Parhelion

Parhelion
Part 4 - Pengkhianat (End)



Part 4 – Pengkhianat (End)


Pagi baru saja dimulai. Matahari bersinar ditutupi kabut. Angin yang berhembus terasa sangat ngilu menembus kulit. Monnaire membuka matanya perlahan. Operasi wajahnya sudah selesai, namun ia masih belum diperbolehkan membuka perbannya. Dengan perlahan, Monnaire mengatur posisi duduknya, kemudian ia menyandarkan punggungnya sambil melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukan pukul enam pagi.



“Akhirnya, memang harus seperti ini. Aku tidak punya pilihan lain untuk melindungi ibu, dan juga Green Future. Estephania dan komplotannya, tidak boleh dengan mudahnya mengambil Green Future yang sudah dengan susah payah dibangun oleh ibu. Green Future itu, sudah seperti nyawa kedua bagi ibu” gumam Monnaire.



“Aku, akan masuk dalam permainan kalian, dan kali ini, aku tidak akan kalah lagi”



\*\*\*\*\*\*



Wizzarez dengan tergesa mengetuk pintu rumah Monnaire yang masih terlihat sepi. Belum ada aktivitas yang berarti di sana, hanya terdengar suara petugas kebun yang mulai bersiap untuk membersihkan halaman yang tidak terlalu kotor. Hanya ada beberapa helai daun kering terserak.



“Tuan Wizzarez...” kata Dante, salah satu pelayan di rumah Monnaire, sambil memberi hormat.



“Apakah Nyonya Nath ada di dalam?” tanya Wizzarez, seolah mendesak Dante agar segera memberikan jawaban.



“Nyonya Nath, ada di kamarnya. Sepertinya beliau baru saja beristirahat. Hilangnya Nona Monnaire, membuat Nyonya cemas, hingga tidak bisa tidur” jawab Dante.



“Aku bukan bermaksud tidak sopan, tetapi, aku ingin menyampaikan sebuah kabar penting. Bisakah tolong bangunkan Nyonya Nath” desak Wizzarez.



“Saya tidak berani, Tuan, karena Nyonya baru saja istirahat” kata Dante.



“Tolong, Pak Dante, ini tentang Monnaire...” kata Wizzarez lagi, dengan setengah memaksa.



“Tetapi, Tuan...”



“Biarkan Wizzarez masuk, Pak Dante” kata sebuah suara dari balik punggung Dante.



“Maaf, Nyonya, saya menggangu waktu istirahat Anda” kata Wizzarez sambil memberi salam hormat.



Nath menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku juga tidak bisa tidur, kebetulan aku mendengar suaramu, saat akan turun ke bawah” kata Nath sambil mempersilahkan Wizzarez untuk masuk. Wajahnya bertambah pucat, lingkaran hitam di matanya, cukup menjelaskan kondisinya saat ini.



“Jadi, ada kabar tentang Monnaire?” tanya Nath dengan penasaran. Raut wajahnya menandakan bahwa ia masih berharap ada kabar baik mengenai Monnaire.



“Ya, Nyonya, tetapi ....” Wizzarez menghentikan kalimatnya.



“Tetapi apa?” Nath mulai terlihat panik. Jantungnya bergerak cepat.



“Bisakah Nyonya ikut aku ke kantor polisi” pinta Wizzarez dengan sopan. Tanpa menjawab, Nath langsung mematuhi keinginan Wizzarez, dan mengikutinya dari belakang.



Sesampainya di kantor polisi, Nath benar-benar tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Meski sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan keadaaan, namun pikiran buruk terus saja bergelayut dalam hatinya. Nath kemudian berpegangan pada sandaran kursi, matanya terasa berkunang-kunang, tubuhnya seperti melayang. Ia nyaris pingsan.



“Nyonya, Anda baik-baik saja? Aku sudah menelepon Estephania, dan dia akan segera menyusul Anda kemari” kata Wizzarez sambil memapah tubuh Nath.



“Aku tidak apa-apa” kata Nath berusaha bertahan.



“Silahkan duduk, Nyonya” kata petugas kepolisian kepada Nath. Ia berhenti sejenak, memperhatikan wajah Nath yang terlihat semakin pucat.



Nath menunggu dengan gusar apa yang disampaikan oleh petugas kepolisian itu, kemudian ia mengambil gelas berisi air yang ada di hadapannya, berusaha meredakan tenggorokannya yang terasa tercekat.



