
Part 12 - Cepat Atau Lambat
Monnaire berkali-kali tersenyum kecil, entah apa yang sedang dipikirkannya. Carlo yang sedang menyetir, berkali-kali menoleh heran ke arahnya.
"Apa yang membuatmu begitu bahagia?" Tanya Carlo, di sela rasa penasarannya.
"Bahagia? Apakah terlihat begitu?" Tanya Monnaire. Senyum itu masih terlukis di wajahnya. Sepertinya benar, ada hal yang membuatnya bahagia.
"Sejak tadi kau terus tersenyum" Kata Carlo, sambil tetap memperhatikan jalan yang ada di depannya.
"Aku memang bahagia, tetapi ada hal lain yang justru membuatku tidak bisa menghentikan tawa ini" Jawab Monnaire.
Carlo mengernyitkan dahinya. "Hal lain?" Katanya, sedikit melirik ke arah Monnaire.
"Saat Paman Joseph menerima telepon, samar-samar aku mendengar, Orang itu meminta Paman Joseph untuk membukakan pintu, atau mereka akan mendobraknya" Kata Monnaire sambil tersenyum geli.
"Bagaimana caranya mendobrak pintu hotel dengan keamanan yang cukup tinggi seperti itu?" Carlo kembali mengernyitkan dahinya.
Monnaire kali ini tidak bisa menahan tawanya. "Itulah yang sejak tadi aku tertawakan. Tetapi dengan sigap, Paman Joseph justru menurutinya"
Carlo ikut tertawa. "Dia sedang panik, jadi tidak bisa berpikir dengan jernih"
"Kita sudah sejauh ini, lalu apa yang selanjutnya akan kita lakukan?" Tanya Carlo.
"Aku sudah memikirkan ini. Aku tidak bisa mengambil Green Future begitu saja, karena seperti yang kau tahu, Estephania adalah lawan yang cukup tangguh. Untuk melawan sesuatu yang kuat, maka kita harus bisa lebih kuat" Jawab Monnaire.
"Aku memutuskan, dari saham yang sudah diserahkan oleh Bibi Evelyn, Paman Joseph, dan Alfredo, kita akan jual saham tersebut, lalu kita buat perusahaan baru. Perusahaan yang akan menandingi kesuksesan Green Future. Pelan-pelan kita akan menghancurkan Green Future, bagai menggunting dalam lipatan. Ketika perusahaan itu mulai terpuruk, maka kita akan mengakuisisinya" Kata Monnaire lagi.
"Membuat perusahaan baru, tidak semudah itu. Kita butuh investor, bahkan kita juga butuh karyawan untuk mendukung itu semua" Kata Carlo.
"Ya, aku mengerti. Maka aku akan memanfaatkan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Rumor mengenai pengalihan tenaga manusia ke mesin, akan aku manfaatkan untuk merekrut sedikit demi sedikit buruh yang ada di Green Future, terutama mereka yang sudah lama berkontribusi bagi perusahaan itu. Lalu, aku juga akan mencari kelemahan para investor, terutama mereka yang potensial, sama seperti aku mencari kelemahan Bibi Evelyn dan Paman Joseph. Ini memang membutuhkan waktu, tetapi cepat atau lambat, aku pasti bisa mewujudkannya" Kata Monnaire mantap.
Carlo terlihat mengangguk. "Kau lebih cerdik sekarang, hampir mirip dengan Estephania" Kata Carlo.
"Jangan menyamakan aku dengannya. Aku tidak sekejam dia" Kata Monnaire bersungut.
Carlo tertawa kecil. "Aku hanya bercanda" Katanya lagi.
"Apa kau besok punya waktu?" Tanya Monnaire.
Carlo terlihat berpikir sejenak. "Sepertinya ada di siang hari"
"Bisakah kau datang ke rumah Nyonya Lauricie? Aku juga akan meminta Threzz untuk datang. Kita harus membicarakan hal ini, karena aku tetap tidak bisa memutuskan semuanya sendiri. Masing-masing dari kita, punya kepentingan dalam rencana ini" Kata Monnaire.
"Ya, aku akan datang" Jawab Carlo.
******
Threzz dan Lauricie terlihat menyimak penjelasan dari Monnaire dan Carlo yang berbicara saling bergantian. Keduanya setuju dengan apa yang diutarakan oleh Monnaire dan Carlo, meski ada sedikit rasa sangsi.
"Kita tidak akan pernah tahu, jika kita tidak mencobanya. Tetapi, aku yakin, cara ini akan berhasil" Kata Monnaire.
