Parhelion

Parhelion
Part 10 - Teman?



Part 10 - Teman?


Carlo dan Monnaire tampak menikmati segelas anggur, sambil menghisap rokok yang ada di tangan mereka masing-masing. Malam terlihat sedikit berkabut, tidak ada bintang, hanya rembulan yang sedikit menampakkan cahayanya meski terlihat samar.


"Sayang sekali, Mom dan Threzz tidak bisa ikut bersama kita. Lagi-lagi mereka disibukkan dengan pekerjaan" Kata Monnaire.


"Ya, mereka memang sangat profesional" Kata Carlo sambil menikmati kepulan asap yang membumbung.


"Jadi, kau dan Estephania sudah resmi berteman?" Canda Carlo.


"Yang benar saja. Kau jangan mengejekku seperti itu" Kata Monnaire. "Kau pikir, semudah itu Estephania ingin berteman denganku? Dia sedang memanfaatkanku dengan situasi yang menimpanya" Lanjut Monnaire.


"Bukankah dia seperti itu, karena merasa berhutang nyawa kepadamu?" Tanya Carlo sambil meneguk sisa anggur yang ada di gelasnya.


"Estephania bukan orang yang mudah terenyuh dengan hutang budi. Sebelumnya, dia memang memiliki rencana untuk mendekatiku, tetapi dia mengatur langkahnya dengan hati-hati" Kata Monnaire.


Carlo tampak mengernyit, tetapi ia tidak mengatakan apapun. Ia menunggu Monnaire menjelaskan semuanya, sambil menyimak dengan seksama.


"Ideku yang aku utarakan padanya mengenai kemanusiaan, mungkin sudah menginspirasinya, sehingga ia berpikir bahwa, mendekatiku adalah sebuah ide yang brilian" Monnaire tersenyum geli.


"Kenapa kau malah tersenyum, seolah kau setuju dengan tindakannya?" Tanya Carlo. Rasa penasarannya tidak bisa dibendung lagi.


"Kau tahu, bahwa Liberty dikenal sebagai publik figur yang memiliki jiwa sosial tinggi? Liberty aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Dia juga menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan dan panti jompo. Liberty juga tidak pernah ketinggalan membantu korban bencana alam, ataupun korban perang" Kata Monnaire.


"Jadi maksudmu, dengan berteman denganmu, eh, maksudku, Liberty, secara tidak langsung akan mempengaruhi penilaian publik kepada Estephania?" Kata Carlo.


"Ya, tepat sekali. Ada pepatah mengatakan, 'bertemanlah dengan penjual minyak wangi, maka kau akan ikut mendapatkan wanginya'. Citra positif yang dimiliki oleh Liberty, dimanfaatkan oleh Estephania. Berteman dengan Liberty, secara tidak langsung membuat publik berpikiran, Estephania sama baiknya dengan Liberty. Kejadian penyerangan yang menimpanya kemarin, dijadikan alasan olehnya untuk mendekatiku, dengan dalih hutang budi. Tetapi tidak apa, itu justru malah semakin menguntungkan bagiku. Posisiku sebagai seorang teman, bisa menjadi alasan untuk memberikan nasihat kepadanya. Tentu saja, nasihat yang membuatnya semakin yakin kepadaku. Dengan begitu, aku bisa dengan mudah menghancurkannya, cepat atau lambat, saat dia mulai lengah" Monnaire menaikan alisnya, sambil mematikan rokoknya.


Carlo mengangguk. "Tetapi, kau harus tetap berhati-hati. Jangan gegabah, dan jangan sampai ambisimu menghancurkan semuanya. Kau hampir ketahuan saat di pemakaman Monnaire palsu kemarin. Untungnya, aku bisa melindungimu dengan alasan yang tepat" Kata Carlo.


"Ya, aku mengerti" Kata Monnaire lagi.


"Ngomong-ngomong, kau sudah dapat kabar mengenai kondisi ibumu?" Tanya Carlo.


"Aku belum sempat menemuinya, karena aku tidak memiliki alasan untuk datang ke rumah itu" Jawab Monnaire.


Carlo terdiam sejenak. "Sebenarnya, aku tidak ingin membahas ini, tetapi sepertinya, kau perlu mengetahuinya" Kata Carlo lagi.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi pada ibuku?" Desak Monnaire.


"Ibumu mengalami depresi. Kondisinya cukup buruk. Dia tidak mau bicara pada siapapun, dan sepertinya dia mulai sedikit kehilangan ingatannya. Begitulah yang kudengar, saat ayahku mengobrol dengan Bibi Manuella" Jawab Carlo dengan berat hati. Sesungguhnya ia tidak ingin menyampaikan kabar buruk ini kepada Monnaire, tetapi Monnaire tetap harus mengetahuinya.


