Parhelion

Parhelion
Part 6 - Parhelion



Part 6 - Parhelion


Estephania terlihat mondar mandir di ruang pertemuan. Kedua tangannya terlipat ke depan. Sesekali ia terlihat menghubungi seseorang dengan ponselnya. Lalu, kemudian, ia terlihat seperti mengumpat dan marah karena tidak ada jawaban. Sepertinya, ia sedang menunggu, entah sesuatu atau seseorang, namun yang ditunggunya tidak kunjung tiba, seperti yang diharapkannya.


Tiba-tiba, seseorang menghampirinya dengan tergopoh, sambil membisikkan sesuatu kepada Estephania. Estephania terlihat melotot, wajahnya memerah.


"Bagaimana bisa dia membatalkan kontrak secara sepihak? Seenaknya saja!" Kata Estephania dengan nada keras. Emosinya seketika membuncah.


"Bernadette telah mengembalikan uangnya beserta denda pembatalan kontrak" Lanjut orang itu lagi.


"Lalu bagaimana dengan kita? Sebentar lagi acara peluncuran produk akan dimulai, bagaimana jadinya jika brand ambassador yang sudah kita tunjuk, tiba-tiba mundur dari kerja sama yang sudah disepakati" Estephania terlihat menggigit bibirnya, tanpa dikomando, ia langsung keluar dari ruangan, dan membanting pintu dengan keras. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya.


******


"Jadi semua itu ulahmu?" Tanya Carlo sambil tersenyum menatap Monnaire. Ia benar-benar tidak menyangka, Monnaire punya ide segila itu.


"Jika aku hanya mengancamnya dengan skandal perselingkuhannya dengan produser itu, dia tidak akan merasa tersudut. Dia pernah menghadapi keadaan itu, dan semuanya selesai dengan sekejap mata. Ketika aku mengancamnya dengan ancaman lain, dia tidak hanya merasa tersudut, tetapi juga dia akan merasa ditekan dari segala sisi. Tidak ada pilihan yang menguntungkan baginya, selain mengikuti perintahku. Baik berita mengenai skandalnya, ataupun hubungannya dengan aktor pendatang baru itu, sama-sama akan berpengaruh buruk bagi karirnya" Kata Monnaire panjang lebar.


Carlo dan Monnaire terdiam sejenak. Carlo mengambil rokok dari sakunya. Kemudian, ia terlihat sibuk mencari sesuatu.


Monnaire paham akan situasi ini. Dengan sigap, ia menyalakan korek gas yang kini ada di tangannya, dan menyalakan rokok yang ada di tangan Carlo.


Tanpa ada aba-aba, Monnaire turut menyalakan rokok, dan menikmati kepulan asap yang seketika menyeruak, membumbung tinggi, kemudian keluar melalui celah jendela.


"Kau merokok?" Tanya Carlo dengan tatapan sedikit heran.


"Baru beberapa hari ini. Aku merasa cukup tertekan dengan masalah akhir-akhir ini. Orang-orang bilang, nikotin bisa meredakan stres" Kata Monnaire, sambil terus menikmati aroma tembakau di tangannya. Ia baru sadar, bahwa sejak tadi Carlo memperhatikannya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yang aneh?" Tanya Monnaire.


Carlo menggeleng, sambil tersenyum kecil. "Aku hanya melihat dirimu dari sisi yang berbeda. Selama ini, aku melihatmu sebagai gadis polos dan patuh"


"Jadi, selama ini kau mengamatiku?" Kata Monnaire sambil tersenyum.


"Bagaimanapun, kita adalah keluarga. Sekali dua kali, pasti ada waktunya aku melihatmu" Jawab Carlo.


"Ah, begitu rupanya. Aku pikir, kau sudah mulai tertarik padaku" Kata Monnaire sambil bercanda.


Carlo tersenyum simpul. "Yang benar saja, kau bukan seleraku" Carlo balas bercanda.


Mereka berdua tertawa.


"Sebentar lagi, Estephania pasti akan masuk ke ruangan ini. Sudah menjadi kebiasaannya, ketika dia sedang kesal atau marah, dia akan masuk ke ruang baca. Ruangan ini dulu dibuat oleh Kakek, tempat Kakek biasa memantau keadaan kantor. Lihat, di sana ada monitor untuk memantau kamera pengintai" Kata Carlo sambil menunjuk ke arah sudut ruangan.


"Kau tahu banyak tentang kantor ini, juga tentang Estephania" Kata Monnaire.


"Kalau tentang Estephania, aku mencari tahu baru-baru ini. Kebiasaannya, dan segala sesuatunya. Semuanya, untuk memudahkan kita menjalankan rencana" Kata Carlo sambil mematikan rokoknya yang hanya menyisakan puntung.


"Ngomong-ngomong, aku belum mengucapkan terima kasih padamu" Kata Monnaire.


"Terima kasih? Untuk apa?" Tanya Carlo sedikit heran.


Carlo menghela nafas panjang. "Tidak usah sungkan. Aku melakukannya karena aku berharap bantuanmu juga. Sebagai anak yang tidak diinginkan keberadaannya, aku ingin menjadi lebih berguna dan terlihat membanggakan di mata ayahku" Jawab Carlo lirih.


