengajak nenek, agar dia tidak curiga” kata Estephania, berusaha menutupi rasa paniknya.
“Aku masih di rumah, kita akan bertemu di kantor polisi” kata Duvatte sambil menutup ponselnya.
******
“I... Ini, benar-benar sepatu milik Monnaire, karena aku yang membelikannya. Ini adalah pesanan khusus, jadi tidak ada yang memiliki sepatu ini selain Monnaire. I... Ini, benar-benar Monnaire” kata Marina sambil menangis.
“Nenek, tenanglah. Kita belum bisa memastikan kalau itu benar-benar Monnaire” kata Estephania, sambil menatap sepatu yang hanya terpasang sebelah. “Aku dulu sangat menginginkan sepatu itu, tetapi nenek tidak memberikannya padaku. Alih-alih bersikap adil, nenek justru membelikannya sepatu lain, meski dari merek terkenal” batin Estephania.
Threzz dan Lauricie berdiri di samping peti jenazah. Lauricie sesekali memastikan ponselnya dapat menangkap semua yang dibicarakan oleh orang-orang di ruangan itu. Sementara di tempat lain, Monnaire sedang menyimak dengan seksama pembicaraan yang disambungkan dari ponsel Lauricie.
“Pak, apakah kita bisa melakukan tes DNA pada mayat ini, untuk memastikan bahwa mayat ini benar-benar Monnaire?” kata Estephania dengan tiba-tiba.
Threzz dan Lauricie terperangah, begitu pula dengan Monnaire yang terkejut dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Mereka tidak pernah memikirkan sejauh itu. Hal kecil yang sempat mereka lupakan dalam rencana mereka, padahal itu cukup penting. Tubuh Monnaire seketika gemetar, sambungan telepon langsung terputus. Rencananya benar-benar akan gagal, bahkan sebelum semuanya benar-benar dimulai.
******
“Nenek tenanglah...” kata Estephania berusaha menenangkan Marina yang terlihat lesu.
“Bagaimana dengan ibumu, jika dia sampai mendengar kabar ini? Kondisinya pasti akan semakin memburuk” kata Marina sambil mengusap air matanya.
“Kita akan segera mendapatkan kabarnya. Aku meminta agar hasilnya bisa selesai dalam satu hari, sesuai apa yang Nenek minta” kata Estephania lagi.
******
“Bagaimana?” tanya Threzz kepada Lauricie.
Lauricie menggeleng pasrah. “Pengamanannya sangat ketat. Tidak ada yang bisa masuk, bahkan keluarganya sekalipun. Hancur sudah rencana kita” Lauricie menghempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Ia merasa apa yang sudah dilakukan selama ini sia-sia. Semuanya gagal, meski ia sudah berusaha untuk mengambil alih pekerjaan petugas laboratorium. Namun, rencananya hanya berakhir sampai di depan pintu, karena tidak ada yang diizinkan masuk, selain tim khusus yang diperintahkan oleh Marina, nenek Monnaire.
“Kita akan mendengar kabarnya besok, karena nenek Monnaire meminta hasilnya untuk bisa keluar dalam waktu satu hari. Mari kita pulang, beritahu ini kepada Monnaire. Bagaimanapun, dia harus tahu keadaan ini, meski bukan ini yang dia mau” kata Lauricie.
******
Hari yang dinanti tiba. Entah kenapa Estephania yakin, bahwa mayat itu bukan Monnaire, sehingga ia mengajukan untuk dilakukan test DNA pada mayat yang diduga Monnaire itu.
“Hasilnya sudah ada?” tanya Marina sambil mendekati Estephania yang menggengam sebuah amplop di tangannya.
“Ya, aku menunggu nenek, untuk membukanya” kata Estephania.
Marina mengernyitkan keningnya, melihat karangan bunga yang ada di sudut ruangan. “Bagaimana mungkin ada ucapan belasungkawa untuk Monnaire, sedangkan belum bisa dipastikan, apakah Monnaire benar-benar sudah meninggal?”
“Itu dari teman Monnaire. Kabar seperti ini, pasti bisa dengan mudah menyebar, karena Monnaire bukan dari kalangan biasa, meski sebenarnya Monnaire hanya anak adopsi yang diambil dari panti asuhan” kata Estephania.
“Jaga bicaramu, Estephania! Kau tidak perlu menekankan bahwa Monnaire adalah anak adopsi” bentak Marina.
Estephania seketika terkejut. “Maafkan aku, Nek” katanya. “Apa yang salah dengan kata-kataku? Memang benar Monnaire adalah anak adopsi. Kenapa seolah Nenek tidak terima?” batin Estephania.
“Bukalah, aku ingin segera tahu hasilnya” kata Marina lagi. Estephania mengangguk, dan segera membuka amplop itu. Mereka saling tatap, ketika membaca hasilnya.
“Hasilnya positif” kata Estephania dan Marina berbarengan.
Threzz, Lauricie dan Monnaire terperanjat tidak percaya. Bagaimana mungkin hasilnya bisa positif?
“Mom, kau dengar itu?” kata Monnaire.
Lauricie mengangguk.
“Threzz, aku tidak salah dengar?” kata Monnaire berusaha memastikan sekali lagi. Threzz mengiyakan, memberikan keyakinan kepada Monnaire bahwa ia benar-benar tidak salah dengar.
******
Beberapa saat sebelumnya.
“Pak, bunganya sudah saya antarkan” kata suara di seberang sana.
“Baiklah, apakah kau sudah pastikan, bahwa alat sadapnya berfungsi dengan benar?” tanya Threzz.
“Saya sudah pastikan, dan saya juga meletakkannya di tempat yang sulit terlihat” jawab suara di seberang sana. “Anda sudah bisa mendengarkan pembicaraannya mulai sekarang” katanya lagi.
“Baiklah, terima kasih. Aku akan menambahkan tip untukmu. Tunggulah, akan segera masuk ke rekeningmu” kata Threzz.
“Baiklah, terima kasih, Pak” kata suara di seberang sana, mengakhiri pembicaraannya.
******
Monnaire bersorak girang, karena sekali lagi, Tuhan mendengarkan doanya. Entah bagaimana bisa, hasil tes itu menunjukan hasil positif. Menurut Monnaire ini adalah sebuah keajaiban. Berkali-kali Monnaire memeluk Lauricie, karena rasa gembiranya yang amat sangat. Meski ikut bahagia, Threzz masih menyimpan kecurigaan, pada hasil tes DNA itu.
“Pasti ada orang di balik ini semua” pikir Threzz dalam hati.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk. Kegembiraan itu terhenti sejenak. Rose, asisten rumah tangga Lauricie, kemudian mengantarkan seseorang untuk menemui mereka.
Orang itu menatap dengan seksama, yang kemudian di balas dengan tatapan penuh tanya oleh Monnaire.
“Siapa kalian sebenarnya?” kata orang itu sambil terus menatap ketiga orang di depannya dengan tatapan tajam.
“C...Carlo...” kata Monnaire, tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.
******