Petugas kepolisian itu mencegah tangan Nath. “Tolong ambilkan air kemasan” katanya kepada petugas kebersihan. “Maaf, sebelumnya air itu kejatuhan serangga, karena tadi saya membereskan meja”.



Nath langsung meminum air yang disediakan, begitu air yang diminta tiba. Setelah Nath terlihat sedikit tenang, petugas kepolisian itu langsung melanjutkan pembicaraannya.



“Sebelumnya, perkenalkan, ini Tuan Hans, pemilik rental mobil” kata petugas kepolisian itu kepada Nath. Nath menoleh dengan heran, namun tetap memberi salam hormat.



“Tuan ini semalam melaporkan kepada kami, bahwa mobilnya telah di bawa kabur oleh penyewanya”



Nath mengernyitkan dahinya. “Apa maksudnya? Apakah ini ada hubungannya dengan Monnaire?” tanya Nath.



“Benar. Mobil itu disewa atas nama Monnaire De Frank” jawab Hans, pemilik rental mobil. “Dia bilang, hanya menyewanya beberapa jam, karena uangnya tidak cukup untuk menyewa selama satu hari. Lalu, dia meninggalkan kartu tanda pengenal, sebagai jaminan” Hans membuka dompetnya, dan menyerahkan kartu tanda pengenal kepada Nath.



“Benar, ini milik Monnaire” kata Nath.



“Sayangnya, hingga tadi malam, mobil saya belum kembali. Sehingga saya terpaksa melaporkannya ke polisi” lanjut Hans lagi.



“Maksud Anda, Monnaire mencuri mobil Anda?” Nath terlihat geram menanggapi tuduhan yang tidak berarti. Baginya, amat sangat tidak mungkin jika Monnaire sampai melakukan tindakan kriminal.



“Maaf, Nyonya, saya mohon Anda tenang dulu” kata petugas kepolisian itu lagi.



Nath masih tampak geram, namun berusaha untuk mengatur emosinya. Bukan saatnya untuk membuang waktu. Jika ia sudah mendapatkan informasi keberadaan Monnaire, ia akan mengganti mobil sewaan itu. Itu hal yang cukup mudah. Begitu pikirnya.



“Pagi ini, kami mendapatkan laporan, mobil milik Tuan Hans, ditemukan di pinggir jalan perbatasan kota” kata petugas kepolisian itu. Nath langsung berbinar, ada sedikit harapan baik untuknya.



“Jadi, Monnaire juga sudah ditemukan?”



“Sayangnya...” petugas kepolisian itu berusaha mengatur nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya “Nona Monnaire tidak berada di dalam mobil tersebut. Kami hanya menemukan ini...” petugas kepolisian itu menyerahkan sebuah bungkusan hitam, tanpa berlama-lama, Nath langsung membukanya.



“I...Ini sepatu Monnaire” tangan Nath langsung gemetar. Baru saja ia berharap mendapatkan kabar bahagia, tetapi kemudian dipatahkan oleh kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya.



“Dugaan sementara, Nona Monnaire mengalami perampokan, lalu kemudian berusaha melarikan diri. Kami akan terus menyelidiki kasus ini”



“Apakah... Apakah Monnaire selamat? Aku pernah membaca berita, bahwa daerah perbatasan kota adalah daerah rawan. Bukankah bulan lalu ada kejadian serupa, dan korbannya tewas?” kata Nath dengan terbata.



“Kami belum bisa memberi kepastian. Sebaiknya, Nyonya jangan berpikiran buruk dahulu. Kami akan berusaha menyelidikinya lagi, karena ada kejanggalan di sini. Jika memang Nona Monnaire dirampok, kenapa mereka membiarkan mobil yang dibawanya di pinggir jalan dan tidak mengambilnya?” kata petugas kepolisian itu, dengan penuh selidik.



Nath semakin tidak tenang. Lagi-lagi tangisnya pecah. Perlahan ia berdiri, kemudian langkahnya gontai. Kali ini, ia benar-benar pingsan.


******


Edward dan Manuella terlihat mondar mandir, sambil sesekali menoleh ke arah pintu, seperti sedang menunggu seseorang. Berkali-kali Manuella berjalan ke luar, seolah memastikan sesuatu, kemudian ia berbalik lagi menuju sofa, sambil menggerutu kesal.




“Manuella, diamlah. Kau membuatku bertambah panik. Tenanglah dulu, Estephania pasti akan membereskan semuanya, kita tidak perlu khawatir” kata Edward.



Suara langkah sepatu terdengar samar-samar, kemudian semakin dekat. Orang yang mereka nantikan, sudah tiba.



“Darimana saja kau?” kata Edward.