Monnaire menatap Carlo dalam. Pasti berat bagi Carlo menjalankan hidup sebagai anak yang tidak diinginkan selama ini.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak akan bertanggungjawab jika sampai kau jatuh cinta padaku" Canda Carlo.


"Yang benar saja. Kau bukan seleraku" Kata Monnaire, membalas balik perkataan Carlo yang sebelumnya.


Tidak berapa lama, Estephania masuk ke ruangan tempat Monnaire dan Carlo berada. Terdengar suara hentakan kaki yang terburu-buru, disertai dengan suara pintu yang dibanting paksa.


Monnaire dan Carlo seketika menoleh. Tebakan Carlo benar, Estephania datang dalam keadaan marah. Pasti karena Bernadette tiba-tiba membatalkan kontraknya sebagai brand ambassador. Rencana Monnaire berhasil, artinya, ia sudah maju satu langkah.


"Kenapa kau tampak marah? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Carlo dengan nada sedikit ramah.


"Bukan urusanmu. Lagipula, sedang apa kau di sini? Di sini bukan tempatmu lagi" Jawab Estephania ketus.


"Haaaah, kenapa Nona De Frank yang satu ini sangat angkuh, ya? Aku ke sini untuk mengambil buku-bukuku yang masih belum sempat aku bawa. Kau lihat ini?" Kata Carlo sambil menunjukkan beberapa tumpuk buku dihadapannya, yang bertuliskan nama Carlo.


Estephania melirik sesaat, meski dengan tatapan sedikit malas.


"Cepatlah keluar, jika urusanmu sudah beres. Kau sudah tidak memiliki hak apapun atas Green Future" Kata Estephania dengan nada mengusir.


"Sepertinya kau sedang ada masalah. Bukankah hari ini adalah acara peluncuran produk ponsel terbaru Green Future?" Pancing Carlo, meski ia sedikit tidak yakin, Estephania akan menggubrisnya.


"Bernadette si ****** itu, tiba-tiba membatalkan kontrak tepat di hari peluncuran" Kata Estephania dengan tanpa sadar. Emosi dan amarah yang berkecamuk di pikirannya, membuat tanpa sadar, langsung mencetuskan cerita yang dinanti oleh Carlo dan Monnaire.


"Tetapi, bukan berarti kau membatalkan acara peluncurannya kan? Kau akan dinilai tidak kompeten, jika acara hari ini sampai batal. Bukankah inilah saatnya kau menunjukkan potensimu sebagai presdir?" Pancing Carlo sekali lagi. Estephania bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah menerima kekalahan. Kalimat yang berisi sedikit tantangan yang dilontarkan Carlo barusan, tentu saja akan semakin menyulut emosi Estephania, dan hal itulah yang semakin dimanfaatkan oleh Carlo.


Estephania terlihat mengerutkan keningnya. Matanya melotot menatap Carlo.


"Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Begini saja, bagaimana kalau Liberty yang menggantikan Bernadette untuk menjadi brand ambassador?" Kata Carlo.


"Memangnya semudah itu membuat kontrak hanya dalam beberapa menit? Acara peluncuran akan berlangsung sebentar lagi" Kata Estephania.


"Kalian bisa membuat kontrak selesai acara. Saat ini, biarkan Liberty mempelajari tentang produkmu secara garis besar. Lagipula, bukankah dulu Liberty juga pernah membintangi iklan ponsel dari Green Future? Jadi, aku rasa, itu bukan hal yang sulit baginya" Kata Carlo dengan sedikit penekanan, membuat Estephania merasa ada benarnya mengikuti saran dari Carlo.


"Ah, aku lupa meminta persetujuan Liberty. Maaf, aku tidak bermaksud lancang" Kata Carlo lagi.


"Aku tidak keberatan. Lagipula, benar yang dikatakan Carlo, aku pernah membintangi iklan produk ponsel Green Future. Jika Nona Estephania bersedia, maka aku akan menjalankannya dengan senang hati" Jawab Monnaire.


Estephania menarik nafas. Raut wajahnya lebih tenang daripada sebelumnya.


"Baiklah. Aku juga tidak punya pilihan lain. Aku akan meminta sekretarisku memberikan resume produk kepadamu, pelajarilah. Paling tidak, kau memahami garis besar produk kami, beserta fitur-fitur dan kelebihannya. Aku keluar dulu, aku harus segera memberikan pidato sambutan" Kata Estephania sambil berdiri menuju pintu keluar. Samar-samar dengar suara hentakan sepatunya, yang kemudian perlahan menghilang.


Carlo dan Monnaire saling tatap. Rencana mereka berhasil.


"Kau sudah masuk dalam perangkap yang kau buat sendiri, Estephania. Sebentar lagi, kau akan mati terbunuh, sama seperti yang kau lakukan padaku. Hanya saja, justru kau akan mati dibunuh oleh ekspetasimu sendiri. Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah mendapatkan kekuasaan yang kau inginkan. Kau tidak akan pernah menjadi matahari seperti yang kau bayangkan. Kau hanyalah parhelion, sampai kapanpun kau hanya akan menjadi cahaya semu yang akan menghilang, cepat atau lambat " Kata Monnaire dalam hati.


******