
Special Part
Monnaire dan Carlo duduk di samping jendela sebuah kafe, sambil menikmati secangkir kopi vanila hangat. Mereka terdiam cukup lama. Carlo sengaja tidak membuka suara sampai Monnaire memulai pembicaraan. Uap kopi perlahan menyeruak, menebarkan aroma wangi. Carlo perlahan menyeruput kopi dari cangkir yang kini ada di tangannya.
“Minumlah kopimu dulu selagi hangat” kata Carlo mencoba mencairkan suasana.
Monnaire masih terdiam, tetapi kemudian ia mulai membuka suara.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud gegabah dan membuatmu marah” kata Monnaire dengan raut wajah menyesal.
Carlo kembali meletakan cangkirnya ke meja. Ia menghela nafas panjang.
“Aku sama sekali tidak marah. Aku mengerti, apa yang kau lakukan, semata-mata karena rasa sayangmu kepada keluargamu, terutama kepada ibumu. Aku hanya ingin kau lebih berhati-hati, karena aku tidak ingin rencana ini terbongkar, sebelum kita sempat melakukan apapun” kata Carlo.
“Aku hanya khawatir pada keadaan Ibu dan Nenek. Maksud kedatanganku kemarin, hanya ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Tetapi, aku bertindak spontan ketika melihat ibuku terjatuh dari kursi roda. Aku tidak memikirkan apapun selain keselamatan ibuku saat itu” kata Monnaire sambil tetap menyembunyikan wajahnya di balik topi hitam.
“Ya, aku mengerti. Tetapi lain kali, berhati-hatilah. Kejadian tadi, pasti sudah sedikit menimbulkan kecurigaan bagi Estephania” kata Carlo.
“Minggu depan adalah hari peluncuran produk ponsel terbaru keluaran Green Future. Saat itu, kita akan mulai bergerak. Sampai saat itu tiba, kita tetap harus berhati-hati ” lanjut Carlo lagi.
Monnaire mengangguk pelan. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya. Ia sama sekali tidak bermaksud bertindak ceroboh. Ia tahu, tindakannya pasti akan menimbulkan kecurigaan bagi Estephania, seperti yang dikatakan oleh Carlo. Maka kali ini, ia harus menyusun langkah yang tepat, untuk menebus kesalahannya.
******
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Monnaire duduk di kursi sebuah club malam. Ia masih mengenakan topi hitam, kali ini ditambah dengan hoodie dan kacamata, untuk menyembunyikan wajahnya. Belum seharusnya ia muncul sebagai Liberty, karena yang diketahui oleh publik, Liberty adalah seorang model ternama yang saat ini sedang terbaring koma karena kecelakaan lalu lintas, akibat mengemudi setelah mengonsumsi narkoba.
Mata Monnaire menelisik ke sekitarnya, seperti sedang menanti kedatangan seseorang. Sesekali ia mengecek ponselnya. Hiruk pikuk dan suara musik yang berdentum, membuat Monnaire yakin, tidak satupun ada orang yang mengenalinya.
“Apakah dia mengabaikan pesanku? Atau dia mencoba mempermainkanku?” kata Monnaire. Dengan langkah terburu-buru, ia menuju toilet, dan menghubungi seseorang.
“Lihat saja, setelah aku mengirim foto ini, dia pasti akan segera menemuiku, tanpa diminta” kata Monnaire dengan senyum licik.
Benar saja, selang beberapa detik, ponsel Monnaire langsung berdering.
“Akhirnya kau menghubungiku. Rupanya karirmu sangat penting, ya?” kata Monnaire.
“Jangan banyak bicara, di mana aku harus menemuimu?” kata suara di seberang sana.
“Kenapa kau sangat ketakutan? Aku menghubungimu sejak tiga hari yang lalu, tetapi kau tidak menggubrisnya. Saat aku mengirimkan fotomu dengan aktor pendatang baru itu, ah, siapa namanya? Oh iya, Pierre de Lucas, kau langsung menghubungiku. Rupanya kau benar-benar takut akan dibuang oleh produser kesayanganmu itu, ya? Apakah karirmu akan seketika hancur, ketika kau tidak lagi menjadi simpanannya?” kata Monnaire dengan nada mengejek, sekaligus mengancam.
“Tidak usah banyak bicara. Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya suara di seberang sana.
“Hei, jangan galak begitu, Nona. Aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu. Temui aku di 98’s Club. Aku minta kau datang secepatnya, karena jika kau terlambat sedetik saja, beritamu dengan aktor pendatang baru itu, akan langsung muncul sebagai berita utama” ancam Monnaire sambil menutup pembicaraan.
Monnaire menarik nafas panjang. Ia seperti merasa tercekat sejak tadi. Baru kali ini ia mengancam seseorang, sama sekali berbeda dengan sikapnya dulu yang dinilai sebegai anak penurut dan selalu berusaha menjauhi konflik. Tetapi kali ini, ia sudah bukan Monnaire lagi, karena Monnaire yang dulu, sudah benar-benar mati.
