Parhelion

Parhelion
Part 7 - Iblis Yang Sebenarnya (2)



Part 7 - Iblis Yang Sebenarnya (2)


Monnaire menahan amarahnya yang semakin menjadi-jadi. Bukan perihal dendamnya saja, tetapi karena Estephania menganggap remeh harga sebuah nyawa. Hingga keadaan yang menimpa Liberty, hanya dianggap sebagai hal yang biasa olehnya. Benar-benar di luar dugaan, mengingat selama ini, Monnaire selalu menganggap Estephania sebagai seorang kakak yang baik, dan selalu menjadi panutannya dalam sikap dan kesehariannya. Estephania yang selama ini dikenal oleh Monnaire, adalah sosok wanita yang cerdas, pandai bergaul, dan penyayang. Estephania juga siap membela Monnaire ketika ia sedang dihadapkan pada suatu masalah. Tetapi ternyata, semua hanyalah sebuah topeng yang digunakan dalam keadaan terdesak, untuk menutupi maksud yang sebenarnya, dan mencapai tujuannya untuk menjadi seorang penguasa dalam keluarga De Frank.


"Jadi kau sudah berhasil masuk ke Green Future?" Tanya Lauricie sambil meletakkan secangkir teh lemon dan sepotong cake manis.


"Ya, tetapi, tidak cukup hanya itu untuk bisa menghancurkan Estephania dan mengambil kembali apa yang seharusnya. Aku harus memikirkan cara lain" Kata Monnaire sambil meletakkan jari ke keningnya. Kepalanya sedikit pusing. Ia juga kurang tidur selama beberapa hari ini, karena terus memikirkan strategi untuk membuat Estephania menyerah. Tentu saja ini adalah hal yang sulit, Estephania bukanlah seseorang yang mudah menyerah. Ketika ia terjatuh, maka ia akan berlari seribu langkah, untuk mengejar ketertinggalannya. Ya, Estephania memang setangguh itu. Bahkan ia bisa melakukan apa saja, untuk mencapai apa yang diinginkannya.


"Aku tahu apa yang selama ini mengganggu pikiranmu. Tenanglah, jika kau bisa berpikir dengan tenang, maka kau akan menemukan solusinya. Minumlah temu selagi hangat" Kata Lauricie.


Monnaire mengangguk, kemudian meminum beberapa teguk teh yang ada di hadapannya. Pikirannya belum tenang juga. Dendam dan amarah, bercampur menjadi satu, ditambah lagi, saat ini ia harus memikirkan cara untuk mengambil kembali Green Future yang diambil secara paksa oleh Estephania. Langkahnya tidak boleh berhenti hanya dengan ia kembali masuk dalam Green Future. Ia harus memikirkan upaya selanjutnya yang memang tidak mudah.


******


Malam berganti pagi, rasa kantuk belum juga menghampiri Monnaire. Matanya belum bisa terpejam, meski ia sudah berusaha. Ia terus berjibaku dengan pikirannya sendiri. Perlahan ia menoleh ke arah jam dinding, pukul lima pagi. Ia kemudian mengambil ponselnya.


"Carlo, jika kau sudah bangun, tolong hubungi aku" Kata Monnaire sambil mengetik sebuah pesan singkat di ponselnya. Ia tidak berharap lebih pesan itu segera dijawab, karena masih pagi sekali, mungkin saja Carlo masih tidur, atau sedang melakukan aktivitas lainnya.


Tiba-tiba ponsel Monnaire berbunyi. Carlo membalas pesannya.


"Ada apa? Apakah penting?" Bunyi pesan itu.


Monnaire kembali membalas pesan itu. "Jika siang ini kau tidak sibuk, bisakah kita bertemu di kedai kopi yang ada di seberang Green Future?"


Tanpa berlama-lama, pesan itu kembali terbalas.


"Baiklah" Bunyi pesan itu lagi, singkat.


******


Carlo duduk di sebuah kedai kopi sambil menatap ke arah jendela. Dari sana ia bisa dengan leluasa mengamati setiap orang yang berlalu lalang. Sesekali ia melihat ke arah pintu masuk, untuk memastikan bahwa orang yang ditunggunya sudah datang. Cuaca agak lumayan terik, meski tidak terlalu menyengat. Carlo perlahan memalingkan wajahnya dari sinar matahari yang menyentuh kulitnya dari balik kaca jendela. Cukup menyilaukan, hingga sesekali ia memicingkan matanya.