"Jadi, aku harus mendaftarkan namaku sebagai pemilik perusahaan nantinya?" Tanya Threzz.
"Ya, benar. Karena hanya namamu yang tidak dikenal oleh keluarga De Frank. Estephania akan curiga, jika perusahaan itu terdaftar dengan namaku. Kepercayaannya kepadaku yang sudah sedikit demi sedikit terbentuk, akan hancur begitu saja. Jika menggunakan nama Carlo, pasti akan mengundang pertanyaan para investor, dan mereka akan tahu, bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara keluarga De Frank. Lalu, jika menggunakan nama Mom, keluarga De Frank mengenal Mom sebagai dokter yang mengoperasi Kakek. Akan sangat aneh, jika seorang dokter tiba-tiba memiliki perusahaan yang akan menjadi tandingan Green Future. Itu pasti akan mengundang kecurigaan, terutama bagi Estephania " Kata Monnaire.
"Bukankah, kau juga memiliki darah bisnis dari ayahmu, Threzz?" Kata Monnaire lagi.
"Kau menyelidiki latar belakang keluargaku, ya? Luar biasa, berarti aku juga harus berhati-hati, karena kau bisa saja mengetahui aib masa lalumu" Canda Threzz, berusaha mencairkan suasana yang cukup terasa tegang.
Monnaire dan yang lainnya tertawa. "Nama ayahmu cukup terkenal. Beberapa kali muncul dalam majalah bisnis. Aku tahu beliau adalah ayahmu, karena nama belakang kalian sama. wajah kalian juga mirip" Kata Monnaire.
"Tidak, aku lebih tampan" Canda Threzz lagi.
Monnaire tertawa geli.
"Sore ini aku akan mengunjungi Liberty. Aku sudah lama tidak menjenguknya, sejak dia disembunyikan. Bolehkah aku menjenguknya, Dokter?" Tanya Threzz dengan ragu.
"Sudah aku katakan berkali-kali, kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan dokter, saat di luar jam kerja. Mengenai keinginanmu untuk menjenguk Liberty, tentu saja aku mengizinkannya. Kalian sudah berteman sangat lama, kau juga pasti sangat merindukannya. Tetapi, aku berpesan, agar kau lebih berhati-hati. Karena bisa berakibat fatal, jika sampai orang-orang tahu, bahwa Liberty yang asli masih koma" Jawab Lauricie.
Threzz tampak tersenyum gembira. "Tentu saja, aku akan lebih berhati-hati. Terima kasih karena telah memberikan izin kepadaku" Kata Threzz setengah bersorak.
******
Di sebuah ruangan di rumah sakit, seorang gadis terbaring lemah tidak berdaya dengan berbagai alat bantu kesehatan. Ia tampak seperti sedang tertidur pulas, wajahnya pucat. Threzz menghampiri gadis itu dengan perlahan, di tangannya ada seikat bunga mawar putih.
"Selamat sore, Liberty. Bagaimana kabarmu? Maaf ya, aku sudah lama tidak menemuimu. Ini aku bawakan bunga mawar putih kesukaanmu, aku letakan di vas ya?" Kata Threzz, seolah sedang berbicara pada gadis itu, meski tidak ada jawaban. Suasana terasa hening, dengan angin dingin yang berhembus cukup menusuk. Threzz langsung menuju jendela yang terbuka karena tiupan angin. Kemudian ia kembali berdiri di samping Liberty, dan terdiam cukup lama.
Threzz memperhatikan wajah Liberty lekat-lekat. Seketika ia tidak bisa menahan air matanya. Dadanya terasa sesak dan sakit. Tubuhnya berguncang. Ia menunduk sambil menangis, tanpa mengatakan apapun.
Tidak lama kemudian, Threzz menghapus air matanya. "Maaf, aku menangis. Seharusnya aku tidak boleh begini. Lama tidak berjumpa denganmu, seharusnya aku menceritakan hal-hal yang bahagia, tetapi justru aku malah menangis. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Aku mohon, cepatlah bagun, Liberty. Aku akan mengajakmu makan makanan kesukaanmu, menonton film favoritmu, bahkan aku juga bersedia mendengarkan keluh kesahmu hingga pagi, seperti dulu" Kata Threzz lagi.
Threzz kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Aku sudah lama ingin mengatakan ini, tetapi aku tidak punya keberanian. Namun aku berjanji, ketika kau sudah bangun, aku akan mengatakannya lagi. Aku mencintaimu, Liberty. Maukah kau mendampingiku seumur hidup, dalam susah maupun senang?" Kata Threzz sambil membuka sebuah kotak berisi sebuah cincin. Air matanya kembali menetes.
******