“Banyak yang aku urus. Aku baru saja kembali menjemput ibuku dari kantor polisi” jawab Estephania, sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.



“Lalu, bagaimana hasilnya?” tanya Manuella penasaran.



“Untuk sementara, Monnaire dinyatakan hilang. Jadi, di sini aku juga akan memperingatkan kalian untuk tidak terlalu terlena, karena waktu kita sedikit. Meski ibu sudah mulai terlihat lemah, namun kita tidak boleh melupakan sesuatu, nenekku pasti tidak akan tinngal diam. Dia pasti akan segera mencari cucu kesayangannya, begitu dia mendengar kabar ini. Tidak perlu menunggu lama, besok pagi, nenekku pasti akan langsung tiba di bandara” jawab Estephania.



“Lalu, selanjutnya, kita harus bagaimana?” tanya Manuella lagi.



“Bibi, cobalah sesekali gunakan otakmu. Tuhan memberikanmu otak, bukan hanya sekedar untuk menjadi pajangan. Haaaah, seandainya Bibi bukan berasal dari keluarga De Frank, aku yakin Bibi hanya akan menjadi sampah masyarakat” kata Estephania dengan nada mengejek.



Manuella langsung naik pitam, matanya melotot. Dengan tanpa pikir panjang, ia langsung menarik rambut Estephania, hingga Estephania berteriak kesakitan.



“Kau bilang apa? Dasar anak tidak tahu diuntung. Kau itu hanya anak adopsi yang hidup dari belas kasihan. Jika Nath tidak mengambilmu dari panti asuhan, kau juga pasti hanya akan menjadi \*\*\*\*\*\* yang hidup menjual diri dari laki-laki hidung belang”



Estephania langsung tersulut emosi mendengar hinaan dari Manuella. Ia langsung balik menarik rambut Manuella dengan lebih keras. “Apa yang Bibi katakan?” katanya sambil berteriak. Suasana di ruang kerja Edward terdengar riuh, seketika mereka menjadi tontonan para karyawan.



Edward langsung berteriak. “Hentikan!!!” katanya geram. “Kalian lihat apa? Kembali bekerja, atau aku akan memotong gaji kalian bulan ini” kata Edward kepada karyawannya, seketika mereka langsung kembali ke meja kerja masing-masing. Estephania dan Manuella masih terus saling menarik rambut, bahkan kali ini mereka saling pukul sambil terus saling melontarkan kata-kata makian.



Edward menghela nafas panjang. Ia kemudian berjalan menuju Estephania dan Manuella yang sedang berkelahi, mencoba menengahi dan menghentikan perkelahian itu.



“Aku bilang hentikan” kata Edward. Kali ini ia berdiri di tengah Manuella dan Estephania. Kedua wanita itu berhenti sejenak.



“Kau yang mulai terlebih dahulu” kata Manuella.



“Yang aku katakan adalah kenyataan” balas Estephania.



“Dasar gadis kurang ajar”



“Perempuan tua tidak tahu diri”



Mereka kembali saling memaki, saling pukul, dan kembali saling menarik rambut. Edward yang berdiri di tengah-tengah mereka, ikut terkena sasaran. Rambutnya ditarik, pipinya terkena pukulan, dan kakinya terkena tendangan tanpa bisa menghindar.



“Aku bilang hentikan. Hentikaaaaaaan.....!!!”


******


Manuella dan Estephania sama-sama terdiam, mereka terlihat lelah. Rambut mereka berantakan, bahkan masih ada sisa rambut Manuella yang tercabut di sela-sela jari Estephania. Edward mengatur nafasnya yang tersengal, sambil merebahkan tubuhnya di kursi.



“Dasar wanita-wanita gila. Bagaimana kita bisa menjalankan rencana dengan baik, jika kalian bertengkar seperti ini? Estephania, kau sendiri yang bilang kalau waktu kita hanya sedikit, jadi jangan membuang-buang waktu untuk berkelahi” kata Edward kesal.



“Kau dengar itu” kata Manuella.



“Bibi juga harusnya dengar, mulai sekarang, berkontribusilah dalam rencana ini” balas Estephania. Manuella melotot, hampir saja perkelahian itu terjadi lagi.



“Hentikan” bentak Edward. Manuella langsung terdiam, Estephania masih mengepalkan tangannya, tetapi kemudian ia tahan. Menurutnya, kali ini Edward ada benarnya, waktu mereka hanya sedikit, jadi ia juga tidak boleh membuang-buang waktu. Ia bisa bersantai, ketika Green Future sudah berada di tangannya.