"Sudah mulai musim panas rupanya" Kata Carlo sambil menyeruput americano dingin dengan ekstra es batu di hadapannya. Seketika dahaganya menghilang, dan rasa panas yang dirasakannya mulai berkurang. Berkali-kali Carlo memastikan ke arah pintu, sambil sesekali ia melihat arlojinya, namun orang yang dinantinya masih belum kunjung datang.


Pintu kedai kembali terbuka, bunyi lonceng tanda kedatangan pengunjung, membuat Carlo kembali menoleh.


"Ah, kau sudah sampai rupanya. Aku tidak terlambat, kan?" Tanya Monnaire. Ia melirik ke arah jam dinding. Pukul dua siang, ia datang tepat waktu.


"Kau sudah cukup lama menunggu, ya?" Tanya Monnaire.


Carlo menggeleng. "Aku baru saja sampai" Katanya berbohong, tetapi gelas americano yang isinya sudah tinggal setengah itu, tidak dapat menutupi kebohongan Carlo.


"Ya, ini cukup penting. Sebenarnya aku juga mengajak Nyonya Lauricie dan Threzz untuk membahas masalah ini. Tetapi, mereka tidak bisa ikut, karena ada jadwal operasi pasien" Kata Monnaire.


"Bolehkah aku langsung bicara?" Tanya Monnaire.


"Silahkan" Kata Carlo.


"Sebelumnya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Ini masalah pembukuan keuangan Green Future. Apakah selama kau menjadi direktur di sana, kau pernah menemukan hal yang mencurigakan?" Tanya Monnaire.


"Sebenarnya, semuanya berjalan baik-baik saja. Tetapi, memang keadaan Green Future saat itu sedang memburuk karena hutang. Ditambah lagi, banyak investor yang kecewa, karena tidak mendapatkan pembayaran dividen seperti yang dijanjikan" Jawab Carlo.


"Itu dia" Monnaire menjentikkan jarinya. "Aku pernah menemukan sebuah file yang terkunci. Aku tidak bisa membukanya karena file itu memiliki kata sandi. Aku rasa, ini semua ada hubungannya dengan keadaan Green Future, baik di masa sebelumnya, maupun di masa sekarang"


"Apakah kau masih menyimpannya?" Tanya Carlo.


"Tentu saja" Jawab Monnaire. "Selain ingin menunjukkan file ini. Sebenarnya, aku juga ingin meminta bantuanmu. Setahuku, kau cukup ahli di bidang komputer dan IT. Apakah kau bisa membuka file ini. Aku benar-benar penasaran dengan isinya. Semoga saja, ini juga bisa menjadi titik terang yang bisa membantu kita untuk memuluskan rencana" Kata Monnaire.


"Aku harus memeriksanya terlebih dahulu. Karena ada beberapa file yang dilengkapi dengan keamanan yang cukup tinggi" Kata Carlo sambil mengambil diska lepas yang disodorkan oleh Monnaire.


Carlo membuka komputer jinjing yang juga disiapkan oleh Monnaire. Keningnya berkerut cukup lama. Ia terlihat serius, wajahnya sedikit menekuk. Sesekali terdengar ia menghela nafas panjang.


Tidak lama kemudian, senyum mengembang tergambar di wajahnya.


"Aku berhasil membuka filenya. Tetapi, lihat ini, kau pasti tidak percaya?"


Monnaire mendekatkan wajahnya k komputer jinjing yang diarahkan Carlo kepadanya. Matanya seketika terbelalak.


"Ini tidak mungkin..." Kata Monnaire. "Berarti selama ini, Green Future membuat pembukuan ganda. Jadi selama ini, sebenarnya keadaan Green Future tidak pernah separah itu. Para auditor mengeluarkan opini going concern, karena pembukuan yang selama ini diserahkan oleh tim keuangan adalah pembukuan palsu"


"Jadi, maksudmu ada yang dengan sengaja melakukan hal itu, agar Green Future benar-benar dianggap bangkrut, sehingga menimbulkan isu negatif di kalangan investor?" Kata Carlo.


"Kau benar. Mereka juga sengaja tidak membayarkan dividen kepada investor, sehingga menciptakan citra perusahaan yang semakin memburuk" Lanjut Monnaire.


"Jadi, ada yang dengan sengaja melakukan manipulasi. Lantas, siapa yang melakukannya? Mungkinkah itu ayahku?" Kata Carlo.


Entahlah, aku justru curiga pada Kakek. Tetapi, untuk apa Kakek menghancurkan bisnisnya sendiri?" Monnaire menghela nafas. Ia tampak mengigit bibirnya, kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan yang masih belum terjawab.


******