******
“Jadi apa yang kau inginkan sebenarnya?” Bernadette de Louis, orang yang sejak tadi ditunggu oleh Monnaire, kini sudah berada tepat dihadapannya dengan mata memerah menahan rasa kesal dan amarah. Entah karena takut skandalnya akan terbongkar, atau karena takut karir yang sudah dibangunnya secara susah payah, akan hancur begitu saja. Saat ini, masa depan dan nasibnya, ada di tangan Monnaire.
Monnaire tersenyum kecil. “Langsung ke intinya saja, aku hanya ingin kau mundur sebagai brand ambassador Green Future” jawab Monnaire.
“Apa maksudmu? Kau tidak bisa...”
“Tentu saja bisa, dan harus bisa. Apa kau ingin berita perselingkuhanmu dengan produsermu tersebar? Publik akan tahu, bahwa selama ini, itu semua bukan hanya sekedar rumor. Kau lihat ini...” kata Monnaire sambil menyerahkan beberapa lembar foto. Bernadette langsung mengambilnya. Tangannya gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa, rumor yang sudah tenggelam selama ini, tiba-tiba bisa muncul kembali, dan lebih parahnya, disertai bukti-bukti kuat yang siap menghancurkan namanya di mata publik.
“Atau, kau ingin aku mengirimkan foto kencanmu dengan Pierre de Lucas kepada produsermu? Kau tinggal pilih yang mana. Keduanya, akan sama-sama membuatmu hancur, kecuali kau mundur sebagai brand ambassador, seperti keinginanku. Bukankah kau sudah berjanji kepada produser kesayanganmu itu, untuk hanya memberikan dirimu seutuhnya kepadanya? Tidak bisa dibayangkan betapa marahnya dia, saat dia tahu bahwa kau mengencani aktor baru. Kuakui, aktor baru ini cukup tampan, wajar saja jika kau terpesona dalam rayuannya” ancam Monnaire, sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. Matanya menatap tajam ke arah Bernadette yang tertunduk, seperti seekor singa yang siap memangsa buruannya.
Bernadette terdiam, ia sadar, ia tidak punya pilihan lain, selain mengikuti keinginan Monnaire.
“Ini bukan permintaan, ini perintah” kata Monnaire sekali lagi. Ia menyerahkan secarik kertas dan pena, kemudian menyodorkannya ke hadapan Bernadette yang masih tertunduk.
Bernadette kemudian mengambil kertas itu, membaca isinya, kemudian menandatanganinya. Ia bersedia mundur sebagai brand ambassador Green Future.
“Bagus” kata Monnaire sambil tersenyum lebar.
******
“Jadi, Anda mau saya melakukan apa, Nona?” tanya seorang pemuda kepada Monnaire dengan wajah penuh ketakutan.
“Kau tidak perlu merasa takut, selama kau menuruti perintahku, aku akan tetap melindungimu. Aku tahu, kau sudah bersusah payah untuk mencapai impianmu ini, Pierre” kata Monnaire.
“Ya, Nona. Maka dari itu, tolong, jangan hancurkan impian saya” mohon seorang pemuda yang bernama Pierre itu.
“Aku tidak akan menghancurkan impianmu. Justru aku akan membantumu untuk semakin bersinar sebagai aktor pendatang baru, jika kau mau melakukan apa yang kuminta”
“Sa... Saya harus melakukan apa?” tanya Pierre terbata.
“Dekati seorang model yang bernama Bernadette, aku kan mengatur supaya kalian bisa bertemu dalam sebuah project pemotretan. Buat dia merasa nyaman, jika perlu, buat dia jatuh cinta padamu, hingga dia bisa dengan mudah menceritakan apapun padamu”
“Hanya itu?”
“Ya, hanya itu. Pekerjaan yang mudah, bukan? Aku tahu latar belakangmu sebagai seorang pria flamboyan yang banyak digandrungi gadis-gadis. Jadi, urusan seperti ini, pasti sudah menjadi makanan sehari-harimu” kata Monnaire.
Tiba-tiba ponsel Pierre berdering. Pembicaraan berlangsung singkat, namun bisa membuat wajahnya seketika menjadi cerah, dan senyum sumringah, kini terpancar di bibirnya.
“Baru saja kau ditelepon untuk menjadi peran utama, bukan?” tanya Monnaire.
“Ya, benar, Nona. Darimana Anda bisa tahu?” tanya Pierre penasaran.
“Itu hanya hadiah kecil dariku. Kau akan mendapatkan hadiah lainnya, saat kau bisa menyelesaikan misimu” kata Monnaire lagi, sambil tersenyum dengan alis terangkat.
******