Monnaire menundukkan wajahnya, ia berusaha untuk tidak menangis, tetapi tidak bisa.


"Ini semua, gara-gara Estephania. Aku berjanji, tidak akan membuatmu tenang, Estephania" Kata Monnaire sambil mengepal jari jemarinya. Tekadnya untuk membuat Estephania kalah, semakin kuat. Kini ia mengubah rencananya. Estephania bukan akan hancur cepat atau lambat, Estephania harus hancur secepatnya.


******


"Anda sudah baikan, Nona? Aku membawakan buah untukmu, mau aku kupaskan?" Tanya Monnaire dengan wajah ramah.


"Oh, iya, maaf. Aku masih belum terbiasa" Kata Monnaire sedikit kikuk.


"Karena itu, biasakanlah, dan jangan pernah sungkan padaku" Kata Estephania sambil tersenyum.


"Kau pandai sekali mengatur ekspresimu, Estephania. Seandainya aku tidak tahu tentang masa lalumu, aku juga pasti akan luluh" Batin Monnaire.


"Ah, kau mau aku kupaskan buah?" Tanya Monnaire sekali lagi.


"Boleh, aku mau apel" Jawab Estephania.


"Ngomong-ngomong, kau pasti cukup terkejut dengan kejadian yang menimpamu kemarin. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan sangat takut, bisa jadi aku tidak mau kembali ke perusahaan" Kata Monnaire sambil mengupas apel.


"Aku harus bertahan, karena posisi ini, tidak mudah aku dapatkan" Jawab Estephania.


"Ah, jadi begitu. Pasti senang rasanya menjadi sepertimu, di usia muda, sudah bisa menjabat sebagai presdir. Kehidupan keluargamu juga harmonis, dan sepertinya kau juga punya banyak teman yang mendukungmu" Monnaire masih menyibukkan dirinya dengan apel yang ada di tangannya.


"Tidak juga. Aku hanya memilih orang yang berguna untukku, sisanya hanya sampah yang akan dengan sukarela menuruti perintahku" Kata Estephania lagi.


Monnaire tampak melotot. "Sampah? Apa maksudnya?" Monnaire terlihat marah. Tanpa disadarinya, pisau ditangannya, tengah mengarah ke wajah Estephania. Estephania terkejut, hingga mundur beberapa inci.


Monnaire sadar, kemudian ia meletakkan pisaunya.


"Ah, maaf. Kau pasti kaget. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya terkejut mendengar ucapanmu" Kata Monnaire.


"Y... Ya, tidak apa-apa" Kata Estephania. Ia masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Sikap Monnaire yang barusan benar-benar menyeramkan dan di luar dugaan.


"Aku tidak bermaksud menyebutmu sampah, dan aku juga tidak menilaimu seperti sampah. Semua tetap ada pengecualiannya. Sejauh ini, orang-orang yang mendekatiku, hanya memanfaatkan latar belakang keluargaku, demi keuntungan mereka. Dengan begitu, mereka tidak ada bedanya seperti sampah, bukan?" Kata Estephania.


"Tentu saja kau berbeda, karena aku yang ingin berteman denganmu. Ya kan?" Kata Estephania lagi.


Monnaire tersenyum kecut. "Kaupun tidak ada bedanya dengan sampah-sampah itu. Memanfaatkan seseorang demi keuntunganmu sendiri" Kata Monnaire dalam hati.


"Makanlah apelmu, aku sudah selesai mengupasnya. Sepertinya aku harus pergi, karena ada pertemuan untuk membahas sampul katalog untuk tipe-tipe ponsel" Kata Monnaire.


"Ah, ya. Jadwalnya hari ini. Maaf aku tidak bisa hadir. Aku yakin, wajahmu akan membawa kesuksesan untuk produknya" Estephania tersenyum ramah.


"Ya, tidak apa-apa. Bukankah sudah diwakilkan oleh manajer pemasaran?" Kata Monnaire sambil bersiap.


Estephania mengangguk. "Liberty, kata-kataku tadi, jangan kau ambil hati, ya" katanya sambil tersenyum.


"Ya, aku pun tidak menganggapnya serius. Aku pergi dulu, jika ada apa-apa kau bisa hubungi aku" Kata Monnaire.


"Beristirahatlah..." Kata Monnaire sambil melambaikan tangannya, wajahnya perlahan menghilang di balik pintu.


".... dengan tenang, karena setelah ini, nerakamu akan segera tiba"


******