******


Estephania tampak masih membenarkan rambutnya yang berantakan. Ia masih merasa kesal, namun sudah sedikit lebih tenang. Untuk meredakan amarahnya, ia meminta Manuella untuk pulang. Ia hanya ingin berdiskusi dengan Edward. Edward menyetujuinya, karena menurut Edward, kali ini Manuella tidak terlalu dibutuhkan. Manuella menurutinya, meski dengan sedikit terpaksa.


“Jadi, kau sudah jalankan rencana yang aku sampaikan padamu?” tanya Edward.



“Ya, aku sudah membayar pemilik rental mobil itu, dan dia sudah menjelaskan seperti apa yang aku perintahkan. Orang-orang suruhanku juga sudah mengatur semuanya sesuai dengan yang kita rencanakan” jawab Estephania.



Edward mengangguk pelan. “Berarti sekarang, masalah kita adalah Marina dan Nath” kata Edward sambil memegang pelipisnya, seperti sedang berpikir keras.



“Saat ini, yang harus kita pikirkan adalah nenekku. Kita akan coba mengulur waktu, dengan mengalihkan perhatian nenekku” kata Estephania.



“Mengulur waktu?” Edward sedikit mengernyitkan keningnya. Estephania terkadang memang memiliki ide-ide cemerlang, namun terkesan cukup kejam. Tetapi Edward tidak memperdulikan hal itu, tujuan utamanya adalah menguasai seluruh aset keluarga De Frank. Apapun caranya, tentu akan ia lakukan, selama tidak bertentangan dengan keinginannya dan tidak menghalangi tujuannya.



“Rasa cinta nenek kepada ibuku, sama besarnya seperti rasa cinta ibuku kepada Monnaire. Dengan membuat keadaan ibuku semakin memprihatinkan, maka pikiran nenek untuk mencari Monnaire akan sedikit teralihkan. Ya, nenek pasti akan tetap mencari Monnaire, tetapi, dia tidak mungkin bisa fokus melakukannya, jika keadaan ibu memburuk”



“Jadi begitu” kata Edward mengangguk paham.



“Ibu sudah mulai terlihat depresi, keadaannya mulai melemah. Aku sudah memberikan perintah kepada Delilah, asisten rumah tangga kami, untuk memberi ibu obat anti depresan...” Estephania menghentikan kalimatnya, sambil menatap tajam ke arah Edward.



“...tapi, dengan dosis berlebih” kata Estephania dengan tersenyum licik. “Lalu, di saat itu, kita bisa dengan mudah meminta ibu untuk menandatangani surat pernyataan penyerahan kekuasaan atas Green Future. Jika ibu sudah menandatangani surat itu, siapapun tidak akan bisa menghalangi Green Future untuk menjadi milikku”



Edward bertepuk tangan. Benar-benar ide yang brilian. Sebentar lagi mimpinya akan menjadi kenyataan. Ketika kepemilikan Green Future sudah beralih kepada Estephania, ia akan melanjutkan rencananya, untuk kemudian menjadi yang paling berkuasa. Ia hanya perlu sedikit bersabar.


******


Monnaire berulang kali mengatur nafasnya. Menghela perlahan, kemudian menghembuskannya. Sudah waktunya ia membuka perban di wajahnya, setelah beberapa kali melewati perawatan dan pemeriksaan secara intensif. Hari ini, ia benar-benar akan melihat wajah barunya.



Lauricie berdiri di samping Monnaire, memegangi jemarinya, seolah memberi isyarat agar Monnaire tetap tenang, meski ini bukanlah hal yang mudah. Monnaire akan mulai menjalani hidupnya dengan identitas baru, kebiasaan baru, dan aktivitas baru yang bertolak belakang dengan apa yang dijalaninya selama ini.



Beberapa menit lagi, semuanya akan dimulai. Monnaire terlihat sedikit gelisah. Mungkin saja ia akan berteriak ketika pertama kali melihat pantulan wajahnya di cermin, atau mungkin ia akan pingsan.



“Kau siap?” tanya Lauricie.



Monnaire kembali menarik nafas, kemudian ia terdiam beberapa detik. “Ya, aku siap” katanya sambil mengangguk.



Lauricie memberi isyarat kepada dokter untuk segera membuka perban di wajah Monnaire. Perlahan-lahan perban itu mulai terbuka, hingga wajah Monnaire terlihat seluruhnya.



Lauricie diam mematung. Ia langsung memeluk Monnaire.



“Mulai hari ini, namamu adalah Liberty”


******